3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 10, 2020
in Esai
Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Ilustrasi diolah dari Google

Sepertinya, momen akhir tahun kemaren adalah waktu yang pas bagi banyak orang untuk merayakan hajat pernikahan. Terlihat dari banyak status Whatsapp dan postingan-postingan media sosial teman serta kenalan yang memajang sepasang mempelai entah itu mereka sendiri atau sekedar orang lain. Apalagi sejak awal bulan Desember, rasanya hampir tiap hari ada postingan acara resepsi.

Kata seorang teman, bulan Desember adalah bulan di mana orang-orang bertemu dengan jodohnya. Tapi entah, kenapa yang lahir di bulan Desember sendiri masih saja terjerat kelajangan ya? (saya). Tak papa, mungkin Desember tahun depan, atau depannya lagi, atau mungin kapan-kapan juga bisa.

Terlepas dari apakah ada hubungan spesial antara bulan Desember dengan acara pernikahan, ada satu hal menarik dalam kehidupan masyarakat kita yang berkaitan dengan hal asmara. Yakni ketika ada dua orang yang sudah menikah, maka orang-orang akan bilang bahwa dua orang itu berjodoh. Ya, mempelai laki-laki adalah jodoh bagi mempelai wanita dan begitu pula sebaliknya.

Tapi ketika semisal di belakang hari keduanya lantas bercerai dan berpisah, maka yang akan keluar dari mulut orang-orang mungkin akan jadi begini: “Ya mungkin bukan jodohnya kali ya.” Lalu seperti apa sebenarnya jodoh itu? Apakah jodoh adalah orang yang menikah dengan kita? Atau bagaimana?

Tapi sebelum lebih jauh ngomong tentang jodoh, pertama-tama, ada hal yang harus saya utarakan dalam perbincangan tentang jodoh. Bahwa membincang jodoh tanpa memiliki pasangan itu, sah-sah saja, no problem. Tidak ada teori atau hukum yang menyatakan bahwa ngomong jodoh tapi gak punya pasangan itu percuma. Begitu pula kuat dan tidaknya pendapat orang tentang jodoh tidak bisa dilihat dari ada dan tidaknya seorang pasangan. Ok, mungkin yang punya pasangan lebih berpengalaman, tapi yang tidak punya belum tentu cupu dan tak layak bersuara bukan!?

Perbincangan tentang jodoh hampir sama seperti perbincangan tentang bola. Baik pemain, pelatih, komentator, atau pun sekedar penonton semua berhak memberikan suara dan komentar terkait per-bola-an. Begitu pula tema per-jodoh-an semua layak memberi pendapat.

Baik, mari masuk lebih dalam lagi. Sebenarnya, menurut tuan-puan jodoh itu apa? Toh pada dasarnya, persoalan jodoh ini dapat dibilang sebagai perbincangan yang sudah teramat basi. Namun di balik kebasiannya itu, orang-orang cenderung akan mengangggap bahwa jodoh adalah sebuah rahasia yang disiapkan oleh tuhan dan tak ada yang tahu kecuali tuhan itu sendiri.

Ya memang, siapa yang tahu masa depan? Tapi masa depan juga bisa diusahakan bukan!?

Ok, kepercayaan dan pikiran tentang jodoh biasanya memang dominan akan diwarnai oleh norma-norma dan dogma dalam ajaran keagamaan. Paling tidak, pemahaman itu akan berbunyi seperti ini: jodoh adalah orang yang telah disiapkan oleh tuhan bagi masing-masing individu untuk kemudian dipertemukan dan dipersatukan dalam bingkai ikatan atau akad yang sah (pernikahan). Jadi jangan coba-coba bilang kalau masih pacaran itu sudah jadi jodoh, belum. Baru kalau sudah menikah itu baru jodoh, menurut pemahaman tersebut.

Tapi apa hanya dengan menikah seseorang itu akan menjadi jodoh bagi pasangannya? Bagaimana kalau nanti pisah, kalau nanti cerai, apa masih bisa dikatakan jodoh? Terus, bagaimana dengan orang yang sampai akhir hayatnya tidak menikah? Apa jodohnya tidak ada? Atau jodohnya sudah mati? Nah, hal-hal seperti inilah yang agaknya perlu direfleksikan ulang sebagai bentuk bangunan ideologis kita dalam hal hubungan asmara.

Dalam keyakinan banyak orang selama ini, terutama dari kalangan tradisionalis, ada tiga hal yang menjadi kuasa dan hak mutlak tuhan atas proses kehidupan manusia. Tiga hal itu adalah takdir (ketetapan) yang diyakini sudah ditentukan oleh tuhan bagi masing-masing individu. Tiga hal itu adalah rezeki, jodoh, dan mati. Ya memang, tidak ada yang tahu akan seperti apa dan kapan ketiga hal itu akan datang. Terutama dalam topik ini adalah jodoh.

Saya rasa, bila jodoh sekedar dikategorikan dengan sudah dan tidaknya menikah itu masih kurang. Sebab bisa saja di kemudian hari pernikahan akan ambyar dan berakhir perpisahan. Maka harus ditambahi satu hal lagi, yakni kelanggengan. Dalam artian terus bersama sampai salah satu dipisahkan oleh usia (mati). Jadi dapat dikatakan jodoh itu syaratnya ada dua, sudah menikah dan langgeng sampai akhir hayat.

Namun, hal ini akan menjadi berbahaya bagi bangunan ideologis bila dikaitkan dengan ketiga takdir tuhan tadi. Akan menjadi berbahaya bila dibawa pada pemahaman tentang kasus bahwa ada orang yang sampai mati tidak mendapatkan pasangan, begitu pula dengan kasus perceraian dalam pernikahan. Kalau sudah begitu apa kita akan mengatakan bahwa jodohnya orang yang tidak menikah itu sudah mati? Atau memang tidak ada alias tidak disiapkan sejak lahir? Atau kita akan mengatakan tuhan sedang ngeprank ketika ada orang yang menikah lalu di kemudian hari bercerai? Bahaya kan!?

Ok, mungkin syarat menjadi jodoh itu harus dengan pernikahan bisa disetujui. Tapi untuk kelanggengan? Siapa yang bisa menjamin? Atau mungkin kita ubah saja pemahamannya jadi: ok selama dua orang menikah, mereka adalah jodoh sampai ada hal yang memisahkan mereka baik karena perceraian atau salah satunya meninggal. Bila kemudian salah satunya cerai dan nikah lagi, maka dia itu  bertemu dengan jodoh baru sementara yang lama sudah bukan jodoh lagi. Segitu fleksibel-kah?

Selama ini, yang bisa saya tangkap dari pemahaman tetang jodoh, bahwa jodoh itu adalah orang. Orang yang akan dipasangkan dengan kita kelak pada suatu hari sebagai sebuah produk dari takdir tuhan. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa bila jodoh itu adalah orang, lalu itu dikaitkan dengan takdir tuhan, maka akan muncul ketidakpastian tentang hal tersebut. Bisa saja kelak orang itu akan menghilang, atau memutuskan untuk bercerai, selingkuh, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Lantas di mana letak kepastian takdir tuhan itu?

Kalau jadi demikian, mari coba alihkan pemahaman tentang bahwa jodoh itu orang menjadi jodoh itu adalah komitmen. Bila jodoh adalah komitmen, kepastian takdir akan tetap terjaga di balik kefleksibelan pemahaman kita. Kalau sama-sama komitmen maka akan langgeng dan sampai mati (berjodoh). Tapi bila tidak berkomitmen atau komitmennya rendah ya akhirnya bisa pisah alias nggak berjodoh. Dengan begitu, takdir tidak hanya sekedar ketetapan, tapi di dalamnya pula bahwa takdir itu adalah usaha.

Kalau boleh saya katakan, saya adalah orang yang setuju dengan pendapat “tuhan hanya menentukan prinsip bahwa semua makhluk itu berpasang-pasangan. Perkara siapa akan berpasangan dengan siapa itu tergantung usaha manusianya.” Bukan tuhan yang menetapkan kamu akan menikah dengan siapa, tapi manusia hanya meneruskan ketetapan yang tuhan ciptakan dan berusaha mencari pasangannya sendiri di balik sejuta manusia yang telah tuhan ciptakan.

Akan menjadi mudah pemahamannya bila begini: tuhan sudah menciptakan hukum (prinsip/ketentuan) bahwa semua makhluk itu berpasang-pasangan laki dan perempuan dengan cara menumbuhkan rasa cinta dan suka dalam hati masing-masing. Tinggal bagaimana selanjutnya manusia akan berusaha menangkap sinyal-sinyal hukum tuhan tersebut. Bila sudah berusaha dan berkomitmen maka kamu akan bertemu dengan pasanganmu, melanjutkan komitmen kebersamaan sampai akhirnya bersama sepanjang hayat, atau dalam bahasa lain kalian itu berjodoh.

Kalau pemahamannya begini, bangunan ideologis kita jadi aman kan!? Jadi jodoh itu bukan semata takdir tuhan yang mana kita tinggal terima jadi tanpa melibatkan usaha. Tapi jodoh adalah kesatuan antara hukum atau prinsip semesta yang sudah tuhan ciptakan kemudian kita teruskan dengan usaha dan daya kita. Sehingga kembali lagi, bahwa jodoh adalah komitmen, bukan orang.

Sebab secocok, seserasi, secinta apapun orang itu dengan kita kalau tanpa diiringi komitmen dan rasa tanggung jawab, bisa saja sebuah hubungan akan berakhir sebab beberapa hal. Dan seperti apapun proses pernikahan yang kita lakukan entah itu via perjodohan atau memang direncanakan dan saling suka sejak awal kalau di dalamnya terdapat komitmen yang kuat maka hubungan akan terus berlanjut sepanjang hayat. [T]

Tags: cintajodohpernikahan
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

“Mengabadikan” Indonesia

Next Post

Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co