23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 10, 2020
in Esai
Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Ilustrasi diolah dari Google

Sepertinya, momen akhir tahun kemaren adalah waktu yang pas bagi banyak orang untuk merayakan hajat pernikahan. Terlihat dari banyak status Whatsapp dan postingan-postingan media sosial teman serta kenalan yang memajang sepasang mempelai entah itu mereka sendiri atau sekedar orang lain. Apalagi sejak awal bulan Desember, rasanya hampir tiap hari ada postingan acara resepsi.

Kata seorang teman, bulan Desember adalah bulan di mana orang-orang bertemu dengan jodohnya. Tapi entah, kenapa yang lahir di bulan Desember sendiri masih saja terjerat kelajangan ya? (saya). Tak papa, mungkin Desember tahun depan, atau depannya lagi, atau mungin kapan-kapan juga bisa.

Terlepas dari apakah ada hubungan spesial antara bulan Desember dengan acara pernikahan, ada satu hal menarik dalam kehidupan masyarakat kita yang berkaitan dengan hal asmara. Yakni ketika ada dua orang yang sudah menikah, maka orang-orang akan bilang bahwa dua orang itu berjodoh. Ya, mempelai laki-laki adalah jodoh bagi mempelai wanita dan begitu pula sebaliknya.

Tapi ketika semisal di belakang hari keduanya lantas bercerai dan berpisah, maka yang akan keluar dari mulut orang-orang mungkin akan jadi begini: “Ya mungkin bukan jodohnya kali ya.” Lalu seperti apa sebenarnya jodoh itu? Apakah jodoh adalah orang yang menikah dengan kita? Atau bagaimana?

Tapi sebelum lebih jauh ngomong tentang jodoh, pertama-tama, ada hal yang harus saya utarakan dalam perbincangan tentang jodoh. Bahwa membincang jodoh tanpa memiliki pasangan itu, sah-sah saja, no problem. Tidak ada teori atau hukum yang menyatakan bahwa ngomong jodoh tapi gak punya pasangan itu percuma. Begitu pula kuat dan tidaknya pendapat orang tentang jodoh tidak bisa dilihat dari ada dan tidaknya seorang pasangan. Ok, mungkin yang punya pasangan lebih berpengalaman, tapi yang tidak punya belum tentu cupu dan tak layak bersuara bukan!?

Perbincangan tentang jodoh hampir sama seperti perbincangan tentang bola. Baik pemain, pelatih, komentator, atau pun sekedar penonton semua berhak memberikan suara dan komentar terkait per-bola-an. Begitu pula tema per-jodoh-an semua layak memberi pendapat.

Baik, mari masuk lebih dalam lagi. Sebenarnya, menurut tuan-puan jodoh itu apa? Toh pada dasarnya, persoalan jodoh ini dapat dibilang sebagai perbincangan yang sudah teramat basi. Namun di balik kebasiannya itu, orang-orang cenderung akan mengangggap bahwa jodoh adalah sebuah rahasia yang disiapkan oleh tuhan dan tak ada yang tahu kecuali tuhan itu sendiri.

Ya memang, siapa yang tahu masa depan? Tapi masa depan juga bisa diusahakan bukan!?

Ok, kepercayaan dan pikiran tentang jodoh biasanya memang dominan akan diwarnai oleh norma-norma dan dogma dalam ajaran keagamaan. Paling tidak, pemahaman itu akan berbunyi seperti ini: jodoh adalah orang yang telah disiapkan oleh tuhan bagi masing-masing individu untuk kemudian dipertemukan dan dipersatukan dalam bingkai ikatan atau akad yang sah (pernikahan). Jadi jangan coba-coba bilang kalau masih pacaran itu sudah jadi jodoh, belum. Baru kalau sudah menikah itu baru jodoh, menurut pemahaman tersebut.

Tapi apa hanya dengan menikah seseorang itu akan menjadi jodoh bagi pasangannya? Bagaimana kalau nanti pisah, kalau nanti cerai, apa masih bisa dikatakan jodoh? Terus, bagaimana dengan orang yang sampai akhir hayatnya tidak menikah? Apa jodohnya tidak ada? Atau jodohnya sudah mati? Nah, hal-hal seperti inilah yang agaknya perlu direfleksikan ulang sebagai bentuk bangunan ideologis kita dalam hal hubungan asmara.

Dalam keyakinan banyak orang selama ini, terutama dari kalangan tradisionalis, ada tiga hal yang menjadi kuasa dan hak mutlak tuhan atas proses kehidupan manusia. Tiga hal itu adalah takdir (ketetapan) yang diyakini sudah ditentukan oleh tuhan bagi masing-masing individu. Tiga hal itu adalah rezeki, jodoh, dan mati. Ya memang, tidak ada yang tahu akan seperti apa dan kapan ketiga hal itu akan datang. Terutama dalam topik ini adalah jodoh.

Saya rasa, bila jodoh sekedar dikategorikan dengan sudah dan tidaknya menikah itu masih kurang. Sebab bisa saja di kemudian hari pernikahan akan ambyar dan berakhir perpisahan. Maka harus ditambahi satu hal lagi, yakni kelanggengan. Dalam artian terus bersama sampai salah satu dipisahkan oleh usia (mati). Jadi dapat dikatakan jodoh itu syaratnya ada dua, sudah menikah dan langgeng sampai akhir hayat.

Namun, hal ini akan menjadi berbahaya bagi bangunan ideologis bila dikaitkan dengan ketiga takdir tuhan tadi. Akan menjadi berbahaya bila dibawa pada pemahaman tentang kasus bahwa ada orang yang sampai mati tidak mendapatkan pasangan, begitu pula dengan kasus perceraian dalam pernikahan. Kalau sudah begitu apa kita akan mengatakan bahwa jodohnya orang yang tidak menikah itu sudah mati? Atau memang tidak ada alias tidak disiapkan sejak lahir? Atau kita akan mengatakan tuhan sedang ngeprank ketika ada orang yang menikah lalu di kemudian hari bercerai? Bahaya kan!?

Ok, mungkin syarat menjadi jodoh itu harus dengan pernikahan bisa disetujui. Tapi untuk kelanggengan? Siapa yang bisa menjamin? Atau mungkin kita ubah saja pemahamannya jadi: ok selama dua orang menikah, mereka adalah jodoh sampai ada hal yang memisahkan mereka baik karena perceraian atau salah satunya meninggal. Bila kemudian salah satunya cerai dan nikah lagi, maka dia itu  bertemu dengan jodoh baru sementara yang lama sudah bukan jodoh lagi. Segitu fleksibel-kah?

Selama ini, yang bisa saya tangkap dari pemahaman tetang jodoh, bahwa jodoh itu adalah orang. Orang yang akan dipasangkan dengan kita kelak pada suatu hari sebagai sebuah produk dari takdir tuhan. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa bila jodoh itu adalah orang, lalu itu dikaitkan dengan takdir tuhan, maka akan muncul ketidakpastian tentang hal tersebut. Bisa saja kelak orang itu akan menghilang, atau memutuskan untuk bercerai, selingkuh, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Lantas di mana letak kepastian takdir tuhan itu?

Kalau jadi demikian, mari coba alihkan pemahaman tentang bahwa jodoh itu orang menjadi jodoh itu adalah komitmen. Bila jodoh adalah komitmen, kepastian takdir akan tetap terjaga di balik kefleksibelan pemahaman kita. Kalau sama-sama komitmen maka akan langgeng dan sampai mati (berjodoh). Tapi bila tidak berkomitmen atau komitmennya rendah ya akhirnya bisa pisah alias nggak berjodoh. Dengan begitu, takdir tidak hanya sekedar ketetapan, tapi di dalamnya pula bahwa takdir itu adalah usaha.

Kalau boleh saya katakan, saya adalah orang yang setuju dengan pendapat “tuhan hanya menentukan prinsip bahwa semua makhluk itu berpasang-pasangan. Perkara siapa akan berpasangan dengan siapa itu tergantung usaha manusianya.” Bukan tuhan yang menetapkan kamu akan menikah dengan siapa, tapi manusia hanya meneruskan ketetapan yang tuhan ciptakan dan berusaha mencari pasangannya sendiri di balik sejuta manusia yang telah tuhan ciptakan.

Akan menjadi mudah pemahamannya bila begini: tuhan sudah menciptakan hukum (prinsip/ketentuan) bahwa semua makhluk itu berpasang-pasangan laki dan perempuan dengan cara menumbuhkan rasa cinta dan suka dalam hati masing-masing. Tinggal bagaimana selanjutnya manusia akan berusaha menangkap sinyal-sinyal hukum tuhan tersebut. Bila sudah berusaha dan berkomitmen maka kamu akan bertemu dengan pasanganmu, melanjutkan komitmen kebersamaan sampai akhirnya bersama sepanjang hayat, atau dalam bahasa lain kalian itu berjodoh.

Kalau pemahamannya begini, bangunan ideologis kita jadi aman kan!? Jadi jodoh itu bukan semata takdir tuhan yang mana kita tinggal terima jadi tanpa melibatkan usaha. Tapi jodoh adalah kesatuan antara hukum atau prinsip semesta yang sudah tuhan ciptakan kemudian kita teruskan dengan usaha dan daya kita. Sehingga kembali lagi, bahwa jodoh adalah komitmen, bukan orang.

Sebab secocok, seserasi, secinta apapun orang itu dengan kita kalau tanpa diiringi komitmen dan rasa tanggung jawab, bisa saja sebuah hubungan akan berakhir sebab beberapa hal. Dan seperti apapun proses pernikahan yang kita lakukan entah itu via perjodohan atau memang direncanakan dan saling suka sejak awal kalau di dalamnya terdapat komitmen yang kuat maka hubungan akan terus berlanjut sepanjang hayat. [T]

Tags: cintajodohpernikahan
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

“Mengabadikan” Indonesia

Next Post

Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co