23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Ozik Ole-olang by Ozik Ole-olang
January 10, 2020
in Esai
Jodoh Itu Komitmen, Bukan Orang

Ilustrasi diolah dari Google

Sepertinya, momen akhir tahun kemaren adalah waktu yang pas bagi banyak orang untuk merayakan hajat pernikahan. Terlihat dari banyak status Whatsapp dan postingan-postingan media sosial teman serta kenalan yang memajang sepasang mempelai entah itu mereka sendiri atau sekedar orang lain. Apalagi sejak awal bulan Desember, rasanya hampir tiap hari ada postingan acara resepsi.

Kata seorang teman, bulan Desember adalah bulan di mana orang-orang bertemu dengan jodohnya. Tapi entah, kenapa yang lahir di bulan Desember sendiri masih saja terjerat kelajangan ya? (saya). Tak papa, mungkin Desember tahun depan, atau depannya lagi, atau mungin kapan-kapan juga bisa.

Terlepas dari apakah ada hubungan spesial antara bulan Desember dengan acara pernikahan, ada satu hal menarik dalam kehidupan masyarakat kita yang berkaitan dengan hal asmara. Yakni ketika ada dua orang yang sudah menikah, maka orang-orang akan bilang bahwa dua orang itu berjodoh. Ya, mempelai laki-laki adalah jodoh bagi mempelai wanita dan begitu pula sebaliknya.

Tapi ketika semisal di belakang hari keduanya lantas bercerai dan berpisah, maka yang akan keluar dari mulut orang-orang mungkin akan jadi begini: “Ya mungkin bukan jodohnya kali ya.” Lalu seperti apa sebenarnya jodoh itu? Apakah jodoh adalah orang yang menikah dengan kita? Atau bagaimana?

Tapi sebelum lebih jauh ngomong tentang jodoh, pertama-tama, ada hal yang harus saya utarakan dalam perbincangan tentang jodoh. Bahwa membincang jodoh tanpa memiliki pasangan itu, sah-sah saja, no problem. Tidak ada teori atau hukum yang menyatakan bahwa ngomong jodoh tapi gak punya pasangan itu percuma. Begitu pula kuat dan tidaknya pendapat orang tentang jodoh tidak bisa dilihat dari ada dan tidaknya seorang pasangan. Ok, mungkin yang punya pasangan lebih berpengalaman, tapi yang tidak punya belum tentu cupu dan tak layak bersuara bukan!?

Perbincangan tentang jodoh hampir sama seperti perbincangan tentang bola. Baik pemain, pelatih, komentator, atau pun sekedar penonton semua berhak memberikan suara dan komentar terkait per-bola-an. Begitu pula tema per-jodoh-an semua layak memberi pendapat.

Baik, mari masuk lebih dalam lagi. Sebenarnya, menurut tuan-puan jodoh itu apa? Toh pada dasarnya, persoalan jodoh ini dapat dibilang sebagai perbincangan yang sudah teramat basi. Namun di balik kebasiannya itu, orang-orang cenderung akan mengangggap bahwa jodoh adalah sebuah rahasia yang disiapkan oleh tuhan dan tak ada yang tahu kecuali tuhan itu sendiri.

Ya memang, siapa yang tahu masa depan? Tapi masa depan juga bisa diusahakan bukan!?

Ok, kepercayaan dan pikiran tentang jodoh biasanya memang dominan akan diwarnai oleh norma-norma dan dogma dalam ajaran keagamaan. Paling tidak, pemahaman itu akan berbunyi seperti ini: jodoh adalah orang yang telah disiapkan oleh tuhan bagi masing-masing individu untuk kemudian dipertemukan dan dipersatukan dalam bingkai ikatan atau akad yang sah (pernikahan). Jadi jangan coba-coba bilang kalau masih pacaran itu sudah jadi jodoh, belum. Baru kalau sudah menikah itu baru jodoh, menurut pemahaman tersebut.

Tapi apa hanya dengan menikah seseorang itu akan menjadi jodoh bagi pasangannya? Bagaimana kalau nanti pisah, kalau nanti cerai, apa masih bisa dikatakan jodoh? Terus, bagaimana dengan orang yang sampai akhir hayatnya tidak menikah? Apa jodohnya tidak ada? Atau jodohnya sudah mati? Nah, hal-hal seperti inilah yang agaknya perlu direfleksikan ulang sebagai bentuk bangunan ideologis kita dalam hal hubungan asmara.

Dalam keyakinan banyak orang selama ini, terutama dari kalangan tradisionalis, ada tiga hal yang menjadi kuasa dan hak mutlak tuhan atas proses kehidupan manusia. Tiga hal itu adalah takdir (ketetapan) yang diyakini sudah ditentukan oleh tuhan bagi masing-masing individu. Tiga hal itu adalah rezeki, jodoh, dan mati. Ya memang, tidak ada yang tahu akan seperti apa dan kapan ketiga hal itu akan datang. Terutama dalam topik ini adalah jodoh.

Saya rasa, bila jodoh sekedar dikategorikan dengan sudah dan tidaknya menikah itu masih kurang. Sebab bisa saja di kemudian hari pernikahan akan ambyar dan berakhir perpisahan. Maka harus ditambahi satu hal lagi, yakni kelanggengan. Dalam artian terus bersama sampai salah satu dipisahkan oleh usia (mati). Jadi dapat dikatakan jodoh itu syaratnya ada dua, sudah menikah dan langgeng sampai akhir hayat.

Namun, hal ini akan menjadi berbahaya bagi bangunan ideologis bila dikaitkan dengan ketiga takdir tuhan tadi. Akan menjadi berbahaya bila dibawa pada pemahaman tentang kasus bahwa ada orang yang sampai mati tidak mendapatkan pasangan, begitu pula dengan kasus perceraian dalam pernikahan. Kalau sudah begitu apa kita akan mengatakan bahwa jodohnya orang yang tidak menikah itu sudah mati? Atau memang tidak ada alias tidak disiapkan sejak lahir? Atau kita akan mengatakan tuhan sedang ngeprank ketika ada orang yang menikah lalu di kemudian hari bercerai? Bahaya kan!?

Ok, mungkin syarat menjadi jodoh itu harus dengan pernikahan bisa disetujui. Tapi untuk kelanggengan? Siapa yang bisa menjamin? Atau mungkin kita ubah saja pemahamannya jadi: ok selama dua orang menikah, mereka adalah jodoh sampai ada hal yang memisahkan mereka baik karena perceraian atau salah satunya meninggal. Bila kemudian salah satunya cerai dan nikah lagi, maka dia itu  bertemu dengan jodoh baru sementara yang lama sudah bukan jodoh lagi. Segitu fleksibel-kah?

Selama ini, yang bisa saya tangkap dari pemahaman tetang jodoh, bahwa jodoh itu adalah orang. Orang yang akan dipasangkan dengan kita kelak pada suatu hari sebagai sebuah produk dari takdir tuhan. Tapi apakah banyak yang sadar bahwa bila jodoh itu adalah orang, lalu itu dikaitkan dengan takdir tuhan, maka akan muncul ketidakpastian tentang hal tersebut. Bisa saja kelak orang itu akan menghilang, atau memutuskan untuk bercerai, selingkuh, dan kemungkinan-kemungkinan lainnya. Lantas di mana letak kepastian takdir tuhan itu?

Kalau jadi demikian, mari coba alihkan pemahaman tentang bahwa jodoh itu orang menjadi jodoh itu adalah komitmen. Bila jodoh adalah komitmen, kepastian takdir akan tetap terjaga di balik kefleksibelan pemahaman kita. Kalau sama-sama komitmen maka akan langgeng dan sampai mati (berjodoh). Tapi bila tidak berkomitmen atau komitmennya rendah ya akhirnya bisa pisah alias nggak berjodoh. Dengan begitu, takdir tidak hanya sekedar ketetapan, tapi di dalamnya pula bahwa takdir itu adalah usaha.

Kalau boleh saya katakan, saya adalah orang yang setuju dengan pendapat “tuhan hanya menentukan prinsip bahwa semua makhluk itu berpasang-pasangan. Perkara siapa akan berpasangan dengan siapa itu tergantung usaha manusianya.” Bukan tuhan yang menetapkan kamu akan menikah dengan siapa, tapi manusia hanya meneruskan ketetapan yang tuhan ciptakan dan berusaha mencari pasangannya sendiri di balik sejuta manusia yang telah tuhan ciptakan.

Akan menjadi mudah pemahamannya bila begini: tuhan sudah menciptakan hukum (prinsip/ketentuan) bahwa semua makhluk itu berpasang-pasangan laki dan perempuan dengan cara menumbuhkan rasa cinta dan suka dalam hati masing-masing. Tinggal bagaimana selanjutnya manusia akan berusaha menangkap sinyal-sinyal hukum tuhan tersebut. Bila sudah berusaha dan berkomitmen maka kamu akan bertemu dengan pasanganmu, melanjutkan komitmen kebersamaan sampai akhirnya bersama sepanjang hayat, atau dalam bahasa lain kalian itu berjodoh.

Kalau pemahamannya begini, bangunan ideologis kita jadi aman kan!? Jadi jodoh itu bukan semata takdir tuhan yang mana kita tinggal terima jadi tanpa melibatkan usaha. Tapi jodoh adalah kesatuan antara hukum atau prinsip semesta yang sudah tuhan ciptakan kemudian kita teruskan dengan usaha dan daya kita. Sehingga kembali lagi, bahwa jodoh adalah komitmen, bukan orang.

Sebab secocok, seserasi, secinta apapun orang itu dengan kita kalau tanpa diiringi komitmen dan rasa tanggung jawab, bisa saja sebuah hubungan akan berakhir sebab beberapa hal. Dan seperti apapun proses pernikahan yang kita lakukan entah itu via perjodohan atau memang direncanakan dan saling suka sejak awal kalau di dalamnya terdapat komitmen yang kuat maka hubungan akan terus berlanjut sepanjang hayat. [T]

Tags: cintajodohpernikahan
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

“Mengabadikan” Indonesia

Next Post

Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Ozik Ole-olang

Ozik Ole-olang

Pemuda asal Madura yang lahir di Lamongan dan berdomisili di kota Malang.

Related Posts

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
0
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

Read moreDetails

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

Read moreDetails

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
0
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

Read moreDetails

Lampu Merah dan Mental Menerabas

by Angga Wijaya
August 20, 2026
0
Lampu Merah dan Mental Menerabas

SETIAP hari, ketika berada di jalan raya, saya seperti menyaksikan sebuah pertunjukan kecil tentang manusia Indonesia. Pertunjukan itu tidak berlangsung...

Read moreDetails

Mata Air yang Kehilangan Sungai: Kemakmuran yang Tersesat

by Ahmad Sihabudin
August 19, 2026
0
’Pers Hijau’ dan Tanggung Jawab Ekologis Publik

"Di desa di kota tumbuh dan gelisah, seperti kembang dalam belukar, seperti mata air kehilangan sungai."— Franky Sahilatua Ada negeri...

Read moreDetails

Merawat Warisan Budaya Kolonial…

by Pande Susan
August 19, 2026
0
Merawat Warisan Budaya Kolonial…

“Berapa lama Belanda menjajah Indonesia?” Adalah sebuah pertanyaan wajib ketika mulai belajar tentang sejarah Indonesia setelah bab Kerajaan-Kerajaan Hindu-Budha dan...

Read moreDetails
Next Post
Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Susah Senang Pengalaman Pertama dengan Orang-Orang Baru #Catatan Lomba Musikalisasi Puisi di Undiksha

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co