3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
December 31, 2021
in Opini
Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Pada tanggal 13 Desember 2021, banjir besar melanda Pulau Nusa Penida (NP). Banjir menerjang 6 desa pesisir di antaranya, Desa Suasana, Batununggul, Kutampi Kaler, Ped, Kampung Toyapakeh dan Desa Sakti. Hampir sepanjang (tubuh) pesisir utara Pulau NP mengalami rusak berat. Padahal, durasi hujan deras di daerah perbukitan hanya mencapai kurang lebih 4-5 jam. Namun, kiriman airnya mampu mencetak rekor spektakuler yakni banjir terparah sepanjang sejarah di NP.

Kok bisa, ya? Adakah berhubungan dengan ruang air (sungai mati) di NP saat ini? Ruang yang luput dari perhatian semenjak pariwisata bertahta di NP selama rentang 5-6 tahun terakhir. Betulkah laju “ekspansi” ruang pariwisata kian membatasi ruang air (sungai) di NP?

Fenomena banjir kali ini menarik untuk dibahas, bukan karena NP tidak pernah mengalami banjir sebelumnya. Ketika musim hujan, wilayah NP sering diguyur hujan deras bahkan seharian. Akan tetapi, tidak sampai menimbulkan banjir yang parah. Terakhir, 25 tahun yang lalu, banjir besar pernah melanda Pulau NP. Meski dilanda hujan deras selama lebih dari sehari, tetapi dampaknya tidak separah banjir sekarang yang hanya berdurasi 4 jam-an.

Beberapa rumah warga, tanggul air, jembatan dan termasuk beberapa titik badan jalan utama di pesisir menjadi jebol. Akibatnya, lalu lintas daerah pesisir menjadi terganggu. Kasus ini pun langsung mendapat sorotan dan respon cepat dari Pemda Klungkung. Proyek perbaikan jembatan dan badan jalan di daerah pesisir langsung dikebut.

Sebagai jalan utama, jalan-jalan pesisir NP memang tidak elok dibiarkan terbengkalai lama. Di samping berperan penting sebagai penghubung lintas desa, jalan-jalan pesisir utara juga menjadi akses utama pintu keluar masuk (penyeberangan) dari dan ke Nusa Penida. Pasalnya, jalan pesisir utara berkolerasi dengan titik-titik pelabuhan transportasi laut yang strategis di NP.

Jika akses ini terganggu, dipastikan akan menghambat aktivitas penyeberangan. Arahnya merembes pada citra pulau NP sebagai destinasi pariwisata. Ya, karena label pariwisata sangat sensitif dengan fasilitas yang menjadi daya dukungnya.

Banjir terparah di NP abad ini tidak hanya membuat masyarakat NP tercengang, termasuk masyarakat luar. Mereka tercengang setelah melihat dokumentasi banjir ini lewat panggung-panggung medsos. Momen-momen banjir itu tersebar begitu cepat dan berantai baik dalam bentuk deskripsi foto, video, teks dan lain sebagainya

Dampaknya, bukan hanya mengundang rasa prihatin, tetapi banjir parah kali ini juga mengundang pertanyaan yang “menganga” pada setiap insan. Bagaimana tidak? Pasca kebanjiran tamu, kini NP kebanjiran air bah yang parah sekarang?

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Dugaan Penyebab

Spekulasi atas jawaban ini berseliweran. Banyak orang menduga bahwa faktor penyebabnya berkaitan dengan perilaku minus masyarakat terhadap sampah, terutama sampah plastik. Meskipun beberapa komunitas masyarakat peduli lingkungan (di NP) sudah melakukan aksi bersih-bersih sampah secara sporadis, rupanya gerakan ini baru berhasil pada tataran bersih fisik saja. Belum mampu “berbuah kesadaran” kepada masyarakat.

Banyak masyarakat belum tersentuh betapa sampah plastik sangat berbahaya. Tidak hanya mencemari lingkungan, sampah plastik juga dapat menjadi malapetaka ketika hujan deras melanda. Pencapaian “buah kesadaran” ini memang tidak mudah. Di daerah-daerah perkotaan sekali pun, masalah sampah plastik masih menjadi persoalan klasik hingga sekarang.

Di samping sampah plastik, beberapa media melaporkan bahwa dugaan kuat bersumber dari ruang air di NP. Dari pantauan pemerintah, ditemukan minus besar terhadap jalan air (sungai) di NP. Ada pendangkalan di beberapa hulu sungai di NP.

Salah satu penyebabnya ialah karena timbunan material. Tinjauan sementara, pemda Klungkung menemukan sejumlah material pada hulu sungai di NP. Di duga, beberapa pihak yang membangun membuang materialnya ke sungai tadah hujan yang ada di NP.

Temuan tersebut jelas tidak mengada-ada. Sangat rasional. Selama 5-6 tahun belakangan, ruang pariwisata semakin meluas di NP. Pembangunan akomodasi pariwisata seolah-olah tak terbendung. Dari pesisir hingga perbukitan Pulau NP, bertumbuh bangunan-bangunan baru. Keberadaan penginapan, rumah makan (restoran) dan fasilitas lainnya bertambah setiap harinya.

Bukan hanya kuantitasnya yang terus mengalami peningkatan, laju pembangunan akomodasi ini juga sering tak memedulikan lingkungan alam sekitar. Demi mempertahankan view dan keluasan ruang akomodasi, kadang-kadang pembangunan sampai merampas hak jalan air.

Selain pendangkalan, juga terjadi kasus penyempitan sungai. Mungkin tidak disadari, tetapi laju ruang pariwisata tidak bisa membohongi. Pembangunan akomodasi bertambah luas, sedangkan badan sungai mengalami penyempitan.

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Dari sinilah, utak-atik ruang mulai dipermainkan. Semangat mabuk membangun melupakan hak-hak lingkungan. Namun, alam tak pernah melakukan perlawanan apalagi turun ke jalanan. Alam hanya memilih diam, sambil menunggu kepedulian dari pihak berwenang atau masyarakat untuk memperjuangkan hak-haknya. Kalau toh tidak ada yang peduli, alam memiliki caranya sendiri. Ia akan melawan dengan kekuatan dewanya. Alam tak peduli regulasi. Tak perlu petantang-petenteng.

Alam adalah silent power. Kekuatannya melebihi massa manusia di mana pun. Sayangnya, manusia tetap saja meremehkan alam. Libido meraup dolar lebih penting daripada membiarkan keleluasaan jalan air (alam) kepada sungai. Ya, karena memang tidak memberikan keuntungan. Sebaliknya, merugikan pihak pebisnis akomodasi pariwisata.

Mungkin ini bukan cerita baru. Ketika ruang pariwisata berkuasa, arogansi materi dan hedonis saling bertumbuh. Kompetisi egoisme meraup untung materi sangat ketat. Para pelaku pariwisata saling sikut untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Lalu, keuntungan alam kemana? Siapa yang peduli?

Ah, boro-boro peduli. Justru, orang sering berlomba-lomba mengekploitasi alam untuk mendukung berhala pariwisata. Alam dipermak untuk memenuhi hasrat pelaku dan tamu wisata. Kita berharap lomba eksploitasi alam ini tidak terjadi pada pengembangan ruang pariwisata selanjutnya di NP.

Banjir terparah di NP tahun ini cukup dijadikan alarm. Alarm betapa ruang air harus menjadi perhatian bersama. Semangat membangun bak air bah, jangan sampai tidak memperhatikan jalan air bah. Kalau tidak, maka apa yang dibangun bisa saja “bah” (roboh) diterjang air bah.

Karena itu, kedua ruang (pariwisata dan ruang air) mesti berjalan harmonis. Pembangungan ruang pariwisata bertumbuh, tetapi tetap memberikan ruang sewajarnya pada ruang sungai—sehingga kedua hasrat (manusia dan alam) berjalan sesuai porsinya masing-masing. Dari keadilan inilah kita berharap perdamaian dengan alam.

Jika tak mempedulikan jalan air, jalan perdamaian dengan alam  akan semakin sulit diraih. Tidak hanya dampak perlawanan alam, citra pariwisata NP akan menjadi kurang baik. Apa jadinya jika destinasi pariwisata rawan banjir. Pasti akan mencoreng rasa aman para pengunjung. Padahal, konon rasa aman menjadi taruhan mendasar untuk menarik pelancong berkunjung ke suatu daerah.

Hal ini berarti bahwa pembangunan ruang wisata yang memperhatikan ruang air (alam) memiliki keuntungan ganda. Di samping menyelamatkan aset materi pebisnis, juga menyelamatkan kelangsung hidup pariwisata. Jika tak rawan banjir, pengunjung menjadi tertarik dan nyaman berkunjung ke NP. Yang untung bukan diri sendiri, tetapi semua pelaku pariwisata yang ada di NP.

Sebaliknya, jika mengabaikan ruang air dan menyebabkan rawan banjir—maka tindakan segelintir oknum ini berdampak kerugian kolektif kepada semua pelaku pariwisata di NP. Pengunjung merasa tidak tertarik untuk berkunjung ke NP. Buntutnya, pariwisata NP tidak bisa bertahan lama ke depannya.

Karena itu, alangkah baiknya jika tata ruang pariwisata NP selalu memperhatikan ruang alam (sungai). Masyarakat yang membangun (terutama di sekitaran sungai) agar selalu menyediakan ruang air sewajarnya. Kesadaran ini mungkin akan semakin kuat jika didukung oleh payung regulasi yang jelas.

Tidak mudah memang. Keberadaan sungai tadah hujan di NP cukup sulit dipetakan. Lintasannya tidak terbaca dengan jelas. Seringkali, tubuh sungai itu merupakan ladang milik warga, yang sudah memiliki sertifikat yang sah secara hukum. Para warga menanami palawija pada musim hujan. Jika hujan deras, tanaman itu dipastikan tergerus air sungai.

Berbeda dengan sungai yang terus dialiri air. Lintasan sungai itu sudah tampak jelas. Jadi, lekuk badan sungai tak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, sungai di NP sedikit abal-abal. Beberapa lintasan air memang melintasan ladang warga. Ketika hujan deras, baru kelihatan dengan jelas lintasan air hujan tersebut. Artinya, saat musim panas atau hujan biasa, menjadi kuasa manusia. Sedangkan, saat hujan deras menjadi kuasa air.

Untuk kepastian ilmiah, mungkin penting adanya tim khusus yang turun ke lapangan meretas banjir parah kali ini. Tim ini bertugas mengkaji, menganalisis dan berupaya menemukan solusi. Dalam menjalankan tugasnya, bisa bersinergi dengan semua elemen masyarakat guna mendapatkan hasil yang optimal.

Temuan kajian tersebut selanjutnya menunggu implementasi konkret di lapangan sehingga ke depan banjir dapat diminalisasikan. Lebih tinggi, dapat diantisipasi atau dicegah sejak dini. Tentu tidak gampang. Dibutuhkan waktu, biaya dan pemikiran dari semua pihak (baik secara individu maupun kolektif)—bukan hanya dari pihak pemerintah termasuk swasta, pakar lingkungan, masyarakat dan lain sebagainya.

Eksekusi research ini sangat urgen, tetapi sekarang lebih mendesak pertolongan nyata kepada warga yang terdampak di NP. Saat ini, masyarakat sangat membutuhkan tindakan sosial, kemanusiaan dan atau tindakan psikologis untuk bisa bangkit kembali.

Namun, sambil menunggu pulih, tidak ada salahnya tim pengkaji bergerilya ke lapangan untuk mendapatkan data-data ilmiah dan menganalisisnya. Apa pun temuannya nanti sangat berharga menjadi semacam instrospeksi diri bagi masyarakat  NP. Introspeksi untuk berdamai dengan ruang air (alam) sehingga ke depan banjir parah tidak terulang kembali di NP. [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Naga Puspa, Persembahan Bhakti Pada Sang Wiku

Next Post

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co