3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
December 31, 2021
in Opini
Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Pada tanggal 13 Desember 2021, banjir besar melanda Pulau Nusa Penida (NP). Banjir menerjang 6 desa pesisir di antaranya, Desa Suasana, Batununggul, Kutampi Kaler, Ped, Kampung Toyapakeh dan Desa Sakti. Hampir sepanjang (tubuh) pesisir utara Pulau NP mengalami rusak berat. Padahal, durasi hujan deras di daerah perbukitan hanya mencapai kurang lebih 4-5 jam. Namun, kiriman airnya mampu mencetak rekor spektakuler yakni banjir terparah sepanjang sejarah di NP.

Kok bisa, ya? Adakah berhubungan dengan ruang air (sungai mati) di NP saat ini? Ruang yang luput dari perhatian semenjak pariwisata bertahta di NP selama rentang 5-6 tahun terakhir. Betulkah laju “ekspansi” ruang pariwisata kian membatasi ruang air (sungai) di NP?

Fenomena banjir kali ini menarik untuk dibahas, bukan karena NP tidak pernah mengalami banjir sebelumnya. Ketika musim hujan, wilayah NP sering diguyur hujan deras bahkan seharian. Akan tetapi, tidak sampai menimbulkan banjir yang parah. Terakhir, 25 tahun yang lalu, banjir besar pernah melanda Pulau NP. Meski dilanda hujan deras selama lebih dari sehari, tetapi dampaknya tidak separah banjir sekarang yang hanya berdurasi 4 jam-an.

Beberapa rumah warga, tanggul air, jembatan dan termasuk beberapa titik badan jalan utama di pesisir menjadi jebol. Akibatnya, lalu lintas daerah pesisir menjadi terganggu. Kasus ini pun langsung mendapat sorotan dan respon cepat dari Pemda Klungkung. Proyek perbaikan jembatan dan badan jalan di daerah pesisir langsung dikebut.

Sebagai jalan utama, jalan-jalan pesisir NP memang tidak elok dibiarkan terbengkalai lama. Di samping berperan penting sebagai penghubung lintas desa, jalan-jalan pesisir utara juga menjadi akses utama pintu keluar masuk (penyeberangan) dari dan ke Nusa Penida. Pasalnya, jalan pesisir utara berkolerasi dengan titik-titik pelabuhan transportasi laut yang strategis di NP.

Jika akses ini terganggu, dipastikan akan menghambat aktivitas penyeberangan. Arahnya merembes pada citra pulau NP sebagai destinasi pariwisata. Ya, karena label pariwisata sangat sensitif dengan fasilitas yang menjadi daya dukungnya.

Banjir terparah di NP abad ini tidak hanya membuat masyarakat NP tercengang, termasuk masyarakat luar. Mereka tercengang setelah melihat dokumentasi banjir ini lewat panggung-panggung medsos. Momen-momen banjir itu tersebar begitu cepat dan berantai baik dalam bentuk deskripsi foto, video, teks dan lain sebagainya

Dampaknya, bukan hanya mengundang rasa prihatin, tetapi banjir parah kali ini juga mengundang pertanyaan yang “menganga” pada setiap insan. Bagaimana tidak? Pasca kebanjiran tamu, kini NP kebanjiran air bah yang parah sekarang?

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Dugaan Penyebab

Spekulasi atas jawaban ini berseliweran. Banyak orang menduga bahwa faktor penyebabnya berkaitan dengan perilaku minus masyarakat terhadap sampah, terutama sampah plastik. Meskipun beberapa komunitas masyarakat peduli lingkungan (di NP) sudah melakukan aksi bersih-bersih sampah secara sporadis, rupanya gerakan ini baru berhasil pada tataran bersih fisik saja. Belum mampu “berbuah kesadaran” kepada masyarakat.

Banyak masyarakat belum tersentuh betapa sampah plastik sangat berbahaya. Tidak hanya mencemari lingkungan, sampah plastik juga dapat menjadi malapetaka ketika hujan deras melanda. Pencapaian “buah kesadaran” ini memang tidak mudah. Di daerah-daerah perkotaan sekali pun, masalah sampah plastik masih menjadi persoalan klasik hingga sekarang.

Di samping sampah plastik, beberapa media melaporkan bahwa dugaan kuat bersumber dari ruang air di NP. Dari pantauan pemerintah, ditemukan minus besar terhadap jalan air (sungai) di NP. Ada pendangkalan di beberapa hulu sungai di NP.

Salah satu penyebabnya ialah karena timbunan material. Tinjauan sementara, pemda Klungkung menemukan sejumlah material pada hulu sungai di NP. Di duga, beberapa pihak yang membangun membuang materialnya ke sungai tadah hujan yang ada di NP.

Temuan tersebut jelas tidak mengada-ada. Sangat rasional. Selama 5-6 tahun belakangan, ruang pariwisata semakin meluas di NP. Pembangunan akomodasi pariwisata seolah-olah tak terbendung. Dari pesisir hingga perbukitan Pulau NP, bertumbuh bangunan-bangunan baru. Keberadaan penginapan, rumah makan (restoran) dan fasilitas lainnya bertambah setiap harinya.

Bukan hanya kuantitasnya yang terus mengalami peningkatan, laju pembangunan akomodasi ini juga sering tak memedulikan lingkungan alam sekitar. Demi mempertahankan view dan keluasan ruang akomodasi, kadang-kadang pembangunan sampai merampas hak jalan air.

Selain pendangkalan, juga terjadi kasus penyempitan sungai. Mungkin tidak disadari, tetapi laju ruang pariwisata tidak bisa membohongi. Pembangunan akomodasi bertambah luas, sedangkan badan sungai mengalami penyempitan.

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Dari sinilah, utak-atik ruang mulai dipermainkan. Semangat mabuk membangun melupakan hak-hak lingkungan. Namun, alam tak pernah melakukan perlawanan apalagi turun ke jalanan. Alam hanya memilih diam, sambil menunggu kepedulian dari pihak berwenang atau masyarakat untuk memperjuangkan hak-haknya. Kalau toh tidak ada yang peduli, alam memiliki caranya sendiri. Ia akan melawan dengan kekuatan dewanya. Alam tak peduli regulasi. Tak perlu petantang-petenteng.

Alam adalah silent power. Kekuatannya melebihi massa manusia di mana pun. Sayangnya, manusia tetap saja meremehkan alam. Libido meraup dolar lebih penting daripada membiarkan keleluasaan jalan air (alam) kepada sungai. Ya, karena memang tidak memberikan keuntungan. Sebaliknya, merugikan pihak pebisnis akomodasi pariwisata.

Mungkin ini bukan cerita baru. Ketika ruang pariwisata berkuasa, arogansi materi dan hedonis saling bertumbuh. Kompetisi egoisme meraup untung materi sangat ketat. Para pelaku pariwisata saling sikut untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Lalu, keuntungan alam kemana? Siapa yang peduli?

Ah, boro-boro peduli. Justru, orang sering berlomba-lomba mengekploitasi alam untuk mendukung berhala pariwisata. Alam dipermak untuk memenuhi hasrat pelaku dan tamu wisata. Kita berharap lomba eksploitasi alam ini tidak terjadi pada pengembangan ruang pariwisata selanjutnya di NP.

Banjir terparah di NP tahun ini cukup dijadikan alarm. Alarm betapa ruang air harus menjadi perhatian bersama. Semangat membangun bak air bah, jangan sampai tidak memperhatikan jalan air bah. Kalau tidak, maka apa yang dibangun bisa saja “bah” (roboh) diterjang air bah.

Karena itu, kedua ruang (pariwisata dan ruang air) mesti berjalan harmonis. Pembangungan ruang pariwisata bertumbuh, tetapi tetap memberikan ruang sewajarnya pada ruang sungai—sehingga kedua hasrat (manusia dan alam) berjalan sesuai porsinya masing-masing. Dari keadilan inilah kita berharap perdamaian dengan alam.

Jika tak mempedulikan jalan air, jalan perdamaian dengan alam  akan semakin sulit diraih. Tidak hanya dampak perlawanan alam, citra pariwisata NP akan menjadi kurang baik. Apa jadinya jika destinasi pariwisata rawan banjir. Pasti akan mencoreng rasa aman para pengunjung. Padahal, konon rasa aman menjadi taruhan mendasar untuk menarik pelancong berkunjung ke suatu daerah.

Hal ini berarti bahwa pembangunan ruang wisata yang memperhatikan ruang air (alam) memiliki keuntungan ganda. Di samping menyelamatkan aset materi pebisnis, juga menyelamatkan kelangsung hidup pariwisata. Jika tak rawan banjir, pengunjung menjadi tertarik dan nyaman berkunjung ke NP. Yang untung bukan diri sendiri, tetapi semua pelaku pariwisata yang ada di NP.

Sebaliknya, jika mengabaikan ruang air dan menyebabkan rawan banjir—maka tindakan segelintir oknum ini berdampak kerugian kolektif kepada semua pelaku pariwisata di NP. Pengunjung merasa tidak tertarik untuk berkunjung ke NP. Buntutnya, pariwisata NP tidak bisa bertahan lama ke depannya.

Karena itu, alangkah baiknya jika tata ruang pariwisata NP selalu memperhatikan ruang alam (sungai). Masyarakat yang membangun (terutama di sekitaran sungai) agar selalu menyediakan ruang air sewajarnya. Kesadaran ini mungkin akan semakin kuat jika didukung oleh payung regulasi yang jelas.

Tidak mudah memang. Keberadaan sungai tadah hujan di NP cukup sulit dipetakan. Lintasannya tidak terbaca dengan jelas. Seringkali, tubuh sungai itu merupakan ladang milik warga, yang sudah memiliki sertifikat yang sah secara hukum. Para warga menanami palawija pada musim hujan. Jika hujan deras, tanaman itu dipastikan tergerus air sungai.

Berbeda dengan sungai yang terus dialiri air. Lintasan sungai itu sudah tampak jelas. Jadi, lekuk badan sungai tak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, sungai di NP sedikit abal-abal. Beberapa lintasan air memang melintasan ladang warga. Ketika hujan deras, baru kelihatan dengan jelas lintasan air hujan tersebut. Artinya, saat musim panas atau hujan biasa, menjadi kuasa manusia. Sedangkan, saat hujan deras menjadi kuasa air.

Untuk kepastian ilmiah, mungkin penting adanya tim khusus yang turun ke lapangan meretas banjir parah kali ini. Tim ini bertugas mengkaji, menganalisis dan berupaya menemukan solusi. Dalam menjalankan tugasnya, bisa bersinergi dengan semua elemen masyarakat guna mendapatkan hasil yang optimal.

Temuan kajian tersebut selanjutnya menunggu implementasi konkret di lapangan sehingga ke depan banjir dapat diminalisasikan. Lebih tinggi, dapat diantisipasi atau dicegah sejak dini. Tentu tidak gampang. Dibutuhkan waktu, biaya dan pemikiran dari semua pihak (baik secara individu maupun kolektif)—bukan hanya dari pihak pemerintah termasuk swasta, pakar lingkungan, masyarakat dan lain sebagainya.

Eksekusi research ini sangat urgen, tetapi sekarang lebih mendesak pertolongan nyata kepada warga yang terdampak di NP. Saat ini, masyarakat sangat membutuhkan tindakan sosial, kemanusiaan dan atau tindakan psikologis untuk bisa bangkit kembali.

Namun, sambil menunggu pulih, tidak ada salahnya tim pengkaji bergerilya ke lapangan untuk mendapatkan data-data ilmiah dan menganalisisnya. Apa pun temuannya nanti sangat berharga menjadi semacam instrospeksi diri bagi masyarakat  NP. Introspeksi untuk berdamai dengan ruang air (alam) sehingga ke depan banjir parah tidak terulang kembali di NP. [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Naga Puspa, Persembahan Bhakti Pada Sang Wiku

Next Post

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co