24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
December 31, 2021
in Opini
Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Pada tanggal 13 Desember 2021, banjir besar melanda Pulau Nusa Penida (NP). Banjir menerjang 6 desa pesisir di antaranya, Desa Suasana, Batununggul, Kutampi Kaler, Ped, Kampung Toyapakeh dan Desa Sakti. Hampir sepanjang (tubuh) pesisir utara Pulau NP mengalami rusak berat. Padahal, durasi hujan deras di daerah perbukitan hanya mencapai kurang lebih 4-5 jam. Namun, kiriman airnya mampu mencetak rekor spektakuler yakni banjir terparah sepanjang sejarah di NP.

Kok bisa, ya? Adakah berhubungan dengan ruang air (sungai mati) di NP saat ini? Ruang yang luput dari perhatian semenjak pariwisata bertahta di NP selama rentang 5-6 tahun terakhir. Betulkah laju “ekspansi” ruang pariwisata kian membatasi ruang air (sungai) di NP?

Fenomena banjir kali ini menarik untuk dibahas, bukan karena NP tidak pernah mengalami banjir sebelumnya. Ketika musim hujan, wilayah NP sering diguyur hujan deras bahkan seharian. Akan tetapi, tidak sampai menimbulkan banjir yang parah. Terakhir, 25 tahun yang lalu, banjir besar pernah melanda Pulau NP. Meski dilanda hujan deras selama lebih dari sehari, tetapi dampaknya tidak separah banjir sekarang yang hanya berdurasi 4 jam-an.

Beberapa rumah warga, tanggul air, jembatan dan termasuk beberapa titik badan jalan utama di pesisir menjadi jebol. Akibatnya, lalu lintas daerah pesisir menjadi terganggu. Kasus ini pun langsung mendapat sorotan dan respon cepat dari Pemda Klungkung. Proyek perbaikan jembatan dan badan jalan di daerah pesisir langsung dikebut.

Sebagai jalan utama, jalan-jalan pesisir NP memang tidak elok dibiarkan terbengkalai lama. Di samping berperan penting sebagai penghubung lintas desa, jalan-jalan pesisir utara juga menjadi akses utama pintu keluar masuk (penyeberangan) dari dan ke Nusa Penida. Pasalnya, jalan pesisir utara berkolerasi dengan titik-titik pelabuhan transportasi laut yang strategis di NP.

Jika akses ini terganggu, dipastikan akan menghambat aktivitas penyeberangan. Arahnya merembes pada citra pulau NP sebagai destinasi pariwisata. Ya, karena label pariwisata sangat sensitif dengan fasilitas yang menjadi daya dukungnya.

Banjir terparah di NP abad ini tidak hanya membuat masyarakat NP tercengang, termasuk masyarakat luar. Mereka tercengang setelah melihat dokumentasi banjir ini lewat panggung-panggung medsos. Momen-momen banjir itu tersebar begitu cepat dan berantai baik dalam bentuk deskripsi foto, video, teks dan lain sebagainya

Dampaknya, bukan hanya mengundang rasa prihatin, tetapi banjir parah kali ini juga mengundang pertanyaan yang “menganga” pada setiap insan. Bagaimana tidak? Pasca kebanjiran tamu, kini NP kebanjiran air bah yang parah sekarang?

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Dugaan Penyebab

Spekulasi atas jawaban ini berseliweran. Banyak orang menduga bahwa faktor penyebabnya berkaitan dengan perilaku minus masyarakat terhadap sampah, terutama sampah plastik. Meskipun beberapa komunitas masyarakat peduli lingkungan (di NP) sudah melakukan aksi bersih-bersih sampah secara sporadis, rupanya gerakan ini baru berhasil pada tataran bersih fisik saja. Belum mampu “berbuah kesadaran” kepada masyarakat.

Banyak masyarakat belum tersentuh betapa sampah plastik sangat berbahaya. Tidak hanya mencemari lingkungan, sampah plastik juga dapat menjadi malapetaka ketika hujan deras melanda. Pencapaian “buah kesadaran” ini memang tidak mudah. Di daerah-daerah perkotaan sekali pun, masalah sampah plastik masih menjadi persoalan klasik hingga sekarang.

Di samping sampah plastik, beberapa media melaporkan bahwa dugaan kuat bersumber dari ruang air di NP. Dari pantauan pemerintah, ditemukan minus besar terhadap jalan air (sungai) di NP. Ada pendangkalan di beberapa hulu sungai di NP.

Salah satu penyebabnya ialah karena timbunan material. Tinjauan sementara, pemda Klungkung menemukan sejumlah material pada hulu sungai di NP. Di duga, beberapa pihak yang membangun membuang materialnya ke sungai tadah hujan yang ada di NP.

Temuan tersebut jelas tidak mengada-ada. Sangat rasional. Selama 5-6 tahun belakangan, ruang pariwisata semakin meluas di NP. Pembangunan akomodasi pariwisata seolah-olah tak terbendung. Dari pesisir hingga perbukitan Pulau NP, bertumbuh bangunan-bangunan baru. Keberadaan penginapan, rumah makan (restoran) dan fasilitas lainnya bertambah setiap harinya.

Bukan hanya kuantitasnya yang terus mengalami peningkatan, laju pembangunan akomodasi ini juga sering tak memedulikan lingkungan alam sekitar. Demi mempertahankan view dan keluasan ruang akomodasi, kadang-kadang pembangunan sampai merampas hak jalan air.

Selain pendangkalan, juga terjadi kasus penyempitan sungai. Mungkin tidak disadari, tetapi laju ruang pariwisata tidak bisa membohongi. Pembangunan akomodasi bertambah luas, sedangkan badan sungai mengalami penyempitan.

Dampak banjir di Nusa Penida [Foto Pak Apel]

Dari sinilah, utak-atik ruang mulai dipermainkan. Semangat mabuk membangun melupakan hak-hak lingkungan. Namun, alam tak pernah melakukan perlawanan apalagi turun ke jalanan. Alam hanya memilih diam, sambil menunggu kepedulian dari pihak berwenang atau masyarakat untuk memperjuangkan hak-haknya. Kalau toh tidak ada yang peduli, alam memiliki caranya sendiri. Ia akan melawan dengan kekuatan dewanya. Alam tak peduli regulasi. Tak perlu petantang-petenteng.

Alam adalah silent power. Kekuatannya melebihi massa manusia di mana pun. Sayangnya, manusia tetap saja meremehkan alam. Libido meraup dolar lebih penting daripada membiarkan keleluasaan jalan air (alam) kepada sungai. Ya, karena memang tidak memberikan keuntungan. Sebaliknya, merugikan pihak pebisnis akomodasi pariwisata.

Mungkin ini bukan cerita baru. Ketika ruang pariwisata berkuasa, arogansi materi dan hedonis saling bertumbuh. Kompetisi egoisme meraup untung materi sangat ketat. Para pelaku pariwisata saling sikut untuk mendapatkan keuntungan pribadi. Lalu, keuntungan alam kemana? Siapa yang peduli?

Ah, boro-boro peduli. Justru, orang sering berlomba-lomba mengekploitasi alam untuk mendukung berhala pariwisata. Alam dipermak untuk memenuhi hasrat pelaku dan tamu wisata. Kita berharap lomba eksploitasi alam ini tidak terjadi pada pengembangan ruang pariwisata selanjutnya di NP.

Banjir terparah di NP tahun ini cukup dijadikan alarm. Alarm betapa ruang air harus menjadi perhatian bersama. Semangat membangun bak air bah, jangan sampai tidak memperhatikan jalan air bah. Kalau tidak, maka apa yang dibangun bisa saja “bah” (roboh) diterjang air bah.

Karena itu, kedua ruang (pariwisata dan ruang air) mesti berjalan harmonis. Pembangungan ruang pariwisata bertumbuh, tetapi tetap memberikan ruang sewajarnya pada ruang sungai—sehingga kedua hasrat (manusia dan alam) berjalan sesuai porsinya masing-masing. Dari keadilan inilah kita berharap perdamaian dengan alam.

Jika tak mempedulikan jalan air, jalan perdamaian dengan alam  akan semakin sulit diraih. Tidak hanya dampak perlawanan alam, citra pariwisata NP akan menjadi kurang baik. Apa jadinya jika destinasi pariwisata rawan banjir. Pasti akan mencoreng rasa aman para pengunjung. Padahal, konon rasa aman menjadi taruhan mendasar untuk menarik pelancong berkunjung ke suatu daerah.

Hal ini berarti bahwa pembangunan ruang wisata yang memperhatikan ruang air (alam) memiliki keuntungan ganda. Di samping menyelamatkan aset materi pebisnis, juga menyelamatkan kelangsung hidup pariwisata. Jika tak rawan banjir, pengunjung menjadi tertarik dan nyaman berkunjung ke NP. Yang untung bukan diri sendiri, tetapi semua pelaku pariwisata yang ada di NP.

Sebaliknya, jika mengabaikan ruang air dan menyebabkan rawan banjir—maka tindakan segelintir oknum ini berdampak kerugian kolektif kepada semua pelaku pariwisata di NP. Pengunjung merasa tidak tertarik untuk berkunjung ke NP. Buntutnya, pariwisata NP tidak bisa bertahan lama ke depannya.

Karena itu, alangkah baiknya jika tata ruang pariwisata NP selalu memperhatikan ruang alam (sungai). Masyarakat yang membangun (terutama di sekitaran sungai) agar selalu menyediakan ruang air sewajarnya. Kesadaran ini mungkin akan semakin kuat jika didukung oleh payung regulasi yang jelas.

Tidak mudah memang. Keberadaan sungai tadah hujan di NP cukup sulit dipetakan. Lintasannya tidak terbaca dengan jelas. Seringkali, tubuh sungai itu merupakan ladang milik warga, yang sudah memiliki sertifikat yang sah secara hukum. Para warga menanami palawija pada musim hujan. Jika hujan deras, tanaman itu dipastikan tergerus air sungai.

Berbeda dengan sungai yang terus dialiri air. Lintasan sungai itu sudah tampak jelas. Jadi, lekuk badan sungai tak perlu dipertanyakan lagi. Akan tetapi, sungai di NP sedikit abal-abal. Beberapa lintasan air memang melintasan ladang warga. Ketika hujan deras, baru kelihatan dengan jelas lintasan air hujan tersebut. Artinya, saat musim panas atau hujan biasa, menjadi kuasa manusia. Sedangkan, saat hujan deras menjadi kuasa air.

Untuk kepastian ilmiah, mungkin penting adanya tim khusus yang turun ke lapangan meretas banjir parah kali ini. Tim ini bertugas mengkaji, menganalisis dan berupaya menemukan solusi. Dalam menjalankan tugasnya, bisa bersinergi dengan semua elemen masyarakat guna mendapatkan hasil yang optimal.

Temuan kajian tersebut selanjutnya menunggu implementasi konkret di lapangan sehingga ke depan banjir dapat diminalisasikan. Lebih tinggi, dapat diantisipasi atau dicegah sejak dini. Tentu tidak gampang. Dibutuhkan waktu, biaya dan pemikiran dari semua pihak (baik secara individu maupun kolektif)—bukan hanya dari pihak pemerintah termasuk swasta, pakar lingkungan, masyarakat dan lain sebagainya.

Eksekusi research ini sangat urgen, tetapi sekarang lebih mendesak pertolongan nyata kepada warga yang terdampak di NP. Saat ini, masyarakat sangat membutuhkan tindakan sosial, kemanusiaan dan atau tindakan psikologis untuk bisa bangkit kembali.

Namun, sambil menunggu pulih, tidak ada salahnya tim pengkaji bergerilya ke lapangan untuk mendapatkan data-data ilmiah dan menganalisisnya. Apa pun temuannya nanti sangat berharga menjadi semacam instrospeksi diri bagi masyarakat  NP. Introspeksi untuk berdamai dengan ruang air (alam) sehingga ke depan banjir parah tidak terulang kembali di NP. [T]

Tags: Nusa PenidaPariwisata
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Naga Puspa, Persembahan Bhakti Pada Sang Wiku

Next Post

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co