4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 31, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

—Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Desember 2021

1. Salah satu lontar yang paling disucikan di kalangan Pedanda Śiwa di Bali adalah lontar pustaka suci Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa.

Dengan sangat jelas disebutkan:

prathamaḥ khaṇḍaḥ . nārāyaṇāt sarvacetanācetanajanma. oṃ atha puruṣo ha vai nārāyaṇo’kāmayata prajāḥ sṛjeyeti . nārāyaṇātprāṇo jāyate . manaḥ sarvendriyāṇi ca . khaṃ vāyurjyotirāpaḥ pṛthivī viśvasya dhāriṇī . nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi . nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante ..

Disebutkan dalam mantra ini vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ atau  “vaikuṇṭha-bhuvana-lokaṃ” sebagai salah satu acuan dipersamakan dengan dengan Śiva-laya, Sūnya-laya atau Kaivalya sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar Siddhānta yang diwarisi di Bali.

oṃ namo nārāyaṇāyeti mantropāsakaḥ, vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ gamiṣyati, tadidaṃ paraṃ puṇḍarīkaṃ vijñānaghanam, tasmāttaṭidābhamātram

Dimana “medal” mantra ini? Dimana dipakai mantra ini?

Pada saat purnama tertentu, dan saat pamaripurna NGENTEG LINGGIH & BALIGYA.

Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa memang utuh ditemukan dan dijadikan acuan dalam kependetaan Śiwa di Bali — mohon maaf jika pengetahuan saya tidak mencukupi untuk menjelaskan kependetaan beracuan garis silsilah kependetaan lainnya. Lontar yang dikenal sebagai Vedaśīrṣa(h) ini secara umum di kalangan Pedanda Śiwa di Bali menjadi salah satu kunci memahami ‘rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif’.

Bagian dari lontar yang dianggap puja atau stawa dari kependetaan Śiwa di Bali ini telah “diadopsi” menjadi bagian penting dari Puja Trisandya baik ke 2 yang bunyinya:

Oṁ Nārāyaṇa evedam sarvaṁ

yad bhūtaṁ yac ca bhāvyaṁ        

niṣkalaṅko nirañjano

nirvikalpo nirākhyātaḥ        

śuddho deva eko

nārāyaṇo na dvitīyo’sti kaścit

Oṁ Nārāyaṇa adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nārāyaṇa, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Selanjutnya bait 3:

Oṁ tvaṁ śivaḥ tvaṁ mahādevaḥ      

Īśvaraḥ parameśvaraḥ                        

brahmā viṣṇuśca rudraśca                

puruṣaḥ parikīrtitaḥ

Oṁ Engkau dipanggil Śiva, Mahādeva, Īśvara, Parameśvara, Brahma, Viṣṇu, Rudra dan Puruṣa

2. Kenapa Nārāyaṇa menjadi salah satu puncak puja dan stawa Pedanda Śiwa di Bali?

Mahāviṣṇu and Sadāśiva are also one. As the Sammohana Tantra (Ch. VIII) says “Without Prakṛti the Saṃsāra (World) cannot be. Without Puruṣa true knowledge cannot be attained. Therefore should both be worshipped; with Mahākālī, Mahākāla.” Some, it says, speak of Śiva, some of Śakti, some of Nārāyaṇa (Viṣṇu). But the supreme Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) is supreme Śiva (Paraśambhu), the Nirguṇa Brahman pure as crystal. The two aspects of the Supreme reflect the one in the other. The Reflection (Pratibimba) is Māyā whence the World-Lords (Lokapālas) and the Worlds are born.

Terjemahannya: “Mahāviṣṇu dan Sadāśiva juga satu. Seperti yang dikatakan Sammohana Tantra (Bab VIII) “Tanpa Prakṛti, Saṃsāra (Dunia) tidak mungkin ada. Tanpa Puruṣa, pengetahuan sejati tidak dapat dicapai. Oleh karena itu keduanya harus disembah; dengan Mahākāl, Mahākāla.” Beberapa, dikatakan [seolah-olah berbeda], berbicara tentang [gelar] Śiva, beberapa tentang [gelar] Śakti, beberapa tentang [gelar] Nārāyaṇa (Viṣṇu). Tetapi Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) yang tertinggi adalah Śiva (Paraśambhu) tertinggi, Brahman Nirguṇa yang murni seperti kristal. Kedua aspek Yang Mahakuasa mencerminkan yang satu di dalam yang lain. Pantulan (Pratibimba) adalah Māyā tempat para Penguasa Dunia (Lokapālas) dan Dunia-Dunia dilahirkan.”

Penjelasan SIR JOHN WOODROFFE (Avalon) dalam karyanya ŚAKTI AND ŚĀKTA, ESSAYS AND ADDRESSES ON THE ŚĀKTA TANTRAŚĀSTRA, sangat tepat menjelaskan bagaimana dalam praktek pemujaan atau kehidupan Pedanda Śiwa yang memahami Tantra-Agama sebagai pedoman ritual dan “berteologi”. Dalam pandangan kependetaan Śiwa di Bali sebagaimana tercermin dalam lontar Vedaśīrṣa(h), kita melihat bagaimana Pedanda Śiwa “sudah melampaui perbedaan sekat-sekat penyebutan gelar Brahman yang tunggal itu”.

Pedanda Śiwa di Bali jelas telah selesai dengan debat kusir sekat-sekat penamaan atau gelar pemuliaan Hyang Widhi dengan berbagai atribut pemuliaannya yang dikenal dari berabad-abad silam.

Kesimpulan ini saya simpulkan setelah membaca pedoman puja dan stawa yang dalam ratusan lontar-lontar yang saya temukan dan ‘kebit-kebitin’ (buka-buka) di sebagian besar griya-griya Pedanda Śiwa di Bali Utara, ditambah berbagai koleksi Gedong Kirtya dan Pusat Dokumentasi Bali, serta koleksi pribadi kami. Ini sebabnya, sebegaimana saya sebutkan di atas, bahwa ‘rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif’.

3. Jika belajar dari secara penyusunan komposisi dari bait-bait Puja Tri Sandhya yang dirumuskan dan terbit cetak dalam Dasa Sila Agama Bali tahun 1951, kesadaran ‘rumusan teologi insklusif’ Hindu (di) Bali ini bukan semata-mata berkembang di kalangan Pedanda Śiwa di Bali. Para pakar lontar, intelektual ternama dan mumpuni di tahun 1940-1950-an, pun telah selesai dengan urusan sekat-sekat gelar-pemuliaan Hyang Widhi yang dari berabad-abad silam telah diterima sebagai pemuliaan berbagai gelar YANG BERBEDA TAPI TUNGGAL ITU.

Data sejarah menunjukkan para tokoh mumpuni Bali tersebut, yang menyetujui terbitan pertama kali dari versi terawal Trisandhya dalam Dasa Sila Agama Bali yang kini dipakai puja harian Hindu di Indonesia tersebut — bukan hanya para Pedanda Śiwa — terdapat tokoh-tokoh mumpuni lainnya yang tidak bergelar Pedanda.

Dalam pengantarnya Pandit Shastri yang menjadi “juru tulis” (penyusunan) buku Dasa Sila Agama Bali  yang memuat Tri Sandhya cetak paling awal, versi ini telah disetujui oleh: “Para Padanda2 dan orang2 jang tertjantum namanja dibawah ini telah menjetudjui isinja kitab ini. 1. Ida Padanda Made Aseman, Sanur. 2. Ida Putu Maron, Denpasar. 3. Ida Padanda Made Kamenuh, Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja. 4. Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja. 5. Tuan Wajan Bhadra, the Director of Gedong Kirtya Singaradja. 6. Tuan Anak Agung Pandji Tisna (Anggauta of D.P.R.) Singaradja. 7. Ida Bagus Ktut Djelantik Banjar. 8. Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem. 9. Ida Padanda Made Badjra Tabanan. 10. Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana. 11. Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok. 12. Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok. 13. I Gusti Agung Djalantik Blambangan Cakranagara Lombok. 14. Gusti Bagus Sugriva Singaradja”.

Para Pedanda Śiwa yang tersebut di atas, yaitu Ida Padanda Made Aseman, Sanur, Ida Padanda Made Kamenuh (Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja), Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali), Ida Padanda Made Badjra Tabanan, Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana, Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok, Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok adalah semacam perwakilan dari para terkemuka, terpelajar, disucikan atau tokoh besar Hindu Dharma Indonesia awal kemerdekaan RI dengan kesadaran ‘teologi inklusif’. Sekali lagi, deretan nama tersebut menjadi penjamin diakuinya Hindu-Dharma Indonesia yang telah selesai dengan urusan perdebatan sekat-sekat gelar Hyang Widhi. Yang malah kini masih sering diperdekatkan dan merunjing menjadi debat kusir kelompok-kelompok yang sedang bertumbuh (mungkinkah ini bisa dipahami sebagai gejala “pubertas beragama”?)

Sebagai tambahan lebih lanjut dan rinci, tentang penyusunan dan sejarah perumusan serta perkembangan PUJA TRI SANDHYA, telah saya tulis dalam Puja Tri Sandhyā: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali dimuat dalam  The Journal of Hindu Studies, Volume 7, Issue 2, August 2014, Pages 243–272, diterbitkan oleh Oxford University Press, bisa didownload di link ini: https://www.academia.edu/11567914/Puja_Tri_Sandhy%C4%81_Indian_Mantras_Recomposed_and_Standardized_in_Bali

4. Tradisi pemuliaan Nārāyaṇa yang dijadikan pedoman sangat penting dalam kependetaan Pedanda Śiwa di Bali, yang kitabnya berjudul Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau secara umum dalam tradisi Hindu di dunia dikenal sebagai Nārāyaṇopaniṣad, serta bukti bagaimana bait 2 dan 3 Puja Trisandhya yang dipakai umat Hindu Dharma di Indonesia sekarang, adalah bukti bagaimana perdebatan antar “perguruan”, “sekte”, “golongan”, “sampradaya”, “gotra”, “paramparāṃ”, yang bersifat ekslusif atau paling merasa paling benar dan paling tinggi sudah selesai di Bali dari dahulu kala.

Meminjam ungkapan yang disebutkan oleh Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali) dalam tulisannya tanggal 10 Oktober 1951:

“Inti-sari Agama kita adalah: Om tat sat Ekam Ewa Adwieyam Brhman-Widhiyam. Om tat sat artinja: Sanghjang Widhilah jang benar (Rahaju). Ekam Ewa artinja: hanja Satulah (Tunggallah). Adwitiyam artinja: tak ada dua-Nja Brhman-Widhiyam artinja: Brhman gelaran Sanghjang Widhi.”

5. Jika di masa depan, atau mungkin di hari ini, lagi ada riak-riak perdebatan atau barangkali perpecahan akibat kembali mundur karena merasa paling benar dengan paham junjungan yang terbagi-bagi, dan kembalai ada kelompok merasa paling ekslusif alias paling benar dan punya pedoman yang paling tertinggi, serta merasa paling maha-benar, sebaiknya kembali belajar pada sejarah bagaimana selama berabad-abad Pedanda Śiwa di Bali (yang merupakan kelanjutan tradisi Kawi yang menganut pedoman Śiwasasana yang telah dirumuskan kembali dalam pemerintahan Mpu Sindok dari tradisi sebelumnya) telah secara terang benderang selesai dengan perdebatan tersebut — silahkan membaca Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau Nārāyaṇopaniṣad.

Atau, setidaknya, membaca kembali secara cermat-nalar bait ke-2 dan ke-3 dari Puja Trisandhya yang merupakan rumusan ‘teologi-inklusif’ Hindu di Nusantara di abad modern.

Rumusan dari Puja Tri Sandhya, secara gamblang, disamping merupakan kesadaran ‘teologi-inklusif’ Hindu Dharma Indonesia, juga perlu dicatat, ini juga menjadi saripati “sila pertama” dari Pañca Śraddha yang menjadi acuan dasar dalam ber-Hindu di Indonesia.

Percaya dengan adanya Brahman atau Sang Hyang Widhiwasa, dalam “sila pertama” dalam Pañca Śraddha, dirumuskan dengan kesadaran * ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty* dari kutipan utuhnya Rig Veda 1.164.46.

इन्द्रं॑ मि॒त्रं वरु॑णम॒ग्निमा॑हु॒रथो॑ दि॒व्यः स सु॑प॒र्णो ग॒रुत्मा॑न्। एकं॒ सद्विप्रा॑ बहु॒धा व॑दन्त्य॒ग्निं य॒मं मा॑त॒रिश्वा॑नमाहुः ॥

indram mitraṁ varuṇam agnim āhur atho divyaḥ sa suparṇo garutmān | ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty agniṁ yamam mātariśvānam āhuḥ ||

Yang kalau diterjemahkan, sbb:

Mereka memanggilnya Indra, Mitra, Varuna, Agni; dan dia adalah Garuda surgawi, yang memiliki sayap yang indah. Kebenarannya adalah satu, tetapi viprā (para rsi bijak atau terpelajar) menyebutnya dengan banyak nama atau menggambarkannya dengan banyak cara; mereka memanggilnya Agni, Yama, Mātariśvan.

6. Semua para pedanda dan cendikiawan Hindu Dharma Indonesia yang mendirikan Parisada di Nusantara di era awal kemerdekaan mengamini dan mengutip-ngutip Rig Veda 1.164.46 tersebut sebagai pedoman dasar dalam ber-Hindu di Indonesia. Pedoman ini kesepakatan bersama para pendahulu kita yang mendaftarkan Hindu Dharma sebagai agama resmi yang diakui oleh pemerintah NKRI. Telah final. Titik, tanpa koma.

Kesadaran itu pulalah yang beradab-abad telah dipedomani oleh Pedanda Śiwa di Bali:

nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi .nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante .. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

Next Post

Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co