14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

KENAPA PEDANDA ŚIWA DI BALI (JUGA) MEMUJA NĀRĀYAṆA?

Sugi Lanus by Sugi Lanus
December 31, 2021
in Esai
Lontar Mpu Kuturan | Sosok Historis atau Mitos?

—Catatan Harian Sugi Lanus, 31 Desember 2021

1. Salah satu lontar yang paling disucikan di kalangan Pedanda Śiwa di Bali adalah lontar pustaka suci Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa.

Dengan sangat jelas disebutkan:

prathamaḥ khaṇḍaḥ . nārāyaṇāt sarvacetanācetanajanma. oṃ atha puruṣo ha vai nārāyaṇo’kāmayata prajāḥ sṛjeyeti . nārāyaṇātprāṇo jāyate . manaḥ sarvendriyāṇi ca . khaṃ vāyurjyotirāpaḥ pṛthivī viśvasya dhāriṇī . nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi . nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante ..

Disebutkan dalam mantra ini vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ atau  “vaikuṇṭha-bhuvana-lokaṃ” sebagai salah satu acuan dipersamakan dengan dengan Śiva-laya, Sūnya-laya atau Kaivalya sebagaimana disebutkan dalam lontar-lontar Siddhānta yang diwarisi di Bali.

oṃ namo nārāyaṇāyeti mantropāsakaḥ, vaikuṇṭhabhuvanalokaṃ gamiṣyati, tadidaṃ paraṃ puṇḍarīkaṃ vijñānaghanam, tasmāttaṭidābhamātram

Dimana “medal” mantra ini? Dimana dipakai mantra ini?

Pada saat purnama tertentu, dan saat pamaripurna NGENTEG LINGGIH & BALIGYA.

Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa memang utuh ditemukan dan dijadikan acuan dalam kependetaan Śiwa di Bali — mohon maaf jika pengetahuan saya tidak mencukupi untuk menjelaskan kependetaan beracuan garis silsilah kependetaan lainnya. Lontar yang dikenal sebagai Vedaśīrṣa(h) ini secara umum di kalangan Pedanda Śiwa di Bali menjadi salah satu kunci memahami ‘rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif’.

Bagian dari lontar yang dianggap puja atau stawa dari kependetaan Śiwa di Bali ini telah “diadopsi” menjadi bagian penting dari Puja Trisandya baik ke 2 yang bunyinya:

Oṁ Nārāyaṇa evedam sarvaṁ

yad bhūtaṁ yac ca bhāvyaṁ        

niṣkalaṅko nirañjano

nirvikalpo nirākhyātaḥ        

śuddho deva eko

nārāyaṇo na dvitīyo’sti kaścit

Oṁ Nārāyaṇa adalah semua ini apa yang telah ada dan apa yang akan ada, bebas dari noda, bebas dari kotoran, bebas dari perubahan tak dapat digambarkan, sucilah dewa Nārāyaṇa, Ia hanya satu tidak ada yang kedua.

Selanjutnya bait 3:

Oṁ tvaṁ śivaḥ tvaṁ mahādevaḥ      

Īśvaraḥ parameśvaraḥ                        

brahmā viṣṇuśca rudraśca                

puruṣaḥ parikīrtitaḥ

Oṁ Engkau dipanggil Śiva, Mahādeva, Īśvara, Parameśvara, Brahma, Viṣṇu, Rudra dan Puruṣa

2. Kenapa Nārāyaṇa menjadi salah satu puncak puja dan stawa Pedanda Śiwa di Bali?

Mahāviṣṇu and Sadāśiva are also one. As the Sammohana Tantra (Ch. VIII) says “Without Prakṛti the Saṃsāra (World) cannot be. Without Puruṣa true knowledge cannot be attained. Therefore should both be worshipped; with Mahākālī, Mahākāla.” Some, it says, speak of Śiva, some of Śakti, some of Nārāyaṇa (Viṣṇu). But the supreme Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) is supreme Śiva (Paraśambhu), the Nirguṇa Brahman pure as crystal. The two aspects of the Supreme reflect the one in the other. The Reflection (Pratibimba) is Māyā whence the World-Lords (Lokapālas) and the Worlds are born.

Terjemahannya: “Mahāviṣṇu dan Sadāśiva juga satu. Seperti yang dikatakan Sammohana Tantra (Bab VIII) “Tanpa Prakṛti, Saṃsāra (Dunia) tidak mungkin ada. Tanpa Puruṣa, pengetahuan sejati tidak dapat dicapai. Oleh karena itu keduanya harus disembah; dengan Mahākāl, Mahākāla.” Beberapa, dikatakan [seolah-olah berbeda], berbicara tentang [gelar] Śiva, beberapa tentang [gelar] Śakti, beberapa tentang [gelar] Nārāyaṇa (Viṣṇu). Tetapi Nārāyaṇa (Ādinārāyaṇa) yang tertinggi adalah Śiva (Paraśambhu) tertinggi, Brahman Nirguṇa yang murni seperti kristal. Kedua aspek Yang Mahakuasa mencerminkan yang satu di dalam yang lain. Pantulan (Pratibimba) adalah Māyā tempat para Penguasa Dunia (Lokapālas) dan Dunia-Dunia dilahirkan.”

Penjelasan SIR JOHN WOODROFFE (Avalon) dalam karyanya ŚAKTI AND ŚĀKTA, ESSAYS AND ADDRESSES ON THE ŚĀKTA TANTRAŚĀSTRA, sangat tepat menjelaskan bagaimana dalam praktek pemujaan atau kehidupan Pedanda Śiwa yang memahami Tantra-Agama sebagai pedoman ritual dan “berteologi”. Dalam pandangan kependetaan Śiwa di Bali sebagaimana tercermin dalam lontar Vedaśīrṣa(h), kita melihat bagaimana Pedanda Śiwa “sudah melampaui perbedaan sekat-sekat penyebutan gelar Brahman yang tunggal itu”.

Pedanda Śiwa di Bali jelas telah selesai dengan debat kusir sekat-sekat penamaan atau gelar pemuliaan Hyang Widhi dengan berbagai atribut pemuliaannya yang dikenal dari berabad-abad silam.

Kesimpulan ini saya simpulkan setelah membaca pedoman puja dan stawa yang dalam ratusan lontar-lontar yang saya temukan dan ‘kebit-kebitin’ (buka-buka) di sebagian besar griya-griya Pedanda Śiwa di Bali Utara, ditambah berbagai koleksi Gedong Kirtya dan Pusat Dokumentasi Bali, serta koleksi pribadi kami. Ini sebabnya, sebegaimana saya sebutkan di atas, bahwa ‘rumusan teologi Pedanda Śiwa yang sangat inkslusif’.

3. Jika belajar dari secara penyusunan komposisi dari bait-bait Puja Tri Sandhya yang dirumuskan dan terbit cetak dalam Dasa Sila Agama Bali tahun 1951, kesadaran ‘rumusan teologi insklusif’ Hindu (di) Bali ini bukan semata-mata berkembang di kalangan Pedanda Śiwa di Bali. Para pakar lontar, intelektual ternama dan mumpuni di tahun 1940-1950-an, pun telah selesai dengan urusan sekat-sekat gelar-pemuliaan Hyang Widhi yang dari berabad-abad silam telah diterima sebagai pemuliaan berbagai gelar YANG BERBEDA TAPI TUNGGAL ITU.

Data sejarah menunjukkan para tokoh mumpuni Bali tersebut, yang menyetujui terbitan pertama kali dari versi terawal Trisandhya dalam Dasa Sila Agama Bali yang kini dipakai puja harian Hindu di Indonesia tersebut — bukan hanya para Pedanda Śiwa — terdapat tokoh-tokoh mumpuni lainnya yang tidak bergelar Pedanda.

Dalam pengantarnya Pandit Shastri yang menjadi “juru tulis” (penyusunan) buku Dasa Sila Agama Bali  yang memuat Tri Sandhya cetak paling awal, versi ini telah disetujui oleh: “Para Padanda2 dan orang2 jang tertjantum namanja dibawah ini telah menjetudjui isinja kitab ini. 1. Ida Padanda Made Aseman, Sanur. 2. Ida Putu Maron, Denpasar. 3. Ida Padanda Made Kamenuh, Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja. 4. Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja. 5. Tuan Wajan Bhadra, the Director of Gedong Kirtya Singaradja. 6. Tuan Anak Agung Pandji Tisna (Anggauta of D.P.R.) Singaradja. 7. Ida Bagus Ktut Djelantik Banjar. 8. Ida Anak Agung Anglurah Ktut Karangasem. 9. Ida Padanda Made Badjra Tabanan. 10. Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana. 11. Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok. 12. Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok. 13. I Gusti Agung Djalantik Blambangan Cakranagara Lombok. 14. Gusti Bagus Sugriva Singaradja”.

Para Pedanda Śiwa yang tersebut di atas, yaitu Ida Padanda Made Aseman, Sanur, Ida Padanda Made Kamenuh (Ketua Pusat Paruman Para Pandita Singaradja), Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali), Ida Padanda Made Badjra Tabanan, Ida Padanda Gde Manuabe Djambarana, Ida Padanda Gde Made Sewali Wesnawa Mataram Lombok, Ida Padanda Ktut Buruan, Pagesangan Lombok adalah semacam perwakilan dari para terkemuka, terpelajar, disucikan atau tokoh besar Hindu Dharma Indonesia awal kemerdekaan RI dengan kesadaran ‘teologi inklusif’. Sekali lagi, deretan nama tersebut menjadi penjamin diakuinya Hindu-Dharma Indonesia yang telah selesai dengan urusan perdebatan sekat-sekat gelar Hyang Widhi. Yang malah kini masih sering diperdekatkan dan merunjing menjadi debat kusir kelompok-kelompok yang sedang bertumbuh (mungkinkah ini bisa dipahami sebagai gejala “pubertas beragama”?)

Sebagai tambahan lebih lanjut dan rinci, tentang penyusunan dan sejarah perumusan serta perkembangan PUJA TRI SANDHYA, telah saya tulis dalam Puja Tri Sandhyā: Indian Mantras Recomposed and Standardised in Bali dimuat dalam  The Journal of Hindu Studies, Volume 7, Issue 2, August 2014, Pages 243–272, diterbitkan oleh Oxford University Press, bisa didownload di link ini: https://www.academia.edu/11567914/Puja_Tri_Sandhy%C4%81_Indian_Mantras_Recomposed_and_Standardized_in_Bali

4. Tradisi pemuliaan Nārāyaṇa yang dijadikan pedoman sangat penting dalam kependetaan Pedanda Śiwa di Bali, yang kitabnya berjudul Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau secara umum dalam tradisi Hindu di dunia dikenal sebagai Nārāyaṇopaniṣad, serta bukti bagaimana bait 2 dan 3 Puja Trisandhya yang dipakai umat Hindu Dharma di Indonesia sekarang, adalah bukti bagaimana perdebatan antar “perguruan”, “sekte”, “golongan”, “sampradaya”, “gotra”, “paramparāṃ”, yang bersifat ekslusif atau paling merasa paling benar dan paling tinggi sudah selesai di Bali dari dahulu kala.

Meminjam ungkapan yang disebutkan oleh Ida Padanda Gede Ngenjung Singaradja (Pendiri Panti Agama Hindu Bali) dalam tulisannya tanggal 10 Oktober 1951:

“Inti-sari Agama kita adalah: Om tat sat Ekam Ewa Adwieyam Brhman-Widhiyam. Om tat sat artinja: Sanghjang Widhilah jang benar (Rahaju). Ekam Ewa artinja: hanja Satulah (Tunggallah). Adwitiyam artinja: tak ada dua-Nja Brhman-Widhiyam artinja: Brhman gelaran Sanghjang Widhi.”

5. Jika di masa depan, atau mungkin di hari ini, lagi ada riak-riak perdebatan atau barangkali perpecahan akibat kembali mundur karena merasa paling benar dengan paham junjungan yang terbagi-bagi, dan kembalai ada kelompok merasa paling ekslusif alias paling benar dan punya pedoman yang paling tertinggi, serta merasa paling maha-benar, sebaiknya kembali belajar pada sejarah bagaimana selama berabad-abad Pedanda Śiwa di Bali (yang merupakan kelanjutan tradisi Kawi yang menganut pedoman Śiwasasana yang telah dirumuskan kembali dalam pemerintahan Mpu Sindok dari tradisi sebelumnya) telah secara terang benderang selesai dengan perdebatan tersebut — silahkan membaca Vedaśīrṣa-Nārāyaṇopaniṣad-Nārāyaṇa Atharvaśīrṣa atau Nārāyaṇopaniṣad.

Atau, setidaknya, membaca kembali secara cermat-nalar bait ke-2 dan ke-3 dari Puja Trisandhya yang merupakan rumusan ‘teologi-inklusif’ Hindu di Nusantara di abad modern.

Rumusan dari Puja Tri Sandhya, secara gamblang, disamping merupakan kesadaran ‘teologi-inklusif’ Hindu Dharma Indonesia, juga perlu dicatat, ini juga menjadi saripati “sila pertama” dari Pañca Śraddha yang menjadi acuan dasar dalam ber-Hindu di Indonesia.

Percaya dengan adanya Brahman atau Sang Hyang Widhiwasa, dalam “sila pertama” dalam Pañca Śraddha, dirumuskan dengan kesadaran * ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty* dari kutipan utuhnya Rig Veda 1.164.46.

इन्द्रं॑ मि॒त्रं वरु॑णम॒ग्निमा॑हु॒रथो॑ दि॒व्यः स सु॑प॒र्णो ग॒रुत्मा॑न्। एकं॒ सद्विप्रा॑ बहु॒धा व॑दन्त्य॒ग्निं य॒मं मा॑त॒रिश्वा॑नमाहुः ॥

indram mitraṁ varuṇam agnim āhur atho divyaḥ sa suparṇo garutmān | ekaṁ sad viprā bahudhā vadanty agniṁ yamam mātariśvānam āhuḥ ||

Yang kalau diterjemahkan, sbb:

Mereka memanggilnya Indra, Mitra, Varuna, Agni; dan dia adalah Garuda surgawi, yang memiliki sayap yang indah. Kebenarannya adalah satu, tetapi viprā (para rsi bijak atau terpelajar) menyebutnya dengan banyak nama atau menggambarkannya dengan banyak cara; mereka memanggilnya Agni, Yama, Mātariśvan.

6. Semua para pedanda dan cendikiawan Hindu Dharma Indonesia yang mendirikan Parisada di Nusantara di era awal kemerdekaan mengamini dan mengutip-ngutip Rig Veda 1.164.46 tersebut sebagai pedoman dasar dalam ber-Hindu di Indonesia. Pedoman ini kesepakatan bersama para pendahulu kita yang mendaftarkan Hindu Dharma sebagai agama resmi yang diakui oleh pemerintah NKRI. Telah final. Titik, tanpa koma.

Kesadaran itu pulalah yang beradab-abad telah dipedomani oleh Pedanda Śiwa di Bali:

nārāyaṇād brahmā jāyate . nārāyaṇād rudro jāyate . nārāyaṇādindro jāyate, nārāyaṇātprajāpatayaḥ prajāyante . nārāyaṇāddvādaśādityā rudrā vasavaḥ sarvāṇi ca chandāgͫsi .nārāyaṇādeva samutpadyante, nārāyaṇe pravartante . nārāyaṇe pralīyante .. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ruang Pariwisata dan Ruang Air di Nusa Penida

Next Post

Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails
Next Post
Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Menimbang Rasa, Sekarang Mabuk Besok Tobat | Selamat Tahun Baru

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co