12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dadong dan 1946 | Cerpen Kadek Anggun Sentyawati

Kadek Anggun Sentyawati by Kadek Anggun Sentyawati
November 6, 2021
in Cerpen
Dadong dan 1946 | Cerpen Kadek Anggun Sentyawati

Ilustrasi: salah satu karya dalam pameran seni rupa di Undiksha Singaraja, November 2019

Lemari kayu tua itu bercat coklat gelap, berpintu kaca pada bagian atas, dan pada bagian bawah ditutup kain batik coklat pudar bermotif kawung dengan aroma yang samar-samar seperti minyak cengkeh. Ini adalah peti harta karun andalanku. Benda kesayangan dan foto-foto lawas tersimpan di dalamnya bak harta yang selalu mencambuk gairah atau seperti buku sejarah. Setiap benda membawa cerita dan goncangannya sendiri. Tentunya seluruh pakaian keluarga tempo dulu juga tersimpan di sana.  Kini, tangan dan mataku sedang sibuk menelisik helai-helai baju kebaya milik Dadong*.

Semua barang-barang itu membaur dalam peti harta karun ini. Yang pasti, tiap helai adalah cerita. Ada banyak helai yang belum aku kenal ceritanya. Jika penasaran, tinggal kutunjukkan pada Dadong. Penglihataanya memang mulai dikaburkan usia tetapi masih tajam menerawang tahun-tahun yang terajut pada helai kain-kain itu, kemudian kedua bibirnya yang mirip tomat layu itu akan membuatku terpaku mendengar kisahnya. Ya, begitulah caraku dan Dadong mengenang masanya dan membangun masaku.

Aku masih sibuk mencari kebaya yang pas aku gunakan untuk memperingati Hari Kartini di sekolah beberapa hari lagi. Pas dengan ukuran tubuhku yang cukup berisi. Pas dengan kulitku yang sawo matang, dan pas dipandang tiap pasang mata. Kuning menyala, hijau tua, biru terang, hitam pekat, tapi semua tidak pas. Sampai akhirnya pada tumpuk terakhir, ada kebaya yang begitu menawan mata. Kebaya coklat kehijauan dengan corak bunga kamboja.  Rasanya seperti mendapat hadiah, dan segera ingin aku coba. Namun, dari balik gorden, Dadong menatapku dengan matanya yang meyipit, kemudian tangannya melambai. Aku menghampirinya. Ia kemudian berkata:

“Ini kebaya Dadong saat muda dulu, kebaya kesayangan Dadong sampai saat ini. Tapi tentu sekarang sudah tidak cocok di badan Dadong,” pernyataan Dadong membuatku tertawa. Kemudian, dadong menghela nafasnya berat.

Dadong memang suka sekali bercerita tentang masa lalunya. Ada cerita yang menyenangkan seperti saat Dadong bertemu Pekak dan kemudian menikah. Ada juga yang pilu, yaitu saat Pekak terjatuh dari pohon kelapa dan hampir meninggal. Aku rasa kebaya ini juga punya cerita yang menarik untuk aku dengar.

 “Dadong, kalau baju ini bagaimana ceritanya, Dong?” tanyaku pada Dadong yang sedang nginang, mengunyah daun sirih, pamor, gambir dan tembakau.

Dadong mengambil baju itu kemudian duduk di kursi goyang kesayangannya di dekat jendela sambil melihat orang-orang yang berlalu-lalang di jalan. Ia memicingkan matanya, lalu mengambil kaca mata agar dapat melihat detail kebaya itu dan baris-baris cerita yang melekat. Sembari tubuh rentanya berayun ringan ke belakang dan ke depan, ia tetap diam, seperti menunggu datangnya wahyu dewa-dewa dengan matanya yang tetap menerawang. Barangkali, ingatan menariknya jauh pada tahun-tahun yang telah berlalu sehingga matanya yang kini mirip bulan sabit terbalik, mulai berbinar. Ia kemudian meletakkan baju itu di atas kedua pahanya yang dibalut kain batik. Aku tahu, cerita akan segera dimulai.

1946, selamat datang… ini adalah tahun di mana Dadong akan memulai cerita. Tepat setahun setelah gemuruh kemerdekaan memenuhi radio. Meski suara kemerdekaan sesungguhnya kurang lantang untuk membersihkan tiap pelosok dari penjajahan. Agustus 1945 angkatan perang Jepang menyerah kepada Sekutu. Tanda Perang Dunia II telah berakhir. Namun serdadu Jepang menolak dan masih rutin melaksanakan operasi atau yang dalam cerita Dadong, ia sebut “sidak”.

Dengan seragam hijau, topi besi, senapan, dan pelatuknya selalu sigap, tentara-tentara itu mondar-mandir pada kampung Dadong kala itu, mampir di tiap gubuk, dan masuk dapur. Tentu saja bukan untuk meminta segelas kopi atau ubi rebus dengan sopan seperti tamu-tamu yang kutahu, tapi memastikan tiap gentong beras kosong, dan tiap bakul nasi hanya berisi ubi. Kemudian mereka pergi setelah itu.

Namun berbeda ceritanya, jika ada pribumi dengan bakul yang berisi nasi di gubuknya, atau gentong beras yang berisi secentong saja beras di dalamnya. Beras, ubi, jagung, dan semua pangan lainnya akan mereka rampas. Tak selesai di sana, pribumi itu kemudian dimasukan ke dalam drum yang penuh tai ayam, untuk kemudian digelindingkan. Pikiranku mulai terbawa cerita, aku meremas tanganku dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Kata Dadong, mereka yang memiliki nasi pada masa itu akan menyembunyikannya dalam bakul kemudian bagian atas akan ditutupi dengan ubi. Kekurangan pangan sangat dirasakan para penduduk saat itu, tulang-tulang tercetak jelas dibawah kulit mereka

Hentakan puluhan pasang kaki dengan iringan kegaduhan menandakan kedatangan serdadu Jepang. Dadong yang sedang mencincang pisang sebagai campuran nasi segera berlari kedalam gubuk sambil mengangkat kain lusuh dan compang camping yang membalut tubuhnya. Semua orang gementar, para orang tua bersimpuh sambil mencakupkan tangan mereka di depan gubuk masing-masing. Para gadis remaja disembunyikan di perkebunan, agar tak jadi korban kehausan para serdadu bejat itu.

Senapan seringkali menjembatani pecakapan pribumi dengan para serdadu Jepang. Jika senapan sudah diarahkan ke tubuh pribumi artinya mereka harus bersimpuh, tak boleh menatap mata para serdadu, dan tak boleh bergerak. Tak semua serdadu Jepang dan pribumi memahami bahasa satu sama lain kala itu. Tapi, Dadong berhenti sejenak.

“Ah…ada satu kalimat yang kami gunakan sebagai tameng, yang dimengerti oleh kami dan tentara Jepang, ‘Saya ndak tau, Pak’,” kata Dadong dengan raut wajah yang tak mampu aku baca.

Cerita dilanjutkan, kata Dadong, pernah satu waktu mereka (para serdadu Jepang) dengan begitu beringas mondobrak tiap gubuk. Beruntung dadong dan orang tuanya masih sempat bersembunyi ke perkebunan kopi terdekat. Satu tentara kemudian menghapiri saudara bungsu dadong yang masih berumur tujuh tahun kala itu. Iagemetar dan basah kuyup oleh keringat dingin.

“Tentara itu berteriak ‘Bapak mana? Bapak mana?’,  sambil mengarahkan senapan tepat di dahinya.Segera ia bersujud mencangkupkan tangan dan berkata, ‘Saya ndak tau, Pak’. beruntung tentara Jepang itu lekas pergi setelah tentara lain memanggilnya.” Dadong menghela napas.

Ketika serdadu Jepang memburu para orang-orang tua pribumi, anak-anak akan melindungi orang tua mereka yang sedang bersembunyi dengan kalimat itu, meskipun senapan tepat menempel di kening mereka. Wajah Dadong yang keriput menunjukan raut kesedihan yang berbeda. Aroma daun sirih menemani aku dan Dadong. Sesekali Dadong meludah karena air liurnya sudah tak tahan digempur lidah.

Dadong menyambung kembali ceritanya. 1946 adalah tahun yang berat untuk semua pribumi. Bukan hanya karena serdadu Jepang yang enggan mengakui kekalahannya. Pangan juga selalu menjadi hal terbesar untuk dipikirkan, setelah beras-beras di lumbung dan di gentong dikuras habis. Ubi dan tanaman pangan lainnya nampak takut tumbuh, entah karena suara senapan dan meriam yang begitu mengguncang, atau karena banyaknya kematian yang mereka saksikan.

Tak berbeda dengan gentong beras orang lain, gentong beras dadong juga sangat jarang terisi.

“Dalam seperti kondisi itu bapak dan ibu tak kehabisan akal untuk menjaga Dadong dan semua saudara-saudari Dadong tetap hidup,” kata Dadong sambil memilin tembakau dan memasukkannya ke mulut.

Beragam tanaman, hewan, dan serangga mereka olah untuk disantap. Capung panggang, dendeng ulat kayu, nasi usam, yaitu nasi yang dicampur dengan kacang-kacangan, pisang kelapa atau apa saja yang penting bisa disantap. Dalam gubuk kayu dengan anyaman bambu dadong tinggal bersama bapak, ibu, satu saudara, dan tiga saudarinya. Cukup banyak orang dalam satu gubuk yang diajak berbagi makanan.

“Bagaimana rasanya, Dong?Apakah enak?” tanyaku menatap Dadong.

Dadong tersenyum “Tentu saja enak, bagaimana mungkin makanan satu-satunya terasa tak enak? Lagipula rasa tak pernah jadi masalah, yang penting kami tidak kelaparan. Tapi yang membuat makan kami tidak tenang adalah; bagaimana jika tentara Jepang tiba-tiba mendobrak gubuk kami, menyeret ibu dan bapak dan menyiksa mereka karena kami punya makanan untuk disatap, karena kami tidak kelaparan?”

Sesekali air mata Dadong memutus cerita. Kemudian dilanjutkan beberapa saat setelah ia menarik napas panjang. Dadong ditarik lagi makin dan semakin dalam pada ingatan kelam.

“Ada satu hari di mana Dadong sangat beruntung,Bapak pulang dengan membawa sekantong beras, dan setengah ayam potong. Entah darimana ia mendapatkannya,” kata Dadong sambil tesenyum kecil.

Keberuntungan pada hari itu pasti sangat mengenyangkan hati dan perut setiap jiwa pada gubuk yang ditinggali Dadong. ia berkata kegembiraan makan nasi tulen sudah seperti menerima sebatang emas saat ini. Ditambah dengan daging ayam, Dadong dan saudara-saudarinya mengelap ludah yang menetes dari mulut mereka yang tak tahan menantikan daging ayam itu.

 “Kami memasaknya dengan sangat hati-hati dan awas, agar tak seorang pun tau, bukan karena tak mau berbagi. Tapi karena ini adalah 1946 kita tidak pernah tahu siapa yang sungguh kawan, dan siapa yang menjadi antek-antek Jepang.” Senyum kecil pada bibir Dadong memudar.

Belum habis kebahagiaan pada gubuk tua itu, nyala obor sudah mengelilingi mereka, serdadu Jepang dengan senapan siaga mengepung sudut-sudut gubuk. Siapa yang tak gemetar dihadapkan pada hal semacam itu, semua gubuk menutup pintunya rapat-rapat. Tapi tidak dengan gubuk Dadong, satu gerakan saja akan dianggap perlawanan, maka tiap pelatuk siap ditarik. Dalam ingatan Dadong tiga tentara Jepang masuk ke gubuknya dengan menghacurkan pintu. Dadong menatap orang tuanya penuh cemas berselimut takut.

 “Dua tentara Jepang itu kemudia menyeret Bapak dan Ibu keluar, satu lainnya mengarahkan kami keluar dengan ujung senapan,” suara lirih Dadong sambil menyeka air mata.

Mereka keluar sambil mengangkat tangan yang gemetar. Tak ada tempat bersembunyi kali ini. Kedua orang tua Dadong digiring menuju drum penuh tai ayam. Tentara Jepang itu ada belasan jumlahnya. Dadong, serta saudara-saudarinya hanya bisa bersimpuh tak berdaya, tangan mereka menggengam satu sama lain. Ketika akan digulingkan oleh salah satu serdadu Jepang itu, yang mungkin pimpinan mereka, melihat ke arah Dadong yang pada saat itu merupakan seoranggadis remaja dengan tubuh molek, kulit kuning langsat, rambut hitam yang digulung rapi, dan wajah nan jelita.

“Dadong masih ingat, saat itu Dadong mengenakan kain batik pudar dan kemben pada bagian atas, tentara itu dengan matanya yang penuh birahi menatap Dadong begitu lama.” Dadong menarik napasnya dan menggelengkan kepalanya.

“Tentara itu cukup pasih menggunakan bahasa kita. Dia kemudian memberikan satu tawaran, jika bisa bermain dengan tubuh Dadong yang masih murni maka kami semua akan bebas dari hukuman. Bapak dengan mata memerah menolaknya dengan napas terengah-engah.” Dadong menarik napasnya dalam-dalam.

Tawaran ditolak, maka paksaan yang dilaksanakan. Dadong digiring ke dalam gubuk oleh beberapa serdadu Jepang. Dadong ingin sekali melupakan kejadian itu, tapi tiap detail masih menempel di ingatannya. Dalam penuturan Dadong, tentara-tentara yang menggiringnya tampak seperti srigala kelaparan, mereka begitu ganas. Mata mereka sipit tapi tajam seolah bisa menebus bagian terdalam tubuhnya. Bau mereka anyir seperti darah. Saat Dadong hendak digagahi ia berteriak sekuat tenanga.

“Tulung tulung, Pak, tulung. Begitu jeritan Dadong di tengah ketidakberdayaan. Bapak memberotak mendengar teriakan putrinya dari balik anyaman bambu.  Ia melawan serdadu yang tersisa di luar. Pelatuk ditarik, timah panas mendarat pada tubuh Bapak beberapa kali hingga ia tumbang.” Dadong tak dapat membendung tangisnya.

Saat mendengar suara tembakan di luar, Dadong lemas. Ia tak bisa berhenti memikirkan hal mengerikan yang terjadi di sana. Air matanya tak berhenti mengalir, kemudian ia melihat kebaya cokelat kehijauan bercorak bunga kamboja di atas lemari. Kekuatan seolah merasukinya, dengan tangan dan kaki yang dipegang kuat-kuat oleh para serdadu Jepang sekali lagi ia meberontak. Ia membenturkan kepalanya ke arah wajah serdadu Jepang yang mencoba menyesap lehernya. Darah segar megalir dari hidung serdadu itu. Sebagai konsekuensinya Dadong ditampar berkali-kali, hingga suara ledakan menghentikan mereka. Serdadu itu berlari terbirit-birit keluar gubuk, mereka semua mendekati sumber ledakan yang hanya meyisakan kepulan asap hitam. Kata Dadong saat itu ada sekumpulan pribumi yang melakukan pemberontakan dengan meledakan gudang makanan milik serdadu Jepang. 

Dengan bibir berdarah dan pakaian yang hampir terlepas dari tubuhnya, Dadong meraih kebaya di atas lemari. Sambil menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, perlahan ia keluar dari gubuk. Menghampiri tubuh bapaknya yang tergeletak di tanah.

“Kebaya ini adalah pemberian Bapak untuk menikah nanti katanya…” Dadong tak sanggup lagi berkata-kata.

 Begitulah cerita ini terputus. Aku sangat kebingungan, tanganku gemetar. Kepalaku mulai merancang beberapa skenario.

“Jika saja aku lahir pada masa itu,” gumamku meremas kebaya kehijauan yang telah mejadi saksi kepedihan Dadong. [T]

Catatan:

  • Tulung = Tolong
  • Dadong = Nenek
  • Pekak = Kakek
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Santi Dewi | Gugatan Bisu

Next Post

Kera Putih yang Pemilih

Kadek Anggun Sentyawati

Kadek Anggun Sentyawati

Mahasiswa pendidikan Bahasa Inggris di Undiksha Singaraja. Aktif belajar dan bergaul di Komunitas Mahima, Teater Kalangan dan Teater Kampus Seribu Jendela

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Penyesalan Kelelawar

Kera Putih yang Pemilih

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co