25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kera Putih yang Pemilih

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
November 6, 2021
in Dongeng
Penyesalan Kelelawar

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Hidup ini adalah pilihan. Tidak memilih pun juga adalah pilihan. Kalau kita memilih sesuatu, biasanya sudah dipertimbangkan dengan matang, untung ruginya, kekurangan dan kelebihannya.

Tapi pada kenyataannya tidak semua yang dipilih bisa diperhitungkan dengan matang, dengan logika-logika atau perasaan-perasaan yang ada. Banyak hal yang terjadi yang awalnya adalah hal kecil dengan pilihan kecil yang selanjutnya akan berpengaruh pada yang lebih besar, lebih besar dan lebih besar lagi. Seperti yang terjadi pada Kera Putih.

Awalnya ia adalah seorang anak yang memilih menjadi cuek, tidak jahat tetapi hanya agak malas dan tidak peduli. Ayahnya adalah Dewa Wisnu yang memiliki alam semesta dan semua kekayaan. Tahu ayahnya memiliki segalanya, membuat anak ini manja, suka makan apa saja, dan ia terbiasa membuang kulit dan pembungkus makanan sembarangan.

“Kan ada tukang sapu, biarkan saja mereka berkerja,” begitu katanya yang membuat Dewa Wisnu sedih dan menghukumnya, menjadi binatang dan ia memilih menjadi kera, Kera Putih yang tampan dan sakti.

Ia sudah memilih menjadi seekor kera, tak bisa ditarik lagi. “Ahhh kenapa memilih jadi kera? Harusnya aku memilih menjadi harimau saja, raja hutan yang ditakuti, atau menjadi gajah yang besar dan hebat, atau menjadi kuda putih yang gagah, cekatan dan bisa terbang,” pikir Kera Putih.

Tapi pilihan tak bisa diubah, makanya dia kemudian meminta kepada Dewa Wisnu untuk menjadi Kera Putih yang sakti, kuat, cerdik, bisa terbang dan menghilang.

“Baiklah kalau itu pilihanmu, akan aku kabulkan, tetapi ingatlah dalam setiap pilihan, juga terkandung tugas-tugas, ” kata Dewa Wisnu.

“Siap, Ayahanda, akan hamba jalankan semua tugas itu,” janjinya.

Pada saat yang sudah ditentukan, anak itu telah berubah menjadi Kera Putih yang tampan dan sakti. Tugasnya adalah mengantarkan pesan dari dan untuk Dewa Wisnu.

“Tugas yang sangat mudah, apakah tidak ada tugas tambahan lagi agar kesaktian hamba tidak sia-sia,” kata Kera Putih agak sombong. Dewa Wisnu menggeleng.

“Tidak, lakukan satu tugas itu dengan sebaik-baiknya, ” perintah Dewa Wisnu, sambil memberikan sebuah lontar untuk disampaikan kepada seorang raja.

Kera Putih terbang tinggi, burung-burung gagak yang mengejarnya berhasil ia kelabui. Mereka tak bisa menemukannya karena sembunyi di balik awan yang putih bersih. Akhirnya Kera Putih dengan cepat bisa menyelesaikan tugas pertamanya.

“Ahh tugas yang mudah dan membahagiakan, ” kata Kera Putih sambil duduk menopang dagunya dengan tangan.

Sebagai pengantar pesan kebaikan dari Dewa Wisnu, Kera Putih disambut meriah oleh raja dan rakyatnya. Permaisuri raja dan putra-putri raja juga sangat memujanya, mengatakan dirinya kera yang tampan, cerdik dan sakti. Hati Kera Putih berbunga-bunga. Kenangan puja-puji orang-orang yang menyambutnya selalu terlintas di benaknya, membuatnya bangga dan selalu bangga.

Tugas kedua, ketiga dan selanjutnya bisa dilakukan Kera Putih dengan baik, dengan mengandalkan kesaktian dan kecerdasannya. Dalam menjalankan tugas, Kera Putih masih suka memilih-milih. Kera Putih akan memilih tugas yang dipandangnya ringan dan mengabaikan tugas yang dirasakannya sulit.

Dewa Wisnu tahu hal itu, sehingga beliau memberikan tugas yang sangat sulit, yaitu; mengambil air, api, udara, tanah dan angkasa yang paling murni. Kera Putih termenung, tapi Dewa Wisnu memberinya mantra.

“Ucapkanlah mantra ini, maka, unsur-unsur bumi yang paling murni akan muncul, ambillah.. ” kata Dewa Wisnu. Kera Putih berusaha melakukannya, tetapi ia rasakan tugas itu agak sulit, banyak hal di jalan yang menghambat langkahnya. Ia melewati pasar, ada banyak buah-buahan yang ia sukai. Kera Putih tak bisa menahan air liurnya. Kera Putih sudah berhenti di pasar, tapi tiba-tiba terdengar suara ibunya yang mengingatkannya untuk menjalankan tugas. Kera Putih juga sangat ketakutan saat harus mengambil kemurnian api, tapi syukurlah ibunya memberitahukan caranya agar ia tak terbakar.

Yang paling sulit dan menakutkan adalah ketika Kera Putih harus mengambil angkasa. Kera Putih hampir menyerah karena merasa tak kuat.

“Lepaskan pikiranmu, lepaskan tubuhmu, lepaskan keinginan-keinginanmu, ” suara ibunya memberi tuntunan. Kera Putih ketakutan, karena perlahan-lahan tubuhnya menghilang. Kakinya, tubuhnya, tangannya, kepalanya, semuanya menghilang. Hanya yang dia rasakan di hatinya suara dan kasih sayang ibunya.

Setelah melakukan tugas penting itu Kera Putih mulai menikmati tugasnya sebagai pembawa pesan. Tapi yang tak hilang adalah sifat Kera Putih yang pemilih.

Pada saat bulan purnama, Dewa Wisnu memberikan banyak anugrah kepada manusia. Kera Putih ditugaskan untuk memberikan hadiah secara adil. Mendapat tugas itu Kera Putih sangat bahagia. Kera Putih dengan semangat membuat rincian orang-orang dan hadiah-hadiah yang akan diberikan. Kera Putih tak menghiraukan arahan dari Dewa Wisnu, karena dia merasa sudah pintar dan tahu apa yang harus dilakukan. Kera Putih yakin yang dilakukannya tepat karena dia lebih tahu apa yang diperlukan orang-orang yang dikenalnya. Kera Putih hanya memberikan hadiah kepada orang-orang yang baik dan percaya padanya.

“Kenapa aku memberikan hadiah pada yang tak percaya padaku, nanti aku dianggap pendusta, kan malah akan menambah dosa, Dewa Wisnu pasti tidak suka orang-orang berbuat dosa,” kata Kera Putih dalam hati. Ia sangat yakin bahwa tindakannya benar.

Kera Putih sangat bersemangat menjalankan misinya sebagai pemberi hadiah. Kera Putih merasa kaget ketika ada bencana alam, ada banjir bandang, gunung meletus dan ada perang besar. Dewa Wisnu memanggilnya dan mengatakan semua itu adalah salahnya.

“Saya tak pernah memakai kesaktian saya untuk membuat banjir bandang, untuk meletuskan gunung, apalagi untuk mengadu domba mengajak perang, saya selalu mengajarkan cinta kasih, saya sangat menyayangi orang-orang dan alam semesta ” kata Kera Putih sambil menangis. Kera Putih merasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik, Ia tak mau disalahkan.

“Coba lihat lagi catatanmu, dan coba cek lagi orang-orang dan anugrah yang saya tugaskan padamu, apakah tak ada yang menyimpang?” kata Dewa Wisnu tegas.

Kera Putih diam dan menunduk. Ia tahu banyak orang-orang dan hadiah yang dia pilih sendiri, yang tak sesuai dengan yang ditugaskan oleh Dewa Wisnu.

“Tapi, sayaaa…. ” Kera Putih menangis menyadari kesalahannya.

“Hadiah yang salah pada orang yang salah akan menimbulkan bencana. Belajarlah bijaksana dalam bertugas, jangan memilih berdasarkan kepentingan pribadimu, ” nasehat Dewa Wisnu. Kera Putih merasa malu atas kesalahannya. Untuk menebus kesalahan yang telah diperbuatnya Kera Putih berjanji Kepada Dewa Wisnu untuk menjadi pelayan Dewa Wisnu yang setia, yang hanya menjalankan perintah dari Dewa Wisnu. [T]

Tags: dongengdongeng pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dadong dan 1946 | Cerpen Kadek Anggun Sentyawati

Next Post

Medicine by Nature | Kolaborasi Workshop Meracik Jamu oleh Adiwana Resort Jembawan dan Jamu Sehati

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Medicine by Nature | Kolaborasi Workshop Meracik Jamu oleh Adiwana Resort Jembawan dan Jamu Sehati

Medicine by Nature | Kolaborasi Workshop Meracik Jamu oleh Adiwana Resort Jembawan dan Jamu Sehati

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co