14 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kera Putih yang Pemilih

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
November 6, 2021
in Dongeng
Penyesalan Kelelawar

Ilustrasi tatkala.co | Nana Partha

Hidup ini adalah pilihan. Tidak memilih pun juga adalah pilihan. Kalau kita memilih sesuatu, biasanya sudah dipertimbangkan dengan matang, untung ruginya, kekurangan dan kelebihannya.

Tapi pada kenyataannya tidak semua yang dipilih bisa diperhitungkan dengan matang, dengan logika-logika atau perasaan-perasaan yang ada. Banyak hal yang terjadi yang awalnya adalah hal kecil dengan pilihan kecil yang selanjutnya akan berpengaruh pada yang lebih besar, lebih besar dan lebih besar lagi. Seperti yang terjadi pada Kera Putih.

Awalnya ia adalah seorang anak yang memilih menjadi cuek, tidak jahat tetapi hanya agak malas dan tidak peduli. Ayahnya adalah Dewa Wisnu yang memiliki alam semesta dan semua kekayaan. Tahu ayahnya memiliki segalanya, membuat anak ini manja, suka makan apa saja, dan ia terbiasa membuang kulit dan pembungkus makanan sembarangan.

“Kan ada tukang sapu, biarkan saja mereka berkerja,” begitu katanya yang membuat Dewa Wisnu sedih dan menghukumnya, menjadi binatang dan ia memilih menjadi kera, Kera Putih yang tampan dan sakti.

Ia sudah memilih menjadi seekor kera, tak bisa ditarik lagi. “Ahhh kenapa memilih jadi kera? Harusnya aku memilih menjadi harimau saja, raja hutan yang ditakuti, atau menjadi gajah yang besar dan hebat, atau menjadi kuda putih yang gagah, cekatan dan bisa terbang,” pikir Kera Putih.

Tapi pilihan tak bisa diubah, makanya dia kemudian meminta kepada Dewa Wisnu untuk menjadi Kera Putih yang sakti, kuat, cerdik, bisa terbang dan menghilang.

“Baiklah kalau itu pilihanmu, akan aku kabulkan, tetapi ingatlah dalam setiap pilihan, juga terkandung tugas-tugas, ” kata Dewa Wisnu.

“Siap, Ayahanda, akan hamba jalankan semua tugas itu,” janjinya.

Pada saat yang sudah ditentukan, anak itu telah berubah menjadi Kera Putih yang tampan dan sakti. Tugasnya adalah mengantarkan pesan dari dan untuk Dewa Wisnu.

“Tugas yang sangat mudah, apakah tidak ada tugas tambahan lagi agar kesaktian hamba tidak sia-sia,” kata Kera Putih agak sombong. Dewa Wisnu menggeleng.

“Tidak, lakukan satu tugas itu dengan sebaik-baiknya, ” perintah Dewa Wisnu, sambil memberikan sebuah lontar untuk disampaikan kepada seorang raja.

Kera Putih terbang tinggi, burung-burung gagak yang mengejarnya berhasil ia kelabui. Mereka tak bisa menemukannya karena sembunyi di balik awan yang putih bersih. Akhirnya Kera Putih dengan cepat bisa menyelesaikan tugas pertamanya.

“Ahh tugas yang mudah dan membahagiakan, ” kata Kera Putih sambil duduk menopang dagunya dengan tangan.

Sebagai pengantar pesan kebaikan dari Dewa Wisnu, Kera Putih disambut meriah oleh raja dan rakyatnya. Permaisuri raja dan putra-putri raja juga sangat memujanya, mengatakan dirinya kera yang tampan, cerdik dan sakti. Hati Kera Putih berbunga-bunga. Kenangan puja-puji orang-orang yang menyambutnya selalu terlintas di benaknya, membuatnya bangga dan selalu bangga.

Tugas kedua, ketiga dan selanjutnya bisa dilakukan Kera Putih dengan baik, dengan mengandalkan kesaktian dan kecerdasannya. Dalam menjalankan tugas, Kera Putih masih suka memilih-milih. Kera Putih akan memilih tugas yang dipandangnya ringan dan mengabaikan tugas yang dirasakannya sulit.

Dewa Wisnu tahu hal itu, sehingga beliau memberikan tugas yang sangat sulit, yaitu; mengambil air, api, udara, tanah dan angkasa yang paling murni. Kera Putih termenung, tapi Dewa Wisnu memberinya mantra.

“Ucapkanlah mantra ini, maka, unsur-unsur bumi yang paling murni akan muncul, ambillah.. ” kata Dewa Wisnu. Kera Putih berusaha melakukannya, tetapi ia rasakan tugas itu agak sulit, banyak hal di jalan yang menghambat langkahnya. Ia melewati pasar, ada banyak buah-buahan yang ia sukai. Kera Putih tak bisa menahan air liurnya. Kera Putih sudah berhenti di pasar, tapi tiba-tiba terdengar suara ibunya yang mengingatkannya untuk menjalankan tugas. Kera Putih juga sangat ketakutan saat harus mengambil kemurnian api, tapi syukurlah ibunya memberitahukan caranya agar ia tak terbakar.

Yang paling sulit dan menakutkan adalah ketika Kera Putih harus mengambil angkasa. Kera Putih hampir menyerah karena merasa tak kuat.

“Lepaskan pikiranmu, lepaskan tubuhmu, lepaskan keinginan-keinginanmu, ” suara ibunya memberi tuntunan. Kera Putih ketakutan, karena perlahan-lahan tubuhnya menghilang. Kakinya, tubuhnya, tangannya, kepalanya, semuanya menghilang. Hanya yang dia rasakan di hatinya suara dan kasih sayang ibunya.

Setelah melakukan tugas penting itu Kera Putih mulai menikmati tugasnya sebagai pembawa pesan. Tapi yang tak hilang adalah sifat Kera Putih yang pemilih.

Pada saat bulan purnama, Dewa Wisnu memberikan banyak anugrah kepada manusia. Kera Putih ditugaskan untuk memberikan hadiah secara adil. Mendapat tugas itu Kera Putih sangat bahagia. Kera Putih dengan semangat membuat rincian orang-orang dan hadiah-hadiah yang akan diberikan. Kera Putih tak menghiraukan arahan dari Dewa Wisnu, karena dia merasa sudah pintar dan tahu apa yang harus dilakukan. Kera Putih yakin yang dilakukannya tepat karena dia lebih tahu apa yang diperlukan orang-orang yang dikenalnya. Kera Putih hanya memberikan hadiah kepada orang-orang yang baik dan percaya padanya.

“Kenapa aku memberikan hadiah pada yang tak percaya padaku, nanti aku dianggap pendusta, kan malah akan menambah dosa, Dewa Wisnu pasti tidak suka orang-orang berbuat dosa,” kata Kera Putih dalam hati. Ia sangat yakin bahwa tindakannya benar.

Kera Putih sangat bersemangat menjalankan misinya sebagai pemberi hadiah. Kera Putih merasa kaget ketika ada bencana alam, ada banjir bandang, gunung meletus dan ada perang besar. Dewa Wisnu memanggilnya dan mengatakan semua itu adalah salahnya.

“Saya tak pernah memakai kesaktian saya untuk membuat banjir bandang, untuk meletuskan gunung, apalagi untuk mengadu domba mengajak perang, saya selalu mengajarkan cinta kasih, saya sangat menyayangi orang-orang dan alam semesta ” kata Kera Putih sambil menangis. Kera Putih merasa sudah menjalankan tugasnya dengan baik, Ia tak mau disalahkan.

“Coba lihat lagi catatanmu, dan coba cek lagi orang-orang dan anugrah yang saya tugaskan padamu, apakah tak ada yang menyimpang?” kata Dewa Wisnu tegas.

Kera Putih diam dan menunduk. Ia tahu banyak orang-orang dan hadiah yang dia pilih sendiri, yang tak sesuai dengan yang ditugaskan oleh Dewa Wisnu.

“Tapi, sayaaa…. ” Kera Putih menangis menyadari kesalahannya.

“Hadiah yang salah pada orang yang salah akan menimbulkan bencana. Belajarlah bijaksana dalam bertugas, jangan memilih berdasarkan kepentingan pribadimu, ” nasehat Dewa Wisnu. Kera Putih merasa malu atas kesalahannya. Untuk menebus kesalahan yang telah diperbuatnya Kera Putih berjanji Kepada Dewa Wisnu untuk menjadi pelayan Dewa Wisnu yang setia, yang hanya menjalankan perintah dari Dewa Wisnu. [T]

Tags: dongengdongeng pendidikan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Dadong dan 1946 | Cerpen Kadek Anggun Sentyawati

Next Post

Medicine by Nature | Kolaborasi Workshop Meracik Jamu oleh Adiwana Resort Jembawan dan Jamu Sehati

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Takut Galungan

by Dede Putra Wiguna
June 27, 2026
0
Takut Galungan

DI Desa Kembang Asri hiduplah seekor babi betina bernama Ica. Ia adalah babi kesayangan Made Subur. Ica tumbuh sehat dan...

Read moreDetails

Radio Tua Kakek Panjul

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Radio Tua Kakek Panjul

PAGI di Desa Muncuk Sari selalu datang dengan cara yang sama. Perlahan, lembut, seperti tangan yang membelai tanpa suara. Kabut...

Read moreDetails

Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
February 27, 2026
0
Tangisan Rinai, Derita Bumi │ Dongeng Lingkungan

DI langit biru yang luas, hiduplah kawanan awan yang lembut dan setia. Pemimpin mereka bernama Rinai, awan tua berwarna kelabu...

Read moreDetails

Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

by Jaswanto
February 8, 2026
0
Sekar dan Tujuh Cahaya | Cerita Anak

SEKAR masih menangis ketakutan dengan badan kuyup. Badai telah reda. Tapi Kakek dan orang-orang desa tak kunjung kelihatan. Di ujung...

Read moreDetails

Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
January 18, 2026
0
Adik dan Katak | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau dan sungai yang jernih, hiduplah seorang anak lelaki bernama Adik. Ia dikenal...

Read moreDetails

Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

by Dede Putra Wiguna
October 12, 2025
0
Jalak Bali dan Beringin Tua | Dongeng Lingkungan

DI sebuah desa kecil bernama Desa Kerta Harum, berdiri sebuah beringin raksasa berusia ratusan tahun di pinggir jalan dekat Pura...

Read moreDetails

Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

by Pitrus Puspito
May 11, 2025
0
Bob & Ciko | Dongeng Masa Kini

MENJELANG sore, seekor beruang madu ditangkap oleh para pemburu dan dibawa ke kebun binatang Zoole. Kebun binatang Zoole merupakan tempat...

Read moreDetails

Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 26, 2025
0
Gery dan Sangkarnya  |  Dongeng dari Papua

DI satu gedung Gereja hiduplah seekor burung yang bahagia. Ia tidur di tempat yang nyaman dan sering keluar bermain dan...

Read moreDetails

Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

by Wayan Purne
January 25, 2025
0
Ulat Mengkhianati Pohon Apel  |  Dongeng Pendidikan

“Tolong-tolong!!! Aku diburu! Diburu! Tolong aku!” teriakan seekor ulat ketakutan. Terlihat seekor ulat menggeliat merayap di antara dedaunan mati yang...

Read moreDetails

Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

by Teddy Koll
January 12, 2025
0
Toweli dan Tongkat Saktinya | Dongeng dari Papua

DI satu kampung yang dikelilingi gunung batu: Gunung Batu Kulbi di timur dan Gunung Batu Wandel di barat dan Gunung...

Read moreDetails
Next Post
Medicine by Nature | Kolaborasi Workshop Meracik Jamu oleh Adiwana Resort Jembawan dan Jamu Sehati

Medicine by Nature | Kolaborasi Workshop Meracik Jamu oleh Adiwana Resort Jembawan dan Jamu Sehati

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co