13 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

AS Kurnia by AS Kurnia
October 9, 2021
in Cerpen
Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Ilustrasi tatkala.co | AS Kurnia

Dia membangunkan Rai, adik laki-lakiku yang terjatuh. Hari-hari selanjutnya dia menjadi tetanggaku. Keluargaku tinggal di kost-kostan. Satu pekarangan dengan tempat kostnya. Aku memanggilnya “Mas”, meski dia lebih pantas jadi kakekku. Usiaku 3 tahun ketika pertama kali mengenalnya sedangkan Rai berumur 1,5 tahun. Rambut Mas sudah memutih, terikat memanjang menyentuh punggung. Tubuhnya sangat kurus. Tiap hari dia keluar bersepeda. Aku hanya mendengar dia pergi ke Ubud ketika dia berpamitan ke bapakku. Saat dia di rumah, aku sering melihatnya menggambar. Mas memberiku buku dan alat gambar seperti pensil warna dan oil pastel. Saat mulai sekolah, lebih sering aku mendapatkan fasilitas tersebut. Aku dan Rai juga sering mendapat jajan.

Mas lebih perhatian padaku daripada Rai. Barangkali karena Rai sangat nakal. Sering mengganggu ketika Mas sedang menggambar. Mas kerap memarahinya. Meski sangat nakal, aku sangat menyayanginya. Ia adikku satu-satunya. Mas juga pernah memarahiku karena aku mengintip ketika dia sedang mandi. Entah, mengapa aku ingin melihatnya di kala mandi. Mungkin karena kebiasaanku mandi bersama Rai dan Bapak. Sesungguhnya aku ingin tahu, apakah dia seperti aku dan Ibu atau seperti Bapak dan Rai. Rambut Mas panjang seperti milik Ibu.  Mas bercerita, sewaktu kecil, aku pernah minta “cemen capi dan cate”. Dia bingung.   Aku tak ingat rasa permen sapi dan sate tersebut. Mas cuma berjanji membelikan tapi hingga kini tak pernah ditepati.

“Sinta kangen sama Mamak?” tanya Mas suatu ketika sambil mengusap kepalaku. Aku biasa memanggil ibuku: Mamak. Sudah 2 tahun ia meninggalkanku. Ibu bekerja di Turki.

“Kangen,” jawabku. Aku ingin menangis tapi airmataku tak mau keluar. Mungkin karena ada perasaan marah pada ibuku.

“Mamak kerja mencari uang agar Sinta dan Rai bisa sekolah dan menjadi pintar,” kata Mas menghiburku. Aku sedih. Sangat kangen sama Mamak. Sejak Mamak pergi, Bapak jadi kerepotan mengasuhku dan Rai. Apalagi kalau ada yang minta dibuatkan sate. Bapakku menerima pesanan jika ada yang membutuhkan sate. Sebelumnya, Ibu berdagang pakaian di pasar. Ketika dagangan tidak laku, Ibu membantu Bapak. Situasi semakin sulit saat pemesan sate semakin berkurang. Akhirnya Ibu berangkat ke Turki, bekerja sebagai terapis di Spa Center. Di usiaku yang baru 3,5 tahun, aku membiasakan mandi sendiri. Mencuci gelas atau piring  sehabis makan. Juga membantu menyapu lantai dengan tangkai sapu setinggi badanku. Meski awalnya jijik, cebok juga kulakukan sendiri. Hanya Rai yang masih perlu dibantu melakukan beberapa hal bahkan aku juga membantu menyuapinya. Dia masih terlalu kecil. Kenakalannya bisa jadi disebabkan oleh kepergian Ibu.

“Sinta!” Mas merentangkan kedua tangannya, memintaku menyambutnya. Aku menghampiri dan memeluknya erat. Kurasakan tulang-tulang tubuhnya menekanku. Dia amat kurus. Beda dengan tubuh ibuku yang mokoh, gemuk. Aku ingin menangis tapi kutahan. Airmataku mulai meleleh, dadaku tersengal. Mas mengusap punggungku, menyuruhku menangis.

 “Menangislah! Sinta kangen Mamak, kan?”

Aku terisak. Kutumpahkan tangisku. Airmata dan ingusku membasahi punggungnya. Sudah lama aku tak merasakan pelukan. Bapakku tak pernah lagi memelukku. Barangkali aku dianggap sudah besar atau karena dia terlalu sibuk. Dia lebih sering membelai ayam-ayam jagonya. Meskipun begitu, Bapak tak pernah telat memasak makanan untukku dan Rai. Di waktu subuh dia sudah ke pasar, belanja untuk kebutuhan makan kami. Aku dan Rai sangat kangen Mamak.

~~~

Rai memang bengal. Tubuhnya dirajahi tato, hampir memenuhi setengah badannya. Tiap hari mulutnya bau alkohol. Sering teman-temannya main ke rumah. Berjudi ceki sambil menenggak arak oplosan. Kalau sudah mabuk berat, mereka tidur di sembarang tempat. Di bale, di lantai, teras, di halaman, bahkan tengkurap di atas motornya. Bangunnya siang pula. Suatu saat dia pernah berurusan dengan polisi terkait kasus penjambretan turis. Adikku juga tergabung di sebuah “ormas” yang disegani. Sejak masuk ke “geng’ tersebut, tingkahnya semakin ugal-ugalan dan sok jagoan.

Aku tinggal di rumah dengan Rai. Rumah ini dikontrak Mamak. Turki lebih memilih kost di tempat lain. Dia tak betah di rumah. Hubungannya dengan Rai tak harmonis. Turki sangat rupawan. Sosoknya tinggi, hidungnya mancung. Tidak seperti hidungku yang pesek. Kuduga itu yang menyebabkan Rai tak menyukainya. Wajah Rai jelek, hidungnya pesek, jidatnya menonjol. Mas menjulukinya “si Panjul”. Itu juga yang menyebabkan Mas sebal padanya. Sudah jelek, bengal pula. Tidak sepertiku. Meski aku pesek dan tidak cantik, tetapi aku lucu dan menggemaskan, begitu menurut pengakuan Mas kepadaku.

Alasan lain kebencian Rai pada Turki, dia dianggap pembawa bencana di keluarga kami. Kepulangan Mamak dari Turki belasan tahun silam hanya sesaat menebar kebahagiaan. Mamak tidak hanya membawa uang banyak tapi juga membawa janin di perutnya yang membesar. Di Turki, janin pernah dicoba digugurkan. Rupanya Tuhan berkehendak lain, tak ingin ibuku terjerumus di kubangan dosa yang lebih dalam. Janin itu selamat. Ibuku memberinya nama: Nyoman Turki, anak ketiga yang lahir dari rahimnya. Orangtuaku akhirnya  bercerai. Bapak tinggal di Karangasem dengan istri barunya dan anak hasil perkawinan mereka. Jika kangen padanya, aku menyambanginya. Ibuku lebih sering kerja di luar negeri.

Suatu ketika aku bertemu kembali dengan Mas. Kami memang sudah tidak bertetangga lagi. Mas masih setia dengan sepeda bututnya yang diberi nama “si Putih” walau warna catnya bisa dibilang tidak putih lagi. Mas memang tergolong pemalas dalam urusan merawat sepeda dan membersihkan kamar. Ketika kami masih bertetangga, seingatku tak lebih dari tiga kali dia membersihkan sepeda dan kamarnya. Aku tak ingat, apakah dia pernah menjemur kasur dan bantal. Tiap hari aku ke studio Mas. Belajar melukis dan membantu membersihkan studio dan memasak. Terkadang lukisanku dijualkan olehnya. Entah dijual kepada siapa. Lumayan menambah bekal untuk memenuhi kebutuhanku.

Mas bukan pelukis terkenal atau pelukis yang karyanya jadi buruan para kolektor. Kondisi ekonominya tak stabil. Kalau tabungan menipis, kami hanya makan dengan lauk mie instant dan krupuk. Jika dia kehabisan uang, aku belanja menggunakan uangku untuk keperluan kami. Setelah dapat uang, Mas menggantinya. Tugasku juga membantu mendasari, memberi warna awal pada lukisannya. Istilah kerennya “artisan”. Tak ada yang bisa kubanggakan dari pekerjaan ini. Lain cerita jika sebagai artisan pelukis top. Meski kesejahteraan materi pas-pasan, aku bahagia kerja bersama Mas. Menjadi bagian dari proses berkeseniannya.

~~~

Terasa ada yang menindih tubuhku. Aku terjaga. Gus Arya dalam keadaan mabuk berat berada di atas tubuhku. Dia amat kuat menguasaiku. Aku ketakutan, tak mampu melawan. Dia anak orang kaya dan keluarganya sangat disegani di desanya. Dia juga anggota ormas sementara aku cuma anak rantau. Pertahananku runtuh. Malam itu hidupku serasa berakhir. Tidak! Bukan hanya malam itu. Malam yang lain, yang kemudian hari. Adikku sendiri menggagahiku. Rai berubah seperti setan. Rona mukanya merah padam. Entah apa yang dia minum malam itu. Perbuatan Rai sungguh dalam melukai hatiku. Adik yang kusayangi telah tega menistaku. Ingatanku pada Mas yang membuatku tegar.

Setelah kejadian-kejadian itu, aku bersikap biasa di hadapan Mas. Seolah tak terjadi sesuatu. Memang peristiwa itu bukan pengalaman pertama atau kedua persetubuhanku. Hubungan intim pertamaku kulakukan bersama Mas. Saat itu dia memintaku menjadi model setengah telanjang. Hanya bagian dada yang terbuka. Entah intuisi apa yang menggerakkannya saat menghampiriku dan yang kuingat aku pun hanya pasrah, seperti ketika dulu aku menghampiri saat dia merentangkan tangan. Hari-hari selanjutnya aku tinggal di studio Mas. Mengetahui aku tinggal di tempat Mas, Gus Arya sering berusaha menemuiku. Aku selalu menghindar tapi dia tetap bersikukuh mendatangiku. Suatu ketika Mas berkata padaku: “Aku tak melarangmu pacaran. Kau sudah dewasa. Sudah sewajarnya punya pasangan yang sama-sama muda.”

~~~

Gus Arya berkelit ketika kusampaikan bahwa sudah 2 bulan aku tak menstruasi. Dia malah menyuruhku untuk menguret janinku. Dia mengelak mengakui bahwa janinku adalah bakal anaknya. Dia menuding bakal anak yang kukandung adalah hasil persetubuhanku dengan Mas. Demi Tuhan, hanya sekali Mas menyetubuhiku. Selang kemudian hari, aku mendapat kabar bahwa Gus Arya ternyata sudah punya istri. Selingkuhannya bukan aku saja. Dia menggaet perempuan Jepang yang tengah membangun villa di pinggiran Ubud. Hubungan kami berakhir. Angan-angan masa depan yang sempat terajut di benakku pupus sudah. Anakku bakal lahir seperti Turki, anak haram Mamak. Lahir tanpa ayah.

“Anakmu mirip kamu. Aku jadi ingat pada waktu kau kecil. Hidungnya juga pesek. Mau cemen capi, nggak?” seloroh Mas terkekeh menimang putriku. Dia sangat menyayanginya. Kami bertiga hidup bahagia hingga Putu Melati berusia 4 tahun. Kebahagiaan itu tercabik pada suatu malam. Rai datang mencoba memeras Mas. Karena kemauannya ditolak, Rai menghunjamkan senjata tajam ke tubuh yang renta itu. Mas tumbang bersimbah darah dengan banyak luka belati. Jenazahnya dimakamkan di kampungnya di Jawa Tengah. Rai mendekam di penjara, menjalani hukuman 15 tahun. Peninggalan dari Mas yang kumiliki hanya 9 buah lukisan diriku sebagai model dengan berbagai pose. Cuma mimpi jika berharap lukisan-lukisan itu menjadi mahal setelah sang pelukis meninggal. Sudah lama ibuku tak berkirim kabar. Turki menyusul Ibu setahun lalu. Mamak pindah kerja ke Suriah. Perang berkecamuk hebat di sana. Kabar kematian senantiasa membayangiku.

“Sinta… Kerjaaa!” teriak Mami membuyarkan lamunanku. Pelangganku datang. Laki-laki renta berusia 80 tahunan. Rambut putihnya terikat memanjang menyentuh punggung. Di kamar, kami tidak bersetubuh. Dia hanya membuat sketsa-sketsa tubuh telanjangku. Dia pelukis. Aku tak peduli, terkenal atau tidak.

Bedulu, 11-1-2020

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tatapan Orang Kampung untuk yang Asing

Next Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

AS Kurnia

AS Kurnia

Pelukis dan Penulis. Lahir di Semarang, 1960 dan sejak tahun 1990 bermukim di Bali. Beberapa kali pameran tunggal dan banyak terlibat dalam pameran bersama. Pernah meraih Penghargaan Pertama "Kompetisi Pelukis Muda Indonesia" tahun 1989 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Alliance Francaise. Menulis di Koran Jayakarta, Dharma, Kartika Minggu, Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Tribun Bali.

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co