10 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
October 9, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Foto ilustrasi | Jayen Photography

Oleg Tamulilingan

Cintaku,
Nyanyikan lagi
Seribu gairah dari kepak sayapmu

Lalu kecuplah pagi di mataku
Kecuplah ranum senja di bibirku

Cintaku, mari kita tuangkan cawan
Seribu air mata dan seribu tanda tanya
Pada cumbu yang lembut
Hingga luka rinduku tandas

Kita menari menyusuri peta tubuh
Menghisap madu dari kisah-kisah yang terjadi
Desis desah dari sarang rapuhku
Bagai musim dingin yang tak setia

Cintaku, turunlah lagi ke lembah terjanji
Ketuklah pintu rahasia
Di dalamnya kuda liar meringkik lirih
Gamelan masih mengalun mengirim seserpih
Nyanyian dari letupan minyak di tubuhku

Dakilah bukit merah
Jangan takut pada luka yang mengerang,
ringkik kuda liar,
Jelujur kain lepas atau
Peluh yang tersesat di serat kain
Kirimkan gerimis
Pada celah hangat putikku

Barangkali, kita tak hanya dahaga
Kita juga mengais sisa luka
Terlunta
Dari waktu yang tua
Menuangkan jejak menjelma gerak indah
Sepanjang jalan
Sepanjang sejarah

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Di Suatu Masa

Kita pernah datang ke suatu masa
Berenang di sungai rindu
Kita menjelma ikan-ikan yang kuat
Sepanjang musim menyusuri sungaisungai

Dari sudut mata tercipta kisah
Yang membuat tertahan dan bertahan
Dari malam malam bisu,
Musim pancaroba

Kita berjalan
Menghalau gigil dengan pelukan hangat

Kita pernah datang ke suatu tempat
Tempat yang gulita
Misteri dan piatu
Di mana rasa tak dapat ditakar, dan
Usia tak terbaca musimmusim

Kita berdiri di ambang pintu
Menanti mentari
Lekat dengan degup yang dicipta kulum bibir

Kita dikekal rasa asing
Dikepung cahaya dan gelap silih berganti

Ketika romantika datang meracuni jiwa
Kita sembunyikan diri
dalam empat arah mata angin,
dalam sajak yang menjauh dari cahaya

Di suatu masa
Di suatu tempat yang misteri, aku akan mengenangmu
Bukan dengan tangisan tapi
Luruh dalam hening malam dengan seribu bulan

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Belajar Tentang Sepi

Kita masih belajar tentang sepi
Sunyi rahasia dibalik deru sirine ambulans
Riuh berita di televisi

Kita masih mengeja hujan
Langit semayam muram
Mencatat keasingan di tubuh bumi
Luka kekang menjadi kisah kekal
Misteri yang sunyi
Seperti usia

Ruparupa dunia kian asing
Masihkah ada esok?
Bagaimana rupaku esok?
Bagaimana rupamu esok?
Rindu masih terjaga
Masih menyala meski
Ranjau di mana-mana
Adakah nama kita tertulis di sana
Di dinding langit

Kita masih belajar tentang sepi
Telanjang di tengah jerit lapar
Di dekat jendela kita berdiri
Menjaga harap
Menunggu tuhan yang telah beranjak
Menjadi debu musim dingin

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Aku Ingin Pulang

Aku ingin pulang
Pada belantara tubuhmu
Menggenapkan puisi yang belum rampung
Buka. Bukalah jendela-jendela
Bukalah pintunya

Aku ingin kembali
Pada lekuk kata-kata di tubuhmu
Aku merindu pelukan rima
Merindu kalam malam yang dimuntahkan pori porinya
Aku mencari jejak cinta
Napak tilas dongeng tua
Yang penuh canda dan lelucon
Mencium aroma kata kata yang perawan

Aku ingin pulang pada senyummu yang hujan
Tatapanmu yang misteri
kanku ubah katakata
Menjadi puisi dalam ranum merah bibirmu

Aku petualang dungu
Tak tahu mesti menjejak di ruang mana
Hanya samar berhembus di ruang tamumu
Didera keriuhan yang asing
Tubuhmu yang anggur
Memabukkan penyair jalang sepertiku

Aku akan pulang
Pada rawan bibirmu
Pada kalbu yang ibu

(Tuka, September 2021)

Asap Dapur

Yang kita kenang tentang asap dapur adalah bentangan cerita
Yang disusun oleh kayu-kayu bakar dan minyak tanah
Nyanyian kecil yang tersimpan rapi dalam hitam arangnya
Jerit tawa kita melalap segenap kecemasan
Tentang masa yang belum tiba
Lalu asap dapur yang membumbung tinggi
Membawa kita merayapi harapan
Diam-diam

Tangan-tangan beraroma asap
Tak lagi percaya akan perbedaan
Kita bangkit tak lagi mengukur jarak
Dan menakar rasa
Dalam sunyi asap dapur ada bunyi
Sajak-sajak dengan huruf tak terbaca
Namun jernih bening
Tempat kita daraskan segenap doa
Tempat kita temui telaga
Menuntaskan segala dahaga
Dan tempat bercermin
Menemukan rupa yang lupa

(Tuka, Agustus 2021)

Anjingku Mencari Jalan Pulang

Hari keempat minggu pertama
Di bulan juli
Kau berjalan menyusuri petang
Menuju tempat rahasia

Petang itu kau lukis ribuan jejak yang dicatat angin
Kau tulis ribuan kesakitan di musim musim pedih
Kaki yang tak lagi sigap, mata tak lagi awas
Tubuh rentamu, luka-luka yang ingin kau tuntaskan

Betapa banyak kelokan yang kau tempuh
Untuk menemukan jalan pulang
Berkalikali nyeri dan sepi menusuk tanpa ampun
Menyusuri lekuk tubuh malam
Menuntaskan segala darma karma, segala denyar
Di lanskap yang kini hambar hampa

Kau kini jauh menempuh angin
Meniti tangga langit
Aku hanya bisa berkawan kenangan

Aku berhenti beberapa jenak,
Menemukanmu kembali
Di setiap sudut rumah ini

(Tuka, Juli 2021)

Memasak

Sebelum memasak cucilah tubuhmu terlebih dahulu
Harumkan hatimu dengan doa-doa
Tariklah nafas panjang
Untuk memulai perjalanan

Lalu siapkan catatan resep yang kau simpan di saku
Bahan-bahan dan peralatan
Mereka akan segera menjelma kereta
Mengantarmu pada lenguh
Pada peluh, setangkup gelap
Seberkas terang, lega
Riuh dan gairah
Lara bara bergerak menuju lembah daya cipta
Bumbu-bumbu diracik perlahan
Bahan-bahan dicuci dan dipotong
Hatimu mengembara pada belantara yang kaya
Langit-bumi, air-tanah, senyum-sedih
Berkelindan
Riuh kompor, uap panas memberi tanda baca
Sekaligus tanda jeda
Pada persimpangan yang membingungkan
Kau bercinta dalam cinta yang ranum
Penuh aroma rerempah
Cinta mengalir tanpa syarat
Tanpa jeda
Tanpa tanda seru
Kau hidangkan masakan kaya rasa
Di dalamnya kota-kota gemerlapan
Namun hikmat menulis diri
Kini kau tahu cara bergembira
Dan cara telanjang dengan lebih baik

(Tuka, Agustus 2021)

Menulis Hangeul

Bulat kotak garis
Serupa ramalan di awal tahun
Yang beku oleh cuaca
Ke kanan, ke bawah
Persimpangan persimpangan
Menumbuhkan gelap ragu
Dan pekat ludah yang tak henti
Mencipta kata – kata
Mencipta pikiran – pikiran

Bulat kotak lengkung
Mata penaku masih ragu berlayar
Seperti pengembara yang belum mengenal cuaca
Lalu di ujung jalan sebuah huruf mati menjadi tanda
Menuju jalan baru

Penaku meringis diserbu kejam kata-kata
Melengkung lurus jeda
Dihantui persimpangan menimbulkan
Kengerian yang mengigit

Seribu air mata hendak kutuangkan
Huruf – huruf asing meraba laparku
Yang kian lama kian liar
Dalam ragu mata penaku terus berlayar
Membariskan huruf – huruf pada tempatnya
Seekor ikan menggelepar
Kepiting tersesat dan bening air membuncahkan
Dada
Lalu aku sampai di pelabuhan tua
Ku lihat Raja Sejong melambaikan tangan
Tersenyum
Aku terpana huruf – huruf entah ke mana
Mungkin tenggelam
Kucari-cari entah
Namun mata penaku berlayar
Semakin gagah berani
menundukkan samudera kata-kata

(Tegaljaya, April 2021)

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Next Post

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails

Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

by Muammar Qadafi Muhajir
May 31, 2026
0
Puisi-puisi Muammar Qadafi Muhajir | Kelambu

Kelambu Suatu hari, aku bicara dengan kelambuDia berkeluh kesah tentangmalam itu doa-doakutidak sengaja tersangkut di ketiaknyaIa bilang ia khilaf dan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

by Eddy Pranata PNP
May 30, 2026
0
Puisi-puisi Eddy Pranata PNP | Pusat Cahaya

CANGKIR TEH YANG MENUA kita masuki rumah baru, AC yang tidak dinginrapikan dapur dan kamar, bersihkan kamar mandi: "au, kita...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

by Sholihul Mubarok
May 29, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Hujan Malam

ASIMTOTE sebentar nyala mataharidari pagimenyalak matakudan matamuselalu silau ada jeda tersembunyidi bibir sianglebih sunyidari celah renggang akan tetapi, bayangmemanjang satu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

by Salman Alade
May 24, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
0
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

by Chusmeru
May 22, 2026
0
Puisi-puisi Chusmeru | Sajak Kota Kembang

Jamaras Hujan rintik di jalanan becek tak hentikan langkah untuk berikrarKampung itu menjadi saksi dua hati jatuh hati dengan hati-hatiSiapa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

by Kim Young Soo
May 3, 2026
0
Puisi-puisi Kim Young Soo | Di Candi Gedong Songo

DI CANDI GEDONG SONGO Di lereng bukittercurah sinar matahari siang di khatulistiwapada ubun-ubun anemiaterdapat stupa batu yang terlupakanmenghapuskan bayangannya dengan...

Read moreDetails
Next Post
Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan
Esai

GP Ansor di Bali : Dari Perang Kemerdekaan hingga Jembatan Keharmonisan

PERJALANAN Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Bali, tidak bisa dilepaskan dari organisasi induknya yakni Nahdlatul Ulama (NU), yang sudah eksis...

by Abdul Karim Abraham
June 9, 2026
Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan
Ulas Pentas

Aura dan Ruang Aman : Catatan dari Suara-Suara yang Dikecilkan

“Salah satu hal yang membuat pelecehan sulit dikenali adalah karena ia sering hadir dalam bentuk yang tampak biasa: candaan, gurauan,...

by Rezky Chiki
June 9, 2026
Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  
Esai

Bulan Bung Karno, Bulan Berkesenian  

JUNIadalah bulan keenam dalam Tarikh Kalender Masehi, semua orang tahu. Juni adalah bulan pertengahan tahun, semua orang juga tahu. Juni...

by I Nyoman Tingkat
June 9, 2026
Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan
Pendidikan

Daya Tampung Mahasiswa Undiksha Naik —Bukan Profit Oriented, Tapi Demi Perluasan Akses Pendidikan

SINGARAJA – TATKALA.CO | Tahun 2026 ini, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja menyediakan total daya tampung sebanyak 8.484 kursi untuk...

by Wahyu Mahaputra
June 9, 2026
Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong
Esai

Doa Tanpa Usaha Kosong, Usaha Tanpa Doa Sombong

 “Kalau menurutmu, apa yang paling menentukan nasib manusia?” tanya Wayan Tulus sambil memeriksa saluran air yang mengaliri sawahnya. Di sampingnya,...

by Dede Putra Wiguna
June 9, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Tentang Lauk yang Dipindahkan Diam-Diam dari Piring MBG

SIDANG pembaca yang budiman, sebagian besar dari kita mungkin tidak pernah mendengar orang tua mengucapkan kata cinta setiap hari. Generasi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 9, 2026
‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa
Pendidikan

‘Design Thinking’, Dari Teori ke Pembelajaran Nyata —Catatan PKM Undiksha di Desa Pedawa

MENGUNJUNGI Desa Pedawa di Kecamatan Banjar, Buleleng, yang terkenal dengan adat dan budaya yang unik, bagi publik akademik di kalangan...

by tatkala
June 8, 2026
Sihir Tiga Kode Huruf
Bahasa

Sihir Tiga Kode Huruf

PERNAHKAH Anda menyadari bahwa hidup kita hari ini perlahan-lahan dikendalikan oleh mantra tiga kode huruf? Dunia modern adalah rimba aksara...

by I Made Sudiana
June 8, 2026
I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari
Panggung

I Gusti Ngurah Rai di Atas Panggung Marga Fest II : Perang yang Dramatis dan Tragis dalam Balutan Teater Tari

“Dini lade Pak Ngurah Rai nginep ajak pasukanne. Likangi ada, dini ada. Kak sing nawang, nak teka peteng. Di kenkenne,...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam
Pariwisata

International Housekeeper’s Conference, Exhibition & Bed Making Competition 2026 yang Digelar BPD IHKA Bali Diikuti 500 Peserta dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, dan Vietnam

Ketika diumumkan lomba dimulai, suasana ruangan mendadak dipenuhi suara riuh, sorak-sorai dan tepuk tangan sebagai dukungan dari penonton, suporter atau...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026
Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia
Pameran

Karya Seniman Bali I Ketut Putrayasa Jadi Ikon Kampus di Turki, Bawa Tradisi Anyaman Logam yang Unik dan Mendunia

JANGAN sepelekan tradisi menganyam. Seniman Bali, I Ketut Putrayasa membawa tradisi anyaman itu mendunia. Ia dipercaya membuat empat patung yang...

by Nyoman Budarsana
June 9, 2026
Spesies Bapak Pongah | Etnosentris di Parade PKB 2022
Panggung

Peed Aya PKB 2026 Dirancang Tampil Lebih Dinamis Sebagai Pertunjukan Seni Berjalan

PEED Aya atau Pawai Budaya dalam rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026 akan hadir dengan wajah baru yang...

by Nyoman Budarsana
June 8, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co