23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
October 9, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Foto ilustrasi | Jayen Photography

Oleg Tamulilingan

Cintaku,
Nyanyikan lagi
Seribu gairah dari kepak sayapmu

Lalu kecuplah pagi di mataku
Kecuplah ranum senja di bibirku

Cintaku, mari kita tuangkan cawan
Seribu air mata dan seribu tanda tanya
Pada cumbu yang lembut
Hingga luka rinduku tandas

Kita menari menyusuri peta tubuh
Menghisap madu dari kisah-kisah yang terjadi
Desis desah dari sarang rapuhku
Bagai musim dingin yang tak setia

Cintaku, turunlah lagi ke lembah terjanji
Ketuklah pintu rahasia
Di dalamnya kuda liar meringkik lirih
Gamelan masih mengalun mengirim seserpih
Nyanyian dari letupan minyak di tubuhku

Dakilah bukit merah
Jangan takut pada luka yang mengerang,
ringkik kuda liar,
Jelujur kain lepas atau
Peluh yang tersesat di serat kain
Kirimkan gerimis
Pada celah hangat putikku

Barangkali, kita tak hanya dahaga
Kita juga mengais sisa luka
Terlunta
Dari waktu yang tua
Menuangkan jejak menjelma gerak indah
Sepanjang jalan
Sepanjang sejarah

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Di Suatu Masa

Kita pernah datang ke suatu masa
Berenang di sungai rindu
Kita menjelma ikan-ikan yang kuat
Sepanjang musim menyusuri sungaisungai

Dari sudut mata tercipta kisah
Yang membuat tertahan dan bertahan
Dari malam malam bisu,
Musim pancaroba

Kita berjalan
Menghalau gigil dengan pelukan hangat

Kita pernah datang ke suatu tempat
Tempat yang gulita
Misteri dan piatu
Di mana rasa tak dapat ditakar, dan
Usia tak terbaca musimmusim

Kita berdiri di ambang pintu
Menanti mentari
Lekat dengan degup yang dicipta kulum bibir

Kita dikekal rasa asing
Dikepung cahaya dan gelap silih berganti

Ketika romantika datang meracuni jiwa
Kita sembunyikan diri
dalam empat arah mata angin,
dalam sajak yang menjauh dari cahaya

Di suatu masa
Di suatu tempat yang misteri, aku akan mengenangmu
Bukan dengan tangisan tapi
Luruh dalam hening malam dengan seribu bulan

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Belajar Tentang Sepi

Kita masih belajar tentang sepi
Sunyi rahasia dibalik deru sirine ambulans
Riuh berita di televisi

Kita masih mengeja hujan
Langit semayam muram
Mencatat keasingan di tubuh bumi
Luka kekang menjadi kisah kekal
Misteri yang sunyi
Seperti usia

Ruparupa dunia kian asing
Masihkah ada esok?
Bagaimana rupaku esok?
Bagaimana rupamu esok?
Rindu masih terjaga
Masih menyala meski
Ranjau di mana-mana
Adakah nama kita tertulis di sana
Di dinding langit

Kita masih belajar tentang sepi
Telanjang di tengah jerit lapar
Di dekat jendela kita berdiri
Menjaga harap
Menunggu tuhan yang telah beranjak
Menjadi debu musim dingin

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Aku Ingin Pulang

Aku ingin pulang
Pada belantara tubuhmu
Menggenapkan puisi yang belum rampung
Buka. Bukalah jendela-jendela
Bukalah pintunya

Aku ingin kembali
Pada lekuk kata-kata di tubuhmu
Aku merindu pelukan rima
Merindu kalam malam yang dimuntahkan pori porinya
Aku mencari jejak cinta
Napak tilas dongeng tua
Yang penuh canda dan lelucon
Mencium aroma kata kata yang perawan

Aku ingin pulang pada senyummu yang hujan
Tatapanmu yang misteri
kanku ubah katakata
Menjadi puisi dalam ranum merah bibirmu

Aku petualang dungu
Tak tahu mesti menjejak di ruang mana
Hanya samar berhembus di ruang tamumu
Didera keriuhan yang asing
Tubuhmu yang anggur
Memabukkan penyair jalang sepertiku

Aku akan pulang
Pada rawan bibirmu
Pada kalbu yang ibu

(Tuka, September 2021)

Asap Dapur

Yang kita kenang tentang asap dapur adalah bentangan cerita
Yang disusun oleh kayu-kayu bakar dan minyak tanah
Nyanyian kecil yang tersimpan rapi dalam hitam arangnya
Jerit tawa kita melalap segenap kecemasan
Tentang masa yang belum tiba
Lalu asap dapur yang membumbung tinggi
Membawa kita merayapi harapan
Diam-diam

Tangan-tangan beraroma asap
Tak lagi percaya akan perbedaan
Kita bangkit tak lagi mengukur jarak
Dan menakar rasa
Dalam sunyi asap dapur ada bunyi
Sajak-sajak dengan huruf tak terbaca
Namun jernih bening
Tempat kita daraskan segenap doa
Tempat kita temui telaga
Menuntaskan segala dahaga
Dan tempat bercermin
Menemukan rupa yang lupa

(Tuka, Agustus 2021)

Anjingku Mencari Jalan Pulang

Hari keempat minggu pertama
Di bulan juli
Kau berjalan menyusuri petang
Menuju tempat rahasia

Petang itu kau lukis ribuan jejak yang dicatat angin
Kau tulis ribuan kesakitan di musim musim pedih
Kaki yang tak lagi sigap, mata tak lagi awas
Tubuh rentamu, luka-luka yang ingin kau tuntaskan

Betapa banyak kelokan yang kau tempuh
Untuk menemukan jalan pulang
Berkalikali nyeri dan sepi menusuk tanpa ampun
Menyusuri lekuk tubuh malam
Menuntaskan segala darma karma, segala denyar
Di lanskap yang kini hambar hampa

Kau kini jauh menempuh angin
Meniti tangga langit
Aku hanya bisa berkawan kenangan

Aku berhenti beberapa jenak,
Menemukanmu kembali
Di setiap sudut rumah ini

(Tuka, Juli 2021)

Memasak

Sebelum memasak cucilah tubuhmu terlebih dahulu
Harumkan hatimu dengan doa-doa
Tariklah nafas panjang
Untuk memulai perjalanan

Lalu siapkan catatan resep yang kau simpan di saku
Bahan-bahan dan peralatan
Mereka akan segera menjelma kereta
Mengantarmu pada lenguh
Pada peluh, setangkup gelap
Seberkas terang, lega
Riuh dan gairah
Lara bara bergerak menuju lembah daya cipta
Bumbu-bumbu diracik perlahan
Bahan-bahan dicuci dan dipotong
Hatimu mengembara pada belantara yang kaya
Langit-bumi, air-tanah, senyum-sedih
Berkelindan
Riuh kompor, uap panas memberi tanda baca
Sekaligus tanda jeda
Pada persimpangan yang membingungkan
Kau bercinta dalam cinta yang ranum
Penuh aroma rerempah
Cinta mengalir tanpa syarat
Tanpa jeda
Tanpa tanda seru
Kau hidangkan masakan kaya rasa
Di dalamnya kota-kota gemerlapan
Namun hikmat menulis diri
Kini kau tahu cara bergembira
Dan cara telanjang dengan lebih baik

(Tuka, Agustus 2021)

Menulis Hangeul

Bulat kotak garis
Serupa ramalan di awal tahun
Yang beku oleh cuaca
Ke kanan, ke bawah
Persimpangan persimpangan
Menumbuhkan gelap ragu
Dan pekat ludah yang tak henti
Mencipta kata – kata
Mencipta pikiran – pikiran

Bulat kotak lengkung
Mata penaku masih ragu berlayar
Seperti pengembara yang belum mengenal cuaca
Lalu di ujung jalan sebuah huruf mati menjadi tanda
Menuju jalan baru

Penaku meringis diserbu kejam kata-kata
Melengkung lurus jeda
Dihantui persimpangan menimbulkan
Kengerian yang mengigit

Seribu air mata hendak kutuangkan
Huruf – huruf asing meraba laparku
Yang kian lama kian liar
Dalam ragu mata penaku terus berlayar
Membariskan huruf – huruf pada tempatnya
Seekor ikan menggelepar
Kepiting tersesat dan bening air membuncahkan
Dada
Lalu aku sampai di pelabuhan tua
Ku lihat Raja Sejong melambaikan tangan
Tersenyum
Aku terpana huruf – huruf entah ke mana
Mungkin tenggelam
Kucari-cari entah
Namun mata penaku berlayar
Semakin gagah berani
menundukkan samudera kata-kata

(Tegaljaya, April 2021)

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Next Post

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

by Chusmeru
June 20, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Sajak Purnatugas

Yang Tua yang Tak Mau Purna Segara punya pantai sebagai batas gelombangSungai punya sempadan untuk batas aliranTetapi tidak bagi yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

by Putu Intan Juliantika
June 14, 2026
0
Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

LINTANG PERAHU PEGAT Dari perut bundaPertama kalinya aku hidupDari perut bundaPertama kali aku dipeluknya Tak ingat apa yang terjadi sebelumnyaTak...

Read moreDetails

Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

by IRZI
June 13, 2026
0
Puisi-puisi IRZI | Jazz Buat Para Puan

JESS BUAT PRANITA DEWI Meong-meong alih je bikule—suara itu melintas dari pelataran purake satelit, kabel bawah laut, ruang transit;atma mengikutinya...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

by Selendang Sulaiman
June 7, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | sore di gerbang tim.

sore di gerbang tim. jam tiga sore, matahari pucat di belakang mendung,angin kencang menyapu sisa pohonan di cikini.aku duduk di...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

by Angga Wijaya
June 6, 2026
0
Puisi-Puisi Angga Wijaya | Doa untuk Tetangga

DOA UNTUK TETANGGA Di beranda kos, aku kerap duduk sendiri. Dalam hatimengucap doa. Aku berdoa, semoga semua tetanggadiberi rezeki yang...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ama Gaspar

by Ama Gaspar
June 5, 2026
0
Puisi-puisi Ama Gaspar

Sajak Tentang Air IDari perut bumi, riwayat meambat di selasar masa;menjelma buih, pecik, riak, arus, dan air. Dari kulit tanah,...

Read moreDetails
Next Post
Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co