2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
October 9, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Foto ilustrasi | Jayen Photography

Oleg Tamulilingan

Cintaku,
Nyanyikan lagi
Seribu gairah dari kepak sayapmu

Lalu kecuplah pagi di mataku
Kecuplah ranum senja di bibirku

Cintaku, mari kita tuangkan cawan
Seribu air mata dan seribu tanda tanya
Pada cumbu yang lembut
Hingga luka rinduku tandas

Kita menari menyusuri peta tubuh
Menghisap madu dari kisah-kisah yang terjadi
Desis desah dari sarang rapuhku
Bagai musim dingin yang tak setia

Cintaku, turunlah lagi ke lembah terjanji
Ketuklah pintu rahasia
Di dalamnya kuda liar meringkik lirih
Gamelan masih mengalun mengirim seserpih
Nyanyian dari letupan minyak di tubuhku

Dakilah bukit merah
Jangan takut pada luka yang mengerang,
ringkik kuda liar,
Jelujur kain lepas atau
Peluh yang tersesat di serat kain
Kirimkan gerimis
Pada celah hangat putikku

Barangkali, kita tak hanya dahaga
Kita juga mengais sisa luka
Terlunta
Dari waktu yang tua
Menuangkan jejak menjelma gerak indah
Sepanjang jalan
Sepanjang sejarah

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Di Suatu Masa

Kita pernah datang ke suatu masa
Berenang di sungai rindu
Kita menjelma ikan-ikan yang kuat
Sepanjang musim menyusuri sungaisungai

Dari sudut mata tercipta kisah
Yang membuat tertahan dan bertahan
Dari malam malam bisu,
Musim pancaroba

Kita berjalan
Menghalau gigil dengan pelukan hangat

Kita pernah datang ke suatu tempat
Tempat yang gulita
Misteri dan piatu
Di mana rasa tak dapat ditakar, dan
Usia tak terbaca musimmusim

Kita berdiri di ambang pintu
Menanti mentari
Lekat dengan degup yang dicipta kulum bibir

Kita dikekal rasa asing
Dikepung cahaya dan gelap silih berganti

Ketika romantika datang meracuni jiwa
Kita sembunyikan diri
dalam empat arah mata angin,
dalam sajak yang menjauh dari cahaya

Di suatu masa
Di suatu tempat yang misteri, aku akan mengenangmu
Bukan dengan tangisan tapi
Luruh dalam hening malam dengan seribu bulan

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Belajar Tentang Sepi

Kita masih belajar tentang sepi
Sunyi rahasia dibalik deru sirine ambulans
Riuh berita di televisi

Kita masih mengeja hujan
Langit semayam muram
Mencatat keasingan di tubuh bumi
Luka kekang menjadi kisah kekal
Misteri yang sunyi
Seperti usia

Ruparupa dunia kian asing
Masihkah ada esok?
Bagaimana rupaku esok?
Bagaimana rupamu esok?
Rindu masih terjaga
Masih menyala meski
Ranjau di mana-mana
Adakah nama kita tertulis di sana
Di dinding langit

Kita masih belajar tentang sepi
Telanjang di tengah jerit lapar
Di dekat jendela kita berdiri
Menjaga harap
Menunggu tuhan yang telah beranjak
Menjadi debu musim dingin

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Aku Ingin Pulang

Aku ingin pulang
Pada belantara tubuhmu
Menggenapkan puisi yang belum rampung
Buka. Bukalah jendela-jendela
Bukalah pintunya

Aku ingin kembali
Pada lekuk kata-kata di tubuhmu
Aku merindu pelukan rima
Merindu kalam malam yang dimuntahkan pori porinya
Aku mencari jejak cinta
Napak tilas dongeng tua
Yang penuh canda dan lelucon
Mencium aroma kata kata yang perawan

Aku ingin pulang pada senyummu yang hujan
Tatapanmu yang misteri
kanku ubah katakata
Menjadi puisi dalam ranum merah bibirmu

Aku petualang dungu
Tak tahu mesti menjejak di ruang mana
Hanya samar berhembus di ruang tamumu
Didera keriuhan yang asing
Tubuhmu yang anggur
Memabukkan penyair jalang sepertiku

Aku akan pulang
Pada rawan bibirmu
Pada kalbu yang ibu

(Tuka, September 2021)

Asap Dapur

Yang kita kenang tentang asap dapur adalah bentangan cerita
Yang disusun oleh kayu-kayu bakar dan minyak tanah
Nyanyian kecil yang tersimpan rapi dalam hitam arangnya
Jerit tawa kita melalap segenap kecemasan
Tentang masa yang belum tiba
Lalu asap dapur yang membumbung tinggi
Membawa kita merayapi harapan
Diam-diam

Tangan-tangan beraroma asap
Tak lagi percaya akan perbedaan
Kita bangkit tak lagi mengukur jarak
Dan menakar rasa
Dalam sunyi asap dapur ada bunyi
Sajak-sajak dengan huruf tak terbaca
Namun jernih bening
Tempat kita daraskan segenap doa
Tempat kita temui telaga
Menuntaskan segala dahaga
Dan tempat bercermin
Menemukan rupa yang lupa

(Tuka, Agustus 2021)

Anjingku Mencari Jalan Pulang

Hari keempat minggu pertama
Di bulan juli
Kau berjalan menyusuri petang
Menuju tempat rahasia

Petang itu kau lukis ribuan jejak yang dicatat angin
Kau tulis ribuan kesakitan di musim musim pedih
Kaki yang tak lagi sigap, mata tak lagi awas
Tubuh rentamu, luka-luka yang ingin kau tuntaskan

Betapa banyak kelokan yang kau tempuh
Untuk menemukan jalan pulang
Berkalikali nyeri dan sepi menusuk tanpa ampun
Menyusuri lekuk tubuh malam
Menuntaskan segala darma karma, segala denyar
Di lanskap yang kini hambar hampa

Kau kini jauh menempuh angin
Meniti tangga langit
Aku hanya bisa berkawan kenangan

Aku berhenti beberapa jenak,
Menemukanmu kembali
Di setiap sudut rumah ini

(Tuka, Juli 2021)

Memasak

Sebelum memasak cucilah tubuhmu terlebih dahulu
Harumkan hatimu dengan doa-doa
Tariklah nafas panjang
Untuk memulai perjalanan

Lalu siapkan catatan resep yang kau simpan di saku
Bahan-bahan dan peralatan
Mereka akan segera menjelma kereta
Mengantarmu pada lenguh
Pada peluh, setangkup gelap
Seberkas terang, lega
Riuh dan gairah
Lara bara bergerak menuju lembah daya cipta
Bumbu-bumbu diracik perlahan
Bahan-bahan dicuci dan dipotong
Hatimu mengembara pada belantara yang kaya
Langit-bumi, air-tanah, senyum-sedih
Berkelindan
Riuh kompor, uap panas memberi tanda baca
Sekaligus tanda jeda
Pada persimpangan yang membingungkan
Kau bercinta dalam cinta yang ranum
Penuh aroma rerempah
Cinta mengalir tanpa syarat
Tanpa jeda
Tanpa tanda seru
Kau hidangkan masakan kaya rasa
Di dalamnya kota-kota gemerlapan
Namun hikmat menulis diri
Kini kau tahu cara bergembira
Dan cara telanjang dengan lebih baik

(Tuka, Agustus 2021)

Menulis Hangeul

Bulat kotak garis
Serupa ramalan di awal tahun
Yang beku oleh cuaca
Ke kanan, ke bawah
Persimpangan persimpangan
Menumbuhkan gelap ragu
Dan pekat ludah yang tak henti
Mencipta kata – kata
Mencipta pikiran – pikiran

Bulat kotak lengkung
Mata penaku masih ragu berlayar
Seperti pengembara yang belum mengenal cuaca
Lalu di ujung jalan sebuah huruf mati menjadi tanda
Menuju jalan baru

Penaku meringis diserbu kejam kata-kata
Melengkung lurus jeda
Dihantui persimpangan menimbulkan
Kengerian yang mengigit

Seribu air mata hendak kutuangkan
Huruf – huruf asing meraba laparku
Yang kian lama kian liar
Dalam ragu mata penaku terus berlayar
Membariskan huruf – huruf pada tempatnya
Seekor ikan menggelepar
Kepiting tersesat dan bening air membuncahkan
Dada
Lalu aku sampai di pelabuhan tua
Ku lihat Raja Sejong melambaikan tangan
Tersenyum
Aku terpana huruf – huruf entah ke mana
Mungkin tenggelam
Kucari-cari entah
Namun mata penaku berlayar
Semakin gagah berani
menundukkan samudera kata-kata

(Tegaljaya, April 2021)

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Next Post

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails

Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

by Mahesa Putra
June 21, 2026
0
Puisi-puisi Mahesa Putra | Orkestra Dapur Evolusi Manusia Gemoi

Pelancong Gersang Aku berhenti memikirkanmu.Jam-jam yang meruntuhkan angka-angka;berlarian masuk rumah. Aku berhenti memikirkanmu.Sejak kamu menggulir layar begitu pagi,memanen percakapan tentang...

Read moreDetails
Next Post
Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co