26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
October 9, 2021
in Puisi
Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Foto ilustrasi | Jayen Photography

Oleg Tamulilingan

Cintaku,
Nyanyikan lagi
Seribu gairah dari kepak sayapmu

Lalu kecuplah pagi di mataku
Kecuplah ranum senja di bibirku

Cintaku, mari kita tuangkan cawan
Seribu air mata dan seribu tanda tanya
Pada cumbu yang lembut
Hingga luka rinduku tandas

Kita menari menyusuri peta tubuh
Menghisap madu dari kisah-kisah yang terjadi
Desis desah dari sarang rapuhku
Bagai musim dingin yang tak setia

Cintaku, turunlah lagi ke lembah terjanji
Ketuklah pintu rahasia
Di dalamnya kuda liar meringkik lirih
Gamelan masih mengalun mengirim seserpih
Nyanyian dari letupan minyak di tubuhku

Dakilah bukit merah
Jangan takut pada luka yang mengerang,
ringkik kuda liar,
Jelujur kain lepas atau
Peluh yang tersesat di serat kain
Kirimkan gerimis
Pada celah hangat putikku

Barangkali, kita tak hanya dahaga
Kita juga mengais sisa luka
Terlunta
Dari waktu yang tua
Menuangkan jejak menjelma gerak indah
Sepanjang jalan
Sepanjang sejarah

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Di Suatu Masa

Kita pernah datang ke suatu masa
Berenang di sungai rindu
Kita menjelma ikan-ikan yang kuat
Sepanjang musim menyusuri sungaisungai

Dari sudut mata tercipta kisah
Yang membuat tertahan dan bertahan
Dari malam malam bisu,
Musim pancaroba

Kita berjalan
Menghalau gigil dengan pelukan hangat

Kita pernah datang ke suatu tempat
Tempat yang gulita
Misteri dan piatu
Di mana rasa tak dapat ditakar, dan
Usia tak terbaca musimmusim

Kita berdiri di ambang pintu
Menanti mentari
Lekat dengan degup yang dicipta kulum bibir

Kita dikekal rasa asing
Dikepung cahaya dan gelap silih berganti

Ketika romantika datang meracuni jiwa
Kita sembunyikan diri
dalam empat arah mata angin,
dalam sajak yang menjauh dari cahaya

Di suatu masa
Di suatu tempat yang misteri, aku akan mengenangmu
Bukan dengan tangisan tapi
Luruh dalam hening malam dengan seribu bulan

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Belajar Tentang Sepi

Kita masih belajar tentang sepi
Sunyi rahasia dibalik deru sirine ambulans
Riuh berita di televisi

Kita masih mengeja hujan
Langit semayam muram
Mencatat keasingan di tubuh bumi
Luka kekang menjadi kisah kekal
Misteri yang sunyi
Seperti usia

Ruparupa dunia kian asing
Masihkah ada esok?
Bagaimana rupaku esok?
Bagaimana rupamu esok?
Rindu masih terjaga
Masih menyala meski
Ranjau di mana-mana
Adakah nama kita tertulis di sana
Di dinding langit

Kita masih belajar tentang sepi
Telanjang di tengah jerit lapar
Di dekat jendela kita berdiri
Menjaga harap
Menunggu tuhan yang telah beranjak
Menjadi debu musim dingin

(Tegaljaya, Agustus 2021)

Aku Ingin Pulang

Aku ingin pulang
Pada belantara tubuhmu
Menggenapkan puisi yang belum rampung
Buka. Bukalah jendela-jendela
Bukalah pintunya

Aku ingin kembali
Pada lekuk kata-kata di tubuhmu
Aku merindu pelukan rima
Merindu kalam malam yang dimuntahkan pori porinya
Aku mencari jejak cinta
Napak tilas dongeng tua
Yang penuh canda dan lelucon
Mencium aroma kata kata yang perawan

Aku ingin pulang pada senyummu yang hujan
Tatapanmu yang misteri
kanku ubah katakata
Menjadi puisi dalam ranum merah bibirmu

Aku petualang dungu
Tak tahu mesti menjejak di ruang mana
Hanya samar berhembus di ruang tamumu
Didera keriuhan yang asing
Tubuhmu yang anggur
Memabukkan penyair jalang sepertiku

Aku akan pulang
Pada rawan bibirmu
Pada kalbu yang ibu

(Tuka, September 2021)

Asap Dapur

Yang kita kenang tentang asap dapur adalah bentangan cerita
Yang disusun oleh kayu-kayu bakar dan minyak tanah
Nyanyian kecil yang tersimpan rapi dalam hitam arangnya
Jerit tawa kita melalap segenap kecemasan
Tentang masa yang belum tiba
Lalu asap dapur yang membumbung tinggi
Membawa kita merayapi harapan
Diam-diam

Tangan-tangan beraroma asap
Tak lagi percaya akan perbedaan
Kita bangkit tak lagi mengukur jarak
Dan menakar rasa
Dalam sunyi asap dapur ada bunyi
Sajak-sajak dengan huruf tak terbaca
Namun jernih bening
Tempat kita daraskan segenap doa
Tempat kita temui telaga
Menuntaskan segala dahaga
Dan tempat bercermin
Menemukan rupa yang lupa

(Tuka, Agustus 2021)

Anjingku Mencari Jalan Pulang

Hari keempat minggu pertama
Di bulan juli
Kau berjalan menyusuri petang
Menuju tempat rahasia

Petang itu kau lukis ribuan jejak yang dicatat angin
Kau tulis ribuan kesakitan di musim musim pedih
Kaki yang tak lagi sigap, mata tak lagi awas
Tubuh rentamu, luka-luka yang ingin kau tuntaskan

Betapa banyak kelokan yang kau tempuh
Untuk menemukan jalan pulang
Berkalikali nyeri dan sepi menusuk tanpa ampun
Menyusuri lekuk tubuh malam
Menuntaskan segala darma karma, segala denyar
Di lanskap yang kini hambar hampa

Kau kini jauh menempuh angin
Meniti tangga langit
Aku hanya bisa berkawan kenangan

Aku berhenti beberapa jenak,
Menemukanmu kembali
Di setiap sudut rumah ini

(Tuka, Juli 2021)

Memasak

Sebelum memasak cucilah tubuhmu terlebih dahulu
Harumkan hatimu dengan doa-doa
Tariklah nafas panjang
Untuk memulai perjalanan

Lalu siapkan catatan resep yang kau simpan di saku
Bahan-bahan dan peralatan
Mereka akan segera menjelma kereta
Mengantarmu pada lenguh
Pada peluh, setangkup gelap
Seberkas terang, lega
Riuh dan gairah
Lara bara bergerak menuju lembah daya cipta
Bumbu-bumbu diracik perlahan
Bahan-bahan dicuci dan dipotong
Hatimu mengembara pada belantara yang kaya
Langit-bumi, air-tanah, senyum-sedih
Berkelindan
Riuh kompor, uap panas memberi tanda baca
Sekaligus tanda jeda
Pada persimpangan yang membingungkan
Kau bercinta dalam cinta yang ranum
Penuh aroma rerempah
Cinta mengalir tanpa syarat
Tanpa jeda
Tanpa tanda seru
Kau hidangkan masakan kaya rasa
Di dalamnya kota-kota gemerlapan
Namun hikmat menulis diri
Kini kau tahu cara bergembira
Dan cara telanjang dengan lebih baik

(Tuka, Agustus 2021)

Menulis Hangeul

Bulat kotak garis
Serupa ramalan di awal tahun
Yang beku oleh cuaca
Ke kanan, ke bawah
Persimpangan persimpangan
Menumbuhkan gelap ragu
Dan pekat ludah yang tak henti
Mencipta kata – kata
Mencipta pikiran – pikiran

Bulat kotak lengkung
Mata penaku masih ragu berlayar
Seperti pengembara yang belum mengenal cuaca
Lalu di ujung jalan sebuah huruf mati menjadi tanda
Menuju jalan baru

Penaku meringis diserbu kejam kata-kata
Melengkung lurus jeda
Dihantui persimpangan menimbulkan
Kengerian yang mengigit

Seribu air mata hendak kutuangkan
Huruf – huruf asing meraba laparku
Yang kian lama kian liar
Dalam ragu mata penaku terus berlayar
Membariskan huruf – huruf pada tempatnya
Seekor ikan menggelepar
Kepiting tersesat dan bening air membuncahkan
Dada
Lalu aku sampai di pelabuhan tua
Ku lihat Raja Sejong melambaikan tangan
Tersenyum
Aku terpana huruf – huruf entah ke mana
Mungkin tenggelam
Kucari-cari entah
Namun mata penaku berlayar
Semakin gagah berani
menundukkan samudera kata-kata

(Tegaljaya, April 2021)

Tags: Puisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Next Post

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
0
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

by Chusmeru
September 27, 2026
0
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

Read moreDetails

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
0
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

Read moreDetails

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
0
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

by Salman Alade
September 6, 2026
0
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

Read moreDetails

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
0
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

Read moreDetails

Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

by Supali Kasim
August 30, 2026
0
Puisi-puisi Supali Kasim | Air di Daun Talas

Air di Daun Talas seberapa waktu bertahanair di daun talas dapat menerimakenyataan demi kenyataan tarian anginlantai licin dan tetabuhan riuhtanpa...

Read moreDetails

Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

by Sholihul Mubarok
June 28, 2026
0
Puisi-puisi Sholihul Mubarok | Menjelma Kata di Kurusetra Beranda

MENJELMA KATA DI KURUSETRA BERANDA mata-mata telingasulih gaduh suaralahir ribuan kekata jemari adalah ujung belatirobek halus di layar tanduskebajikan serta...

Read moreDetails

Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

by Andi Wirambara
June 27, 2026
0
Puisi-puisi Andi Wirambara | Kucing, Mungil Senyummu

KUCING aku seekor kucing yang memanjat jendelamukau penghuni yang selalu menutupnya,bersantai menenteng cangkir teh yang pekat. aku mengeong dan mengamuk,...

Read moreDetails

Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

by IBW Widiasa Keniten
June 26, 2026
0
Puisi-puisi IBW Widiasa Keniten | Tuhan Beri Aku Waktu

Tuhan Beri Aku Waktu Tuhan, di sisa napas ini beri aku mengadudalam gelombang hidup yang tak pernah pastiTuhan, beri aku...

Read moreDetails
Next Post
Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co