2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
October 9, 2021
in Ulasan
Antara Pengorbanan dan Pengkhianatan | Ulasan Novel “Doben” Karya Maria Matildis Banda

Cover novel Doben

“Itu adalah hari pertama Ana Maria menyadari arti kehadiran penjajahan Portugis di tanah leluhurnya”

Kalimat pembuka yang dipilih oleh Maria Matildis Banda berhasil menyentak kesadaran dan menyeret memori ingatan saya pada saat Indonesia dipaksa menelan pil pahit penjajahan kolonialisme. Sekiranya, itulah yang saya rasakan. Novel setebal v + 64 halaman, dengan dimensi 12 x 19 cm ini berhasil mengkoyak-koyak emosi saya.

Membaca Doben merupakan upaya pembaca menelusuri rasa sakit, terinjak, hingga kehilangan segala hal dari jarak yang begitu dekat. Doben sendiri merupakan novel yang direkomendasikan oleh salah satu sahabat saya di komunitas Narmada Bali. Salah satu novel yang habis dalam sekali duduk, namun mengungkap banyak persoalan di dalamnya.

Setidak-tidaknya terdapat 13 tokoh di dalamnya, dan berkonsentrasi pada dinamika kehidupan keluarga Martinyo dan Ana Maria. Mereka memiliki 3 orang anak—Antonio, Arnaldo, dan Susana. Penulis nampak mengambil seting tempat di Timor Portuguesa (Timor Leste sekarang), spesifiknya adalah Desa Lauhata Bazartete, Kecamatan Liquica, Kabupaten Dili. Sudut pandang orang ketiga menjadi pilihan utama penulis dalam proses kreatifnya. Saya rasa sudut pandang orang ketiga memang pilihan tepat, mengingat sudut pandang cerita yang disajikan begitu kaya, dan itu disampaikan melalui para tokoh-tokohnya.

Novel ini menggunakan alur maju mundur. Hal tersebut bisa dilihat dari satu narasi di halaman 5 yang berbunyi “Gumpalan awan menari-nari bersamanya, menggantung di atas desa yang sudah bergitu lama menyimpan duka Ana.”

Kalau dilihat dari kalimat di atas, bisa kita lihat bahwa penulis menggunakan pendekatan lewat indra penglihatan dan menjadikan alam sebagai media transisi waktu menuju masa lalu. Tidak hanya di bagian itu, beberapa kali penulis juga menggunakan pendekatan yang sama dalam melakukan transisi waktu, seperti di halaman 13 yang berbunyi “Tiba di sana dia duduk, sendirian di pondok di tengah kebun. Dalam kesunyian kebun dia dapat merasakan kembali hari-hari penuh tawa bersama aman, inan, kakak, dan adiknya.”

Hasrat Memiliki, Mendapat Penghargaan, dan Aktualisasi Diri

Penulis dalam ceritanya, secara terang menyampaikan konflik cerita melalui para tokohnya. Hasrat memiliki seseorang, harta, jabatan, hingga keinginan diakui oleh masyarakat menjadi titik-titik yang berhasil menghidupkan jalan cerita dan menimbulkan begitu banyak emosi dari para pembacanya. Dalam teori hierarki kebutuhan yang dikemukakan oleh Abraham Maslow, dijelaskan lima hierarki kebutuhan yakni, kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan sosial, kebutuhan penghargaan, dan kebutuhan aktualisasi diri. Berangkat dari hal tersebut, berbagai kebutuhan tersebut menjadi sumber konflik dalam novel ini.

Seperti yang disajikan penulis pada halaman 6 “Pada mulanya hanya kepada Imelda dia pergi berkunjung dan membawa jagung dan kopi. Lama-kelamaan dia tidak hanya berkunjung tetapi juga berdagang. Imelda membantu menjual jagung dan kopi ke biara atau membawanya ke Atambua.” Kalimat tersebut menjadi titik awal konflik di mana Martinyo menjadi kambing hitam atas aktivitasnya yang sering melewati perbatasan—artinya kebutuhan fisiologis yang meliputi pangan, sandang, papan menjadi titik awal konflik cerita.

Selanjutnya, bisa kita lihat pada halaman 16 “Letnan Rudolf datang dari Dili. Hari itu pengakuan Martinyo harus ditandatangani untuk dikirim ke Portugal. Keberhasilannya membongkar kasus pembangkangan rakyat di Provinsi Seberang Lautan, apalagi berhasil menangkap tokoh di baliknya, akan memuluskan jalannya ke jenjang kepangkatan yang lebih tinggi. Dia dapat segera pulang ke Lisboa, tanah Eropa yang dapat menyuguhkan segala kenikmatan dunia ini dengan lebih mudah. Tidak terbelenggu di Timor Leste.”

Paragraf tersebut bisa kita terjemahkan bahwa seorang Letnan Rudolf mengejar rasa aman dan nyaman dengan kembali ke tanah kelahirannya, mengingat kondisi politik di Timor Leste yang terus bergejolak. Tidak hanya itu, ia juga mengejar penghargaan untuk dirinya—kenaikan pangkat adalah sebuah penghargaan yang ia kejar dengan mengorbankan Martinyo sebagai kambing hitam. Dalam paragraf tersebut pun bisa kita cerna bahwa di masa penjajahan, tidak ada ruang dan waktu yang aman untuk pihak terjajah.

Teori hierarki kebutuhan dari Abraham Maslow juga bisa kita simak di halaman 19 “Satu hal lagi. Dulu, berkali-kali kau minta kepada Aman untuk merestui keputusanmu untuk berhenti kerja disini. Akan tetapi, Aman keras kepala, selalu ingin melihat kau kerja jadi pegawai pemerintahan, mengangkat derajat keluarga kita, disegani, dan ditakuti.”

Apa yang disampaikan Martinyo pada Arnaldo, anaknya di dalam ruang penyekapan mengindikasikan bahwa keinginan orang tua untuk disegani oleh masyarakat sekitar yang bisa diwujudkan oleh anaknya—kebutuhan sosial pun menjadi awal mula konflik, setidaknya konflik yang berkecamuk dalam diri Arnaldo yang sesungguhnya enggan untuk bekerja di ruang lingkup pemerintahan.

Tidak Selamanya Rumah Adalah Tempat Paling Aman

Berbagai konflik yang dihadirkan oleh tokoh-tokoh sentral dalam novel Doben ini sekiranya berhasil menyuguhkan satu pandangan baru bahwa rumah yang notabene adalah tempat yang seharusnya aman dan nyaman untuk pulang, nyatanya di beberapa kasus berlaku sebaliknya. Pengkhianatan untuk memuluskan hasrat maupun ego individu akhirnya memecah keutuhan keluarga.

Besarnya hasrat Antonio memiliki seorang Putri Penguasa Timor menggiringnya untuk bekerja sama dengan Letnan Rudolf. Kegagalannya menyelamatkan Aman, dan kenekatannya menjual adiknya sendiri adalah bentuk ambisinya untuk memiliki Putri Penguasa Timor tersebut. Drama pun terjadi, berbohong pada Ana Maria (ibunya) juga ia lakukan yang pada akhirnya menyebabkan kondisi rumah tidak lagi nyaman layaknya masa silam, yang sempat disuguhkan oleh penulis pada halaman 13.

Tidak hanya pengkhianatan. Pengorbanan juga sarat ditampilkan dalam novel ini. Martino, Arnaldo, dan Susana adalah tokoh-tokoh yang mengambil peran tersebut. Pengorbanan yang diperuntukkan untuk mewujudkan rasa aman keluarganya yang sedang berada di bawah ancaman penjajah. Khusus untuk Doben, seekor kuda yang begitu setia dengan majikannya, telah membuka mata kita bahwa sejatinya rasa kemanusiaan tidak hanya dimiliki oleh manusia, tetapi juga seekor kuda. [T]

Tags: novelsastraTimor LesteUnud
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Rai Sri Artini | Oleg Tamulilingan, Di Suatu Masa

Next Post

“Garden of Intuition” Putu Winata dan Cerita Kecil Sanggar Dewata Indonesia

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
“Garden of Intuition” Putu Winata dan Cerita Kecil Sanggar Dewata Indonesia

"Garden of Intuition" Putu Winata dan Cerita Kecil Sanggar Dewata Indonesia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co