25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tatapan Orang Kampung untuk yang Asing

Agus Wiratama by Agus Wiratama
October 8, 2021
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

[21:16, 21/09/2021] Gung Gek: Kenapa mereka menatapku?

[21:49, 21/09/2021] Grudug: Karena kau pura-pura tak menatap mereka.

[21:51, 21/09/2021] Gung Gek: Aku tak akan ke rumahmu lagi!

[21:52, 21/09/2021] Grudug: Apa susahnya menatap balik dan tersenyum?

[21:53, 21/09/2021] Gung Gek: Goblok! Bagaimana tersenyum dari balik masker?

Percakapan itu berakhir di sana. Mungkin Grudug bingung menjawabnya. Ia mengirimiku tangkapan layar pesan whatsapp itu. Temannya tak lagi mau datang ke rumah Grudug lantaran masalah sepele—mungkin bagi temannya tak sepele: ditatap orang-orang yang nongkrong di pinggir jalan.

Kau mungkin pernah masuk suatu perkampungan lalu melihat orang-orang duduk-duduk di pinggir rumah sambil mengisap rokok dalam-dalam atau sambil ngopi atau memegang mangkuk bakso dan mereka menatapmu dari ujung kepala sampai kaki ketika lewat. Aku bisa menceritakan hal itu padamu, juga Grudug yang kepalanya tumpul tak mendapat jawaban untuk membalas pesan temannya.

Suatu malam, aku berjanji kumpul di suatu kafe dengan teman-teman kuliah. Mereka bukan orang kampung, tak perlu kusebut dari mana saja asalnya. Korti kelasku rupanya tak tahu banyak tempat nongkrong, tapi sambil menepuk dadanya ia berkata bahwa ia yang akan mencarikan tempat. Alhasil, ia memilih sebuah tempat ngopi yang tiba-tiba sesak untuk kami yang jumlahnya lebih dari sepuluh orang. Kafe itu terasa sangat sempit, lebih-lebih kami merombak tempat duduk untuk melingkar.

Aku ngobrol dengan mereka dan tertawa-tawa dengan lepas. Di tengah-tengah obrolan, tiba-tiba dua orang pelanggan, laki dan perempuan, masuk ke tempat itu. Kepala kami tiba-tiba saja menoleh pada mereka. Lalu, mereka pura-pura melihat ke sekeliling, padahal matanya terlihat seperti orang terkejut ketika hampir bersamaan kami menatapnya. Mereka akhirnya keluar dan batal memesan. Seketika aku merasa tak enak pada penjaga kafe. Kukatakan pada teman-teman bahwa kami harus memilih tempat yang lebih luas atau sekalian di emperan saja seperti dulu-dulu.

[19:55, 22/09/2021] Grudug: Masalahnya bukan di kafe! Tapi di desaku!

[20:30, 22/09/2021] Aku: Jangan dipotong dulu!

[20:35, 22/09/2021] Aku: Aku merasa tak ada bedanya antara aku dan teman-teman waktu di kafe dengan orang-orang di kampung. Aku merasa mengenal setiap orang di kampung. Karena kami saling kenal, setidaknya mereka akan menyapa dengan benda multifungsi itu: klakson, jika lewat.

Aku emang sering sebal dengan orang yang suka nglakson di lampu merah, tapi setelah kupikir-pikir, orang-orang kita memang kreatif. Klakson ada banyak fungsinya, ya. Oh, ya klaksonku rusak, kau tahu tempat memperbaiki atau membeli baru? Tapi aku tidak suka dengan dagang judes tempatmu biasa membeli alat-alat itu. Ia lebih mirip pemabuk daripada pedagang!

[20:35, 22/09/2021] Grudug: Kuberitahu jika kau tak ngelantur!!!

Aku menelpon Grudug. Kukisahkan satu hal yang biasa terjadi di kampung dan bagaimana hubungan kami.

Kampung adalah rumah bagi orang-orang yang tinggal di sana. Kami akrab seolah paham satu sama lain. Sebenarnya, siapa pun yang datang akan saling sapa atau paling tidak memberi salam: mengangguk, mengangkat alis, atau bahkan berteriak. Hal itu menjadi kebiasaan sehingga bila saja orang lain datang ke kampung, kami akan tahu bahwa mereka bukan bagian dari orang-orang kami atau sebaliknya. Tetapi, sebagaimana kerumunan orang, orang asing yang dikenalkan oleh teman tentu akan diterima.

Suatu kali, aku ingat betul ketika sebuah mobil putih masuk kampung kami. Itu bukan mobil salah satu orang di kampung. Ya, biasanya kami tahu kendaraan orang kampung. Dan orang di sebelahku tahu siapa yang membawa mobil itu: “Saudara si anu dari kota,” kata seseorang di sebelahku itu.

Barangkali ini adalah insting manusia. Maksudku, kita kenal wilayah privat diri dan wilayah. Bayangkan saja, ketika kau duduk di sofa yang agak lebar di suatu kafe, lalu orang lain datang dan tiba-tiba duduk di sebelahmu dalam jarak kurang dari setengah meter, misalnya. Tentu ada perasaan yang asing (mungkin privasi yang terancam?) tapi ini sedikit sama dengan masuk kampung. Dulu, aku berpikir bahwa hal semacam itu akan terjadi selamanya. Tapi, dalam belasan tahun hal itu rupanya pelan-pelan berubah, meskipun, jalanan di kampungku masih menjadi ruang privat untuk kami. Ia privat sekaligus umum.

Hal ini membuatku membayangkan jalanan di wilayah ramai. Sebut saja Ubud. Orang-orang asing datang dan pergi dan bagaimana jalanan di sana?  Jalanan bukan lagi ruang privat komunitas masyarakat. Tapi, hal seperti ini sudah terjadi di banyak tempat. Jalan menjadi ruang umum bagi semua orang yang berkepentingan.

Gara-gara pertanyaan Grudug. Sedikit tidak aku menjadi paham bahwa semestinya, di satu sisi, aku bersyukur sebab komunitas masyarakatku masih punya batas teritori privat itu. Tapi perubahan memang tidak bisa dibendung. Katakanlah di suatu wilayah subak dekat rumahku. Di sana, jalanan setapak mulai dibeton, air sungai kecil di pinggir jalan masih bersih dan orang-orang menggunakan sungai itu sebagai tempat mandi.

Tempat itu dulu adalah tempat bermain anak-anak—tentu pada saat itu sawah menjadi tempat bermain yang lapang—semua orang yang bermain ke sana, petani yang mengurusi sawah adalah orang yang kami kenal. Tapi kini, bahkan orang-orang yang mandi di sana tidak bisa kukenali wajahnya dan beberapa dari mereka tidak saling kenal satu sama lain. Jalan beton yang kecil itu sudah menjadi ruang umum, bukan lagi ruang domestik antar masyarakat yang khusus. [T]

Tags: kampungorang baliPariwisatapersahabatan
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sastrawan Menerjemahkan | Catatan Desiminasi Penerjemahan Karya Sastra Daerah di Bali

Next Post

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Psiko-Anomali | Cerpen AS Kurnia

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co