2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

I Putu Supartika by I Putu Supartika
July 13, 2021
in Khas
Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

Made Sugianto

Seandainya tahun itu dari 2008 langsung melompat ke tahun 2010 tanpa melewati tahun 2009, tentu tak akan lahir penerbit Pustaka Ekspresi yang konsen menerbitkan karya sastra Bali modern (SBM). Penerbit ini lahir dari tangan usil penulis, wartawan, tokoh pemuda Kukuh, yang kini menjabat perbekel Desa Kukuh, Marga, Tabanan yakni I Made Sugianto. Kelahiran penerbit ini diawali dengan perjumpaannya dengan seorang penulis leak Tabanan, IGP Bawa Samar Gantang tahun 2008 lalu.

Ketika itu, ia bertemu Samar Gantang di RS Tabanan dan dari obrolan mereka, Samar Gantang mengaku belum memiliki buku SBM, padahal karyanya sudah sangat banyak dan tersebar di media. Beberapa hari kemudian, dengan pongahnya Sugianto mendatangi kediaman Samar Gantang dan meminta kliping koran dan beberapa karya cerpen tulis tangan yang belum diketik. Untunglah Samar Gantang berbaik hati dan memberikannya pada Sugianto. Di rumah, Sugianto mengetik ulang naskah tersebut untuk dimuat di Majalah Pustaka Ekspresi yang diasuhnya saat itu. Selesai mengetik, muncullah keinginan menjadikannya sebuah buku.

Atas saran dari penulis Gde Aryantha Soethama, Sugianto mencetak naskah itu dengan printer standar dan juga kertas standar di rumahnya. Karena prosesnya cukup lama, ia pun sampai harus begadang. Sementara untuk sampulnya ia cetak di tukang cetak yang sekaligus tempat penjilidan dan lahirlah buku berjudul Jangkrik Maenci karya IGP Bawa Samar Gantang dengan nama penerbit Pustaka Ekspresi tahun 2009.

Ada hal unik yang mengiringi lahirnya buku pertama ini, dimana biaya untuk cetak sampul buku Rp 3 ribu, biaya jilid Rp 5 ribu perbuku, dan ia menjualnya dengan harga Rp 10 ribu perbuku. Pikirnya, buku bahasa Bali ketika itu sulit terjual sehingga harganya harus terjangkau. Karena dari pengalamannya saat berkunjung ke toko buku, harga buku berbahasa Bali berkisar antara Rp 8 ribu hingga Rp 12 ribu, maka ia memilih harga di tengah-tengah saja dengan harapan ada yang membeli karena harganya terjangkau. Walaupun tak bisa balik modal dan malahan rugi, namun Sugianto menganggap itu panggilan hati dan setia melanjutkan penerbitannya sebagai janji hati.

Dengan mencantumkan alamat penerbit dan nomor telepon, Sugianto iseng memasarkan hasil cetakannya ke Toko Buku Berata di Jalan Kartini, dekat RSUD Wangaya, Denpasar. Umpan yang dipasang pun berhasil, karena beberapa waktu kemudian ada seseorang yang meneleponnya dan ingin menerbitkan buku di Pustaka Ekspresi. Maka terbitlah buku kedua tentang pariwisata dan buku itu sangat laku karena memang dicetak terbatas.

Selepas itu, Sugianto mulai mengembara mencari naskah yang bisa diterbitkan utamanya naskah SBM. Bertemulah ia dengan pendekar-pendekar sastra dari Bali timur. Pertama ia bertemu penyair almarhum I Wayan Arthawa dan dari pertemuan ini ia mengenal banyak sastrawan Bali Timur. Wayan Arthawa saat itu menerbitkan buku puisi Sandiwara Bulan Sabit sebanyak 500 eksemplar dan sangat laku.

Sugianto kemudian diajak bertemu sastrawan IDK Raka Kusuma dan di sana kebetulan ada IBW Widiasa Keniten dan almarhum I Nyoman Tusthi Eddy. Mulailah ia bersiasat untuk memperkenalkan penerbitan yang dirintisnya. Usahanya tak sia-sia dan sejak saat itu Pustaka Ekspresi pun mulai dilirik berkat bantuan ‘promosi’ dari pendekar sastra di Bali timur. Salah satunya oleh IDK Raka Kusuma yang mengarahkan penulis-penulis SBM untuk merapat ke Pustaka Ekspresi.

Untuk meningkatkan kualitas buku yang diterbitkannya, Sugianto mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama dan bisa mencetak dalam jumlah terbatas. Di Google ia menemukan satu percetakan dan ia menghubunginya. Awalnya percetakan itu tak mau diajak kerjasama. Ia pun melakukan negosiasi dengan memaparkan keadaan yang sebenarnya dan berhasil mengetuk hati percetakan itu, sehingga negosiasi diakhir dengan kata: sepakat.

Penerbitan yang awalnya difokuskan untuk menerbitkan karya berbahasa Bali, belakangan juga membantu penerbitan karya sastra berbahasa Indonesia. Beberapa penulis sastra Indonesia kenamaan Bali menerbitkan karyanya di sana, sebut saja Wayan Jengki Sunarta hingga Ngurah Parsua. Dalam perkembangannya, penerbit ini tak hanya mengambil segmen sastra, juga mengambil banyak segmen mulai dari pariwisata, pertanian, kuliner, bahkan spiritual.

Penamaan Pustaka Ekspresi ternyata tak lepas dari pengaruh penulis favorit dari Made Sugianto sendiri yakni Wayan Suardika. Ia sering membaca karya Suardika di Anita Cemerlang dan mulai mengagumi sosoknya termasuk mengikuti jejaknya. Ketika Suardika membuat Wacana Bali, Sugianto ikut membuat Wacana Bali Tabanan yang bertahan selama satu tahun. Suardika membuat Majalah Suardi, Sugianto ikut membuat Majalah Ekspresi. Dan ketika lahir Pustaka Suardi, Sugianto mengikutinya dengan membuat Pustaka Ekspresi yang tetap eksis hingga saat ini.

Di masa-masa awal menerbitkan buku, Pustaka Ekspresi belum memiliki logo dan hanya menggunakan tulisan saja sebagai nama penerbit pada setiap buku yang diterbitkan. Kemudian ia meminta bantuan kepada kenalannya di Facebook, Jero Alit Bangah yang lihai dalam menggambar. Mereka pun bertemu di bale tajuk, di rumah Sugianto dan Jero Alit Bangah diminta membuatkannya logo dengan gambar pis bolong. Ketika menggambar pis bolong, seperti sebuah kode alam, tiba-tiba ada cicak yang jatuh. Peka dengan kode itu, Sugianto pun meminta agar pis bolong itu diisi dengan gambar cicak. Bagi Sugianto, pis bolong bermakna tawar menawar yang fleksibel sementara cicak melambangkan kaweruhan.

Selama penerbit ini bertumbuh, Sugianto memiliki komitmen untuk membantu penulis SBM dalam menerbitkan buku. Setiap tahunnya, setidaknya ia membantu menerbitkan dua buku SBM dengan kantongnya sendiri. Ia menyisihkan sedikit hasil penjualan bukunya yang tak seberapa dan kebanyakan digratiskan, untuk membantu kelahiran buku SBM itu.

Dalam perkembangan selanjutnya, ia pun memutuskan untuk membuat sayembara Gerip Maurip agar bisa membantu penulis SBM dalam lingkup yang lebih luas. Lewat sayembara yang dimulai tahun 2017 ini, dipilih dua karya terbaik berupa kumpulan cerpen atau novel dan kumpulan puisi atau prosa liris yang akan diterbitkan.

Sebelum bernama Gerip Maurip, ia ingin menamai sayembara ini Gerip Sastra. Namun saat berkunjung ke rumah penulis Nyoman Manda, diperlihatkan kepadanya buku puisi Bali setebal seribu lebih halaman yang berjudul Gerip Maurip Ngridip Makedip. Dari sanalah, ia mendapat inspirasi dan Gerip Sastra berubah menjadi Gerip Maurip dengan harapan sayembara ini tetap berkelanjutan.

Ada yang spesial dalam perjalanan penerbit ini ketika IBW Widiasa Keniten menerbitkan buku Sandal Jepit. Saat itu, untuk mencetak buku masih dilakukan dengan menggunakan printer manual di rumahnya. Oleh IBW Widiasa Keniten, buku itu digunakan sebagai bahan lomba dan akhirnya bisa dibawa ke beberapa negara mulai dari Belanda hingga Jerman.

Sebagai sebuah janji hati, Sugianto berupaya agar penerbit ini tetap bisa membantu penerbitan buku SBM. Kadang ia pernah memaksa seseorang untuk ikut menulis dalam bahasa Bali dan menjadikannya buku dan ia berjanji membantu penerbitan buku itu. Pemaksaan itu pun berbuah manis, karena yang dipaksa ketagihan menulis dalam bahasa Bali.

Kini, dalam setahun Pusata Ekspresi bisa menerbitkan 5 hingga 10 judul buku SBM. Dan hampir setiap tahun, buku terbitan penerbit berlogo pis bolong cekcek ini menyabet penghargaan bergengsi untuk sastra daerah khususnya SBM yakni Hadiah Sastera Rancage. Atas kegigihannya pula, Pustaka Ekspresi mengantarkan Sugianto meraih Hadiah Sastera Rancage dalam bidang jasa tahun 2012 yang kemudian disusul untuk karya tahun 2013 lewat novelnya yang berjudul Sentana. [T]

BACA JUGA:

Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
  • Carma Citrawati, Ide Menulis Itu Datang dari Drama Korea
Sosok Alit Juliartha di Mata Darma Putra, dari Salah Menyebut Nama hingga Kukuh pada Idealisme
  • Sosok Alit Juliartha di Mata Darma Putra, dari Salah Menyebut Nama hingga Kukuh pada Idealisme
Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
  • Putra Ariawan | Menelan Permen Karet, Berobat Lewat Sastra Bali Modern
Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
  • Wayan Sumahardika | PR Untuk Sastra Bali Modern yang Berada di Persimpangan
Komang Adnyana | Membunuh “Writer Block” dengan Mem-Bali-kan Sastra Dunia
  • Komang Adnyana | Membunuh “Writer Block” dengan Mem-Bali-kan Sastra Dunia
Tags: Made SugiantoPustaka Ekspresisastrasastra bali modern
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Mereka Wana Jnana | Dari Gelaran Bali Kandarupa

Next Post

Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

I Putu Supartika

I Putu Supartika

Pengamat cewek teman dan peternak sapi ulung yang tidak bisa menyabit rumput. Belakangan nyambi menulis cerpen

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

Pak Brenyit Sang Penunggu Sampah | “Berkantor” di Depan Kuburan Desa Panji

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co