3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mereka Wana Jnana | Dari Gelaran Bali Kandarupa

AS Kurnia by AS Kurnia
July 13, 2021
in Ulasan
Mereka Wana Jnana | Dari Gelaran Bali Kandarupa

I Nyoman Kondra, Cinta Alam, 84 x 65cm.

Titik mula seni lukis Bali ada di desa Kamasan, Kabupaten Klungkung. Idiom bentuk yang dipakai bersumber dari wayang kulit. Tema diambil dari cerita Tantri, Ramayana, Mahabharata dan cerita rakyat. Pembagian bidang gambar mengacu pada Tri Loka, ajaran Hindu yang menggambarkan dunia bawah, tengah dan atas. Pada dasarnya seni lukis tradisional Bali tidak mengenal perspektif trimatra atau jauh-dekat. Adanya depan-belakang (dwimatra), tersusun bertumpuk ke atas. Ruang visualnya datar (flat). Teknik nyelah dalam proses seni lukis tradisi hanya menegaskan batas objek satu dengan lainnya. Objek di depan menempel pada objek di belakangnya. Tidak membuat perspektif dan dimensi atau tone.

Dari abad ke-15 sampai abad ke-18 seni lukis Kamasan berkembang hingga ke daerah lain seperti ke desa Batuan dan Ubud. Pada tahun 1936 berdiri Pita Maha, perkumpulan pelukis di Ubud. Keterlibatan Rudolf Bonnet dan Walter Spies berpengaruh pada penggambaran anatomi dan proporsi juga tema lukisan sehingga melahirkan gaya Ubud. Pengaruh Pita Maha menyebar ke Batuan, Sanur dan daerah lain.

Lukisan-lukisan tradisi bersama karya topeng dan patung dapat dilihat pada pameran seni rupa tradisi Bali Kandarupa yang digelar serentak di Gedung Kriya Taman Budaya Bali, Museum ARMA dan Museum Puri Lukisan Ubud. Acara yang terkait dengan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII Tahun 2021 berlangsung dari tanggal 10 Juni hingga 10 Juli 2021. Pameran mengetengahkan karya 113 perupa lintas generasi dengan berbagai gaya. Tema yang diusung adalah Wana Jnana dengan sub-bahasan Wanda, Rimba, dan Spiritualitas.

Selanjutnya pameran Bali Kandarupa akan menjadi agenda tahunan sebagai bagian tak terpisahkan dari pelaksanaan Pesta Kesenian Bali yang menyajikan kreativitas terkini seni rupa klasik dan tradisi Bali dari berbagai genre yang diharapkan mampu memberikan semangat bagi generasi penerus dan apresiasi yang luas dari masyarakat, demikian diungkapkan I Gede Arya Sugiartha, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

I Gede Ngurah Vandji, Taru Magening, 100 x 80cm

Jalan Simpang Tradisi

Tulisan ini hanya membahas seni lukis. Ruang yang terbatas dengan bandingan jumlah karya dari tiga jenis seni rupa yang demikian banyak, tak memungkinkan untuk menuliskan semuanya. Ulasan untuk karya topeng dan patung saya tulis terpisah. Beberapa karya pada pameran ini menunjukkan gejala berbeda. Ada upaya untuk keluar dari kebuntuan kreativitas yang menggejala pada seni lukis tradisi. Pelukis mulai memasukkan idiom-idiom baru, bisa berupa ikon, isu atau pewarnaan. Pada lukisan ‘Cinta Alam’ I Nyoman Kondra yang bercorak Kamasan, dua orang wisatawan menjelajah hutan menggunakan mobil safari. Nampak seseorang membidikkan kamera dan seorang lagi berkomunikasi menggunakan handphone. Kehadiran mereka membuat kegaduhan penduduk rimba yang merasa terusik. Tak jelas siapakah kedua turis tersebut. Aktivis lingkungankah atau investor yang sudah mengantongi izin pemanfaatan hutan dari pemerintah. Idiom ini tak lazim pada tradisi seni lukis Kamasan.

Lukisan I Made Griyawan menggambarkan Raja Hutan sedang memimpin rapat terbatas dengan para menterinya. Virus ganas yang dibawa manusia mulai menyebar di hutan, berpotensi menulari penduduk rimba yang mulai terusik kehidupannya oleh ulah manusia. Lukisan yang diberi judul ‘Rapat Para Binatang untuk Corona’ ini mengusung gaya Batuan dengan dominasi warna hitam-putih yang kuat. Warna magenta dipulaskan pada ikon virus Covid-19 sebagai aksen estetis sekaligus penekanan penting pada isu yang menghebohkan.

I Nyoman Kondra, Cinta Alam, 84 x 65cm

Sebuah telaga dalam lukisan ‘Hutan Rimba’ bercorak Kamasan karya I Nyoman Arcana menjadi tempat pusat perhatian. Sebuah drama dibangun di sana berupa fragmen seekor buaya dikelilingi berbagai binatang penghuni rimba. Seekor singa dan harimau seperti beradu geram dengan si buaya. Mengingatkan pada sebuah kisah fabel  tentang perseteruan singa dan buaya dalam memperebutkan tahta kekuasaan di rimba raya. Adakalanya lukisan yang bermuatan objek binatang dikaitkan dengan Tantri , padahal tak ada kejelasan narasi yang menghubungkan.

Lukisan kaca Ketut Santosa ‘Gugurnya Watakwaca’ menarasikan Prabu Niwatakawaca yang tewas dengan anak panah menancap di rongga mulutnya saat bercumbu dengan Dewi Supraba di dalam kamar. Di belakang layar nampak Arjuna dan punakawan mengintip adegan ini. Lukisan disertai balon kata, memuat celetukan punakawan.

Dalam Arjunawiwāha, dikisahkan Prabu Niwatakawaca tewas di medan peperangan. Arjuna mendapat tugas dari Batara Guru untuk menghancurkan kekuatan Prabu Niwatakawaca yang mengancam kedamaian hidup manusia dan para dewa. Diutuslah Dewi Supraba sebagai umpan untuk membongkar rahasia kelemahan Prabu Niwatakawaca. Ringkas cerita, titik lemah alhasil terungkap dan Arjuna mengeksekusinya dengan panah sakti Pasopati andalannya.

I Nyoman Arcana, Hutan Rimba, 84 x 74cm.

Pascatradisi

I Gede Ngurah Vandji menampilkan ‘Taru Magening’ (Alam dalam Diri ) dengan media akrilik dan tinta di atas kanvas. Teknik yang digunakan mengadopsi teknik modern dengan mengaplikasikan alat lukis bambu yang lazim digunakan pada seni lukis tradisi. Ini dapat dilihat pada efek pisau palet  yang memunculkan tekstur semu.

Seperti lazimnya lukisan tradisional, bidang kanvasnya penuh dengan beragam bentuk yang dibingkai dengan garis (kontur). Banyak simbol dijejalkan di sana seperti Maosala, Maosali, Apsara dll. Nampak figur perempuan yang penuh dengan isian beragam bentuk yang terkandung di alam, melebur ke latar belakang yang padat oleh bermacam citraan kosmis. Perempuan sebagai simbol Ibu  yang melahirkan alam semesta juga sebagai pusat energi kosmis.

Konsep karya ini berangkat dari teks Jarayu Tantra yang menarasikan bahwa alam ibarat kandungan dalam garba semesta. Disebutkan pula bahwa manusia terbentuk dari unsur alam itu sendiri, misalnya rambut berasal dari awan, darah dari air, tulang dari kayu, lemak dari embun, kulit dari tanah, bulu dari rumput dan lain sebagainya. Elemen dalam diri memiliki interelasi dengan semesta raya, antara buana alit dengan buana agung. Bentuk dan filosofi tradisi menginspirasi Ngurah Vandji dalam berkarya di ranah seni lukis pascatradisi. Karya Taru Magening bermula dari tradisi, memori dan berkembang dengan imaji. [T]

Bedulu, 5-7-2021

___

BACA JUGA:

Tatahan Imaji | Dari Pameran Wana Jnana

Tatahan Imaji | Dari Pameran Wana Jnana

Tags: PameranPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pemberian Pangan Kepada Masyarakat | PPKM Ala Tabanan Music Addiction

Next Post

Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

AS Kurnia

AS Kurnia

Pelukis dan Penulis. Lahir di Semarang, 1960 dan sejak tahun 1990 bermukim di Bali. Beberapa kali pameran tunggal dan banyak terlibat dalam pameran bersama. Pernah meraih Penghargaan Pertama "Kompetisi Pelukis Muda Indonesia" tahun 1989 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Alliance Francaise. Menulis di Koran Jayakarta, Dharma, Kartika Minggu, Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Tribun Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

Pustaka Ekspresi, Janji Hati Made Sugianto pada Sastra Bali Modern

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co