14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tatahan Imaji | Dari Pameran Wana Jnana

AS Kurnia by AS Kurnia
July 9, 2021
in Ulasan
Tatahan Imaji | Dari Pameran Wana Jnana

Patung burung kokokan dalam pameran Wana Jnana di PKB 2021

Jejak seni patung Bali dapat dijumpai di hampir tiap pura berupa arca dari batu. Di sisi gerbang pura yang disebut Candi Bentar biasanya diletakkan patung Dwarapala yaitu patung berukuran besar yang berfungsi sebagai penjaga. Bukti peninggalan prasejarah ada di Desa Trunyan, Kintamani yang diberi nama Ratu Gede Pancering Jagat. Patung setinggi 5 meter dipercayai sebagai citraan sosok nenek moyang mereka yang telah memberikan kedamaian dan kesejahteraan.

Seni patung Bali memiliki berbagai istilah sesuai dengan bentuk dan fungsinya seperti: Togog, Arca, Pretima, dan Bedogol. Togog adalah jenis patung profan. Tidak terikat pakem tradisi maupun religiositas tertentu. Bersifat fungsional yang lebih universal bagi kebutuhan ragawi dan rohani manusia sehingga memiliki keluasan perubahan dan pengembangan sesuai ekspresi dan imajinasi senimannya.

Sejumlah karya patung bisa dilihat di Museum ARMA, Ubud. Karya-karya ini bagian dari pameran Wana Jnana yang berlangsung dari tanggal 10 Juni hingga 10 Juli 2021. Gelaran seni rupa tradisi ini merupakan agenda Bali Kandarupa di dalam helatan akbar Pesta Kesenian Bali (PKB) XLIII, Tahun 2021.

Dari Sakral ke Profan

Sejarah perkembangan ‘patung togog’ sangat dinamis. Pemuka-pemuka pematung tak kering gagasan. Bentuk-bentuk baru terus bertumbuhan, menyebar di masyarakat, melebur menjadi gaya komunal. Patung yang berkembang di desa Nyuh Kuning, misalnya, pada umumnya berwujud hewan laut seperti ikan, lumba-lumba, kura-kura dan lainnya. Postur patung kebanyakan vertikal dengan bagian pangkal berbonggol yang biasanya dikreasi bermotif karang sebagai penunjang konstruksi konfigurasi sekelompok objek ikan. Patung lumba-lumba atau dolphin menjadi identitas cenderamata yang populer dari desa ini.

Desa Peliatan memiliki peran penting dalam peta sejarah seni patung di Bali. Beberapa pematung andal tinggal di desa ini yaitu I Wayan Neka, I Wayan Ayun, I Nyoman Togog, Tjokot, I Wayan Winten dan yang lainnya. Mereka memberi andil pada pengembangan seni patung di desa sekitarnya. Ketika pop art dicetuskan I Nyoman Togog, Desa Peliatan menjadi salah satu sentra industri.

Ida Bagus Njana dan anaknya yaitu Ida Bagus Tilem adalah dua pematung penting Desa Mas. Posisi dua tokoh ini berada di jajaran pemuka seni patung modern Bali. Mereka melakukan terobosan keluar dari pakem seni klasik dan tradisional. Gagasannya penuh kebebasan. Karya patungnya tidak proporsional. Bentuk dan karakter material dielaborasi dengan gagasan yang berkelindan di dalam imajinasinya.

Selain karya yang bersifat personal atau ideal, di desa ini berkembang pula produk karya patung komersial atau suvenir. Masing-masing banjar memiliki kecenderungan motif patung. Motif burung berkembang di Banjar Juga. Banjar Kumbuh memproduksi patung ‘nude’ sementara Banjar Bangkilesan mengembangkan patung abstrak dan di Banjar Tegal Bingin berkembang patung topeng modern.

Dinamika seni patung di desa Mas dan Peliatan memengaruhi desa Petulu dan Nagi. Terjadi alih teknologi dari desa Mas dan Peliatan ke Petulu sementara warga Nagi banyak mengasah keterampilan ke Peliatan yang berkecenderungan gaya realisme yang di antaranya seni patung berbentuk binatang. Desa Nagi akhirnya jadi sentra industri patung binatang seperti gajah, babi, kuda, kura-kura dsb. Motif patung ‘yogi’ yang berasal dari desa Mas berkembang pesat di Petulu. Dipicu boomingnya industri kerajinan, semua pematung beralih mengerjakan patung yogi. Nilai ekonomi bisnis ini memang menggiurkan pada masa itu.

Menjelajahi Imaji

Alam banyak membentuk karya seni yang fenomenal. Perangkat pembentuk itu adalah iklim, sifat objek, gerak, peristiwa, waktu, ketakabadian dan sebagainya. Citra seni yang muncul dari proses alam dalam bahasa Bali disebut ‘tampak sida’ (yang terlihat). Barangkali dapat pula disebut imaji. Dalam seni patung, bentuk-bentuk ini terlihat pada batu dan pohon. Para pematung acap kali memanfaatkan fenomena ini. Begitu pun pelukis, menjadikannya inspirasi. Pematung Tjokot memanfaatkan citra imaji ini dalam berkarya. Karya-karyanya terbentuk dari batang pohon tua yang keropos karena proses alam. Hal yang sama juga dilakukan I Ketut Muja. Mereka menelusuri imaji atau ‘prarupa’ pada batang pohon tersebut dan menatahnya membentuk rupa.

Ada 4 buah karya dari sekian patung yang ada di ruang pameran ini yang memanfaatkan citra alami kayu sebagai inspirasi dalam berkreasi. Tentu dengan kadar usia kayu dan pemrosesan yang masing-masing berbeda. Dengan mengetengahkan tema Tantri, I Ketut Widia memasukkan beragam satwa ke ruang ciptanya. Wahana ekspresinya berupa batang kayu waru yang berongga seperti selongsong. Rengatan-rengatan dan bonggol-bonggol dengan jendulan nampak di beberapa bagian. Warna putih kelabu menyelip di dalam urat-urat kayu sehingga nampak seperti fosil. Bentuk-bentuk satwa ditatahkan di sela-sela bonggolan dan rongga yang bertebaran di sekujur kayu. Bentuk disusun sedemikian rupa didasari tinjauan komposisi.

Ketut Widia membagi ruang ciptanya menjadi tiga tingkatan atau ‘triloka’ yaitu dunia bawah, tengah dan atas. Dunia bawah direpresentasikan dengan citra karang yang merupakan bagian pangkal pohon yang berbentuk tak beraturan dengan banyak bonggol yang berlubang-lubang dan berongga. Bonggol-bonggol dikreasi menjadi bentuk siput dan katak. Sebagian lainnya tetap dibiarkan dalam bentuk alaminya. Bagian tengah triloka ditatahkan citra gajah, rusa dan kera sementara loka atas dicitrakan dalam bentuk burung.

Beragam citraan muncul di kayu kemboja I Nyoman Kurdana, media di mana dia mewujudkan imajinasinya yang digerakkan oleh imaji yang terlihat samar di batang pohon ‘bakalan’. Nampak sulur-sulur menyerupai tanaman yang sepintas juga mirip satwa. Ada juga tumbuhan, serumpun dedaunan, figur binatang dan bentuk-bentuk nirrupa. Visual-visual itu menumpuk dalam konstruksi yang nampak ringkih dan acak. Jejak dahan masih terlihat, keropos, berongga, memunculkan citra abstrak. Visual utama pada patung ini ialah sepasang kera yang sedang berinteraksi, bermain-main seperti dinyatakan pada judul karya; Monyet Bercanda. Citraan-citraan yang tertatah dalam patung ini terkesan purba.

Wayan Jana mereaksi bonggol kayu jati yang ditemukan di area penjualan kayu. Mata batinnya menangkap sesuatu yang terpendam pada kayu tersebut. Dalam perkiraannya, potongan kayu itu berusia tahunan. Kayu itu sudah kering, keropos, berongga, diwarnai retakan-retakan. Urat-uratnya terlihat kasar. Kondisi tersebut diakibatkan pelapukan, sebuah proses alami menandai sebentuk kematian.

Imaji pada bonggol itu mengantarkan imajinasinya pada citra sebentuk burung. Tanpa membuat sketsa, dia langsung menatah, menegaskan imaji dengan berdasar pada pola yang ada di dalam imajinasinya. Pahatnya mengupas kayu, serpih demi serpih. Membentuk, menelusuri alur kayu. Jana memberikan sayap. Alur kayu yang berkelok merefleksikan gerakan, geliatan, menyiratkan denyut kehidupan. Pada sisi sebaliknya ditandakan sebentuk kaki yang terlipat menyelap ke permukaan kayu yang bergalur-galur, berurat kasar, dironai retakan dan rongga. Bentuk kepala, kaki, sayap melebur bersama galur-galur dan retakan kayu. Kondisi kayu seperti fosil. Kesan ini dipengaruhi warna putih kelabu yang mengendap dalam urat kayu.

Patung burung kokokan pada Pameran Wana Jnana [Foto AS Kurnia]

Burung kokokan atau bangau menjadi simbol kemakmuran bagi penduduk desa adat Petulu Gunung, Ubud. Sudah sekian abad lalu kokokan jadi ikon desa ini. Desa Petulu Gunung tak jauh dari desa Singapadu, kampung Wayan Jana. Kokokan sudah tersimpan lama di ingatannya. Menjadi otomatis ketika melihat tanda menyerupai burung, rupa yang muncul di permukaan memorinya adalah kokokan.

Keberadaan kokokan oleh warga desa diyakini sebagai utusan Sang Pencipta yang senantiasa menjaga desa dari gangguan penyakit dan hama. Menandai hubungan harmonis yang selalu terjaga antara warga dan kokokan, setiap perayaan Kuningan digelar ritual Ratu Kokokan.

Sosok burung dengan tubuh kayu ringkih penuh galur-galur, urat-urat kasar, retakan, lekukan, cekungan, rongga-rongga dan lubang bagaikan luka menganga, telah mengepakkan sayapnya.

Bongkahan bonggol jati berdimensi 95 x 145 x 55cm diletakkan pada posisi horisontal. Satu ujungnya bercabang dua. Sebatang cabang menyeruak ke atas sementara cabang lainnya mendatar di bawah menjadi bagian dasar bakalan kayu atau kaki patung. Bagian ujung ini lebih lebar dan tinggi. Sepertinya itu bagian pangkal tempat beradanya akar. Ujung lainnya di sisi kanan lebih rendah. Jika menarik ‘garis pandang’ dari sudut atas pada sisi kiri ke ujung kanan akan menghasilkan garis pandang yang melandai, menurun. Patung ini karya I Ketut Rediana.

Sosok perempuan dalam sikap berdiri ditatahkan pada permukaan bidang kayu yang lebar di bagian kiri. Posisinya agak ke atas. Perempuan itu sedang menghela dua ekor kuda yang menarik kereta kencana berkepala naga. Arah laju kereta menuju ujung yang merendah. Pembatas sisi kereta berbentuk sayap. Tatahan-tatahan alur bergelombang melaras dengan alur urat kayu, berkelok ritmis, nampak membungkus kereta dan kuda penariknya. Geraknya meliuk, menggeliat, berkejaran dengan urat dan galur-galur kayu.

Garis pandang yang menurun memberi efek tekanan. Alur-alur itu bagaikan gelombang air bah menurun deras dari ketinggian, mendorong kereta masuk ke dalam laut. Entah dari mana datangnya. Dari dunia tengahkah atau dunia atas, tempat dewa-dewi. Sepenggal kisah menyebutnya sebagai ‘dewi srengenge’ (matahari). Legenda laut selatan itu menuju pulang.

Seonggok kayu kemungkinan besar akan lapuk, keropos, memulai proses penghancuran diri, melebur ke alam hingga tinggal ‘sari’nya atau terbakar hangus disebabkan laku manusia. Kayu bangkit dari ‘kematian’nya ketika manusia penuh imajinasi menemukannya. [T]

Bedulu, 8-7-2021

Tags: Pameran Seni Rupapatung baliPesta Kesenian Baliseni patungSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Perupa Arya Palguna | Kembali ke Bali, Menyambung Ingatan

Next Post

Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten

AS Kurnia

AS Kurnia

Pelukis dan Penulis. Lahir di Semarang, 1960 dan sejak tahun 1990 bermukim di Bali. Beberapa kali pameran tunggal dan banyak terlibat dalam pameran bersama. Pernah meraih Penghargaan Pertama "Kompetisi Pelukis Muda Indonesia" tahun 1989 yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB) bekerja sama dengan Alliance Francaise. Menulis di Koran Jayakarta, Dharma, Kartika Minggu, Suara Merdeka, Jawa Pos, dan Tribun Bali.

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post
Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co