26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten by IBW Widiasa Keniten
July 11, 2021
in Cerpen
Pagi ini Kudapat Ciuman | Cerpen IBW Widiasa Keniten

Ilustrasi tatkala.co | Satia Guna

Bulan-bulan ini memang kurang bersahabat padaku. Entah kenapa aku merasakan ribuan beban menindih pikiranku. Aku sudah berupaya keras memecahkan beragam problematika, tapi ada saja yang masih tersisa. Minggu pertama bulan ini aku tidak bisa bernapas lapang. Dadaku terasa sesak. Minggu kedua, hidungku mampet. Jika kubawa ke rumah sakit pastilah akan divonis Covid-19. Minggu ketiga, kakiku terasa sakit. Orang-orang biasa menyebutnya dengan asam urat. Minggu keempat entah kenapa telingaku tiba-tiba butek. Satu kata pun tak bisa masuk. Sudah dikasi tetes telinga juga tak mempan. Ini memengaruhi organ dalamku, maag kambuh, mual, nafsu makan tidak bagus.  Entah setelah ini apa yang akan mendatangiku lagi?

Aku tak mau mati lebih-lebih mati muda. Tanggung jawabku belum tuntas. Aku tak mau berdiam diri. Berdiam diri itu sama dengan mati. Kudatangi dan kutanyatakan pada teman-temanku dengan gampangnya dijawab. “Itu dampak dari pikiran. Pikiran itu sumber penyebabnya. Coba kalau pikiranmu tenang. Nyaman dan tidak ada ketegangan-ketegangan pasti tak akan seperti itu.”

Aku tersenyum dalam hati sepertinya temanku tak pernah mengalami seperti diriku. Ia bisa bermain-main dengan perasaannya, sedangkan aku tidak bisa. Aku ingin melepaskan segala beban. Aku tak ingin beban itu menjadi monster yang sewaktu-waktu bisa saja menggerogotiku dari dalam. Aku memang tak pernah menceritakan masalahku pada istriku. Bukan jalan keluar yang akan kudapatkan, justru kicauan yang membuat semakin butek lebih baik kusimpan saja. Syukurlah ada teman yang bisa kuajak berbagi. Tapi, aku tahu. Biasa jika titip kata bisa melebar. Itu sudah risiko bagi pembagi cerita. Tapi demi keselamatan tak apalah.

“Berbagi cerita itu penting,” katanya. “Jika tidak mau berbagi bisa semakin mumet. Kepala bisa nyut-nyut. Beragam penyakit pun bisa menggerogotinya. Sebaiknya sekecil apapun masalah, perlu diceritakan. Utamanya kepada istri. Orang yang paling dekat dan tahu dengan keberadaanmu. Aku yakin, istrimu bisa memberikan jalan keluar.”

 “Tapi istriku?” bisikku dalam hati.

 “Jangan suka menyalahkan istrimu. Ia sudah dari pagi menjagamu. Tapi kau kurang sadar. Coba kau lihat. Tugas rutinnya ia jalankan. Kau masih ngorok. Masih menikmati mimpimu. Saat kau bangun, sudah disuguhi kopi dengan pisang goreng.  Jangan mau menang sendiri. Kasihani istrimu. Coba kalau istrimu sakit, apa yang bisa kau buat? Kau akan melongok. Paling-paling hanya bisa ke warung saja.”

Aku tersenyum sendiri. Benar juga perkataan temanku itu. Selama ini, aku tak peduli dengan istriku. Cuma bisa menyalahkan yang semestinya tidak perlu kuucapkan. Aku pulang. Kudekati istriku. Kulihat pipinya berpeluh. Ia baru saja selesai merapikan barang-barang yang semestinya sudat keluar dari persembunyiannya. Aku memang agak membandel. Barang-barang yang tak perlu masih saja saja disimpan seperti tukang arsip.

Kucuba memulai pembicaraan sambil memijit kakiku. Kuolesi dengan minyak racikkan harapanku agar perhatiannya beralih. Eeeee, istriku tak mau juga. Ia tetap mengipasi tubuhnya. Ia justru meninggalkan diriku. “Dasar lelaki cengeng. Tak kusangka lelaki pilihanku seperti ini. Cuma sakit segitu saja sudah mengeluh. Memangnya ia saja punya sakit? Aku lebih sakit lagi. Tak cengeng seperti itu. Jika aku tahu seperti ini sedari dulu. tak akan kupilih. Aku salah pilih. Aku mabuk dengan ucapan-ucapannya.”

Aku menjadi malu. Aku baru tahu istriku memendam perasaan mangkel padaku. Berarti kopi yang ia suguhkan selama ini dengan rasa mangkel. Berarti ribuan mangkel ada di aliran tubuhku. Pastilah ia mengendap menjadi kerak kemangkelan. Jangan-jangan kemangkelan itu berubah menjadi beragam penyakit? Waduh kalau begini. Bisa mati karena mangkel aku ini. Pokoknya aku tak mau mati. Keluargaku juga tak boleh mati rasa.

Aku ubah kebiasaanku. Aku bangun pagi-pagi menyiapkan sarapan untuk keluarga. Istriku kaget termasuk anak-anakku. “Ini ada apa? Jangan-jangan ada maunya ayahku ini?” bisiknya. Aku tidak peduli. Kugoreng bawang. Kubuatkan sayur urap, kubuatkan pepes ikan. Hari itu seperti masak besar. Istriku bengong melihat perubahan sikapku. Ia bukannya bersyukur, tapi justru mencurigaiku.

 “Silakan makan. Kita makan bersama. Kebersamaan itu penting. Segala masalah akan terpecahkan dengan semangat kebersamaan.”

Anak-anakku tumben mau makan bersama. Biasanya makan sesuka hatinya. “Nah ini yang ayah cari.”

 “Maksudnya Yah?”

 “Kebersamaan itu penting. Coba ceritakan apa masalahmu.”

 “Kalau aku, sih tak bermasalah Yah. Jangan-jangan Ayah yang bermasalah?’

Aku tertawa. “Bisa juga kau.”

 “Benar khan?”

Suara sendok beradu dengan piringku seperti musik  yang mengiringi makanku. Istriku kulirik. Ia terus menatatap wajahku. Ia masih mencurigai diriku dengan perubahan sikapku.

 “Sudahlah lanjutkan makannya saja. Coba ceritakan yang kau rasakan selama ini?”

Aku tak berani berterus terang. Kejujuran bisa membuat jatuh wibawaku di depan anak-anakku.

 “Berterus terang itu bagus. Jangan meniru orang-orang yang tak jujur. Rumah tangga tanpa kejujuran, tiangnya akan keropos.” Istriku mulai membuka pembicaraan.

Aku tahu itu pancingan istriku. Aku pura-pura berpikir. Kuberanikan mengutarakan beban yang kurasakan. Istriku tersenyum. “Belum seberapa itu. Cuma sakit segitu saja sudah menyerah. Lihat di luar sana. Ia lebih parah darimu. Bahkan, napasnya mau putus saja masih tetap berjuang. Ia tak mau menyerah. Cuma segitu saja sudah menyerah. Itu gampang coba ubah kebiasaanmu dari ngorok seperti sekarang ini. Bangun pagi. Hirup udara segar. Gerakkan tubuh. Pasti sehat.”

 “Dasar,” bisikku dalam hati bukan jalan keluar yang kudapat. Tapi perintah secara tersembunyi. Aku mengurangi kata-kataku.

 “Coba besok kau lakukan seperti ini lagi pasti semakn sehat.”

Aku ikuti saran istriku. Mengubah kebiasaan memang sukar. Aku bangun pagi. Kuhirup udara segar. Kugerakkan tubuhku. Aku mulai dengan mengambil tugas-tugas istriku. Aku mandi pagi. Dan seterusnya dan seterusnya.

 “Gimana khan lebih sehat sekarang? Semua oarng punya masalah. Tidak hanya kita. Cuma kita yang memasalahkan masalah. Coba jalani masalah itu pasti terselesaikan. Masih sakit kakimu? Masih mampet hidungmu? Masih sakit-sakit lainnya? Tidak khan?”

Aku malas menjawabnya. Istriku tersenyum. Ia daratkan ciuman di pipiku. Tumben ia menciumku sepagi ini. [T]

___

BACA CERPEN LAIN

Utang | Cerpen Rastiti Era
Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Tatahan Imaji | Dari Pameran Wana Jnana

Next Post

Narkoba, Kerajaan Neraka dengan Gerbang Surga

IBW Widiasa Keniten

IBW Widiasa Keniten

Ida Bagus Wayan Widiasa Keniten lahir di Geria Gelumpang, Karangasem. 20 Januari 1967. Buku-buku yang sudah ditulisnya berupa karya sastra maupun kajian sastra. Pemenang Pertama Guru Berprestasi Tingkat Nasional Tahun 2013 dan Penerima Tanda Kehormatan Satyalancana Pendidikan Tahun 2013 dari Presiden, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono, Rabu, 27 November 2013 di Istora Senayan Jakarta. Tahun 2014 ikut Program Kunjungan (Benchmarking) ke Jerman, selanjutnya ke Paris (Prancis), Belgia, dan Amsterdam (Belanda). 2014 menerima penghargaan Widya Kusuma dari Gubernur Bali. Tahun 2015 memeroleh Widya Pataka atas bukunya Jro Lalung Ngutah.

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Hal-hal Lucu Saat Wabah Covid-19

Narkoba, Kerajaan Neraka dengan Gerbang Surga

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital
Liputan Khusus

Dari Bambu Petung, Desa Tembok Membangun Akses Digital

TELEPON belum lama ditutup ketika Luh Sukerti kembali sibuk di depan tungku. Puluhan tusuk sate dibolak-balik di atas bara, dilumuri...

by Jaswanto
October 26, 2026
Kami Bukan Pajangan —Suara Seniman Berpendidikan yang Terlupakan
Esai

Ketakutan terhadap Seniman Eksperimental dan Tekanan Perubahan Zaman

KETAKUTAN terhadap perubahan dalam dunia seni tidak hanya muncul dari kekhawatiran meninggalkan tradisi, tetapi juga dari kehadiran bentuk-bentuk seni eksperimental...

by Ahmad Prasetya Hady
October 26, 2026
Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”
Bahasa

Ketika “Mendidik Tidak Mendadak” Bertemu “Tidik” dan “Nidik”

ADA seorang guru sekaligus penulis senior asal Bali yang bernama Nyoman Tingkat. Suatu ketika, dengan permainan kata yang cerdas dan menggelitik, melalui unggahan...

by I Made Sudiana
October 26, 2026
Belajar dari Senat, Menyapa Semeru
Tualang

Belajar dari Senat, Menyapa Semeru

ADA perjalanan yang kita tempuh karena tugas. Ada perjalanan yang kita jalani karena kewajiban. Namun, sering kali justru di balik...

by Ahmad Sihabudin
October 26, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co