24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia | Jalan-jalan Bawa Gelatik Pernah Ngetrend di Singaraja Tahun 1950-an

tatkala by tatkala
February 28, 2021
in Khas
Nostalgia | Jalan-jalan Bawa Gelatik Pernah Ngetrend di Singaraja Tahun 1950-an

Ilustrasi tatkala.co | Nuriarta

Seorang lelaki, berjalan dengan langkah jantan. Di udara, seekor burung rajawali terbang, lalu menukik ke arah lelaki gagah itu. Burung itu kemudian hinggap di bahu sang lelaki. Betapa gagah. Seorang lelaki berteman dengan seekor burung rajawali.  

Itu adalah gambaran video iklan rokok. Video itu seakan-akan menunjukkan bahwa, untuk mendapatkan citra jantan sekaligus unik, seorang lelaki belumlah cukup hanya  bertubuh atletis, tapi juga harus ada seekor hewan. Hewan itu harusnya juga menciptakan kesan gesit, cekatan, dan tak terkalahkan dalam pertarungan alam rimba. Salah satunya, ya, rajawali.

Ada iklan lain, seorang lelaki berteman dengan macan di rumahnya. Ada juga lelaki balap lari dengan jaguar. Yang semua itu memberi citra, betapa cepat, betapa gesit, betapa seram, betapa beraninya lelaki itu.

Selain hewan paling berani, paling kuat, yang kerap dipilih sebagai simbol kegagahan, banyak juga hewan yang menyimbulkn persahabatan dan kedamaian dipilih juga untuk mengiklankan produk tertentu. Misalnya, iklan berisi gambaran sebuah keluarga jalan-jalan bersama anjing di taman kota. Ada juga kucing dan kelinci.

Hewan sebagai bintang iklan akhirnya menjadi hal yang biasa. Dalam film pun, tema persahabatan manusia dengan hewan kerap menjadi daya tarik cerita yang tak habis-habis. Di India banyak cerita film manusia berteman dengan gajah, ular, juga monyet. Ada banyak film menampilkan cerita persahabatan antara manusia dengan lumba-lumba dan anjing laut.

Di dunia nyata, manusia jalan-jalan bersama hewan peliharaan sepertinya juga bukan pemandangan baru. Jika kini jamak orang jalan-jalan membawa anjing, kucing, atau reptil, dulu bahkan ada hobi jalan-jalan sembari membawa burung gelatik. Ya, burung gelatik yang kecil-mungil itu.

Itu terjadi di Kota Singaraja sekira tahun 1950-an. Sebagaimana diceritakan Putu Sutisna dalam bukunya “Singaraja yang Dikenang yang Disayang”, diterbitkan Mahima Institute Indonesia, Juli 2020.

Putu Sutisna, pensiunan guru besar di Fakultas Kedokteran Unud ini, lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Banjar Paketan, Singaraja. Ia lahir tahun 1943. Dalam bukunya itu, ia banyak bercerita tentang masa kecilnya di Kota Singaraja, terutama di sekitar rumahnya di Paketan.  

Ia bercerita, dalam rentang waktu beberapa tahun lamanya di masa kecilnya, pernah merebak hobi bermain burung gelatik pada banyak orang. Hobi itu bukan saja merambah terbatas pada orang-orang di lingkungan banjarnya di Paketan, tetapi juga ada di banjar lain, mungkin saja di seantero kota Singaraja.

Tentu berbeda dengan hobi jalan-jalan bersama anjing, di mana ketika sang tuan berjalan, anjing ngikut di belakang. Hobi jalan-jalan bersama burung gelatik, sang tuan biasanya membawa sebatang kayu. Satu kaki burung gelatik diikat dengan benang yang sedikit lebih besar dari benang jahit. Si tuan membawa batang kayu lurus yang berukuran tidak terlalu besar. Ujung benang yang satu lagi diikat pada kayu itu. Kayu itu juga sebagai tempat burung gelatik bertengger.

Dengan gerakan tangan, si tuan memegang batang kayu itu, dan si burung gelatik terbang ke udara yang tinggi dan jaraknya sesuai dengan panjang benang pengikatnya, berputar beberapa kali sebelum si burung menclok kembali di atas batang kayu.

“Begitulah saya melihat pemandangan orang-orang (kebanyakan orang dewasa) berjejer pada jarak yang aman dan berbarengan bermain burung gelatik. Kami anak-anak bisa menilai siapa pemain yang “jagoan” mengendalikan burungnya secara menarik,” cerita Putu Sutisna dalam bukunya.

Tentu, amat menyenangkan melihat burung gelatik yang cantik terbang melayang berputar-putar, dan manakala si burung mau hinggap kembali di atas batang kayu tuannya, dengan gerakan tangan tertentu sambil setengah berteriak “hus,hus” si tuan membuat burung kembali melayang berputar beberapa kali. Sungguh menarik.

 “Saya perhatikan bahwa di masa itu pedagang burung di pasar mendapat lebih banyak rejeki, dan begitu pula pedagang makanan burung,” cerita Putu Sutisna.

Atraksi permainan burung gelatik itu secara rutin berlangsung di sore hari sebelum anak-anak dan orang dewasa mandi bareng di sungai kecil yang ada di wilayah pesawahan yang luas yang terletak agak jauh di sebelah barat banjar, yang biasa disebut “bedugul”.

Karena begitu tertarik dan tidak ingin tertinggal menyaksikan indahnya manuver burung-burung gelatik di setiap sore hari, Putu Sutisna memindahkan rutinitas mandi di sore hari dari kamar mandi di rumahnya ke sungai kecil di “bedugul”.

Apakah masih ada orang-orang tua di Kota Singaraja yang ingat tentang merebaknya hobi jalan-jalan dengan membawa burung gelatik sebagaimana diceritakan Putu Sutisna?

____

___

Kisah persahabatan manusia dengan hewan begitu sering kita dengar, baik kisah nyata maupun fiksi. Bahkan kadang banyak manusia memiliki persahabatan yang lebih kental dengan hewan ketimbang dengan manusia lainnya.

Ada banyak penjelasan soal persahabatan semacam itu. Misalnya, manusia kadang lebih percy kepd hewan daripada manusia, misalnya sebagai teman dalam bermain. Hewan diangap lebih fair, juga tak pernah marah. Dalam cerita soal permainan burung gelatik di Singaraja sekira tahun 1950-an itu, manusia mungkin menganggap burung sebagai media hiburan, selain karena burung itu memang cantik, juga karena manuver terbangnya yang bisa dijadikan tontonan.

Marta Borgi, penulis di Frontiers in Psychology sebagaimana dilansir The Healthy yang kemudian disiarkan Medcom.id. pernah melakukan penelitian mendalam pada hubungan manusia dan hewan. Ia mengungkapkan bahwa hewan peliharaan dapat membantu mengurangi perasaan isolasi sosial pada manusia.
 
Selain itu, menurut Borgi, hubungan dengan hewan memiliki karakteristik yang mirip dari hubungan manusia-manusia. Ada keintiman emosional, persahabatan, kepercayaan, kesetiaan, komitmen, kasih sayang, penerimaan, simpati, kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, serta waktu yang dihabiskan bersama dan pemeliharaan ikatan pasangan setelah lama pemisahan.

Interaksi positif dengan hewan dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh manusia. Ini akan memudahkan orang untuk pulih dari penyakit dan pada akhirnya memperpanjang umur manusia. [T][Ada][Editor:Ole]

Tags: balihewannostalgiapersahabatanSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra | Kematian Siapa Hari Ini?

Next Post

Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
0
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

Read moreDetails

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
0
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

Read moreDetails

Mengagumi Mobil Mini

by Jaswanto
June 22, 2026
0
Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

Read moreDetails

Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

by Dede Putra Wiguna
June 21, 2026
0
Mau Jadi Penulis Hebat? Tulislah Hal Unik dan Autentik!

 “Kalau mau menjadi penulis hebat, tulis yang unik dan autentik.” Kalimat itu meluncur dari mulut sastrawan Bali, Gde Aryantha Soethama,...

Read moreDetails

Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

by Dede Putra Wiguna
June 20, 2026
0
Ketika Toko Kopi TUKU Belajar Menjadi ‘Tetangga Baik’ di Bali

SORE itu, Senin, 15 Juni 2026, suasana di Toko Kopi TUKU Renon tampak lebih ramai dari biasanya. Di antara antrean...

Read moreDetails

Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

by Kadek Agus Yoga Dwipranata
June 6, 2026
0
Tabanan Menuju Era Baru: Revitalisasi Infrastruktur, Semangat GADARATA, dan Energi Baru AGATA

KABUPATEN Tabanan saat ini tengah memasuki fase penting dalam pembangunan daerah. Di bawah kepemimpinan Bupati Dr. I Komang Gede Sanjaya,...

Read moreDetails

Cerita Rakyat Sebagai Identitas

by I Wayan Artika
June 6, 2026
0
Cerita Rakyat Sebagai Identitas

Setelah direvitalisasi, kini sejumlah cerita rakyat Bali aga Desa Pedawa hidup kembali. I Jaum misalnya telah dijadikan cerita pertunjukan. Kini...

Read moreDetails

Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

by I Wayan Yudana
June 5, 2026
0
Catatan dari Ruang Bimtek Revitalisasi SMK: Ketika Gedung Diperbarui

ADA sebuah ungkapan lama yang mengatakan bahwa sekolah adalah jendela masa depan. Masalahnya, kalau jendelanya sudah kusam, atapnya bocor, laboratoriumnya...

Read moreDetails

Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

by Ni Luh Putu Intan Nirmalasari
June 3, 2026
0
Dari Kamar Biasa ke Pengalaman Luar Biasa —Cerita Desa Kedisan Berbenah

DESA Kedisan di Kintamani, Bangli, itu sebenarnya sudah “menjual” tanpa harus banyak usaha. Pemandangan Danau Batur yang tenang, udara sejuk, dan suasana desa yang...

Read moreDetails

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
0
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

Read moreDetails
Next Post
Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co