12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Nostalgia | Jalan-jalan Bawa Gelatik Pernah Ngetrend di Singaraja Tahun 1950-an

tatkala by tatkala
February 28, 2021
in Khas
Nostalgia | Jalan-jalan Bawa Gelatik Pernah Ngetrend di Singaraja Tahun 1950-an

Ilustrasi tatkala.co | Nuriarta

Seorang lelaki, berjalan dengan langkah jantan. Di udara, seekor burung rajawali terbang, lalu menukik ke arah lelaki gagah itu. Burung itu kemudian hinggap di bahu sang lelaki. Betapa gagah. Seorang lelaki berteman dengan seekor burung rajawali.  

Itu adalah gambaran video iklan rokok. Video itu seakan-akan menunjukkan bahwa, untuk mendapatkan citra jantan sekaligus unik, seorang lelaki belumlah cukup hanya  bertubuh atletis, tapi juga harus ada seekor hewan. Hewan itu harusnya juga menciptakan kesan gesit, cekatan, dan tak terkalahkan dalam pertarungan alam rimba. Salah satunya, ya, rajawali.

Ada iklan lain, seorang lelaki berteman dengan macan di rumahnya. Ada juga lelaki balap lari dengan jaguar. Yang semua itu memberi citra, betapa cepat, betapa gesit, betapa seram, betapa beraninya lelaki itu.

Selain hewan paling berani, paling kuat, yang kerap dipilih sebagai simbol kegagahan, banyak juga hewan yang menyimbulkn persahabatan dan kedamaian dipilih juga untuk mengiklankan produk tertentu. Misalnya, iklan berisi gambaran sebuah keluarga jalan-jalan bersama anjing di taman kota. Ada juga kucing dan kelinci.

Hewan sebagai bintang iklan akhirnya menjadi hal yang biasa. Dalam film pun, tema persahabatan manusia dengan hewan kerap menjadi daya tarik cerita yang tak habis-habis. Di India banyak cerita film manusia berteman dengan gajah, ular, juga monyet. Ada banyak film menampilkan cerita persahabatan antara manusia dengan lumba-lumba dan anjing laut.

Di dunia nyata, manusia jalan-jalan bersama hewan peliharaan sepertinya juga bukan pemandangan baru. Jika kini jamak orang jalan-jalan membawa anjing, kucing, atau reptil, dulu bahkan ada hobi jalan-jalan sembari membawa burung gelatik. Ya, burung gelatik yang kecil-mungil itu.

Itu terjadi di Kota Singaraja sekira tahun 1950-an. Sebagaimana diceritakan Putu Sutisna dalam bukunya “Singaraja yang Dikenang yang Disayang”, diterbitkan Mahima Institute Indonesia, Juli 2020.

Putu Sutisna, pensiunan guru besar di Fakultas Kedokteran Unud ini, lahir dan menghabiskan masa kecilnya di Banjar Paketan, Singaraja. Ia lahir tahun 1943. Dalam bukunya itu, ia banyak bercerita tentang masa kecilnya di Kota Singaraja, terutama di sekitar rumahnya di Paketan.  

Ia bercerita, dalam rentang waktu beberapa tahun lamanya di masa kecilnya, pernah merebak hobi bermain burung gelatik pada banyak orang. Hobi itu bukan saja merambah terbatas pada orang-orang di lingkungan banjarnya di Paketan, tetapi juga ada di banjar lain, mungkin saja di seantero kota Singaraja.

Tentu berbeda dengan hobi jalan-jalan bersama anjing, di mana ketika sang tuan berjalan, anjing ngikut di belakang. Hobi jalan-jalan bersama burung gelatik, sang tuan biasanya membawa sebatang kayu. Satu kaki burung gelatik diikat dengan benang yang sedikit lebih besar dari benang jahit. Si tuan membawa batang kayu lurus yang berukuran tidak terlalu besar. Ujung benang yang satu lagi diikat pada kayu itu. Kayu itu juga sebagai tempat burung gelatik bertengger.

Dengan gerakan tangan, si tuan memegang batang kayu itu, dan si burung gelatik terbang ke udara yang tinggi dan jaraknya sesuai dengan panjang benang pengikatnya, berputar beberapa kali sebelum si burung menclok kembali di atas batang kayu.

“Begitulah saya melihat pemandangan orang-orang (kebanyakan orang dewasa) berjejer pada jarak yang aman dan berbarengan bermain burung gelatik. Kami anak-anak bisa menilai siapa pemain yang “jagoan” mengendalikan burungnya secara menarik,” cerita Putu Sutisna dalam bukunya.

Tentu, amat menyenangkan melihat burung gelatik yang cantik terbang melayang berputar-putar, dan manakala si burung mau hinggap kembali di atas batang kayu tuannya, dengan gerakan tangan tertentu sambil setengah berteriak “hus,hus” si tuan membuat burung kembali melayang berputar beberapa kali. Sungguh menarik.

 “Saya perhatikan bahwa di masa itu pedagang burung di pasar mendapat lebih banyak rejeki, dan begitu pula pedagang makanan burung,” cerita Putu Sutisna.

Atraksi permainan burung gelatik itu secara rutin berlangsung di sore hari sebelum anak-anak dan orang dewasa mandi bareng di sungai kecil yang ada di wilayah pesawahan yang luas yang terletak agak jauh di sebelah barat banjar, yang biasa disebut “bedugul”.

Karena begitu tertarik dan tidak ingin tertinggal menyaksikan indahnya manuver burung-burung gelatik di setiap sore hari, Putu Sutisna memindahkan rutinitas mandi di sore hari dari kamar mandi di rumahnya ke sungai kecil di “bedugul”.

Apakah masih ada orang-orang tua di Kota Singaraja yang ingat tentang merebaknya hobi jalan-jalan dengan membawa burung gelatik sebagaimana diceritakan Putu Sutisna?

____

___

Kisah persahabatan manusia dengan hewan begitu sering kita dengar, baik kisah nyata maupun fiksi. Bahkan kadang banyak manusia memiliki persahabatan yang lebih kental dengan hewan ketimbang dengan manusia lainnya.

Ada banyak penjelasan soal persahabatan semacam itu. Misalnya, manusia kadang lebih percy kepd hewan daripada manusia, misalnya sebagai teman dalam bermain. Hewan diangap lebih fair, juga tak pernah marah. Dalam cerita soal permainan burung gelatik di Singaraja sekira tahun 1950-an itu, manusia mungkin menganggap burung sebagai media hiburan, selain karena burung itu memang cantik, juga karena manuver terbangnya yang bisa dijadikan tontonan.

Marta Borgi, penulis di Frontiers in Psychology sebagaimana dilansir The Healthy yang kemudian disiarkan Medcom.id. pernah melakukan penelitian mendalam pada hubungan manusia dan hewan. Ia mengungkapkan bahwa hewan peliharaan dapat membantu mengurangi perasaan isolasi sosial pada manusia.
 
Selain itu, menurut Borgi, hubungan dengan hewan memiliki karakteristik yang mirip dari hubungan manusia-manusia. Ada keintiman emosional, persahabatan, kepercayaan, kesetiaan, komitmen, kasih sayang, penerimaan, simpati, kepedulian terhadap kesejahteraan orang lain, serta waktu yang dihabiskan bersama dan pemeliharaan ikatan pasangan setelah lama pemisahan.

Interaksi positif dengan hewan dapat memengaruhi fungsi kekebalan tubuh manusia. Ini akan memudahkan orang untuk pulih dari penyakit dan pada akhirnya memperpanjang umur manusia. [T][Ada][Editor:Ole]

Tags: balihewannostalgiapersahabatanSingaraja
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi IGA Darma Putra | Kematian Siapa Hari Ini?

Next Post

Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

tatkala

tatkala

tatkala.co mengembangkan jurnalisme warga dan jurnalisme sastra. Berbagi informasi, cerita dan pemikiran dengan sukacita.

Related Posts

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

by Nyoman Budarsana
September 8, 2026
0
Utsawa Dharma Gita 2026 Tinggal Hitungan Hari, Bali Siapkan Duta Terbaik ke Tingkat Nasional

PELAKSANAAN Utsawa Dharma Gita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 tinggal menghitung hari. Perlombaan tersebut bakal dimulai Jumat, 11 September...

Read moreDetails

Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

by tatkala
September 7, 2026
0
Membaca Komik di Era Digital: Mengapa Manga, Manhwa, dan Manhua Semakin Populer?

RAK di sudut kamar dulu menjadi penanda seberapa serius seseorang mengikuti sebuah judul. Penanda itu perlahan berpindah ke daftar bacaan...

Read moreDetails

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
0
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

Read moreDetails

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
0
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

Read moreDetails

Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

by Dian Suryantini
September 1, 2026
0
Sampah Plastik yang Turut Membangun Merdu dan Syahdu Suara Gamelan Selonding

ADA sesuatu yang terasa ganjil ketika pertama kali melihatnya. Selonding, sebuah gamelan yang selama ini begitu dekat dengan kayu, tradisi,...

Read moreDetails

Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

by Ega Surya Mahendra
August 31, 2026
0
Janger Dalam Ingatan Penarinya —Cerita Kecil Tentang Janger di Jembrana

MALAM, pukul 21.30, 10 Agustus 2026. Saya baru saja usai melewati jalan yang nestapa dari Tanjung Benua menuju kampung halaman...

Read moreDetails

Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

by Nyoman Budarsana
August 31, 2026
0
Langit Sanur, Panggung Rare Angon dan Tradisi Melayangan

ANGGIN itu sahabat para Rare Angon. Ketika embusannya mulai menguat di Pantai Mertasari, Sanur, kesibukan pun muncul di antara para...

Read moreDetails

Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

by Nyoman Budarsana
August 29, 2026
0
Okokan Menggema, Tanah Lot Art & Food Festival VII Resmi Dibuka

“Dug dug, dag, dug dug.., dag dug dag…, jedug kapak, jedug kapak…!” SUARA kendang dan okokan menggema mengiringi pembukaan Tanah...

Read moreDetails

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026
0
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

Read moreDetails
Next Post
Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co