2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Rai Sri Artini by Rai Sri Artini
March 1, 2021
in Esai
Mari Menyambut Nyepi dengan Obor di Hati

Tak terasa beberapa hari lagi Hari Raya Nyepi tiba. Rangkaian Hari Raya Nyepi dimulai dari Upacara Melasti yang dilaksanakan 2 – 3 hari sebelum  Nyepi, yang bertujuan menyucikan diri melebur segala macam kotoran pikiran, perkataan dan perbuatan. Selain untuk membersihkan diri juga menyucikan benda sakral yaitu pratima yang diarak ke laut sebagai sumber air kehidupan.

Biasanya di daerah kami, waktu mamargi ke segara diatur sedemikian rupa agar lalu lintas tak terlalu padat. Setiap sekaa dari masing-mamsing Pura sudah menyiapkan pratima dan benda sakral lainnya di pinggir jalan untuk diarak menuju segara.

Setelah melasti, pratima, tombak dan benda suci lainnya distanakan di Pura Desa. Dulu pratima-pratima ini diusung menuju segara atau sungai. Namun seiring perkembangan jaman, sekarang pratima-pratima diletakkan di sebuah tempat yang diberi roda di bawahnya untuk memudahkan membawa menuju segara. Tempat yang diberi roda ini dinamakan jempana. Pratima, tombak dan benda sakral lainnya kemudian di-pendak/dijemput dari Pura Desa pada sore hari sebelum pengrupukan dimulai. Namun setiap daerah memiliki kebijakan lokal berbeda-beda.

Rangkaian Nyepi selanjutnya adalah Upacara Tawur Kesanga  yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Upacara ini memiliki makna membersihkan jagad Bhuana Alit dan Bhuana Agung agar hubungan tiga elemen (manusia, Tuhan dan alam) menjadi selaras dan seimbang. Upacara Tawur Agung Kesanga ini biasanya dilaksanakan pada pagi hari, lalu sore harinya masyarakat bersiap-siap untuk melaksanakan pengrupukan.

Di daerah kami, Kerobokan Badung, sebelum melakukan upacara pengrupukan, petang harinya ada tradisi megobog. Tradisi megobog merupakan pembersihan pekarangan rumah dari Buthakala atau hal-hal yang bersifat negatif.

Biasanya setiap keluarga, di rumah masing-masing melaksanakan tradisi megobog dahulu pada petang hari sebelum pengrupukan. Saya masih ingat betul. Waktu kecil, inilah saat yang kami tunggu-tunggu. Saya membawa danyuh (daun kelapa kering), yang disulut api, kakak membawa sapu lidi, bapak membawa obor dan ibu membawa tirta. Kedua adik membawa kentungan. Kami berkeliling rumah dengan semangat dan gembira. Saat kulkul atau kentungan dibunyikan, danyuh yang dihentak-hentakkan ke tanah, tirta dipercikkan dan sapu lidi digerak-gerakkan (seperti gerakan menyapu) di tanah. Demikianlah kami berkeliling pekarangan rumah mengusir bhuta kala.

Selanjutnya barulah kami bersiap-siap melaksanakan upacara pengrupukan, turut membawa obor, mengarak ogoh-ogoh banjar kami ke rute yang telah ditentukan.  Biasanya  setelah berkeliling, ogoh-ogoh diarak menuju catus pata desa. Di catus pata penonton sudah berkumpul dengan antusias menonton ogoh-ogoh, Suasana semakin semarak saat lagu ogoh-ogohnya Yan Bero mengalun. Semakin malam semakin semarak dan menyenangkan.

Pengenter acara, memandu ogoh-ogoh berputar mengelilingi catus pata sebanyak tiga kali. Baru bisa kembali ke banjar masing-masing. Ogoh-ogoh yang lain menunggu giliran dengan sabar dan tertib untuk berputar di catus pata desa. Biasanya setelah ogoh-ogoh diarak, ogoh-ogoh dibakar.  

Pembuatan ogoh-ogoh menghabiskan waktu kurang lebih sebulan. Anak-anak pun tak mau kalah. Mereka juga ikut membuat ogoh-ogoh.  Mereka sangat antusias turut serta meramaikan upacara pengrupukan.

Dulu kebanyakan ogoh- ogoh mengambil rupa raksasa. Namun sekarang lebih variatif. Bahkan pernah ada yang membuat ogoh-ogoh Spongebob Squarepants, Upin Ipin, dan lain-lain. Tokoh-tokoh kartun dan anime yang turut memeriahkan suasana pengrupukan ini membuat euforia dari kalangan anak-anak sangat besar.  Mereka turut berkreasi, merancang, membuat ogoh-ogoh dan mengarak ogoh -ogohnya.

Di beberapa sekolah, menjelang pengrupukan tiba, anak-anak TK merayakannya di sekolah dengan mengusung ogoh-ogoh mini yang disediakan sekolah dengan diiringi baleganjur yang juga dimainkan anak-anak. Mereka mengaraknya ke jalan di sekitar sekolah, lalu kembali ke sekolah. Meskipun sederhana, ini memberikan pengalaman yang amat mengesankan di hati anak-anak. 

Hingar bingar pangerupukan berlalu, tibalah Hari Raya Nyepi yang merupakan perayaan Tahun Baru Hindhu berdasarkan penanggalan/ kalender caka. Pada hari ini Umat Hindhu menyepi melaksanakan catur brata penyepian. Yang terdiri dari amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak berkarya/ bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), amati lelanguan (tidak menikmati hiburan). Perayaan Tahun Baru Caka ini dilaksanakan dengan menyepi, berpuasa, mulat sarira, bukan dengan kembang api namun dengan perjalanan sunyi ke dalam diri. Untuk menjadi diri yang baru, yang lebih baik lagi.

Namun terhitung  sudah dua kali sejak tahun 2020, kita merayakan rangkaian Hari Raya Nyepi seperti melasti dan  pengrupukan dalam kesunyian. Merayakan rangkaian nyepi yang dibalut pandemi.  Yang paling terasa adalah saat melasti, tawur kesanga dan pangrupukan. Mau tak mau kita mesti beradaptasi dengan situasi kondisi, menghindari kerumunan dan menjalankan protokol kesehatan agar situasi tak memburuk.

Hari raya di masa pandemi memang membuat ada yang hilang di dalam hati. Namun selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Hari-hari dengan membatasi sosialisasi dalam masyarakat, memungkinkan kita untuk  melakukan hal lain, perjalanan ke dalam diri yang tak pernah selesai dan tetap menumbuhkan rasa syukur, tetap berjuang dan bertahan dalam situasi seperti ini.

Harapan kita semoga situasi segera membaik, agar bisa melasti dan mengarak ogoh-ogoh kembali seperti dulu. Akhir kata Selamat Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1943. Mari  menyalakan obor dalam diri kita. Agar kita senantiasa eling,  memperbarui diri menjadi lebih baik lagi. [T]

Tags: baliHari Raya Nyepiogoh-ogoh
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Nostalgia | Jalan-jalan Bawa Gelatik Pernah Ngetrend di Singaraja Tahun 1950-an

Next Post

Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Rai Sri Artini

Rai Sri Artini

Tinggal di Dalung, Kuta Utara. Pernah menempuh pendidikan pascasarjana di Undiksha. Bisa ditemui di raisri_artini@yahoo.com

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Literasi Kritis | Kisah dari Sokola Institute

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co