25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 14, 2020
in Opini
Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Ledok-ledok Nusa Penida. Sumber foto: Wonderful Nusa Penida

Nusa Penida (Klungkung, Bali) memiliki kuliner khas bernama ledok-ledok. Sejenis bubur yang berbumbu—dengan berbagai campuran bahan dasar seperti jagung, ketela pohon, sayur-sayuran, kacangan-kacangan, dan kemangi. Dulu, makanan ini menjadi sajian populer di kalangan masyarakat biasa Nusa Penida (NP). Namun, seiring kemajuan pariwisata, ledok-ledok  “naik kasta” sekarang yakni menjadi hidangan para raja (baca: wisatawan).

Sekilas tentang Ledok-ledok

Prosesi naiknya ledok-ledok ke puncak lidah para raja (wisatawan) memang tergolong penuh liku. Pasalnya, ledok-ledok sempat mati suri selama kurang lebih 20 tahunan. Bagi saya, ledok-ledok mengalami popularitas (terakhir) pada tahun 1980-an, ketika saya masih kecil. Waktu itu, ada tiga makanan pokok masyarakat NP yang terkenal yaitu nasi sela (ketelah pohon), nasi kelanan (jagung) dan terakhir ledok-ledok.

Dari grafik konsumsi, nasi sela dan kelanan menduduki posisi lebih tinggi. Dalam kesehariannya, masyarakat lebih sering mengkonsumsi nasi sela atau kelanan. Sedangkan, ledok-ledok berada pada urutan bawah. Artinya, ledok-ledok lebih berperan sebagai selingan atau variasi menu makanan masyarakat NP.

Sebagai selingan, keberadaan ledok-ledok makin hari kian dilupakan. Puncaknya, tahun 1990-an, perekonomian masyarakat NP terutama di pesisir kian menunjukkan peningkatan atau kemajuan. Hal ini tidak lepas dari perkembangan budidaya rumput laut yang mengalami keemasan. Kemajuan ekonomi ini membuat gaya hidup masyarakat mengalami pergeseran termasuk soal selera makan.

Dari sinilah, cerita nasi beras mulai muncul. Awalnya, nasi beras dihidangkan hanya menjelang hari raya besar (misalnya Galungan dan Kuningan). Seiring membaiknya ekonomi masyarakat, nasi beras menjadi makanan sehari-hari oleh sebagian besar masyarakat NP. Hal ini diperkuat lagi oleh gengsi sosial. Nasi beras tidak hanya “menjajah lidah” masyarakat NP, tetapi menciptakan prestise sosial. Keluarga pengkonsumsi nasi beras (sehari-hari) seolah-olah mendapat pencintraan “kelas keluarga yang mampu”.

Perkembangan nasi beras kian meminggirkan keberadaan nasi sela dan nasi kelanan. Kian hari, jumlah keluarga pengkomsumsi nasi sela dan kelanan berkurang signifikan. Jumlah ini mungkin sangat kentara sejak tahun 1990-an dan puncaknya tahun 2000-an. Generasi kelahiran tahun 90-an dan terutama tahun 2000-an, lidahnya lebih akrab dengan nasi beras dibandingkan dengan nasi sela atau kelanan.

Lalu, bagaimana dengan ledok-ledok? Rentang tahun 90-an hingga awal 2000-an, ledok-ledok seolah-olah lenyap dari permukaan. Jangankan untuk membuat dan menyantapnya, menyisipkan obrolan dengan topik ledok-ledok saja masyarakat enggan (hampir tidak pernah).

Namun, perjalanan waktu tidak dapat ditebak. Sekitar tahun 2016, ketika pariwisata bertahta di NP, nasib baik menimpa ledok-ledok. Hal ini bermula ketika daerah pariwisata harus dikaitkan dengan local genius. Saya tidak tahu, siapa yang pertama kali memunculkan “selera” bahwa suatu daerah pariwisata mesti memiliki keunikan (local genius) tersendiri.

Setahu saya, pola ini menjadi latah dalam dunia marketing pariwisata. Pola unik (local genius) ini sudah menjadi wacana besar dan sangat kuat menundukkan indera para pelaku dan penikmat pariwisata. Karena itu, masyarakat NP pun takluk memunculkan ciri kelokalan (local genius) daerahnya. Mereka “kepupungan” untuk menggali local genius yang dimilikinya—karena ciri kelokalan ini seolah-olah menjadi kewajiban yang mesti ditonjolkan sebagai kotak-kotak (brand) untuk membedakan dengan daerah pariwisata lainnya.

Di antara sekian ciri lokal yang dimiliki, ledok-ledok mampu mendapatkan perhatian dari para pelaku pariwisata di NP. Ledok-ledok dianggap sebagai makanan khas milik masyarakat NP. Ledok-ledok masuk ring promosi dan berhasil menaklukkan lidah para raja (wisatawan).

Selanjutnya, keberadaan ledok-ledok kian melejit mengalahkan nasi sela dan kelanan. Namun, keberadaanya kini tidak lagi meladeni lidahmasyarakat biasa. Ledok-ledok hadir sebagai hidangan bagi orang berkelas dan berduit alias raja (wisatawan). Karena itu, para raja/ wisatawan bebas dapat menikmati ledok-ledok pada rumah makan tertentu (yang menyediakan) di NP. Apa yang istimewa dari bubur ledok-ledok?

Keistimewaan Ledok-ledok

Jika melihat tampilan fisik ledok-ledok, barangkali tidak ada yang terlalu istimewa. Ledok-ledok tampak kuat mencerminkan makanan kampung. Jauh dari kesan makanan yang modern atau metropolitan. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan latar belakang sosial-kultural yang melahirkannya, ledok-ledok mungkin dipandang memiliki beberapa keistimewaan.

Pertama, ledok-ledok sebagai representasi dari hasil bumi NP. Jagung, ketela pohon, kacangan-kacangan, sayur-sayuran dan kemangi merupakan tanaman khas dari ladang di NP. Semua bahan dari sumber ladang ini diolah (dicampur) dalam satu tempat (panci) plus campuran bumbu. Produk olahan campuran inilah yang disebut ledok-ledok.

Jadi, tidak ada yang kebetulan dari produk ledok-ledok ini. Tampaknya, ada pesan moral yang hendak disampaikan oleh pendahulu (leluhur) kita dari makanan ledok-ledok. Dari aspek bahan, setidaknya leluhur NP hendak mengajarkan kepada generasinya untuk membiasakan diri bersyukur dengan lingkungan alamnya, menguatkan kelokalan cita rasa dan mencintai tanah kelahiran.

Sementara itu, pada generasi luar NP, ledok-ledok memiliki fungsi tambahan yaitu sebagai referensi atau “semacam museum” hasil bumi di tanah Ki Dukuh Jumpungan. Ketika wisatawan menikmati kelezatan ledok-ledok, mereka sesungguhnya juga menikmati “petualangan pengetahuan gratis” tentang hasil bumi di NP. Jadi, ledok-ledok dapat memenuhi dua rasa sekaligus yaitu rasa lapar (perut) wisatawan dan rasa lapar pengetahuan tentang tanaman ladang (hasil bumi) NP.

Kedua, ledok-ledok dapat mengakomodir kebutuhan nutrisi. Artinya, di dalam satu makanan ledok-ledok kita mendapatkan beberapa nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Misalnya, kandungan karbohidrat sebagai sumber tenaga terdapat pada jagung dan ketela pohon. Pada sayuran, kita mendapatkan potasium, asam folat, serat makanan, dan vitamin. Sementara itu, kacang-kacangan kaya akan kalsium, sumber protein, kalium, antioksidan dan sumber vitamin E (blog.sayurbox.com).

Di samping dibutuhkan tubuh, bahan ledok-ledok tergolong baik untuk kesehatan. Contohnya, jagung dan ketela pohon. Berdasarkan tabel nilai Indeks Glikemik (IG) dari Harvard Medical School, per 150 gram nasi putih biasa memiliki nilai IG 72, kentang 82 dan jagung hanya 48. Sementara itu, per 100 gram singkong hanya memiliki nilai IG 55. IG disebut tinggi jika berada di atas angka 70, sedang berada pada kisaran 56-69, dan rendah jika berada di bawah 55 (https://www.pioneer.com/).

Secara komposisi bahan, ledok-ledok efektif memenuhi kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Coba bayangkan? Satu makanan dapat memenuhi nutrisi yang sangat kompleks. Mungkin jarang kita temui pada makanan yang lain. Di tambah lagi, bahan-bahan itu masih bersifat alami. Tidak terkontaminasi dengan zat-zat yang berbau pestisida, karena setahu saya tidak ada aktivitas penyemprotan pestisida terhadap tanaman ladang di NP.

Semua bahah ledok-ledok sangat aman bagi tubuh. Selain nihil dari pestisida, kandungan bahannya juga baik untuk menjaga kesehatan lebih panjang. Misalnya, penggunaan jagung dan ketela pohon aman bagi penderita diabetes karena IGnya cukup rendah.

Ketiga, ledok-ledok merupakan seni kolaboratif dalam dunia kuliner. Menggabungkan berbagai bahan menjadi satu masakan, bukan perkara mudah. Dibutuhkan skill lebih. Tidak cukup bermodalkan skill masak saja, tetapi juga seni. Produk ledok-ledok membuktikan bahwa betapa leluhur NP juga seorang juru masak dan sekaligus “seniman masakan” yang tak boleh diremehkan.  

Keempat, ledok-ledok dapat dikatakan sebagai masakan modern (canggih) pada zamannya. Sebab, jarang ada masakan zaman dulu yang mampu mengkolaborasikan berbagai bahan makanan menjadi satu. Padahal, era sekarang model masakan ini mungkin sedang menjadi perhatian serius, apalagi di negara maju. Masyarakat modern pasti berpikiran bahwa sebuah masakan mesti bersifat praktis, efektif (mengandung berbagai nutrisi), bahannya alami dan tidak mengandung campuran lain yang membahayakan kesehatan. Saya pikir ledok-ledok mendekati standar tersebut.

Dengan keistimewaan itu, tidak salah jika ledok-ledok cepat mendapat panggung lebih tinggi—dari hidangan rakyat biasa menjadi sajian bagi kalangan raja modern (para wisatawan). Fenomena ini pantas mendapat apresiasi. Setelah tenggelam puluhan tahun, ledok-ledok kembali menunjukkan eksistensinya di jagat kuliner.

Meskipun tidak sehebat makanan modern, setidaknya ledok-ledok mencuat kembali ke permukaan. Mungkin pada tahap eksis saja, kita pantas bersyukur—sebab ledok-ledok merupakan kuliner khas dan menjadi catatan serta dokumentasi penting tentang hasil bumi. Catatan penting betapa geografi NP mampu menyediakan nutrisi kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melangsungkan kehidupan.

Sayangnya, eksistensi ledok-ledok (sekarang) seperti berada pada situasi paradoks. Momen pariwisata membangkitkan dan melebarkan ruang popularitas ledok-ledok—meskipun hanya di tingkat pengunjung (luar daerah). Sedangkan, penduduk lokal justru makin berjarak dengan cita rasa ledok-ledok sekarang. 

Di sisi lain, pariwisata juga kian mempersempit ruang agraris di NP. Lahan pariwisata semakin melebar, sedangkan lahan pertanian kian terdesak. Ke depan, tentu akan bermasalah dengan penyediaan bahan ledok-ledok. Belum lagi, kini generasi petani sudah memasuki usia rapuh.

Tentu persoalan tersebut sudah dipikirkan terutama oleh pelaku bisnis kuliner di NP. Bahkan, mereka mungkin sudah menemukan solusi visioner atas masalah ini. Kalau tidak, sangat mungkin suatu saat nanti bahan ledok-ledok akan didatangkan dari luar daerah.

Jika terjadi hal seperti ini, maka ledok-ledok hanya menjalankan fungsi sebagai “sesuatu” yang mengenyangkan rasa lapar perut wisatawan, memuaskan hasrat pencintraan wisatawan dan tentu saja memuaskan keuntungan dari para pebisnis ledok-ledok. Di sisi lain, ledok-ledok pasti akan kehilangan nilai historis dan edukatifnya.

Dalam konteks inilah, saya mengatakan bahwa ledok-ledok akan mengalami kelahiran kedua. Lahir sebagai “ledok-ledok imitasi” untuk menjadi alat pemuas, pencintraan, tiruan ikonis dan pemuas keuntungan pelaku pariwisata.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Zaman Beda, Air Beda

Next Post

Serunya Galungan Kita Dulu

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Serunya Galungan Kita Dulu

Serunya Galungan Kita Dulu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co