23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

I Ketut Serawan by I Ketut Serawan
September 14, 2020
in Opini
Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Ledok-ledok Nusa Penida. Sumber foto: Wonderful Nusa Penida

Nusa Penida (Klungkung, Bali) memiliki kuliner khas bernama ledok-ledok. Sejenis bubur yang berbumbu—dengan berbagai campuran bahan dasar seperti jagung, ketela pohon, sayur-sayuran, kacangan-kacangan, dan kemangi. Dulu, makanan ini menjadi sajian populer di kalangan masyarakat biasa Nusa Penida (NP). Namun, seiring kemajuan pariwisata, ledok-ledok  “naik kasta” sekarang yakni menjadi hidangan para raja (baca: wisatawan).

Sekilas tentang Ledok-ledok

Prosesi naiknya ledok-ledok ke puncak lidah para raja (wisatawan) memang tergolong penuh liku. Pasalnya, ledok-ledok sempat mati suri selama kurang lebih 20 tahunan. Bagi saya, ledok-ledok mengalami popularitas (terakhir) pada tahun 1980-an, ketika saya masih kecil. Waktu itu, ada tiga makanan pokok masyarakat NP yang terkenal yaitu nasi sela (ketelah pohon), nasi kelanan (jagung) dan terakhir ledok-ledok.

Dari grafik konsumsi, nasi sela dan kelanan menduduki posisi lebih tinggi. Dalam kesehariannya, masyarakat lebih sering mengkonsumsi nasi sela atau kelanan. Sedangkan, ledok-ledok berada pada urutan bawah. Artinya, ledok-ledok lebih berperan sebagai selingan atau variasi menu makanan masyarakat NP.

Sebagai selingan, keberadaan ledok-ledok makin hari kian dilupakan. Puncaknya, tahun 1990-an, perekonomian masyarakat NP terutama di pesisir kian menunjukkan peningkatan atau kemajuan. Hal ini tidak lepas dari perkembangan budidaya rumput laut yang mengalami keemasan. Kemajuan ekonomi ini membuat gaya hidup masyarakat mengalami pergeseran termasuk soal selera makan.

Dari sinilah, cerita nasi beras mulai muncul. Awalnya, nasi beras dihidangkan hanya menjelang hari raya besar (misalnya Galungan dan Kuningan). Seiring membaiknya ekonomi masyarakat, nasi beras menjadi makanan sehari-hari oleh sebagian besar masyarakat NP. Hal ini diperkuat lagi oleh gengsi sosial. Nasi beras tidak hanya “menjajah lidah” masyarakat NP, tetapi menciptakan prestise sosial. Keluarga pengkonsumsi nasi beras (sehari-hari) seolah-olah mendapat pencintraan “kelas keluarga yang mampu”.

Perkembangan nasi beras kian meminggirkan keberadaan nasi sela dan nasi kelanan. Kian hari, jumlah keluarga pengkomsumsi nasi sela dan kelanan berkurang signifikan. Jumlah ini mungkin sangat kentara sejak tahun 1990-an dan puncaknya tahun 2000-an. Generasi kelahiran tahun 90-an dan terutama tahun 2000-an, lidahnya lebih akrab dengan nasi beras dibandingkan dengan nasi sela atau kelanan.

Lalu, bagaimana dengan ledok-ledok? Rentang tahun 90-an hingga awal 2000-an, ledok-ledok seolah-olah lenyap dari permukaan. Jangankan untuk membuat dan menyantapnya, menyisipkan obrolan dengan topik ledok-ledok saja masyarakat enggan (hampir tidak pernah).

Namun, perjalanan waktu tidak dapat ditebak. Sekitar tahun 2016, ketika pariwisata bertahta di NP, nasib baik menimpa ledok-ledok. Hal ini bermula ketika daerah pariwisata harus dikaitkan dengan local genius. Saya tidak tahu, siapa yang pertama kali memunculkan “selera” bahwa suatu daerah pariwisata mesti memiliki keunikan (local genius) tersendiri.

Setahu saya, pola ini menjadi latah dalam dunia marketing pariwisata. Pola unik (local genius) ini sudah menjadi wacana besar dan sangat kuat menundukkan indera para pelaku dan penikmat pariwisata. Karena itu, masyarakat NP pun takluk memunculkan ciri kelokalan (local genius) daerahnya. Mereka “kepupungan” untuk menggali local genius yang dimilikinya—karena ciri kelokalan ini seolah-olah menjadi kewajiban yang mesti ditonjolkan sebagai kotak-kotak (brand) untuk membedakan dengan daerah pariwisata lainnya.

Di antara sekian ciri lokal yang dimiliki, ledok-ledok mampu mendapatkan perhatian dari para pelaku pariwisata di NP. Ledok-ledok dianggap sebagai makanan khas milik masyarakat NP. Ledok-ledok masuk ring promosi dan berhasil menaklukkan lidah para raja (wisatawan).

Selanjutnya, keberadaan ledok-ledok kian melejit mengalahkan nasi sela dan kelanan. Namun, keberadaanya kini tidak lagi meladeni lidahmasyarakat biasa. Ledok-ledok hadir sebagai hidangan bagi orang berkelas dan berduit alias raja (wisatawan). Karena itu, para raja/ wisatawan bebas dapat menikmati ledok-ledok pada rumah makan tertentu (yang menyediakan) di NP. Apa yang istimewa dari bubur ledok-ledok?

Keistimewaan Ledok-ledok

Jika melihat tampilan fisik ledok-ledok, barangkali tidak ada yang terlalu istimewa. Ledok-ledok tampak kuat mencerminkan makanan kampung. Jauh dari kesan makanan yang modern atau metropolitan. Akan tetapi, jika dikaitkan dengan latar belakang sosial-kultural yang melahirkannya, ledok-ledok mungkin dipandang memiliki beberapa keistimewaan.

Pertama, ledok-ledok sebagai representasi dari hasil bumi NP. Jagung, ketela pohon, kacangan-kacangan, sayur-sayuran dan kemangi merupakan tanaman khas dari ladang di NP. Semua bahan dari sumber ladang ini diolah (dicampur) dalam satu tempat (panci) plus campuran bumbu. Produk olahan campuran inilah yang disebut ledok-ledok.

Jadi, tidak ada yang kebetulan dari produk ledok-ledok ini. Tampaknya, ada pesan moral yang hendak disampaikan oleh pendahulu (leluhur) kita dari makanan ledok-ledok. Dari aspek bahan, setidaknya leluhur NP hendak mengajarkan kepada generasinya untuk membiasakan diri bersyukur dengan lingkungan alamnya, menguatkan kelokalan cita rasa dan mencintai tanah kelahiran.

Sementara itu, pada generasi luar NP, ledok-ledok memiliki fungsi tambahan yaitu sebagai referensi atau “semacam museum” hasil bumi di tanah Ki Dukuh Jumpungan. Ketika wisatawan menikmati kelezatan ledok-ledok, mereka sesungguhnya juga menikmati “petualangan pengetahuan gratis” tentang hasil bumi di NP. Jadi, ledok-ledok dapat memenuhi dua rasa sekaligus yaitu rasa lapar (perut) wisatawan dan rasa lapar pengetahuan tentang tanaman ladang (hasil bumi) NP.

Kedua, ledok-ledok dapat mengakomodir kebutuhan nutrisi. Artinya, di dalam satu makanan ledok-ledok kita mendapatkan beberapa nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Misalnya, kandungan karbohidrat sebagai sumber tenaga terdapat pada jagung dan ketela pohon. Pada sayuran, kita mendapatkan potasium, asam folat, serat makanan, dan vitamin. Sementara itu, kacang-kacangan kaya akan kalsium, sumber protein, kalium, antioksidan dan sumber vitamin E (blog.sayurbox.com).

Di samping dibutuhkan tubuh, bahan ledok-ledok tergolong baik untuk kesehatan. Contohnya, jagung dan ketela pohon. Berdasarkan tabel nilai Indeks Glikemik (IG) dari Harvard Medical School, per 150 gram nasi putih biasa memiliki nilai IG 72, kentang 82 dan jagung hanya 48. Sementara itu, per 100 gram singkong hanya memiliki nilai IG 55. IG disebut tinggi jika berada di atas angka 70, sedang berada pada kisaran 56-69, dan rendah jika berada di bawah 55 (https://www.pioneer.com/).

Secara komposisi bahan, ledok-ledok efektif memenuhi kandungan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Coba bayangkan? Satu makanan dapat memenuhi nutrisi yang sangat kompleks. Mungkin jarang kita temui pada makanan yang lain. Di tambah lagi, bahan-bahan itu masih bersifat alami. Tidak terkontaminasi dengan zat-zat yang berbau pestisida, karena setahu saya tidak ada aktivitas penyemprotan pestisida terhadap tanaman ladang di NP.

Semua bahah ledok-ledok sangat aman bagi tubuh. Selain nihil dari pestisida, kandungan bahannya juga baik untuk menjaga kesehatan lebih panjang. Misalnya, penggunaan jagung dan ketela pohon aman bagi penderita diabetes karena IGnya cukup rendah.

Ketiga, ledok-ledok merupakan seni kolaboratif dalam dunia kuliner. Menggabungkan berbagai bahan menjadi satu masakan, bukan perkara mudah. Dibutuhkan skill lebih. Tidak cukup bermodalkan skill masak saja, tetapi juga seni. Produk ledok-ledok membuktikan bahwa betapa leluhur NP juga seorang juru masak dan sekaligus “seniman masakan” yang tak boleh diremehkan.  

Keempat, ledok-ledok dapat dikatakan sebagai masakan modern (canggih) pada zamannya. Sebab, jarang ada masakan zaman dulu yang mampu mengkolaborasikan berbagai bahan makanan menjadi satu. Padahal, era sekarang model masakan ini mungkin sedang menjadi perhatian serius, apalagi di negara maju. Masyarakat modern pasti berpikiran bahwa sebuah masakan mesti bersifat praktis, efektif (mengandung berbagai nutrisi), bahannya alami dan tidak mengandung campuran lain yang membahayakan kesehatan. Saya pikir ledok-ledok mendekati standar tersebut.

Dengan keistimewaan itu, tidak salah jika ledok-ledok cepat mendapat panggung lebih tinggi—dari hidangan rakyat biasa menjadi sajian bagi kalangan raja modern (para wisatawan). Fenomena ini pantas mendapat apresiasi. Setelah tenggelam puluhan tahun, ledok-ledok kembali menunjukkan eksistensinya di jagat kuliner.

Meskipun tidak sehebat makanan modern, setidaknya ledok-ledok mencuat kembali ke permukaan. Mungkin pada tahap eksis saja, kita pantas bersyukur—sebab ledok-ledok merupakan kuliner khas dan menjadi catatan serta dokumentasi penting tentang hasil bumi. Catatan penting betapa geografi NP mampu menyediakan nutrisi kompleks yang dibutuhkan oleh tubuh untuk melangsungkan kehidupan.

Sayangnya, eksistensi ledok-ledok (sekarang) seperti berada pada situasi paradoks. Momen pariwisata membangkitkan dan melebarkan ruang popularitas ledok-ledok—meskipun hanya di tingkat pengunjung (luar daerah). Sedangkan, penduduk lokal justru makin berjarak dengan cita rasa ledok-ledok sekarang. 

Di sisi lain, pariwisata juga kian mempersempit ruang agraris di NP. Lahan pariwisata semakin melebar, sedangkan lahan pertanian kian terdesak. Ke depan, tentu akan bermasalah dengan penyediaan bahan ledok-ledok. Belum lagi, kini generasi petani sudah memasuki usia rapuh.

Tentu persoalan tersebut sudah dipikirkan terutama oleh pelaku bisnis kuliner di NP. Bahkan, mereka mungkin sudah menemukan solusi visioner atas masalah ini. Kalau tidak, sangat mungkin suatu saat nanti bahan ledok-ledok akan didatangkan dari luar daerah.

Jika terjadi hal seperti ini, maka ledok-ledok hanya menjalankan fungsi sebagai “sesuatu” yang mengenyangkan rasa lapar perut wisatawan, memuaskan hasrat pencintraan wisatawan dan tentu saja memuaskan keuntungan dari para pebisnis ledok-ledok. Di sisi lain, ledok-ledok pasti akan kehilangan nilai historis dan edukatifnya.

Dalam konteks inilah, saya mengatakan bahwa ledok-ledok akan mengalami kelahiran kedua. Lahir sebagai “ledok-ledok imitasi” untuk menjadi alat pemuas, pencintraan, tiruan ikonis dan pemuas keuntungan pelaku pariwisata.

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Zaman Beda, Air Beda

Next Post

Serunya Galungan Kita Dulu

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan

I Ketut Serawan, S.Pd. adalah guru bahasa dan sastra Indonesia di SMP Cipta Dharma Denpasar. Lahir pada tanggal 15 April 1979 di Desa Sakti, Kecamatan Nusa Penida, Kabupaten Klungkung. Pendidikan SD dan SMP di Nusa Penida., sedangkan SMA di Semarapura (SMAN 1 Semarapura, tamat tahun 1998). Kemudian, melanjutkan kuliah ke STIKP Singaraja jurusan Prodi Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah (selesai tahun 2003). Saat ini tinggal di Batubulan, Gianyar

Related Posts

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails
Next Post
Serunya Galungan Kita Dulu

Serunya Galungan Kita Dulu

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co