24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Serunya Galungan Kita Dulu

Nyoman Sukaya Sukawati by Nyoman Sukaya Sukawati
September 17, 2020
in Esai
Serunya Galungan Kita Dulu

Penjor Galungan

Hari Raya Galungan kita dulu selalu jadi hari yang menggembirakan. Hari yang kita tunggu-tunggu. Bahkan hati kita sudah merasa berseri-seri sejak beberapa hari menjelang Galungan tiba.

Pada sore hari di waktu Penyajaan,  dengan senang hati kita membersihkan lingkungan, memotong rumput, membersihkan selokan, menyapu sampah dan kotoran sapi dari jalanan.

Dulu kita tumbuh bersama pohon-pohon besar di telajakan rumah. Ada bunut, cempaka, suar, mangga, kutuh, timbul, jaka, sukun, canging, nangka, sentul, juga semak-semak seperti beluntas, base-base, pucuk, pulet-pulet, panggal buaya, dan sebagainya. Di perempatan banjar ada pohon waru. Nah, sampah daun-daun kering dari pohon-pohon itulah kita sapu, kumpulkan, dan bakar. Bersih-bersih lingkungan adalah bagian dari kegembiraan kita menyambut Galungan.

Kita bergotong royong di sekitar rumah masing-masing. Saat itulah jalanan akan diselimuti asap pembakaran sampah. Asap mengepul dan melayang-layang memenuhi jalanan. Suasana senja jadi remang-remang oleh asap dan terlihat seperti lukisan pemandangan desa berkabut dengan bias-bias matahari senja menembus sela-sela pepohonan. Angin pun berbau asap.

Di tengah jalan berasap itu, terlihat samar-samar ayah-ayah kita, seperti Nang Retig, Nang Lama, Nang Ruja, Pekak Rangun, Kaki Kiyer lalu-lalang membawa bambu untuk penjor. Kemudian Nang Geri dari Puaya, datang egoh-egoh membawa blakas dan ambu menuju rumah Pak Suraja. Dari arah utara muncul Pak Pun naik motor mosquito, menerobos asap dan menikung di perempatan banjar terus ngibrit ke arah pasar, kemudian hanya suara sepeda motornya terdengar samar-samar menghilang di kejauhan terbawa angin, trett…tet..tet… ces…ces… treettt….

Habis bersih-bersih kita mandi ramai-ramai di sungai, pakai sabun taluh. Sebelumnya, kita potong rambut di rumah Kaki Lancah. Kaki Lancah punya alat cukur lengkap. Kita berterima kasih kepada Paktut Nuraga dan Sumitra yang mencukur kita. Rata-rata cukur perut. Tapi gunting dan bergasnya tumpul sehingga rambut rasanya seperti dicabut-cabut sewaktu dipotong.

Kita ikut bangun subuh di Hari Penampahan, melihat ayah-ayah kita menyembelih babi, kemudian membantu ngelawar di dapur dan diberi tugas memarut kelapa atau memotong nangka.

Pas Galungan, kita mengenakan baju baru dan memakai senteng. Ibu menemani kita sembahyang di sanggah, makan be balung dan tum. Suasana Galungan sangat terasa.  Rumah dan halaman dipenuhi banten dan canang. Udara pagi diliputi aroma sambuk terbakar dari api takep, juga miik-miikan, wangi dupa dan kemenyan.

Kita akan pergi ke balai banjar. Bertemu teman-teman dengan sepeda masing-masing.  Di garpu depan dan belakang sepeda, kita ikatkan balon dengan menyentuhkannya pada ruji. Saat sepeda dijalankan maka ruji-ruji yang beputar akan menggesek balon sehingga mengeluarkan bunyi berisik, seakan-akan suara sepeda motor.

Kita keliling desa naik sepeda dengan suara bising balon. Maji naik sepeda dengan rem kaki, sedangkan Dwipa, di bagian belakang sepedanya dia pasangi antena yang di ujungnya ada lampu kecil kenyit-kenyit. Tut Dala datang dengan sepeda balap. Gaya sekali dia.

Ada yang pakai sepeda muani atau onthel. Untuk mengendarainya, kita harus menyerongkan badan sambil makilad. Sedangkan yang perempuan, seperti Luh Sri, Demas, Man Gek dan lainnya naik sepede jengki yang ujung setangnya berhiaskan rumbai-rumbai dan boncengannya ada kasurnya.

Merk sepeda terkenal pada masa itu antara lain Releigh, Fongers, Gazelle, Hartog, juga Sim King. Sepeda saya merknya Arjuna, made in India. Rujinya karatan, seluruh catnya luntur sehingga terlihat seperti saang, remnya putus dan tak ada dongkraknya, rantainya berbunyi kriot-kriot. Karena sepedanya besar dan tinggi, saya harus ngelandok atau menggelantung di stang saat mengendarainya.

Mereka yang lebih tua, seperti Bli Lebih, Runding, Nangnik Nendra, Nangnik Sarna, Bli Rinda, Yan Karang, Bli Nganduh dan lainnya main domino di bale daja banjar. Meyan Taman jualan tahu dan sayur kangkung di samping bale kulkul.

Selesai maturan, ibu-ibu kita juga kumpul di balai banjar. Mereka maceki di bale delod. Ada empat-lima pacek cekian. Pemainnya di antaranya Dadong Bontok, Dongkoh, Mengah Sukari, Men Rindi, Dadong Klepon, Meyan Sempok, Dadong Saprig, Meman Musi, Meman Bunter, Metut Gatri, Wetu Baca. Bila sudah agak sore, main cekinya pindah ke pinggir jalan dengan menggelar tikar di bawah pohon.

Itulah satu-satunya waktu bebas bagi ibu-ibu kita setelah sebelumnya sepanjang hari, sepanjang bulan, tenggelam dengan pekerjaan rumah tangga atau berjualan di pasar. Maceki di Hari Raya Galungan adalah kegembiraan bagi mereka. Itu hari sepenuhnya milik ibu. Para suami dan anak-anak tidak akan memasalahkan mereka maceki karena di rumah sudah tersedia makanan. Kalau anak-anak lapar mereka tinggal ambil di dapur tanpa perlu mengganggu ibu yang maceki. Tapi belakangan maceki di Hari Raya Galungan dilarang pemerintah karena alasan moral dan agama.

Dulu, maceki adalah bagian hiburan berhari raya. Ibu-ibu dapat merasakan sedikit kegembiraan. Taruhannya juga kecil-kecilan karena tujuannya memang bukan judi tapi sekadar bersenang-senang. Kalau dirasakan dengan hati agaknya kita bisa menilai maceki di Galungan itu adalah kegiatan yang indah, bukan sesuatu yang buruk. Bahkan mungkin itu bersifat spiritual. Sesuatu yang dilakukan dengan suka cita, enjoi, asyik, sambil makedekan, tanpa dorongan nafsu atau emosi berlebih, serta dapat melegakan kesumpekan, tentu dapat membuat pikiran jadi indah dan mencerahkan secara spiritual, hehe.

Namun, sepertinya tidak akan pernah ada lagi cekian di Hari Raya Galungan untuk ibu-ibu. Orang Bali sekarang sangat-sangat tinggi pengetahuan agamanya, tidak sesederhana dulu. Sekarang banyak yang membaca kitab suci dan lontar, rajin bertrisandya, tekun sembahyang dan ngunggahang daksina, hafal nama-nama dewa dan betara, gemar berdebat tentang Tuhan atau Krishna, sangat mencintai gelang benang tridatu atau nasi wong-wongan. Mereka tentu menolak cekian karena tidak sesuai buku suci, dan maceki adalah judi. Mereka akan mengatakan cekian dapat menodai spirit Galungan yang suci.

Semakin siang, jalan di depan balai banjar kian ramai oleh orang lewat. Semua pakai baju baru. Banyak yang tidak kita kenal. Mereka datang jalan kaki dari desa maupun banjar lain, menuju jaba gria. Di jaba gria adalah pusat keramaian saat Galungan, yang berlangsung selama tiga hari, sampai Pahing Galungan. Di sini ada wahana ayunan jantera atau ayunan tradisional sebagai hiburan utama.

Ayunan ini menggunakan kayu besar sebagai gandar yang bisa berputar, dan masing-masing ujungnya disangga tiang kokoh. Gandar ini memikul sejumlah lengan tempat menggantungkan kursi ayunan. Ada delapan kursi banyaknya. Setiap kursi bisa menampung dua sampai tiga orang.

Perlu petugas bertenaga besar dengan ketangkasan tinggi untuk memutar ayunan. Satu tim pemutar ayunan berjumlah empat orang. Mereka akan secara bergantian memutar ayunan ke depan dan kemudian ke belakang. Sewaktu bekerja, satu tangan mereka akan berpegangan pada tiang, lalu dengan posisi tubuh menyerong, mereka menekan kuat-kuat lengan ayunan secara bergantian dengan kaki. Sedangkan tangan satunya menarik lengan ayunan di depannya. Proses itu dilakukan dalam irama yang tepat dan serempak sampai ayunan berputar seperti jantera dengan kecepatan sesuai yang diinginkan. Ketika sedang beraksi, para pemutar ayunan itu terlihat seperti berjalan di udara, dan tentu saja membuat mereka peluh pidit.

Mereka yang mau naik ayunan harus bayar. Durasi setiap putaran diukur dengan timer dari batok kelapa yang dilubangi bagian bawahnya dan ditaruh di dalam paso berisi air. Kalau batoknya sudah penuh air dan tenggelam berarti waktu putaran ayunan sudah habis.

Setiap Galungan, suasana di jaba gria pasti ramai sekali. Selain ayunan, di sini banyak dagang mainan menjual ngongek-ngongekan, kembang api, tikusan, kemplongan, pistol air, mobil-mobilan kayu, dan bermacam mainan jenis baru. Ada banyak dagang makanan, juga permainan jenis kocokan, plingseran, cabeki dan kobokan. Keramaian di sini berlangsung sampai sore.

Ada Barong Nongkling ngelawang. Mereka masuk ke rumah-rumah dan memukul-mukul pohon-pohon di rumah kita dengan tongkat sebagai doa agar pohon tersebut tetap subur dan berbuah banyak. Kemudian tokoh Tualen bertugas meminta uang pada tuan rumah dengan gaya bertembang “titiang nunasss…” Ada juga Barong Bangkal ngelawang dengan atraksi mengejar anak-anak.

Balai banjar merupakan tempat kumpul kita semua, mulai dari anak-anak hingga orang tua, dengan permainan masing-masing yang asyik di tengah hari raya. Setiap Galungan suasana di balai banjar pasti ramai dan seru. Di sini kita mengumpulkan banyak kenangan indah yang akan terus hidup dalam hati. Galungan sepenuhnya jadi milik kita dan kita merayakannya dengan gembira.

Pada malam hari kita menggantungkan lampu sentir atau lampu templek di setiap penjor. Lampu-lampu yang berjejer di depan rumah di sepanjang jalan jadi atraksi mengesankan kala itu selain dapat memberi penerangan yang cukup bagi mereka yang bepergian merayakan Galungan di malam hari, seperti pergi nonton joged, wayang kulit atau hiburan lain di beberapa tempat. Lampu-lampu di penjor itu nantinya akan mati dengan sendirinya ketika minyaknya habis. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Next Post

Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Nyoman Sukaya Sukawati

Nyoman Sukaya Sukawati

lahir 9 Februari 1960. Ia mulai aktif menulis puisi sejak 1980-an di rubrik sastra surat kabar Bali Post Minggu asuhan Umbu Landu Paranggi. Dia pernah bergiat di dunia kewartawanan. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat bantuan program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Magnet – [Cerpen Putri Handayani]

Magnet - [Cerpen Putri Handayani]

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co