3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Beda, Air Beda

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 14, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

“Sore adalah waktu untuk berlari, menyehatkan tubuh dan menyegarkan kepala!” Kata-kata yang Grudug sampaikan pada orang tuanya itu sesungguhnya alasan nomor kedua, ketiga, atau bahkan keempat. Alasan pertama yang sangat sulit ia katakan adalah menghindari pekerjaan rumah. Waktu-waktu senggang itu biasanya selalu membuat ibu atau ayahnya tergelitik untuk melempar kata, “kerjakan ini!” atau “kerjakan itu!” Ia bukanlah orang malas, tetapi belakangan, terlalu sering mengulang kegiatan yang sama membuatnya bosan.

Setelah lama mengumpulkan alasan untuk menghindar, baru ia berpikir, “Karena tubuhku semakin subur, sedikit lari-lari kecil akan mengurangi lemak ini. Setidaknya enak dipandang orang,” pikirnya dalam hati sambil memijat perutnya. Sungguh kebetulan, sebelum lama di rumah, dana desa yang jumlahnya tak sedikit itu digunakan untuk membuat jalan sepanjang bibir sungai kecil yang mengaliri sawah.

Jalan beton itu selesai, sepeda motor mulai lalu lalang ke sana, orang-orang jadi rajin ke sawah, kebanyakan bukan untuk mengurus sawah, tetapi nongkrong di pinggir sungai itu. Sawah menjadi tempat bertemu tetangga atau menjadi tempat pacaran anak-anak ingusan. Bayangkan saja, ketika PSBB digelar, Pecalang sampai membuat posko di seputaran jalan itu. Tentu alasannya karena tempat itu tak pernah sepi, bahkan sampai malam. Setelah ada slogan Tentara Masuk Desa, pandemi mendorong munculnya slogan baru, “Pecalang Masuk Sawah.” Tapi, kini PSBB lebih longgar, Grudug jadi bisa olah raga di sekitar sana.

Sawah menjadi tempat seperti lapangan yang berbentuk memanjang mengikuti sungai. Sepanjang jalan ada saja orang yang berkumpul. Entah untuk ngobrol atau lain sebagainya. Hal inilah yang sangat ia senangi. Ia akan bertemu orang untuk basa-basi. Sebagai mahasiswa yang belum tamat, ia tidak merasa malu, justru keadaan ini menguntungkannya untuk menyebar alibi kenapa ia tidak tamat.

Persiapan yang menurutnya matang sesungguhnya betul-betul tidak matang. Bayangkan saja, tiga puluh menit sebelum lari, ia harus mandi terlebih dahulu, menggunakan sedikit parfum, dan memilih sepatu yang menurutnya paling tepat. Dalam hati ia berpikir, “Setidaknya aku rapi, bersih, jauh dari kesan melarat, jauh dari kesan bodoh.” dasar naif. Ia memandang rapi jauh dari kesan bodoh. Padahal kesan itu tetap hadir. Cobalah saudara ikuti isi hatinya, ia benar-benar naif, lugu.

Seandainya saudara melihat apa yang dilakukannya pada saat lari, mungkin saudara akan tertawa cekikikan. Ketika ia berlari, hal yang paling penting justru ia tinggalkan. Air minum dan uang. Sementara jaraknya yang sudah jauh dari rumah membuat kemungkinan untuk balik tidak diutamakan.

“Kalau balik, bisa-bisa aku pingsan sampai rumah,” pikirnya.

Sepanjang jalan baru itu, sesungguhnya ada banyak pedagang. Ada pedagang dengan gubuk sementara, bahkan di dekat sana ada minimarket ala desa yang dimiliki oleh tetangganya sendiri. Tetapi, dia berpikir dengan penampilan seperti itu akan sangat memalukan kalau berhutang.

“Rambut klimis, bau parfum merebak, masak berhutang?” gumamnya lagi.

Siapa suruh berpenampilan seperti itu? Siapa suruh ingin dipandang pintar hanya gara-gara bersih? Padahal di kampungnya bukanlah suatu aib bila berhutang barang sebentar saja. Jangankan sebentar, seminggu pun tidak apa-apa sebab orang-orang kampung sudah saling kenal. Dan para pedagang itu hampir seluruhnya adalah tetangga Grudug yang latah berdagang semenjak jalan satu setengah meter itu rampung.

Di tengah jalan, ia benar-benar haus. Mungkin karena menghindari tugas orang tua, petaka datang menimpa anak muda ini. benar-benar petaka, di tengah haus itu, ia membayangkan cerita pamannya. Romantisme yang tak hentinya mengiang di kepala Grudug. Dan inilah yang betul-betul ceroboh.

Pamanya sering bercerita tentang sawah dan masa lalu dengan menggebu-gebu. Mungkin karena kini pamannya sudah tak bisa lagi ke sawah karena susah berjalan, akhirnya kenangan hanya bisa tersalurkan melalui cerita yang mungkin bagi pamannya bisa dijadikan pelajaran. Tapi, malang sekali, Grudug salah memetik pelajaran.

Kata pamannya, hidup jaman dulu jauh lebih gampang. Hari ini terlalu banyak yang kita butuhkan. Listrik misalnya, menurut lelaki tua itu, sebelum ada listrik, orang-orang hanya membutuhkan sedikit minyak yang bertahan untuk beberapa hari mendatang. Kebiasaan mengenal gelap membuatnya tidak terbayang malam akan seterang saat ini. awalnya menyenangkan tetapi lama kelamaan, listrik menjadi candu. Gelap menjadi seram.

Sekarang, semua orang harus bekerja keras agar bisa membayar listrik. Bahkan setelah memakai semacam pulsa, beban untuk menerangi malam terasa semakin menekan. Pulsa seperti es di siang hari yang sekali sedot langsung habis.

“Tetapi tidak hanya itu,” kata pamannya.

“Dulu tak listrik dan hape, makanya tak ada anak-anak yang menangis hingga berguling-guling meminta kuota. Sebelum beli kuota, harus nyicil hape terlebih dahulu. Sepupumu, dulu minta sepeda motor, Paman kira urusan sudah selesai, tetapi setelah itu ia minta uang bensin. Minta uang servis. Parahnya ia juga minta uang untuk bongkar motornya,” Lanjut pamannya.

“Jangankan itu, coba saja kau bayangkan, sekarang kalau paman haus, harus menunggu bibimu selesai memasak air. Atau kau membelikan pamanmu ini air gallon. Betul-betul ribet. Dulu, ya… dulu. Paman ke sawah tak pernah bawa air. Paman tinggal lepas capil, tenggelamkan setengahnya di sungai kecil dekat sawah, lalu air yang ada di dalam topi bisa diminum. Seggaarrrr… Mana lebih praktis hidupmu sekarang atau hidup pamanmu yang renta ini?” ucap pamannya sambil tergopoh-gopoh menepuk dadanya.

Bayangan atas percakapan itulah yang sering mengiang dalam pikiran Grudug. Tapi sungguh ceroboh, Grudug justru salah memetik pesan dalam percakapan di saat dia kehausan di sawah.

“Aku coba saja minum air sungai,” pikirnya dalam hati. Ceroboh bukan? Tak usah saudara sangsi, ia tidak sedang main-main. Haus yang mencekik itu membuat ia segera lupa dengan rambut klimis, parfum, dan sepatu pilihan itu. Meski tanpa capil seperti dalam cerita pamannya, ia langsung menyendok air sungai di pinggir jalan yang memang betul masih cukup jernih, tak seperti air sungai di kota.

Seteguk, dua teguk. Ia betul-betul lega. Bahkan ia sempat berpikir, “Air sungai yang jernih ini sesungguhnya lebih enak dari air gallon. Kenapa harus beli air gallon?” hentaknya dalam hati sambil mengkerutkan dahi. Saat itu pula ia menatap penuh kebanggaan mempunyai desa yang dialiri air jernih. Ia berkata, “Terima kasih bagaimana yang mesti aku berikan pada sungai cantik ini?”

Tatapan yang serius itu beberapa saat tak bisa dipalingkan. Ia benar-benar terpesona dengan air itu. Air yang menurutnya ada manisnya, air yang menurutnya lezat itu rupanya menggandeng sesuatu. Sesuatu yang melintas di depannya, sesuatu berwarna kuning tua dengan sisa sayur dan beberapa butir biji cabai terlihat jelas. Mengambang, hanyut seketika melewati tatapannya. Ia terkejut, lalu air sedikit keruh menguning.

Seketika ia langsung muntah-muntah memalingkan wajah. Beberapa anak muda yang jongkok di hulu menatapnya bersalah. Grudug tak henti-hentinya muntah-muntah. Setelah didekati oleh beberapa anak muda itu dan paham perkara secara utuh, barulah ia diceramahi oleh anak muda itu untuk tidak minum air sungai, baru ia tahu, sesekali bangkai ternak tersangkut di sana yang entah dari mana datangnya, popok bayi yang terkadang tersangkut lalu hanyut, atau sesuatu yang kuning itu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak

Next Post

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co