12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Zaman Beda, Air Beda

Agus Wiratama by Agus Wiratama
September 14, 2020
in Esai
Sanggah Setengah Jadi dan Ritual yang Kembali Sederhana

Agus Wiratama || Ilustrasi tatkala.co || Nana Partha

“Sore adalah waktu untuk berlari, menyehatkan tubuh dan menyegarkan kepala!” Kata-kata yang Grudug sampaikan pada orang tuanya itu sesungguhnya alasan nomor kedua, ketiga, atau bahkan keempat. Alasan pertama yang sangat sulit ia katakan adalah menghindari pekerjaan rumah. Waktu-waktu senggang itu biasanya selalu membuat ibu atau ayahnya tergelitik untuk melempar kata, “kerjakan ini!” atau “kerjakan itu!” Ia bukanlah orang malas, tetapi belakangan, terlalu sering mengulang kegiatan yang sama membuatnya bosan.

Setelah lama mengumpulkan alasan untuk menghindar, baru ia berpikir, “Karena tubuhku semakin subur, sedikit lari-lari kecil akan mengurangi lemak ini. Setidaknya enak dipandang orang,” pikirnya dalam hati sambil memijat perutnya. Sungguh kebetulan, sebelum lama di rumah, dana desa yang jumlahnya tak sedikit itu digunakan untuk membuat jalan sepanjang bibir sungai kecil yang mengaliri sawah.

Jalan beton itu selesai, sepeda motor mulai lalu lalang ke sana, orang-orang jadi rajin ke sawah, kebanyakan bukan untuk mengurus sawah, tetapi nongkrong di pinggir sungai itu. Sawah menjadi tempat bertemu tetangga atau menjadi tempat pacaran anak-anak ingusan. Bayangkan saja, ketika PSBB digelar, Pecalang sampai membuat posko di seputaran jalan itu. Tentu alasannya karena tempat itu tak pernah sepi, bahkan sampai malam. Setelah ada slogan Tentara Masuk Desa, pandemi mendorong munculnya slogan baru, “Pecalang Masuk Sawah.” Tapi, kini PSBB lebih longgar, Grudug jadi bisa olah raga di sekitar sana.

Sawah menjadi tempat seperti lapangan yang berbentuk memanjang mengikuti sungai. Sepanjang jalan ada saja orang yang berkumpul. Entah untuk ngobrol atau lain sebagainya. Hal inilah yang sangat ia senangi. Ia akan bertemu orang untuk basa-basi. Sebagai mahasiswa yang belum tamat, ia tidak merasa malu, justru keadaan ini menguntungkannya untuk menyebar alibi kenapa ia tidak tamat.

Persiapan yang menurutnya matang sesungguhnya betul-betul tidak matang. Bayangkan saja, tiga puluh menit sebelum lari, ia harus mandi terlebih dahulu, menggunakan sedikit parfum, dan memilih sepatu yang menurutnya paling tepat. Dalam hati ia berpikir, “Setidaknya aku rapi, bersih, jauh dari kesan melarat, jauh dari kesan bodoh.” dasar naif. Ia memandang rapi jauh dari kesan bodoh. Padahal kesan itu tetap hadir. Cobalah saudara ikuti isi hatinya, ia benar-benar naif, lugu.

Seandainya saudara melihat apa yang dilakukannya pada saat lari, mungkin saudara akan tertawa cekikikan. Ketika ia berlari, hal yang paling penting justru ia tinggalkan. Air minum dan uang. Sementara jaraknya yang sudah jauh dari rumah membuat kemungkinan untuk balik tidak diutamakan.

“Kalau balik, bisa-bisa aku pingsan sampai rumah,” pikirnya.

Sepanjang jalan baru itu, sesungguhnya ada banyak pedagang. Ada pedagang dengan gubuk sementara, bahkan di dekat sana ada minimarket ala desa yang dimiliki oleh tetangganya sendiri. Tetapi, dia berpikir dengan penampilan seperti itu akan sangat memalukan kalau berhutang.

“Rambut klimis, bau parfum merebak, masak berhutang?” gumamnya lagi.

Siapa suruh berpenampilan seperti itu? Siapa suruh ingin dipandang pintar hanya gara-gara bersih? Padahal di kampungnya bukanlah suatu aib bila berhutang barang sebentar saja. Jangankan sebentar, seminggu pun tidak apa-apa sebab orang-orang kampung sudah saling kenal. Dan para pedagang itu hampir seluruhnya adalah tetangga Grudug yang latah berdagang semenjak jalan satu setengah meter itu rampung.

Di tengah jalan, ia benar-benar haus. Mungkin karena menghindari tugas orang tua, petaka datang menimpa anak muda ini. benar-benar petaka, di tengah haus itu, ia membayangkan cerita pamannya. Romantisme yang tak hentinya mengiang di kepala Grudug. Dan inilah yang betul-betul ceroboh.

Pamanya sering bercerita tentang sawah dan masa lalu dengan menggebu-gebu. Mungkin karena kini pamannya sudah tak bisa lagi ke sawah karena susah berjalan, akhirnya kenangan hanya bisa tersalurkan melalui cerita yang mungkin bagi pamannya bisa dijadikan pelajaran. Tapi, malang sekali, Grudug salah memetik pelajaran.

Kata pamannya, hidup jaman dulu jauh lebih gampang. Hari ini terlalu banyak yang kita butuhkan. Listrik misalnya, menurut lelaki tua itu, sebelum ada listrik, orang-orang hanya membutuhkan sedikit minyak yang bertahan untuk beberapa hari mendatang. Kebiasaan mengenal gelap membuatnya tidak terbayang malam akan seterang saat ini. awalnya menyenangkan tetapi lama kelamaan, listrik menjadi candu. Gelap menjadi seram.

Sekarang, semua orang harus bekerja keras agar bisa membayar listrik. Bahkan setelah memakai semacam pulsa, beban untuk menerangi malam terasa semakin menekan. Pulsa seperti es di siang hari yang sekali sedot langsung habis.

“Tetapi tidak hanya itu,” kata pamannya.

“Dulu tak listrik dan hape, makanya tak ada anak-anak yang menangis hingga berguling-guling meminta kuota. Sebelum beli kuota, harus nyicil hape terlebih dahulu. Sepupumu, dulu minta sepeda motor, Paman kira urusan sudah selesai, tetapi setelah itu ia minta uang bensin. Minta uang servis. Parahnya ia juga minta uang untuk bongkar motornya,” Lanjut pamannya.

“Jangankan itu, coba saja kau bayangkan, sekarang kalau paman haus, harus menunggu bibimu selesai memasak air. Atau kau membelikan pamanmu ini air gallon. Betul-betul ribet. Dulu, ya… dulu. Paman ke sawah tak pernah bawa air. Paman tinggal lepas capil, tenggelamkan setengahnya di sungai kecil dekat sawah, lalu air yang ada di dalam topi bisa diminum. Seggaarrrr… Mana lebih praktis hidupmu sekarang atau hidup pamanmu yang renta ini?” ucap pamannya sambil tergopoh-gopoh menepuk dadanya.

Bayangan atas percakapan itulah yang sering mengiang dalam pikiran Grudug. Tapi sungguh ceroboh, Grudug justru salah memetik pesan dalam percakapan di saat dia kehausan di sawah.

“Aku coba saja minum air sungai,” pikirnya dalam hati. Ceroboh bukan? Tak usah saudara sangsi, ia tidak sedang main-main. Haus yang mencekik itu membuat ia segera lupa dengan rambut klimis, parfum, dan sepatu pilihan itu. Meski tanpa capil seperti dalam cerita pamannya, ia langsung menyendok air sungai di pinggir jalan yang memang betul masih cukup jernih, tak seperti air sungai di kota.

Seteguk, dua teguk. Ia betul-betul lega. Bahkan ia sempat berpikir, “Air sungai yang jernih ini sesungguhnya lebih enak dari air gallon. Kenapa harus beli air gallon?” hentaknya dalam hati sambil mengkerutkan dahi. Saat itu pula ia menatap penuh kebanggaan mempunyai desa yang dialiri air jernih. Ia berkata, “Terima kasih bagaimana yang mesti aku berikan pada sungai cantik ini?”

Tatapan yang serius itu beberapa saat tak bisa dipalingkan. Ia benar-benar terpesona dengan air itu. Air yang menurutnya ada manisnya, air yang menurutnya lezat itu rupanya menggandeng sesuatu. Sesuatu yang melintas di depannya, sesuatu berwarna kuning tua dengan sisa sayur dan beberapa butir biji cabai terlihat jelas. Mengambang, hanyut seketika melewati tatapannya. Ia terkejut, lalu air sedikit keruh menguning.

Seketika ia langsung muntah-muntah memalingkan wajah. Beberapa anak muda yang jongkok di hulu menatapnya bersalah. Grudug tak henti-hentinya muntah-muntah. Setelah didekati oleh beberapa anak muda itu dan paham perkara secara utuh, barulah ia diceramahi oleh anak muda itu untuk tidak minum air sungai, baru ia tahu, sesekali bangkai ternak tersangkut di sana yang entah dari mana datangnya, popok bayi yang terkadang tersangkut lalu hanyut, atau sesuatu yang kuning itu. [T]

ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Never Ending Spirit of Gus Dur dan Upaya Mencecap Masa Lalu yang Ber(Ter)serak

Next Post

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Ledok-Ledok Nusa Penida Naik Kasta

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co