15 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Australia, Negara di Mana Aku Mencintai Diri Sendiri untuk Pertama Kali

Lavinia Disa Winona Araminta by Lavinia Disa Winona Araminta
May 13, 2020
in Tualang
Australia, Negara di Mana Aku Mencintai Diri Sendiri untuk Pertama Kali

Flinders Street Railway Station

“Like Romeo and Juliet, ’twas written in the stars before they even met that love, and fate, and the touch of stupidity would rob them off their hope of living happily. The endings were often a little bit gory. I wonder why they didn’t just change their story. We’re told we have to do what we’re told but surely, sometimes you have to be a little bit naughty.”

Penggalan lirik lagu “Naughty” dari pertunjukkan “Matilda the Musical” itu mengantarkanku ke alam mimpi malam itu di musim panas bulan Februari 2016 di Selandia Baru. Perkuliahan belum dimulai, dan aku baru saja kembali dari solo travelling pertamaku ke negara sebelah, Australia.

Malam semakin larut tapi aku tak henti mengerjapkan mata meski badan teramat letih. Aku masih tidak percaya bahwa aku betul-betul melakukannya, bertamasya sendirian ke luar negeri. Permasalahan bukan terletak pada konsep ‘sendiri’. Aku justru menikmatinya. Namun, kata ‘wisata’ lah yang sepertinya sudah terhapus dari kamus hidupku sejak bertahun-tahun lalu. Jangankan keliling dunia, untuk membayar kuliah S1 saja aku harus mencari beasiswa. Kalau tidak mengajar les privat, kebutuhan sehari-hari sebagai mahasiswa tidak akan terpenuhi. Maka setelah lulus, aku tidak pernah jalan-jalan kalau bukan karena presentasi di konferensi atau urusan pekerjaan. Saking menjunjung tinggi produktivitas, aku merasa sayang untuk bepergian. Bagiku, liburan itu hanya buang-buang waktu dan uang.

Akan tetapi, semua stigma negatif tentang tamasya terpaksa kurobohkan begitu mendengar bahwa the Royal Shakespeare Company akan mengadakan tur pertunjukkan “Matilda the Musical” di Sydney. Selama dua bulan penuh, aku bergulat dengan diriku sendiri. Di satu sisi, meski studi magisterku di The University of Auckland didanai oleh pemerintah Indonesia, aku ingin menabung untuk keperluan yang lebih besar. Di sisi lain, aku begitu menyukai novel “Matilda” karangan Roald Dahl dan juga teater musikal. Sembari memperhitungkan jadwal dan keuangan, aku meminta pendapat beberapa kawan dekat. Mayoritas berkata kalau tidak terlalu penting, tidak usah saja. Sementara itu, seorang sahabat mengingatkan, “Pergilah. Kamu akan lebih menyesal kehilangan kesempatan daripada kehilangan uang.”

Ya, memang hati manusia terprogram untuk mendengar yang ingin ia dengar saja. Aku mencocokkan nasihat itu dengan penyesalanku di masa silam karena tidak menonton dua drama musikal di Jakarta dengan alasan ingin berhemat. Aku tidak berhenti menyalahkan diri sendiri sejak saat itu. Tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama, berbekal Bismillah, aku memasukkan aplikasi untuk Australian Tourist Visa setelah tahun baru 2016. Kuserahkan keputusan pada Yang di Atas. Jika permohonan visaku dikabulkan, artinya aku boleh pergi. Jika tidak, mungkin belum rezeki. Dua minggu berselang, visa turisku terbit.

Aku segera mengecek kalender dan mencocokkan jadwal kerja part-time dan kuliah. Singkat cerita, pilihan tanggal keberangkatan jatuh pada 14 Februari 2016. Di kemudian hari, tanggal ini menjadi berkesan karena perjalanan ini menjadi kado Hari Kasih Sayang terbaik untuk diriku sendiri.

Setelah tanggal diputuskan, aku menyusun rencana perjalanan kasar, memesan tiket pesawat dan pertunjukkan, juga menghubungi teman-teman sesama pelajar Indonesia yang sedang studi di Australia dan hendak kutemui. Tidak tanggung-tanggung, aku ingin mengunjungi lima kota sekaligus dalam lima hari. Aku menutup mata soal biaya transportasi. Biarlah. Kalau hanya menetap di satu kota rasanya sayang sudah jauh-jauh. Tidak sebanding dengan perjuangan memperoleh visa turisnya.

Untuk mengimbangi pos pengeluaran transportasi, aku merancang sedemikian rupa agar bisa bermalam di tempat teman atau dalam perjalanan antarkota. Selain untuk menghemat biaya, memang inilah gaya bepergianku, yakni mengunjungi teman-teman di kota atau negara yang kutuju untuk bertukar kabar. Maka, seperti Dorothy yang menemukan sahabat baru di tengah perjalanannya ke Oz (yang kebetulan adalah sebutan informal untuk Aussie), petualanganku di Negeri Kanguru, yang kunamai sebagai “Oz Musical Trip”, pun dimulai.

Patung Dwarf dari The Lord of the Rings di bandara internasional Auckland

Brisbane

Aku terbang di pagi hari dengan maskapai Virgin Australia. Begitu tiba di Brisbane dan mendapat koneksi Internet di AirTrain menuju stasiun South Bank, aku langsung menghubungi Mbak Luluk, mahasiswi S3 di The University of Queensland. Titik pertemuan kami adalah South Bank Park Lands yang terletak di tengah kota dan dibatasi oleh sungai Brisbane yang berwarna coklat akibat tercampur lumpur.

Saat sedang menunggu di depan Queensland Performing Arts Center dan memandangi the Wheel of Brisbane, seorang nenek menghampiri dan meminta izin untuk duduk di sebelahku. Ia mengajak bicara tentang banyak hal, mulai dari cuaca di Brisbane hingga perilaku remaja masa kini yang gaya berpakaiannya, menurut beliau, aneh dan selalu membawa tongkat selfie.

The Wheel of Brisbane

Beliau juga berkisah tentang orang tuanya yang menganggap sekolah itu hanya buang-buang uang dan menyuruhnya membantu pekerjaan rumah tangga setelah lulus SMA, sampai akhirnya beliau menikah. Ada raut kesedihan yang kutangkap saat kenangan itu digulirkan, tapi aku yakin beliau sudah berdamai dengan garis hidupnya. Pengalaman ini menggugahku bahwa mereka yang terlahir di negara maju tidak selalu berpikiran maju, misalnya tidak mendukung pendidikan, dan mereka yang berasal dari negara berkembang sepertiku bisa saja malah punya lebih banyak kesempatan untuk mengembangkan diri.

Mbak Luluk datang dan menemaniku makan kebab di pinggir sungai. Setelahnya, kami naik CityCat, kapal kecil untuk menyeberang ke belakang kampus The University of Queensland. Tur kampus menjadi agenda wajib sebelum kami beranjak ke tempat tinggal Mbak Luluk di 70 Mitre Street untuk beristirahat dan menutup hari pertama yang panjang.

Kampus The University of Queensland

Canberra

Aku terbangun dengan perasaan panik. Pertama, aku baru sadar bahwa semalam aku ketiduran di kamar Mbak Luluk, sementara yang punya rumah mengalah dan tidur di ruang tamu. Kedua, pagi ini aku akan terbang ke Sydney pukul 7 pagi waktu setempat dan saat aku membuka mata, jam menunjukkan hampir pukul 5!

Setelah mandi kilat dan berpamitan, aku menerobos kegelapan dan berjalan sendirian ke stasiun Toowong. Untungnya, walau jalanan cukup remang, tidak banyak orang. Hanya warga lokal yang sedang lari pagi atau naik sepeda. Jujur, aku sempat takut jika bertemu penguntit setiap jalan sendirian di pagi buta atau larut malam.

Aku beruntung segera mendapatkan kereta menuju stasiun Roma Street. Entah kenapa, semesta selalu punya cara untuk membuat manusia bahagia. Kepanikanku pagi itu diredam oleh sepasang burung yang bersenandung bersahutan. Kuabadikan momen itu sampai aku tiba di terminal domestik bandara Brisbane, lima belas menit sebelum pesawat Jetstar lepas landas.

Satu setengah jam berikutnya, kakiku menjejak Sydney. Dari parkiran bawah tanah, aku mengendarai bus Murrays yang sudah kupesan sebelumnya dengan tujuan akhir Canberra. Interior bus sangat nyaman sehingga perjalanan selama 3 jam tidak terlalu melelahkan. Di Jollimont Centre, aku turun dan menghabiskan satu jam hanya untuk mencari Muslim Prayer Room yang katanya ada di Multicultural Center di London Circuit. Aku sedikit menyesal tidak riset maksimal. Ujung-ujungnya, mushola tidak ditemukan dan aku salat sambil duduk di sebuah taman.

Tujuanku di Canberra hanya satu, yaitu Australian War Memorial Museum. Aku beruntung masih sempat mengikuti Last Post Ceremony, upacara mengenang pahlawan perang yang begitu menyentuh dan syahdu. Walau aku bukan bagian dari sejarah negara tersebut, cerita-cerita kemanusiaan selalu mampu menembus batas etnis dan waktu.

Kerumunan pengunjung menjelang Last Post Ceremony

Untuk kembali ke Jollimont Centre, lagi-lagi aku mengandalkan kedua kakiku. Sepertinya ini adalah rute terjauh seumur hidup yang kutempuh dengan berjalan kaki. Untungnya Canberra ini petanya sama persis dengan kondisi aslinya. Seharusnya aku tidak kaget karena kota ini memang dirancang rapi sebelum dibangun menjadi pusat pemerintahan. Namun, karena hari itu aku sedang berpuasa, badanku menyerah juga. Dari London Circuit, aku menaiki bus ke New Parliament House dan Old Parliament House. Aku mengambil banyak foto yang bisa menjadi bukti bahwa setidaknya, aku pernah berdiri di depan gedung DPR-MPR versi Australia. Malamnya, aku kembali menumpang bus Murrays dengan keberangkatan dini hari. Karena kursinya wangi dan empuk, aku pun mengistirahatkan tubuh dan terbuai mimpi…

Gedung Parlemen Baru di Canberra

Wollongong

Sekitar pukul 3 pagi, bus tiba di Central Station, Sydney. Untuk alasan keamanan, aku memilih untuk menunggu di Grand Consorse hingga matahari terbit. Udara sangat dingin. Apalagi tidak ada sofa atau ruang tunggu. Kulihat beberapa orang memanfaatkan sudut-sudut untuk merebahkan badan. Aku tidak yakin apakah mereka turis kikir sepertiku atau gelandangan. Seorang bapak yang duduk di depanku terkantuk-kantuk. Kubagi shortbread Selandia Baru padanya, dan ia tidak menolak.

Hari ini perjalananku relatif mudah dan dekat, yakni ke Wollongong, hanya 2 jam menggunakan kereta jalur South Coast. Dari stasiun Wollongong, aku naik bus gratis ke The University of Wollongong dan bertemu Mas Riza, mahasiswa S3 di sana. Setelah sarapan sebentar di rumahnya bersama istri beliau, pasangan tersebut mengantarku bekeliling ke Mount Keira Lookout, Nan Tien Temple, Botanic Garden, dan bahkan makan jagung rebus di Lake Illawara.

Nan Tien Temple

Meski kota ini kecil dan sepi, aku tidak bisa melupakan debur ombak sepanjang North Wollongong Beach yang dipadu dengan langit mendung sehabis gerimis sore itu. Sebegitu terkenangnya, beberapa bulan setelah trip ke Australia berlalu, aku memimpikan berdiri di pinggir pantai yang sama. Begitulah. Yang sering luput oleh mata orang kebanyakan boleh jadi yang paling menawan hati.

North Wollongong Beach

Sydney

Jika diibaratkan fiksi, hari ini ialah klimaks dari tamasyaku. Aku mengucapkan salam perpisahan pada Mas Riza sekeluarga dan juga Wollongong dan naik kereta ke Town Hall Station, Sydney. Entah kenapa aku agak linglung sampai dua kali salah membaca peta. Kabar buruknya, Sydney adalah kota besar yang penuh dengan manusia sibuk dan tidak seramah warga di kota-kota lain. Pilihanku hanyalah tidak bertanya dan tetap tersesat di jalan.

Mendekati Pyrmont Bridge, kuputuskan untuk langsung saja ke Sydney Lyric Theatre, gedung pertunjukkan “Matilda the Musical”. Aku tidak perlu menceritakan detil tentang pertunjukkannya. Semua sesuai, atau mungkin melebihi, ekspektasiku. Yang jelas perjalanan musikal ini adalah salah satu keputusan terbaikku dalam hidup.

Photo booth “Matilda the Musical” di Sydney Lyric Theatre

Seusai menonton, aku berjalan santai menuju Circular Quay dan bertemu Norma, mahasiswi S2 The University of Sydney yang menemaniku mengunjungi Sydney Opera House, Harbour Bridge, dan Royal Botanic Garden. Kami beranjak ke dekat Central Station untuk menyantap laksa halal sebagai makan malam.

Sydney Opera House

Setelah berpisah dengan Norma, aku berjalan ke Gate 1 dan menunggu kereta yang akan membawaku ke Melbourne. Sudah menjadi bagian dalam rencanaku untuk mencoba berbagai moda transportasi publik di Australia. Setelah kapal kecil di Brisbane dan bus malam ke Canberra, kali ini aku mengendarai kereta jarak jauh selama hampir 12 jam. Aku hanya berharap kereta lintas kota ini akan memberikan perjalanan senyaman kereta Argo Anggrek atau setidaknya Menoreh yang selalu kutumpangi setiap pulang ke Semarang dari Jakarta.

Melbourne

Naasnya, harapanku tidak terpenuhi. Kursi kereta terasa keras, dan sandarannya tidak bisa disesuaikan dengan postur tubuh. Penumpang lelaki di sebelahku juga sedikit berisik, membuatku kurang beristirahat. Alhasil, semalaman kaki dan tanganku pegal-pegal. Namun, semua terbayar begitu kereta memasuki Melbourne pagi itu. Sayangnya, kota pelajar tersebut justru menyambutku dengan hujan deras setelah 4 hari sebelumnya langit selalu cerah di kota-kota lain. Maka, targetku berkelana tidak muluk-muluk.

Berpedoman peta dari Tourist Information Center diSouthern Cross Station, aku menyusuri Flinders Street, melewati Migration Museum dan Flinders Station, lalu berteduh di Visitors Center di Federation Square. Kupandangi trem demi trem yang berlalu lalang. Rintik hujan membuatku terbawa arus melankolis dan berpikir, “Ya, seperti itulah kehidupan ini. Orang datang dan pergi.”

Flinders Street Railway Station

Satu-satunya alasanku ke Melbourne sebetulnya adalah untuk menemui Meity, kawanku yang sedang menempuh S2 di The University of Melbourne. Saat jam makan siang, aku menunggu di depan Freshwater Place, gedung di mana temanku sedang magang, di dekat Yarra River. Meity mengajakku naik trem gratis dan berjalan sedikit menuju Laksa Bar. Lagi-lagi laksa. Tetapi tak apalah. Ia berbaik hati mentraktir. Obrolan kami tidak panjang karena aku harus meluncur ke Melbourne International Airport untuk mengejar pesawat pulang ke Auckland.

Auckland

Pada hari yang sama malamnya, aku telah kembali ke kota tempatku studi. Saat menumpang SkyBus ke tengah kota, aku diajak bicara oleh sang supir. Ternyata beliau adalah orang Indonesia yang berasal dari Surabaya. Dunia rupanya sesempit itu. Akan tetapi, sepanjang jalan, hal apapun terkait Indonesia yang beliau bicarakan selalu berupa kritik. Untung saja beliau masih cukup ramah.

Perjalananku resmi berakhir ketika aku kembali ke kamar kosan.  Di atas kasurku yang familiar dan menenangkan, datanglah momen tatkala lirik lagu “Naughty” terngiang di benak, seperti yang kugambarkan di awal, dan seluruh kenangan akan kunjunganku ke Australia berputar tanpa aba-aba. Tidak seperti wisata yang menggunakan agen atau bersama keluarga dan teman, solo travelling itu merepotkan dan bisa sangat mahal jika tidak direncanakan dengan baik. Tetapi aku belajar sesuatu dari perjalananku.

Kebanyakan manusia menghabiskan bertahun-tahun tenggelam dalam kesibukan untuk membangun masa depan, tanpa sempat berhenti beberapa saat untuk rehat dan menikmati hari ini. Betul kata Matilda. Terkadang kita harus sedikit ‘nakal’ dengan melakukan hal-hal di luar kebiasaan untuk mengubah nasib sendiri. [T]

Tags: AustraliaNegeri Kangguruperjalanan
Share17TweetSendShareSend
Previous Post

“Mungkin Harus”, Que Sera Sera Sebagai Pijakan Narasi Bligungyudha

Next Post

Proses Kembali ke Tanah Air (2)

Lavinia Disa Winona Araminta

Lavinia Disa Winona Araminta

Lulusan Sastra Inggris Universitas Indonesia dan Master of Arts in Applied Linguistics, The University of Auckland. Selain mengajar, meneliti, dan menyunting sebagai tenaga profesional, ia bergabung sebagai relawan di Suryanara Foundation, Indonesia Mengglobal, dan KawalCOVID19.id.

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Proses Kembali ke Tanah Air (2)

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co