14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memilih Bahagia Saat Corona Melanda

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 23, 2020
in Opini
Memilih Bahagia Saat Corona Melanda

Ilustrasi tatkala/co/Nana Partha

Seandainya kita terinfeksi Covid-19, berapa persen kira-kira kemungkinan mengalami mortalitas? Jawabannya tergantung usia. Kalau usia kita masih di bawah 40 tahun atau berada pada rentang umur 10-39 tahun, potensi mortalitasnya sebesar 0,2 persen atau setara dengan 1:500. Begitu juga jika usia kita berada pada rentang 40-50 tahun, potensi mortalitas sebesar 0,4 persen atau setara dengan 1:250.

Sedangkan usia di rentang 50-59 tahun, kemungkinan mortalitas naik menjadi 1,3 persen, atau setara dengan 1:80. Kesimpulannya, semakin tua usia yang ditandai juga dengan semakin melambatnya kerja organ tubuh, semakin fatal efek dari Covid-19 terhadap kelanjutan hidup. Meski demikian, tetap saja, bahkan kalau kita berada di rentang usia lebih tua, jauh lebih besar kemungkinan untuk sehat kembali daripada mati.

Dengan melihat catatan medis di atas, saya berkeyakinan, rasanya terlalu prematur jika menyebut pandemi Covid-19 sebagai hantu yang mampu merontokkan sebuah negara sebesar Indonesia dengan keragaman struktur sosialnya. Beberapa pihak merasa kalut, bahkan menyuarakan agenda lockdown sebagaimana yang sudah dialami oleh Cina, Italia Prancis dan terbaru Malaysia.

Bayangkan, kalau agenda lockdown benar-benar dilakukan, mungkin kita bukan mati karena Covid19, melainkan mengalami kehancuran akibat krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis sosial. Logikanya, kalau potensi mortalitas semisal 1:500 seperti data statsitik di atas, lalu kenapa kita harus begitu khawatir terhadap pandemi ini ?. saya tidak bermaksud menyepelekan atau menganggap remeh keberadaan virus ini, thus tidak juga merespon secara berlebihan. Kita harus belajar bagaimana hidup tentram dan menjadi pribadi yang realistis, yang berdamai dengan keadaan bahwa virus ini telah ada bersama kita.

Jika kita mau belajar lebih ulet, dengan membuka laporan-laporan hasil penelitian para ahli tentang berbagai virus di masa lalu, maka kita bisa menyimpulkan bahwa virus Corona sudah ada sebelumnya. Dialah biang SARS, MERS dan sekarang menjelma menjadi Covid-19. Namun terpenting sekarang adalah keikhlasan menerima keadaan bahwa virus itu sudah ada bersama kita. Sama seperti drajat penerimaan kita terhadap keberadaan virus sejenis yang menyerang saluran pernapasan seperti influenza, TBC, Bronkitis, pneumonia atau virus lain yang potensi mortalitasnya tidak bisa dianggap remeh.

Masalahnya sekarang, dunia belum menemukan vaksin untuk menangkalnya. Akan membutuhkan riset yang mendalam sehingga dibutuhkan biaya, terutama waktu yang tidak sebentar untuk menemukan vaksin penangkal . Di dalam penantian itu, kita dituntut untuk sabar sambil mengingat beberapa hal penting. Pertama, tidak semua orang yang di tubuhnya menempel virus Corona akan terinfeksi Covid19. Kalau hanya menempel di tangan misalnya, bisa dihilangkan dengan dicuci memakai sabun. Begitu juga ketika menempel di baju, bisa dihilangkan dengan menggunakan detergen.

Kedua, kalau pun ada orang itu terinfeksi Covid19, kemungkinan besar, yang berangkutan tidak akan mengalami penderitaan fisik yang fatal, tergeletak tak berdaya atau dari mulutnya keluar busa seperti yang digambarkan di dalam film-film fiksi. Mikael Arteta pelatih Arsenal yang dinyatakan positif Corona sejak awal Maret lalu pasca pertandingan Arsenal di Liga Eropa, Setelah dikarantina, masih bisa mengadakan wawancara terpisah dengan para wartawan mengenai kondisinya saat ini.

Pun demikian dengan dua pemain Juventus, Daniele Rugini dan Paulo Dybala yang dinyatakan positif Corona, tidak memperlihatkan tanda-tanda penderitaan terhadap sakit yang berlebihan. Di tanah air ada Bupati Bogor yang dalam unggahan foto di linimasa instagram milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, tidak tampak seperti orang sakit dan terlihat normal. Lalu ada artis cantik Andrea Dian yang dikenal suka membagikan gaya hidup sehat dengan berolahraga, beberapa waktu lalu dinyatakan positif Corona. masih bisa mengungah story di akun sosial medianya. Mereka yang terinfeksi Covid19, 80 persennya hanya merasakan gejala flu biasa. Oleh sebab itu, perawatannya cukup di rumah saja. 

Ketiga, tubuh kita itu memiliki antibody untuk melawan virus apapun yang masuk, termasuk Corona. Logikanya, Tuhan menciptakan virus Corona, tetapi Tuhan juga menganugrahkan antibody dalam diri kita untuk melawannya. Antibody inilah yang akan menghabisi Corona melalui pertempuran hidup mati. Kabar baiknya, jika kita normal dan sehat, antibody akan bisa mengalahkan virus. Lama pertarungan tergantung pada kekuatan kita. Bisa mencapai dua sampai tiga minggu. Oleh sebab itu, saran medis kepada orang yang sudah terinfeksi virus Corona adalah istirahat, makan makanan yang sehat, banyak minum air putih dan jangan keluar rumah untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Obat-obatan yang kita peroleh dari dokter pun sebenanrya lebih ke arah mengobati symptom. Persis kalau kita terkena flu. Jadi, obat flu yang kita beli dari apotik atau kita peroleh dari dokter bukan dalam rangka kuratif, melainkan lebih untuk meminimalisisr gejala sakit yang diderita atau mencegah memburuknya keadaan. Dengan kata lain, yang sebenarnya menyembuhkan kita adalah antibody dalam tubuh. Kesimpulannya, kita tidak perlu takut berlebihan, sebab mereka yang terinfeksi Corona kemungkinan besar akan sembuh dengan perlawanan kekuatan tubuhnya.

Akan tetapi, yang barusan disampaikan itu baru bicara yang 80 persen. Sisanya yang 20 persen, yang mengalami dampak lebih serius, sebaiknya ditangani oleh pihak rumah sakit. Hal ini bisa terjadi karena kemungkinan imunitasnya lemah, mengidap penyakit lain atau usianya sudah tua. Namun, lagi-lagi potensi untuk sehat kembali cukup tinggi, Lalu, dengan melihat keberadaan antibody yang katanya bisa diandalkan bertarung dengan virus Corona, apakah sebaiknya kita abaikan saja virus Corona? Jawabannya tentu tidak.

Masalahnya tetap ada korban yang meninggal akibat terinfeksi Corona dan jumlahnya mencapai tiga sampai empat persen. Jadi, kalau misalnya ada 1000 orang terjangkit Covid19, berarti ada sekitar 30-40 orang akan meninggal. Mereka umumnya adalah lansia yang punya penyakit kronis. 80 persen dari seluruh pasien Covid19 yang meninggal adalah mereka yang berusia di atas 80 tahun. Mereka yang meninggal ini umumnya punya penyakit lain. Seperti penyakit jantung, pernapasan, diabetes, darah tinggi dan sebagainya. Misalnya, kalau kita berusia tua, berpenyakit jantung dan terjangkit Corona, peluang kematian bisa mencapai 10 persen. Untuk penyakit kanker sebesar  5 persen,  diabetes  sebesar 7 persen.

Mereka yang terjangkit Corona akibat penularan yang dibawa orang sekitarnya, bisa saja terlihat  sehat tanpa menunjukkan gejala sakit. Oleh sebab itu harus menjadi kepedulian kita bersama sekarang jangan sampai terjangkit Corona. Sebab orang yang positif Corona tanpa memperlihatkan gejala sakit bisa menjadi carrier yang menyebarkannya kepada orang lain dalam jangka waktu yang cepat. Jika kita menduga bahwa kemungkinan diri kita terjangkit virus Corona, sebaiknya dianjurkan untuk tidak menyentuh atau berdekatan dengan anggota keluarga yang sudah berusia lanjut dan berpenyakit kronis.

Jika pemerintah mengeluarkan anjuran normatif melalui kebijakan social distancing, itu lebih dalam rangka menghindari jatuhnya korban dalam jumlah luar biasa dalam waktu cepat. Harus diakui, wabah ini datang tiba-tiba yang diiringi dengan penyebaran yang sangat cepat dan eksplosif. Keunggulan si Covid19 ini dibanding pendahulunya adalah kecepatannya berpindah dari satu objek ke objek lain. Di samping itu, ketika menempel pada benda-benda tertentu juga cukup lama sehingga kemungkinan terinfeksi juga sangat besar. Hal inilah yang mengakibatkan pandemi. Karena meledak, masyarakat menjadi panik, dan rumah sakit penuh. Beberapa dari kepanikan itu diwarnai dengan fenomena panic buying, penimbunan masker dan hand sanitizer sehingga harga kedua barang itu menjadi mahal.

Agar tidak terjadi kegaduhan yang lebih luas sehingga mengakibatkan suasana chaos, masyarakat perlu ditentramkan. Harus ada cara mengendalikan penyebaran virus yang efektif untuk iklim sosial kita. Harapannya, jika  penyebaran virus bisa dikurangi kecepatannya, jumlah korban juga akan berkurang. Jadi kalau rate korban bisa dikendalikan, hidup bisa lebih tenang dan kita kembali hidup normal.

Kesimpulannya, jangan terlalu berlebihan menanggapi pandemi Covid19 sehingga berakhir dengan kepanikan dan lalu stres. Bukan pula meremehkan sehingga kewaspadaan menjadi menurun. Hal yang harus kita lakukan sekarang sambil menunggu ditemukannya vaksin di samping tetap menjaga kebugaran agar imunitas kita kuat adalah hidup biasa dan normal. Maksudnya, tetap tersimpul senyum sambil mereaktualisasi hubungan dengan orang-orang yang kita sayangi melalui social distancing. Hidup bahagia meskipun Corona melanda. Yakinlah bahwa Corona bukan musuh yang tidak bisa dilawan. Terakhir, gunakan akal sehat, sebab hanya dengan akal sehat kita akan selamat. Salam waras.  [T]

Tags: covid 19gaya hidupkebahagiaanvaksinvirus corona
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Next Post

Kini Tiba Waktu Berulang-ulang Memikirkan Bali

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails
Next Post
Kini Tiba Waktu Berulang-ulang Memikirkan Bali

Kini Tiba Waktu Berulang-ulang Memikirkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co