24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Memilih Bahagia Saat Corona Melanda

Putu Hendra Mas Martayana by Putu Hendra Mas Martayana
March 23, 2020
in Opini
Memilih Bahagia Saat Corona Melanda

Ilustrasi tatkala/co/Nana Partha

Seandainya kita terinfeksi Covid-19, berapa persen kira-kira kemungkinan mengalami mortalitas? Jawabannya tergantung usia. Kalau usia kita masih di bawah 40 tahun atau berada pada rentang umur 10-39 tahun, potensi mortalitasnya sebesar 0,2 persen atau setara dengan 1:500. Begitu juga jika usia kita berada pada rentang 40-50 tahun, potensi mortalitas sebesar 0,4 persen atau setara dengan 1:250.

Sedangkan usia di rentang 50-59 tahun, kemungkinan mortalitas naik menjadi 1,3 persen, atau setara dengan 1:80. Kesimpulannya, semakin tua usia yang ditandai juga dengan semakin melambatnya kerja organ tubuh, semakin fatal efek dari Covid-19 terhadap kelanjutan hidup. Meski demikian, tetap saja, bahkan kalau kita berada di rentang usia lebih tua, jauh lebih besar kemungkinan untuk sehat kembali daripada mati.

Dengan melihat catatan medis di atas, saya berkeyakinan, rasanya terlalu prematur jika menyebut pandemi Covid-19 sebagai hantu yang mampu merontokkan sebuah negara sebesar Indonesia dengan keragaman struktur sosialnya. Beberapa pihak merasa kalut, bahkan menyuarakan agenda lockdown sebagaimana yang sudah dialami oleh Cina, Italia Prancis dan terbaru Malaysia.

Bayangkan, kalau agenda lockdown benar-benar dilakukan, mungkin kita bukan mati karena Covid19, melainkan mengalami kehancuran akibat krisis ekonomi, krisis politik, dan krisis sosial. Logikanya, kalau potensi mortalitas semisal 1:500 seperti data statsitik di atas, lalu kenapa kita harus begitu khawatir terhadap pandemi ini ?. saya tidak bermaksud menyepelekan atau menganggap remeh keberadaan virus ini, thus tidak juga merespon secara berlebihan. Kita harus belajar bagaimana hidup tentram dan menjadi pribadi yang realistis, yang berdamai dengan keadaan bahwa virus ini telah ada bersama kita.

Jika kita mau belajar lebih ulet, dengan membuka laporan-laporan hasil penelitian para ahli tentang berbagai virus di masa lalu, maka kita bisa menyimpulkan bahwa virus Corona sudah ada sebelumnya. Dialah biang SARS, MERS dan sekarang menjelma menjadi Covid-19. Namun terpenting sekarang adalah keikhlasan menerima keadaan bahwa virus itu sudah ada bersama kita. Sama seperti drajat penerimaan kita terhadap keberadaan virus sejenis yang menyerang saluran pernapasan seperti influenza, TBC, Bronkitis, pneumonia atau virus lain yang potensi mortalitasnya tidak bisa dianggap remeh.

Masalahnya sekarang, dunia belum menemukan vaksin untuk menangkalnya. Akan membutuhkan riset yang mendalam sehingga dibutuhkan biaya, terutama waktu yang tidak sebentar untuk menemukan vaksin penangkal . Di dalam penantian itu, kita dituntut untuk sabar sambil mengingat beberapa hal penting. Pertama, tidak semua orang yang di tubuhnya menempel virus Corona akan terinfeksi Covid19. Kalau hanya menempel di tangan misalnya, bisa dihilangkan dengan dicuci memakai sabun. Begitu juga ketika menempel di baju, bisa dihilangkan dengan menggunakan detergen.

Kedua, kalau pun ada orang itu terinfeksi Covid19, kemungkinan besar, yang berangkutan tidak akan mengalami penderitaan fisik yang fatal, tergeletak tak berdaya atau dari mulutnya keluar busa seperti yang digambarkan di dalam film-film fiksi. Mikael Arteta pelatih Arsenal yang dinyatakan positif Corona sejak awal Maret lalu pasca pertandingan Arsenal di Liga Eropa, Setelah dikarantina, masih bisa mengadakan wawancara terpisah dengan para wartawan mengenai kondisinya saat ini.

Pun demikian dengan dua pemain Juventus, Daniele Rugini dan Paulo Dybala yang dinyatakan positif Corona, tidak memperlihatkan tanda-tanda penderitaan terhadap sakit yang berlebihan. Di tanah air ada Bupati Bogor yang dalam unggahan foto di linimasa instagram milik Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil, tidak tampak seperti orang sakit dan terlihat normal. Lalu ada artis cantik Andrea Dian yang dikenal suka membagikan gaya hidup sehat dengan berolahraga, beberapa waktu lalu dinyatakan positif Corona. masih bisa mengungah story di akun sosial medianya. Mereka yang terinfeksi Covid19, 80 persennya hanya merasakan gejala flu biasa. Oleh sebab itu, perawatannya cukup di rumah saja. 

Ketiga, tubuh kita itu memiliki antibody untuk melawan virus apapun yang masuk, termasuk Corona. Logikanya, Tuhan menciptakan virus Corona, tetapi Tuhan juga menganugrahkan antibody dalam diri kita untuk melawannya. Antibody inilah yang akan menghabisi Corona melalui pertempuran hidup mati. Kabar baiknya, jika kita normal dan sehat, antibody akan bisa mengalahkan virus. Lama pertarungan tergantung pada kekuatan kita. Bisa mencapai dua sampai tiga minggu. Oleh sebab itu, saran medis kepada orang yang sudah terinfeksi virus Corona adalah istirahat, makan makanan yang sehat, banyak minum air putih dan jangan keluar rumah untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Obat-obatan yang kita peroleh dari dokter pun sebenanrya lebih ke arah mengobati symptom. Persis kalau kita terkena flu. Jadi, obat flu yang kita beli dari apotik atau kita peroleh dari dokter bukan dalam rangka kuratif, melainkan lebih untuk meminimalisisr gejala sakit yang diderita atau mencegah memburuknya keadaan. Dengan kata lain, yang sebenarnya menyembuhkan kita adalah antibody dalam tubuh. Kesimpulannya, kita tidak perlu takut berlebihan, sebab mereka yang terinfeksi Corona kemungkinan besar akan sembuh dengan perlawanan kekuatan tubuhnya.

Akan tetapi, yang barusan disampaikan itu baru bicara yang 80 persen. Sisanya yang 20 persen, yang mengalami dampak lebih serius, sebaiknya ditangani oleh pihak rumah sakit. Hal ini bisa terjadi karena kemungkinan imunitasnya lemah, mengidap penyakit lain atau usianya sudah tua. Namun, lagi-lagi potensi untuk sehat kembali cukup tinggi, Lalu, dengan melihat keberadaan antibody yang katanya bisa diandalkan bertarung dengan virus Corona, apakah sebaiknya kita abaikan saja virus Corona? Jawabannya tentu tidak.

Masalahnya tetap ada korban yang meninggal akibat terinfeksi Corona dan jumlahnya mencapai tiga sampai empat persen. Jadi, kalau misalnya ada 1000 orang terjangkit Covid19, berarti ada sekitar 30-40 orang akan meninggal. Mereka umumnya adalah lansia yang punya penyakit kronis. 80 persen dari seluruh pasien Covid19 yang meninggal adalah mereka yang berusia di atas 80 tahun. Mereka yang meninggal ini umumnya punya penyakit lain. Seperti penyakit jantung, pernapasan, diabetes, darah tinggi dan sebagainya. Misalnya, kalau kita berusia tua, berpenyakit jantung dan terjangkit Corona, peluang kematian bisa mencapai 10 persen. Untuk penyakit kanker sebesar  5 persen,  diabetes  sebesar 7 persen.

Mereka yang terjangkit Corona akibat penularan yang dibawa orang sekitarnya, bisa saja terlihat  sehat tanpa menunjukkan gejala sakit. Oleh sebab itu harus menjadi kepedulian kita bersama sekarang jangan sampai terjangkit Corona. Sebab orang yang positif Corona tanpa memperlihatkan gejala sakit bisa menjadi carrier yang menyebarkannya kepada orang lain dalam jangka waktu yang cepat. Jika kita menduga bahwa kemungkinan diri kita terjangkit virus Corona, sebaiknya dianjurkan untuk tidak menyentuh atau berdekatan dengan anggota keluarga yang sudah berusia lanjut dan berpenyakit kronis.

Jika pemerintah mengeluarkan anjuran normatif melalui kebijakan social distancing, itu lebih dalam rangka menghindari jatuhnya korban dalam jumlah luar biasa dalam waktu cepat. Harus diakui, wabah ini datang tiba-tiba yang diiringi dengan penyebaran yang sangat cepat dan eksplosif. Keunggulan si Covid19 ini dibanding pendahulunya adalah kecepatannya berpindah dari satu objek ke objek lain. Di samping itu, ketika menempel pada benda-benda tertentu juga cukup lama sehingga kemungkinan terinfeksi juga sangat besar. Hal inilah yang mengakibatkan pandemi. Karena meledak, masyarakat menjadi panik, dan rumah sakit penuh. Beberapa dari kepanikan itu diwarnai dengan fenomena panic buying, penimbunan masker dan hand sanitizer sehingga harga kedua barang itu menjadi mahal.

Agar tidak terjadi kegaduhan yang lebih luas sehingga mengakibatkan suasana chaos, masyarakat perlu ditentramkan. Harus ada cara mengendalikan penyebaran virus yang efektif untuk iklim sosial kita. Harapannya, jika  penyebaran virus bisa dikurangi kecepatannya, jumlah korban juga akan berkurang. Jadi kalau rate korban bisa dikendalikan, hidup bisa lebih tenang dan kita kembali hidup normal.

Kesimpulannya, jangan terlalu berlebihan menanggapi pandemi Covid19 sehingga berakhir dengan kepanikan dan lalu stres. Bukan pula meremehkan sehingga kewaspadaan menjadi menurun. Hal yang harus kita lakukan sekarang sambil menunggu ditemukannya vaksin di samping tetap menjaga kebugaran agar imunitas kita kuat adalah hidup biasa dan normal. Maksudnya, tetap tersimpul senyum sambil mereaktualisasi hubungan dengan orang-orang yang kita sayangi melalui social distancing. Hidup bahagia meskipun Corona melanda. Yakinlah bahwa Corona bukan musuh yang tidak bisa dilawan. Terakhir, gunakan akal sehat, sebab hanya dengan akal sehat kita akan selamat. Salam waras.  [T]

Tags: covid 19gaya hidupkebahagiaanvaksinvirus corona
Share63TweetSendShareSend
Previous Post

Kerja di Kapal Pesiar, “Macolek Pamor” Dianggap Kaya

Next Post

Kini Tiba Waktu Berulang-ulang Memikirkan Bali

Putu Hendra Mas Martayana

Putu Hendra Mas Martayana

Lahir di Gilimanuk, 14 Agustus 1989, tinggal di Gerokgak, Buleleng. Bisa ditemui di akun Facebook dan IG dengan nama Marx Tjes

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kini Tiba Waktu Berulang-ulang Memikirkan Bali

Kini Tiba Waktu Berulang-ulang Memikirkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co