12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Gavin Ar Rasyid Simatupang by Gavin Ar Rasyid Simatupang
March 13, 2020
in Opini
Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Google

Pada hari Sabtu, 9 Maret 2020, saya mengikuti tahap kedua dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi Bali. Ada dua hal yang diujikan pada tahap ini yakni tes tulis dan tes wawancara. Melalui tahap kedua, peserta lolos yang sebelumnya berjumlah 40 untuk kategori pria dan 40 wanita akan diseleksi menjadi masing-masing 10 peserta. Menurut panitia yang saya sempat tanya, kegiatan ini diikuti oleh 300-an peserta.

Sebelumnya, pada tahap pertama, pihak panitia mensyaratkan masing-masing peserta membuat semacam tulisan yang lebih condong pada argumentasi, alih-alih esai mengenai pensikapan kami selaku generasi muda terhadap posisi bahasa Indonesia dalam konstelasi global memasuki era disrupsi informasi.

Ide awal tulisan ini diinisiasi oleh diskusi saya dengan Pembimbing Kemahasiswaan (PK) di lingkungan Jurusan Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan (Jurusan SSP), Bapak I Putu Hendra Mas Mas Martayana. Beliaulah yang memberikan banyak masukan. Beliau berharap bahwa tulisan yang dihasilkan oleh anak Prodi Pendidikan Sejarah seperti kami tidak terpenjara dalam normativitas pendidikan. Artinya, tulisan itu harus kritis terhadap fenomena global yang berkembang akhir-akhir ini. Muaranya adalah sebuah tulisan yang menjadi ciri khas anak sejarah yang mampu menautkan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Tes tulis saya lewati dengan lancar, lalu tibalah sesi wawancara dengan tiga dewan juri. Namun yang agak aneh adalah, hanya tulisan milik saya dan kolega saya yang berasal dari prodi yang sama atas nama Putu Sulistyawati disisihkan dari esai peserta lain. Pertanyaan yang diajukan terdengar berbeda dengan peserta lain. Saya melihat juri cenderung melakukan gugatan terhadap pandangan kami mengenai posisi bahasa Indonesia. Menurut juri, tulisan kami kurang konstruktif sebagaimana yang diminta. Alih-alih menyajikan narasi kebajikan dari bahasa Indonesia sebagai lingua franca, tulisan kami menekankan pada sense of self critic terhadap cara pandang kebahasaan bagi kebanyakan orang.

Khusus pertanyaan seputar bacaan, saya jawab “Das Capital” yang ditulis Karl Heinrich Marx. Das Capital sebagai magnus opum Marx terinspirasi dari karya Thomas Moore berjudul Utopia (tempat indah), filsuf Inggris yang lahir tiga abad sebelum Marx. Setidaknya itu informasi yang berhasil saya himpun dari PK Jurusan SSP, baik melalui diskusi singkat maupun dalam beberapa tatap muka perkuliahan. Bapak Hendra sendiri juga mendaku sebagai pengagum ide-ide Marx, terutama tentang emansipasi dan humanisme. Mungkin itu yang menyebabkan akun FB dan IG-nya mencomot nama Marx menjadi “marxtjes”. Tapi entahlah, mungkin benar mungkin juga salah.

Pada akhirnya, kami berdua tidak lolos sepuluh besar. Meski begitu, tidak ada raut kekecewaan. Pun demikian dengan pembimbing kami, Bapak Hendra yang sebenarnya berharap banyak atas keikutsertaan kami di ajang ini. Selepas mendengar keluh kesah seputar tes tahap kedua, simpul senyum kecil menghiasi wajahnya. Menurutnya, virus kritisisme harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda sehingga senantiasa menghasilkan kegelisahan dan pertentangan pemikiran serta menjaga kami tetap sadar dan berakal. Matinya kritisisme itu tatkala generasi muda telah hilang kegelisahannya.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi upaya penyadaran generasi muda, bahwa berpikir kritis yang tidak terkungkung normativitas adalah keharusan. Penyampaian suara-suara emansipatif dan humanisme yang bersifat empatik mendesak untuk dilakukan. Oleh sebab itu, saya atas desakan PK SSP mengirimkan tulisan ini ke platform Tatkala untuk dibagikan kepada handai tauladan sekalian. Semoga menginspirasi.

Menurut kamus Britanica, bahasa adalah sistem umum yang diucapkan, secara manual atau menggunakan simbolisasi tertulis yang dimaksudkan dan digunakan oleh manusia, sebagai anggota dari kelompok sosial dan partisipan aktif dalam sebuah budaya sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Dari definisi itu, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa memiliki fungsi yang sangat fundamental di dalam perkembangan umat manusia. Terutama sebagai media komunikasi dalam suatu komunitas. Di samping itu, bahasa juga dapat digunakan sebagai sarana yang membentuk identitas suatu kelompok masyarakat dalam mengekspresikan diri mereka. Pengekspresian imaginasi dan emosional juga menjadi fungsi lain bahasa, mengingat bahwa bahasa itu merupakan hasil dari perkembangan sebuah budaya dalam rentang waktu yang sangat lama.

Dari pernyataan di atas, muncul pertanyaan, seberapa pentingkah bahasa dalam kehidupan sosial manusia? Jawabanya tentu saja penting. Bahasa, atau lebih dikenal sebagai sistem simbol dengan segala kerumitan yang kita kenal sekarang adalah penanda yang membedakan antara kehidupan homo sapiens selaku moyang manusia modern dengan mahkluk lain terutama binatang. Bahasa telah menghasilkan jarak sosial yang amat jauh antara kehidupan manusia dengan mahkluk lainnya di bumi ini. Sebab, melalui kebahasaan, peradaban-peradaban besar dapat dibangun sehingga manusia menjadi penguasa tunggal atas dunia ini meski kehadirannya belakangan. Setidaknya itu yang tersirat di dalam sebuah buku yang berjudul “Homo Sapiens” yang dikarang oleh Yuval Noah Harari.

Seperti yang kita ketahui, sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran pemuda. Di era pergerakan nasional, para pemudalah yang memelopori diskusi-diskui politik. Titik kulminasinya dapat kita saksikan pada peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, di mana salah satu unsur penting yang dideklarasikan itu menjadikan bahasa sebagai elemen penting disamping tanah air dan tumpah darah keindonesiaan. Dengan demikian, dalam proses pembentukan identitas nasional yang mencapai titik puncak para proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengantar yang menghubungkan aneka macam suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.

Dengan melihat fakta sejarah di atas, sesungguhnya peran pemuda tidak berhenti hanya sampai di situ. Ia bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan jaman. Khususnya di era sekarang, di mana pertukaran sosial antar bangsa dan negara di dunia yang dikatalisasi teknologi telah meluluhlantakkan sekat-sekat identitas termasuk bahasa, peran pemuda sangat dibutuhkan untuk melakukan pengembangan sekaligus menjadi selektor terhadap anasir negatif globalisasi sehingga adaptif dengan perkembangan jaman. Meski demikian, upaya untuk menjaga keaslian bahasa Indonesia sebagai identitas nasional tidak sepenuhnya bisa dilakukan. Alasannya, merujuk kepada persitiwa masa lalu bahwa bahasa Indonesia, seperti halnya bangsa Indonesia merupakan melting pot bahasa-bahasa dunia. Di dalamnya kita akan menemukan kosakta-kosakata yang diserap dari aneka bahasa dunia yang pernah melakukan pertukaran sosial di masa lalu dengan bangsa kita. Beberapa di antaranya ada bahasa Arab, Sanskrit, Belanda, Portugis, Belanda, Perancis, Jepang, Inggris, Jerman, Cina dan tidak terhitung aneka bahasa daerah. Tentu saja dalam prose itu tidak bisa dikesampingkan peran orang-orang Cina yang dengan gigih telah menjadikan bahasa melayu pasar (dibawa orang-orang Cina Hokian) sebagai bahasa perdagangan.

Dewasa ini, ketika kita dihadapkan pada momen pertukaran sosial yang semakin intens antarbangsa di dunia yang dikatalisasi oleh globalisasi, ada semacam kekhawatiran bahwa suatu saat, westernisasi, hedonisme dan juga sekulerisme akan menjadi keseharian kita. Ini berarti identitas kita sebagai sebuah bangsa juga ikut mengalami dekadensi. Pertanyaanya kemudian, bagaimana dengan bahasa Indonesia di masa depan? Apakah masih tetap sama, berkembang, stagnan atau jangan-jangan mengalami kepunahan karena tidak digunakan sebagai akibat beralihnya para penutur ke bahasa-bahasa asing yang dianggap memiliki prestise tinggi.

Bahasa, sebagaimana halnya negara bangsa dalam rangkaian sejarah mengalami pasang dan surut. Di masa lalu, bahasa Mesir dengan huruf hierogliphnya menjadi bahasa yang dominan dipergunakan orang Mesir. Begitu juga bahasa Mesopotamia, babilonia dan bahasa-bahasa dari peradaban besar lainnya. Pada akhirnya mengalami kepunahan seiring tumbangnya kekuasaa mereka atas berbagai wilayah seiring kemunculan imperium-imperium baru. Beranjak dari fakta sejarah itu, tentu saja kita sebagai pemuda Indonesia tidak menginginkan salah satu identitas nasional, yakni bahasa Indonesia bernasib sama dengan bahasa-bahasa dari peradaban lain di luar sana. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah preventif untuk melindungi kebahasaan kita dari pengaruh egatif globalisasi yang berpotensi merusak.

   Dalam konteks kebahasaan, muncul adagium yang berbunyi “kuasailah bahasa asing, pergunakanlah bahasa Indonesia dan lestarikan bahasa lokal”. Menurut saya, adagium itu sangat kontraproduktif dan merupakan implikasi dari persinggungan sekaligus pergesekan kepentingan antarbangsa di dunia. Kita diwajibkan menguasai bahasa asing, entah itu Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Jepang.

Bahasa Inggris adalah bahasa pergaulan internasional sehingga penguasaan terhadap bahasa ini sangat diperlukan untuk memperlacar komunikasi kita di belahan bumi manapun berada. Saya pikir, hampir di seluruh negara-negara di dunia menjadikan bahasa Inggris sebagai standar pergaulan internasional dan bahkan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kekurangpedulian terhadap penguasaan bahasa ini tentu saja berakibat fatal bagi kita seperti menjadi tidak up to date dengan perkembangan dunia yang diinisiasi oleh beragam informasi di mana bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.

Menurut saya, kekurangpedulian terhadap bahasa asing minimal Bahasa Inggris terutama didorong oleh inferiority complex yang dialami oleh hampir seluruh negara dunia ketiga yang note bene pernah mengalami penjajahan negara-negara Barat. Akibatnya, mereka menjadi pribadi rendah diri yang kurang ekspresif dan kebahasaan salah satunya. Di samping itu ada juga perasaan takut salah dan lalu enggan mengalami bully sosial jika pelafalan mereka dalam pergaulan sosial salah. Mereka lemah, alias baper secara sosial karena tidak kuat menerima kritikan, apalagi cacian cum hinaan. Persoalan ini juga diperkuat oleh stigma yang dibuat negara di masa lalu perihal segala sesuatu yang berbau asing dianggap sebagai antirevolusioner. Setidaknya itu yang terjadi di masa orde lama yang memang anti barat. Akan tetapi masalah stigma yang diciptakan negara Orde Lama di masa lalu saya pikir tidak relevan lagi pada konteks masa kini.

Beberapa alasan di atas nampaknya tidak berlaku pada sebagian pemuda lain yang saya temui. Stigma eksklusif pada penguasaan terhadap bahasa asing di samping menciptakan stigma negatif, juga melahirkan previleg bagi penuturnya. Orang dengan kemampuan bahasa asing yang baik akan dianggap memiliki status sosial di atas rata-rata. Sebab dengan kemampuan itu, mereka akan dapat bercakap-cakap dengan orang dari berbagai bangsa di dunia. Tentu saja hal itu menjadi pengalaman yang tidak akan mampu digapai oleh orang dengan kemampuan bahasa asing yang buruk.

  Lalu bagaimana dengan bahasa daerah? Proses indonesianisasi dan sekaligus globalisasi terhadap daerah-daerah telah menempatkan bahasa daerah sebagai elemen minor dalam praktik kehidupan sehari-hari. Aneka bahasa lokal yang ratusan jumlah dengan dialek yang bermacam-macam berpotensi punah. Bahkan, kekurangpedualian kita terhadap bahasa daerah sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang telah dimanfaatkan oleh bangsa lain. Mungkin kita ingat momen di mana negara tetangga Malaysia yang dengan gencar melakukan klaim kepemilikan terhadap kebudayaan kita termasuk di dalamnya bahasa.

Perlu diketahui bahwa klaim terhadap kebudayaan itu dimaksudkan untuk mendukung wacana “Malaysia, Truly Asia”. Sebagai generasi muda, tentu masalah ini tidak bisa diaggap sepele. Jika Malaysia menggunakan klaim budaya kita untuk mendukung wacana di atas, seharusnya kita juga bisa melakukan klaim yang lebih serius terhadap fakta sosial masyarakat Indoensia bahwa “Indonesia is Really Asia”.

Dari masalah kebahasaan tentang lokalitas, nasionalitas dan globalitas itu, sesungguhnya kita dalam masalah serius yang dihadapkan dengan berbagai pilihan jalan. Di satu sisi sebagai bentuk kecintaan terhadap tumpah darah harus melestarikan bahasa lokal, sebab kandungan fakta mental sekaligus sosial warisan nenek moyang yang tidak bisa bisa kita anggap enteng. Pengetahuan terhadap bahasa daerah akan menjelaskan bahwa betapa nenek moyang kita di masa lalu telah memiliki kecerdasan kognitif setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia telah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang mempersatukan kita. Bahasa Indonesia menjadi perekat yang mampu mentransmisikan cita-cita dan tujuan nasional Indonesia. Meski begitu, penguasaa kedua bahasa ini tidak lah cukup. Penguasaan bahasa asing diperlukan utuk melihat dunia dari cakrawala berbeda. bahasa Inggris sebagai salah satu prototipe perlu dikuasai sebagai bahasa pengantar internasional karena digunakan oleh hampir seluruh umat mausia di dunia. Dengan menguasai bahasa asing, khususnya di era globalisasi, kita tidak akan menjadi bangsa yang kerdil. Kita akan bisa berbicara banyak dalam kancah international. Oleh sebab itu menjadi resiko yang harus kita tanggung sebagai generasi muda di masa epan untuk mampu menguasai tiga bahasa ini. [T]

Tags: Bahasa Indonesiapemuda
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Mural Nestapa Pulau Subak

Next Post

Riwayat Lagu Pop Bali, Di Denpasar AA Made Cakra, Di Singaraja Gde Darna

Gavin Ar Rasyid Simatupang

Gavin Ar Rasyid Simatupang

Mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah, Undiksha, Singaraja, Bali

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post
Riwayat Lagu Pop Bali, Di Denpasar AA Made Cakra, Di Singaraja Gde Darna

Riwayat Lagu Pop Bali, Di Denpasar AA Made Cakra, Di Singaraja Gde Darna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co