23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Gavin Ar Rasyid Simatupang by Gavin Ar Rasyid Simatupang
March 13, 2020
in Opini
Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Google

Pada hari Sabtu, 9 Maret 2020, saya mengikuti tahap kedua dalam ajang Pemilihan Duta Bahasa Indonesia Tingkat Provinsi Bali. Ada dua hal yang diujikan pada tahap ini yakni tes tulis dan tes wawancara. Melalui tahap kedua, peserta lolos yang sebelumnya berjumlah 40 untuk kategori pria dan 40 wanita akan diseleksi menjadi masing-masing 10 peserta. Menurut panitia yang saya sempat tanya, kegiatan ini diikuti oleh 300-an peserta.

Sebelumnya, pada tahap pertama, pihak panitia mensyaratkan masing-masing peserta membuat semacam tulisan yang lebih condong pada argumentasi, alih-alih esai mengenai pensikapan kami selaku generasi muda terhadap posisi bahasa Indonesia dalam konstelasi global memasuki era disrupsi informasi.

Ide awal tulisan ini diinisiasi oleh diskusi saya dengan Pembimbing Kemahasiswaan (PK) di lingkungan Jurusan Sejarah, Sosiologi dan Perpustakaan (Jurusan SSP), Bapak I Putu Hendra Mas Mas Martayana. Beliaulah yang memberikan banyak masukan. Beliau berharap bahwa tulisan yang dihasilkan oleh anak Prodi Pendidikan Sejarah seperti kami tidak terpenjara dalam normativitas pendidikan. Artinya, tulisan itu harus kritis terhadap fenomena global yang berkembang akhir-akhir ini. Muaranya adalah sebuah tulisan yang menjadi ciri khas anak sejarah yang mampu menautkan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Tes tulis saya lewati dengan lancar, lalu tibalah sesi wawancara dengan tiga dewan juri. Namun yang agak aneh adalah, hanya tulisan milik saya dan kolega saya yang berasal dari prodi yang sama atas nama Putu Sulistyawati disisihkan dari esai peserta lain. Pertanyaan yang diajukan terdengar berbeda dengan peserta lain. Saya melihat juri cenderung melakukan gugatan terhadap pandangan kami mengenai posisi bahasa Indonesia. Menurut juri, tulisan kami kurang konstruktif sebagaimana yang diminta. Alih-alih menyajikan narasi kebajikan dari bahasa Indonesia sebagai lingua franca, tulisan kami menekankan pada sense of self critic terhadap cara pandang kebahasaan bagi kebanyakan orang.

Khusus pertanyaan seputar bacaan, saya jawab “Das Capital” yang ditulis Karl Heinrich Marx. Das Capital sebagai magnus opum Marx terinspirasi dari karya Thomas Moore berjudul Utopia (tempat indah), filsuf Inggris yang lahir tiga abad sebelum Marx. Setidaknya itu informasi yang berhasil saya himpun dari PK Jurusan SSP, baik melalui diskusi singkat maupun dalam beberapa tatap muka perkuliahan. Bapak Hendra sendiri juga mendaku sebagai pengagum ide-ide Marx, terutama tentang emansipasi dan humanisme. Mungkin itu yang menyebabkan akun FB dan IG-nya mencomot nama Marx menjadi “marxtjes”. Tapi entahlah, mungkin benar mungkin juga salah.

Pada akhirnya, kami berdua tidak lolos sepuluh besar. Meski begitu, tidak ada raut kekecewaan. Pun demikian dengan pembimbing kami, Bapak Hendra yang sebenarnya berharap banyak atas keikutsertaan kami di ajang ini. Selepas mendengar keluh kesah seputar tes tahap kedua, simpul senyum kecil menghiasi wajahnya. Menurutnya, virus kritisisme harus ditanamkan sejak dini kepada generasi muda sehingga senantiasa menghasilkan kegelisahan dan pertentangan pemikiran serta menjaga kami tetap sadar dan berakal. Matinya kritisisme itu tatkala generasi muda telah hilang kegelisahannya.

Tulisan ini saya dedikasikan bagi upaya penyadaran generasi muda, bahwa berpikir kritis yang tidak terkungkung normativitas adalah keharusan. Penyampaian suara-suara emansipatif dan humanisme yang bersifat empatik mendesak untuk dilakukan. Oleh sebab itu, saya atas desakan PK SSP mengirimkan tulisan ini ke platform Tatkala untuk dibagikan kepada handai tauladan sekalian. Semoga menginspirasi.

Menurut kamus Britanica, bahasa adalah sistem umum yang diucapkan, secara manual atau menggunakan simbolisasi tertulis yang dimaksudkan dan digunakan oleh manusia, sebagai anggota dari kelompok sosial dan partisipan aktif dalam sebuah budaya sebagai alat untuk mengekspresikan diri. Dari definisi itu, kita dapat menyimpulkan bahwa bahasa memiliki fungsi yang sangat fundamental di dalam perkembangan umat manusia. Terutama sebagai media komunikasi dalam suatu komunitas. Di samping itu, bahasa juga dapat digunakan sebagai sarana yang membentuk identitas suatu kelompok masyarakat dalam mengekspresikan diri mereka. Pengekspresian imaginasi dan emosional juga menjadi fungsi lain bahasa, mengingat bahwa bahasa itu merupakan hasil dari perkembangan sebuah budaya dalam rentang waktu yang sangat lama.

Dari pernyataan di atas, muncul pertanyaan, seberapa pentingkah bahasa dalam kehidupan sosial manusia? Jawabanya tentu saja penting. Bahasa, atau lebih dikenal sebagai sistem simbol dengan segala kerumitan yang kita kenal sekarang adalah penanda yang membedakan antara kehidupan homo sapiens selaku moyang manusia modern dengan mahkluk lain terutama binatang. Bahasa telah menghasilkan jarak sosial yang amat jauh antara kehidupan manusia dengan mahkluk lainnya di bumi ini. Sebab, melalui kebahasaan, peradaban-peradaban besar dapat dibangun sehingga manusia menjadi penguasa tunggal atas dunia ini meski kehadirannya belakangan. Setidaknya itu yang tersirat di dalam sebuah buku yang berjudul “Homo Sapiens” yang dikarang oleh Yuval Noah Harari.

Seperti yang kita ketahui, sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peran pemuda. Di era pergerakan nasional, para pemudalah yang memelopori diskusi-diskui politik. Titik kulminasinya dapat kita saksikan pada peristiwa bersejarah Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, di mana salah satu unsur penting yang dideklarasikan itu menjadikan bahasa sebagai elemen penting disamping tanah air dan tumpah darah keindonesiaan. Dengan demikian, dalam proses pembentukan identitas nasional yang mencapai titik puncak para proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dapat dikatakan bahwa bahasa Indonesia telah menjadi bahasa pengantar yang menghubungkan aneka macam suku dan agama dari Sabang hingga Merauke.

Dengan melihat fakta sejarah di atas, sesungguhnya peran pemuda tidak berhenti hanya sampai di situ. Ia bergerak dinamis sesuai dengan perkembangan jaman. Khususnya di era sekarang, di mana pertukaran sosial antar bangsa dan negara di dunia yang dikatalisasi teknologi telah meluluhlantakkan sekat-sekat identitas termasuk bahasa, peran pemuda sangat dibutuhkan untuk melakukan pengembangan sekaligus menjadi selektor terhadap anasir negatif globalisasi sehingga adaptif dengan perkembangan jaman. Meski demikian, upaya untuk menjaga keaslian bahasa Indonesia sebagai identitas nasional tidak sepenuhnya bisa dilakukan. Alasannya, merujuk kepada persitiwa masa lalu bahwa bahasa Indonesia, seperti halnya bangsa Indonesia merupakan melting pot bahasa-bahasa dunia. Di dalamnya kita akan menemukan kosakta-kosakata yang diserap dari aneka bahasa dunia yang pernah melakukan pertukaran sosial di masa lalu dengan bangsa kita. Beberapa di antaranya ada bahasa Arab, Sanskrit, Belanda, Portugis, Belanda, Perancis, Jepang, Inggris, Jerman, Cina dan tidak terhitung aneka bahasa daerah. Tentu saja dalam prose itu tidak bisa dikesampingkan peran orang-orang Cina yang dengan gigih telah menjadikan bahasa melayu pasar (dibawa orang-orang Cina Hokian) sebagai bahasa perdagangan.

Dewasa ini, ketika kita dihadapkan pada momen pertukaran sosial yang semakin intens antarbangsa di dunia yang dikatalisasi oleh globalisasi, ada semacam kekhawatiran bahwa suatu saat, westernisasi, hedonisme dan juga sekulerisme akan menjadi keseharian kita. Ini berarti identitas kita sebagai sebuah bangsa juga ikut mengalami dekadensi. Pertanyaanya kemudian, bagaimana dengan bahasa Indonesia di masa depan? Apakah masih tetap sama, berkembang, stagnan atau jangan-jangan mengalami kepunahan karena tidak digunakan sebagai akibat beralihnya para penutur ke bahasa-bahasa asing yang dianggap memiliki prestise tinggi.

Bahasa, sebagaimana halnya negara bangsa dalam rangkaian sejarah mengalami pasang dan surut. Di masa lalu, bahasa Mesir dengan huruf hierogliphnya menjadi bahasa yang dominan dipergunakan orang Mesir. Begitu juga bahasa Mesopotamia, babilonia dan bahasa-bahasa dari peradaban besar lainnya. Pada akhirnya mengalami kepunahan seiring tumbangnya kekuasaa mereka atas berbagai wilayah seiring kemunculan imperium-imperium baru. Beranjak dari fakta sejarah itu, tentu saja kita sebagai pemuda Indonesia tidak menginginkan salah satu identitas nasional, yakni bahasa Indonesia bernasib sama dengan bahasa-bahasa dari peradaban lain di luar sana. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah preventif untuk melindungi kebahasaan kita dari pengaruh egatif globalisasi yang berpotensi merusak.

   Dalam konteks kebahasaan, muncul adagium yang berbunyi “kuasailah bahasa asing, pergunakanlah bahasa Indonesia dan lestarikan bahasa lokal”. Menurut saya, adagium itu sangat kontraproduktif dan merupakan implikasi dari persinggungan sekaligus pergesekan kepentingan antarbangsa di dunia. Kita diwajibkan menguasai bahasa asing, entah itu Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, Cina dan Jepang.

Bahasa Inggris adalah bahasa pergaulan internasional sehingga penguasaan terhadap bahasa ini sangat diperlukan untuk memperlacar komunikasi kita di belahan bumi manapun berada. Saya pikir, hampir di seluruh negara-negara di dunia menjadikan bahasa Inggris sebagai standar pergaulan internasional dan bahkan dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Kekurangpedulian terhadap penguasaan bahasa ini tentu saja berakibat fatal bagi kita seperti menjadi tidak up to date dengan perkembangan dunia yang diinisiasi oleh beragam informasi di mana bahasa yang digunakan adalah bahasa Inggris.

Menurut saya, kekurangpedulian terhadap bahasa asing minimal Bahasa Inggris terutama didorong oleh inferiority complex yang dialami oleh hampir seluruh negara dunia ketiga yang note bene pernah mengalami penjajahan negara-negara Barat. Akibatnya, mereka menjadi pribadi rendah diri yang kurang ekspresif dan kebahasaan salah satunya. Di samping itu ada juga perasaan takut salah dan lalu enggan mengalami bully sosial jika pelafalan mereka dalam pergaulan sosial salah. Mereka lemah, alias baper secara sosial karena tidak kuat menerima kritikan, apalagi cacian cum hinaan. Persoalan ini juga diperkuat oleh stigma yang dibuat negara di masa lalu perihal segala sesuatu yang berbau asing dianggap sebagai antirevolusioner. Setidaknya itu yang terjadi di masa orde lama yang memang anti barat. Akan tetapi masalah stigma yang diciptakan negara Orde Lama di masa lalu saya pikir tidak relevan lagi pada konteks masa kini.

Beberapa alasan di atas nampaknya tidak berlaku pada sebagian pemuda lain yang saya temui. Stigma eksklusif pada penguasaan terhadap bahasa asing di samping menciptakan stigma negatif, juga melahirkan previleg bagi penuturnya. Orang dengan kemampuan bahasa asing yang baik akan dianggap memiliki status sosial di atas rata-rata. Sebab dengan kemampuan itu, mereka akan dapat bercakap-cakap dengan orang dari berbagai bangsa di dunia. Tentu saja hal itu menjadi pengalaman yang tidak akan mampu digapai oleh orang dengan kemampuan bahasa asing yang buruk.

  Lalu bagaimana dengan bahasa daerah? Proses indonesianisasi dan sekaligus globalisasi terhadap daerah-daerah telah menempatkan bahasa daerah sebagai elemen minor dalam praktik kehidupan sehari-hari. Aneka bahasa lokal yang ratusan jumlah dengan dialek yang bermacam-macam berpotensi punah. Bahkan, kekurangpedualian kita terhadap bahasa daerah sebagai salah satu warisan budaya nenek moyang telah dimanfaatkan oleh bangsa lain. Mungkin kita ingat momen di mana negara tetangga Malaysia yang dengan gencar melakukan klaim kepemilikan terhadap kebudayaan kita termasuk di dalamnya bahasa.

Perlu diketahui bahwa klaim terhadap kebudayaan itu dimaksudkan untuk mendukung wacana “Malaysia, Truly Asia”. Sebagai generasi muda, tentu masalah ini tidak bisa diaggap sepele. Jika Malaysia menggunakan klaim budaya kita untuk mendukung wacana di atas, seharusnya kita juga bisa melakukan klaim yang lebih serius terhadap fakta sosial masyarakat Indoensia bahwa “Indonesia is Really Asia”.

Dari masalah kebahasaan tentang lokalitas, nasionalitas dan globalitas itu, sesungguhnya kita dalam masalah serius yang dihadapkan dengan berbagai pilihan jalan. Di satu sisi sebagai bentuk kecintaan terhadap tumpah darah harus melestarikan bahasa lokal, sebab kandungan fakta mental sekaligus sosial warisan nenek moyang yang tidak bisa bisa kita anggap enteng. Pengetahuan terhadap bahasa daerah akan menjelaskan bahwa betapa nenek moyang kita di masa lalu telah memiliki kecerdasan kognitif setara dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Di sisi lain, nasionalisme Indonesia telah menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar yang mempersatukan kita. Bahasa Indonesia menjadi perekat yang mampu mentransmisikan cita-cita dan tujuan nasional Indonesia. Meski begitu, penguasaa kedua bahasa ini tidak lah cukup. Penguasaan bahasa asing diperlukan utuk melihat dunia dari cakrawala berbeda. bahasa Inggris sebagai salah satu prototipe perlu dikuasai sebagai bahasa pengantar internasional karena digunakan oleh hampir seluruh umat mausia di dunia. Dengan menguasai bahasa asing, khususnya di era globalisasi, kita tidak akan menjadi bangsa yang kerdil. Kita akan bisa berbicara banyak dalam kancah international. Oleh sebab itu menjadi resiko yang harus kita tanggung sebagai generasi muda di masa epan untuk mampu menguasai tiga bahasa ini. [T]

Tags: Bahasa Indonesiapemuda
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Mural Nestapa Pulau Subak

Next Post

Riwayat Lagu Pop Bali, Di Denpasar AA Made Cakra, Di Singaraja Gde Darna

Gavin Ar Rasyid Simatupang

Gavin Ar Rasyid Simatupang

Mahasiswa prodi Pendidikan Sejarah, Undiksha, Singaraja, Bali

Related Posts

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails
Next Post
Riwayat Lagu Pop Bali, Di Denpasar AA Made Cakra, Di Singaraja Gde Darna

Riwayat Lagu Pop Bali, Di Denpasar AA Made Cakra, Di Singaraja Gde Darna

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co