4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mural Nestapa Pulau Subak

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 13, 2020
in Esai
Mural Nestapa Pulau Subak

Mural yang dibuat oleh Komunitas Djamur.

Di malam hari yang cerah setelah memasuki areal Bentara Budaya Bali, derap langkah bergetar melintasi keramaian pengunjung di ruang galeri pada pameran seni tanggal 26 Oktober 2019 berjudul Bali Megarupa dengan Slogan Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Melihat satu per satu karya seni dengan berbagai motif dan corak yang dipajang, sambil mendengar celotehan suara-suara  orang di sekeliling, mata saya tertuju pada satu karya seni yang menarik untuk diamati. Di bawahnya tercantum keterangan bahwa ini adalah mural yang  dibuat oleh Komunitas Djamur.

Menggambarkan persawahan yang diliputi pohon kelapa yang daunnya bergoyang ditiup angin menaungi tanah di bawahnya. Buah buah kelapa tumbuh sehat. Pura dilukiskan berwarna-warni memancarkan kesakralan. Sawah menguning memberikan seruan beras siap didapat.

Air yang berwarna biru memperlihatkan kejernihan danau dan sungai dimana mahluk hidup bahagia. Udara di situ digambarkan masih sejuk. Bagian ini  yang berada di bagian atas jam pasir melambangkan lingkungan yang asri. Kemudian, warna warni tadi menyusut sedikit demi sedikit ke bagian bawah jam pasir.

Di situ, adalah gambaran yang suram dengan warna hitam kelabu, dan coklat. Beton beton berdiri menggantikan rerumputan dan pohon. Air tercemar limbah dari pariwisata. Udara tercemar pembangkit listrik.

Warna latar dusty pink pada mural melambangkan sentimentalitas dan romantis . Di sini seniman merindukan kondisi tanah dan air Bali yang dulunya hijau dan jernih. Mural ini adalah peringatan untuk seluruh Bali supaya mengkaji kembali pembangunan.

Karya seni sangkala pertiwi yang dipajang di ruang bentara budaya bali menggambarkan alam bali berupa sawah yang bukan hanya penghasil beras tapi juga bahan untuk upacara adat seperti buah kelapa, daun kelapa dan pisang. Pohon kelapa yang tumbuh di sawah menghasilkan nira untuk pemanis dan kayu untuk bahan bangunan dan kerajinan.

Daun pisang berperan sebagai pembungkus makanan.  Ikan , bebek dan siput yang ada di situ menghasikan protein bagi penduduk. Bali mulai menghadapi degradasi lingkungan parah tak lama setelah tragedi 1965.

Pariwisata masal diperkenalkan oleh rezim orde baru mulai tahun 1970. Di tahun yang sama , revolusi hijau digalakkan dengan pemakaian pupuk dan pestisida berbahan bakar fosil yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan.

Sawah di Bali sebelum tahun 1970 kaya dengan keragaman burung, cacing tanah , dan serangga. Sekarang, lebih miskin. Air tidak sepenuhnya aman untuk digunakan oleh hewan apalagi manusia karena bahan kimia. Lamban laun lahan sawah terdegradasi.

Akhirnya petani memilih menjual lahan tersebut yang dijadikan komoditas bagi korporasi pengembang.  Sejak itu satu per satu sawah beralih fungsi jadi akomodasi pariwisata seperti hotel, dan vila.

Saat persawahan hancur, Bali kehilangan rohnya. Kesenian Bali terinspirasi dari sawah. Makanan khas Bali bersumber dari situ. Yang mengkhawatirkan dari kehancuran sawah ini adalah Bali tidak mampu memenuhi keamanan pangan warganya. Pisang, buah kelapa, beras, dan bunga bunga yang dipakai untuk canang seringkali didatangkan dari luar pulau karena tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan melaksanakan ibadah Hindu.

Seharusnya pemerintah Bali memperhatikan hal ini dan berusaha untuk menjamin ketercukupan bahan bahan yang vital bagi upacara adat dan agama. Slogan ajeg Bali dan tri hita kara yang terus digembar gemborkan menjadi slogan kosong belaka saat masyarakat Bali tidak mampu mencukupi kebutuhan yang paling vital untuk makanan pokok dan bahan upacara yang menjadi budaya itu sendiri. 

Mempertahankan Sawah Bali

Upaya pertama yang harus dilakukan untuk jangka pendek dengan sarana hukum yang ada adalah ketegasan tanpa tebang pilih untuk menindak pelaku pelanggaran hukum tata ruang dan penyalahgunaan lahan di lokasi yang ditetapkan sebagai sawah. Pemilik maupun penyewa lahan dilarang mengubah sawah menjadi bangunan di kawasan tersebut.

Izin mendirikan bangunan untuk wilayah persawahan diperketat menurut hukum yang berlaku saat ini. Pratik suap dan mafia tanah harus dibasmi. Masyarakat memantau dan melaporkan bila terjadi pratek melangkahi izin dengan uang pelicin. Penegak hukum , polisi , jaksa dan hakim harus berintegritas tinggi.

Spekualasi tanah dilarang dengan membuat aturan bahwa lahan yang diterlantar lebih dari 5 tahun kehilangan hak milik. Untuk lahan-lahan yang terlantar, pemerintah perlu memberikan bimbingan pada pemilik lahan untuk menggunakaannya sebagai produksi pangan berkelanjutan.

 Dari segi ekonomi, pemerintah dapat memberikan akses pasar kepada petani lokal Bali agar produksinya terserap supaya petani hidup layak sehingga mampu mempertahankan sawah. Petani harus dibina untuk membentuk badan usaha kooperatif yang menjunjung tinggi kerja sama dan menghindari persaingan antar sesama petani sehingga meningkatkan daya tawar di pasar.

Dengan bersatu membentuk ini, petani memiliki modal lebih banyak untuk menggunakan kendaraan mendistribusikan hasil panennya ke pasar.

Himpunan petani dapat mendirikan jalur trekking seperti yang ada di Denpasar utara bernama ekowisata Sembung Peguyangan. Lahan parkir disediakan. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati ekosistem persawahan. Di kawasan itu pula mereka melihat proses pengolahan dan menikmati produk jadi. Karena sawahnya luas, himpunan ini berpotensi mendirikan penginapan bagi yang ingin bermalam.

Dari produksi untuk mengolah bahan mentah dan penggunaan akomodasi oleh wisatawan semua ini membutuhkan energi.

Oleh karena itu pemerintah meminjamkan masyarakat peralatan untuk mengolah jerami padi jadi briket bahan bakar serta panel surya untuk listrik. Ini dapat menghemat energi jangka panjang. Pendapatan dari pariwisata ini akan dinikmati sepenuhnya oleh himpunan petani. Upaya-upaya ini akan menahan laju peralihan sawah dan memulihkan lingkungan hidup. [T]

Tags: baliPulau DewataSeni Rupasubak
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi DNetwork dan Lokajaya Group: Mengajak Tunanetra Dalami “Public Speaking”

Next Post

Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Bahasa Menunjukkan Bangsa - Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co