25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mural Nestapa Pulau Subak

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
March 13, 2020
in Esai
Mural Nestapa Pulau Subak

Mural yang dibuat oleh Komunitas Djamur.

Di malam hari yang cerah setelah memasuki areal Bentara Budaya Bali, derap langkah bergetar melintasi keramaian pengunjung di ruang galeri pada pameran seni tanggal 26 Oktober 2019 berjudul Bali Megarupa dengan Slogan Nangun Sat Kerthi Loka Bali.

Melihat satu per satu karya seni dengan berbagai motif dan corak yang dipajang, sambil mendengar celotehan suara-suara  orang di sekeliling, mata saya tertuju pada satu karya seni yang menarik untuk diamati. Di bawahnya tercantum keterangan bahwa ini adalah mural yang  dibuat oleh Komunitas Djamur.

Menggambarkan persawahan yang diliputi pohon kelapa yang daunnya bergoyang ditiup angin menaungi tanah di bawahnya. Buah buah kelapa tumbuh sehat. Pura dilukiskan berwarna-warni memancarkan kesakralan. Sawah menguning memberikan seruan beras siap didapat.

Air yang berwarna biru memperlihatkan kejernihan danau dan sungai dimana mahluk hidup bahagia. Udara di situ digambarkan masih sejuk. Bagian ini  yang berada di bagian atas jam pasir melambangkan lingkungan yang asri. Kemudian, warna warni tadi menyusut sedikit demi sedikit ke bagian bawah jam pasir.

Di situ, adalah gambaran yang suram dengan warna hitam kelabu, dan coklat. Beton beton berdiri menggantikan rerumputan dan pohon. Air tercemar limbah dari pariwisata. Udara tercemar pembangkit listrik.

Warna latar dusty pink pada mural melambangkan sentimentalitas dan romantis . Di sini seniman merindukan kondisi tanah dan air Bali yang dulunya hijau dan jernih. Mural ini adalah peringatan untuk seluruh Bali supaya mengkaji kembali pembangunan.

Karya seni sangkala pertiwi yang dipajang di ruang bentara budaya bali menggambarkan alam bali berupa sawah yang bukan hanya penghasil beras tapi juga bahan untuk upacara adat seperti buah kelapa, daun kelapa dan pisang. Pohon kelapa yang tumbuh di sawah menghasilkan nira untuk pemanis dan kayu untuk bahan bangunan dan kerajinan.

Daun pisang berperan sebagai pembungkus makanan.  Ikan , bebek dan siput yang ada di situ menghasikan protein bagi penduduk. Bali mulai menghadapi degradasi lingkungan parah tak lama setelah tragedi 1965.

Pariwisata masal diperkenalkan oleh rezim orde baru mulai tahun 1970. Di tahun yang sama , revolusi hijau digalakkan dengan pemakaian pupuk dan pestisida berbahan bakar fosil yang dalam jangka panjang menyebabkan degradasi lingkungan.

Sawah di Bali sebelum tahun 1970 kaya dengan keragaman burung, cacing tanah , dan serangga. Sekarang, lebih miskin. Air tidak sepenuhnya aman untuk digunakan oleh hewan apalagi manusia karena bahan kimia. Lamban laun lahan sawah terdegradasi.

Akhirnya petani memilih menjual lahan tersebut yang dijadikan komoditas bagi korporasi pengembang.  Sejak itu satu per satu sawah beralih fungsi jadi akomodasi pariwisata seperti hotel, dan vila.

Saat persawahan hancur, Bali kehilangan rohnya. Kesenian Bali terinspirasi dari sawah. Makanan khas Bali bersumber dari situ. Yang mengkhawatirkan dari kehancuran sawah ini adalah Bali tidak mampu memenuhi keamanan pangan warganya. Pisang, buah kelapa, beras, dan bunga bunga yang dipakai untuk canang seringkali didatangkan dari luar pulau karena tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan melaksanakan ibadah Hindu.

Seharusnya pemerintah Bali memperhatikan hal ini dan berusaha untuk menjamin ketercukupan bahan bahan yang vital bagi upacara adat dan agama. Slogan ajeg Bali dan tri hita kara yang terus digembar gemborkan menjadi slogan kosong belaka saat masyarakat Bali tidak mampu mencukupi kebutuhan yang paling vital untuk makanan pokok dan bahan upacara yang menjadi budaya itu sendiri. 

Mempertahankan Sawah Bali

Upaya pertama yang harus dilakukan untuk jangka pendek dengan sarana hukum yang ada adalah ketegasan tanpa tebang pilih untuk menindak pelaku pelanggaran hukum tata ruang dan penyalahgunaan lahan di lokasi yang ditetapkan sebagai sawah. Pemilik maupun penyewa lahan dilarang mengubah sawah menjadi bangunan di kawasan tersebut.

Izin mendirikan bangunan untuk wilayah persawahan diperketat menurut hukum yang berlaku saat ini. Pratik suap dan mafia tanah harus dibasmi. Masyarakat memantau dan melaporkan bila terjadi pratek melangkahi izin dengan uang pelicin. Penegak hukum , polisi , jaksa dan hakim harus berintegritas tinggi.

Spekualasi tanah dilarang dengan membuat aturan bahwa lahan yang diterlantar lebih dari 5 tahun kehilangan hak milik. Untuk lahan-lahan yang terlantar, pemerintah perlu memberikan bimbingan pada pemilik lahan untuk menggunakaannya sebagai produksi pangan berkelanjutan.

 Dari segi ekonomi, pemerintah dapat memberikan akses pasar kepada petani lokal Bali agar produksinya terserap supaya petani hidup layak sehingga mampu mempertahankan sawah. Petani harus dibina untuk membentuk badan usaha kooperatif yang menjunjung tinggi kerja sama dan menghindari persaingan antar sesama petani sehingga meningkatkan daya tawar di pasar.

Dengan bersatu membentuk ini, petani memiliki modal lebih banyak untuk menggunakan kendaraan mendistribusikan hasil panennya ke pasar.

Himpunan petani dapat mendirikan jalur trekking seperti yang ada di Denpasar utara bernama ekowisata Sembung Peguyangan. Lahan parkir disediakan. Wisatawan yang berkunjung dapat menikmati ekosistem persawahan. Di kawasan itu pula mereka melihat proses pengolahan dan menikmati produk jadi. Karena sawahnya luas, himpunan ini berpotensi mendirikan penginapan bagi yang ingin bermalam.

Dari produksi untuk mengolah bahan mentah dan penggunaan akomodasi oleh wisatawan semua ini membutuhkan energi.

Oleh karena itu pemerintah meminjamkan masyarakat peralatan untuk mengolah jerami padi jadi briket bahan bakar serta panel surya untuk listrik. Ini dapat menghemat energi jangka panjang. Pendapatan dari pariwisata ini akan dinikmati sepenuhnya oleh himpunan petani. Upaya-upaya ini akan menahan laju peralihan sawah dan memulihkan lingkungan hidup. [T]

Tags: baliPulau DewataSeni Rupasubak
Share19TweetSendShareSend
Previous Post

Kolaborasi DNetwork dan Lokajaya Group: Mengajak Tunanetra Dalami “Public Speaking”

Next Post

Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Bahasa Menunjukkan Bangsa – Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Bahasa Menunjukkan Bangsa - Peran Pemuda dan Pergulatan Identitas Nasional di Tengah Arus Global

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co