14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjakala

Satria Aditya by Satria Aditya
December 7, 2019
in Cerpen
Senjakala

Lukisan Komang Astiari

Cerpen Satria Aditya

Dari siang sampai matahari tak memperlihatkan sinarnya, empat anak masih bermain-main dengan riangnya di atas rerumputan kering. Kaki mereka kotor gara-gara debu yang berjam-jam mereka sapu, kulit mereka hitam dengan bekas luka dan goresan kecil akibat mengejar layangan putus entah siapa pemiliknya dan badan mereka penuh keringat yang sudah menempel erat di tubuh mereka. Keriangan mereka tak pernah ada yang bisa mengalahkan bahkan matahari yang sudah tenggelampun masih saja bersinar di raut wajah mereka. Sampai akhirnya tawa mereka lenyap karena salah seorang ibu memanggil semua anak-anak itu.

“Tu, Luh, Mang, Tut.. pulang, hari sudah petang tidak baik main sampai larut begini, nanti diambil genderuwo!!” seru ibu itu dari kejauhan.

“Sebentar lagi, Bu, kami masih menunggu layangan yang hampir putus itu!” seru salah seorang anak yang masih memantau layangan-layangan di langit gelap.

“Sudahlah.., ayo.. nanti Bapak marah, kalian kan tahu sendiri kalau Bapak marah bagaimana?!”

“Baiklah, Bu,” seru Iluh dengan muka masam.

Mereka menghampiri ibunya dengan muka masam dan badan yang tiba-tiba melemas. Mereka semua pulang ke rumah walaupun hati mereka tak ingin meninggalkan padang rumput gersang itu. Mereka hanya ingin bermain-main tanpa kenal waktu, walaupun mereka tak akan tahu bagaimana bahayanya kalau bermain sampai larut malam. Mitos-mitos kecil dari orang tua dahulu sudah biasa kita dengar, kalau bermain sampai larut malam akan disembunyikan oleh makhluk halus. Itu hanya mitos, bagi mereka dan anak-anak lain di luar sana.

Sampai di rumah, Ayah mereka sudah menunggu di depan rumah, duduk bersila sambil menyedot sedikit rokok kretek dan didampingi kopi yang masih panas. Kayu yang biasanya untuk memukuli anak-anak itu sudah siap di sebelahnya. Matanya langsung memerah setelah melihat anak-anaknya baru pulang larut malam. Anak-anak itu hanya menunduk dan kaki mereka terlihat gemetar karena hampir setiap pulang dari bermain selalu dipukul oleh ayahnya. Ibunya hanya bisa tertunduk diam ketika ayahnya sudah siap dengan tongkatnya itu. Seperti memukul batang pisang tanpa ampun, ayahnya tak pandang bulu meskipun anak perempuannya tak lepas dari pedihnya pukulan tongkat kayu jati itu. Anak-anak itu hanya bisa menahan sakitnya pukulan tongkat itu sampai keluar air mata tanpa suara.

Ibunya sangat ingin melindungi mereka, tapi apa daya, kalau dia melindungi anak-anaknya tidak mungkin lagi dia akan kena getah dari pukulan suaminya itu. Ayah mereka tak akan puas memukul mereka sampai salah satu anaknya ada yang tersungkur ke tanah dengan menahan rasa sakit dan perihnya pukulan itu. Selesai ayahnya meluapkan kemarahannya, Ibu mereka pasti akan langsung memandikan mereka dengan tangis yang tak akan dapat ditahan Ibu manapun ketika anaknya disiksa seperti itu. Lalu, setelah memandikan anak-anaknya itu Ibunya langsung menidurkan mereka, walaupun masih ada memar dan perih setelah dipukul oleh Ayahnya. Mereka tertidur pulas dengan raut tanpa salah, tapi ada satu anak yang masih terbangun saat saudara-saudaranya sudah terbang dalam mimpi, mungkin mimpi buruk atau mimpi indah.

“Kenapa belum tidur, Luh?” tanya Ibu kepada Iluh.

“Tidak bisa tidur Bu, perih sekali,” rintih Iluh yang belum genap berusia 10 tahun itu.

“Sudahlah, Luh. Makanya lain kali kalian itu harus pulang tepat waktu, kalau bisa sebelum Bapak pulang dari berjudi.”

“Kenapa Bapak selalu memukul kita Bu? Memangnya salah ya bermain?”

“Tidak kok, Nak. Jangankan kalian, Ibu saja sudah biasa menjadi sasaran kemarahan Bapakmu ketika kalah bermain judi.”

“Kalau bermain saja tidak masalah, Nak,” sambung Ibunya lagi. “Kalian itu bermain sampai matahari terbenam, nanti kalau terjadi apa-apa dengan kamu, kakakmu dan adik-adikmu bagaimana?”

“Kan selama ini tidak terjadi apa-apa Bu, palingan cuman luka gores saja saat mengejar layangan-layangan putus itu.”

“Bukannya begitu, Nak. Ibu kan sudah sering mengatakan, kalau nanti diambil oleh Genderuwo bagaimana? Bisa-bisa kalian tidak akan bertemu lagi dengan Ibu. Siapa yang akan memeluk kalian ketika menangis lagi?”

“Memangnya Genderuwo itu seseram apa sih, Bu?”

“Seram, sangat seram. Sampai-sampai kepalanya tidak akan bisa dilihat saking tingginya dan badannya bisa saja selebar lapangan tempat kalian bermain itu. Giginya sangan panjang dan runcing, suka memakan anak kecil seperti kalian. Maka dari itu juga Ibu melarang kalian bermain sampai larut seperti itu.”

“Ibu, Iluh ngantuk. Besok ceritakan lagi tentang genderuwo itu ya.”

“Iya, Nak. Sekarang tidurlah, jangan kau pikirkan ayahmu itu.”

Iluh tertidur sangat pulas. Di tengah mimpinya, Iluh berada pada lorong gelap. Iluh ketakutan, karena yang ada hanyalah lorong dipenuhi dengan air yang sangat bau dan lengket. Iluh terus berjalan menyusuri lorong itu dengan penuh ketakutan sampai ia menemukan cahaya putih di ujung lorong itu. Setelah keluar dari lorong itu, iluh melihat sosok yang sangat besar, tinggi dan juga berwajah sangat menyeramkan. Ia sangat ketakutan saat itu, sampai berteriakpun ia tak mampu. Ia ingin sekali memanggil ibunya, ia menangis tapi tidak keluar air mata, ingin teriak tapi sama sekali tidak keluar suara, ingin berlari tapi kaki terasa sangat kaku. Ia lantas diam menunduk ketakutan, sosok besar itu semakin dekat menghampirinya. Iluh merasakan didekap oleh sosok besar itu, kulitnya berbulu, Iluh dapat merasakan tangan berbulunya yang tajam seperti ingin menusuk kulitnya. Ia tak dapat kemana-mana, mimpi itu sangat buruk bagi Iluh.

Seseorang berteriak-teriak memanggil Iluh, suara kentongan dimana-mana, bunyi gambelan sangat keras didengarnya. Ia dapat melihat orang-orang itu, Ibu, Ayah, Kakak, Adik-adiknya dan warga desa. Beberapa kali mereka melewati Iluh, ia berteriak sekuat tenaga memanggil mereka tetapi suaranya tak terdengar. Ia menangis tetapi tidak setetespun keluar air matanya, ia terus memanggil-manggil mereka, berteriak sampai urat tenggorokannya terasa akan putus. Beberapa warga sampai mengambilkan sesajen, dan terlihat seseorang berbaju putih membacakan beberapa mantra. Suara gambelan dan kentongan semakin keras, semua orang juga berteriak memanggil Iluh. Sampai akhirnya Ibu, Ayah, Kakak, adik-adiknya dan semua warga desa pasrah akan kehilangan Iluh yang digadang-gadang telah disembunyikan oleh genderuwo.

Iluh tersadar dari mimpinya, sosok besar itu hilang, lenyap dan tidak ada lagi. Iluh hanya termenung, pikirannya kosong, wajahnya pucat dan bibirnya seperti mayat. Seseorang terlihat berteriak-teriak menuju rumah Iluh.

“Iluh… Iluh… Iluh di sana! Iluh sudah kembali, suksma ratu betara, suksma ratu betara!!” Dia terus berteriak, sampai Ibu Iluh mendatanginya.

“Dimana? Dimana anakku?”

“Di bawah pohon asem, di pojokan lapangan itu!”

Semua warga berbondong-bondong ke lapangan di desa itu, mendatangi Iluh yang sudah lemas dan pucat, pikirannya juga kosong. Ibunya menangis, sambil memeluk Iluh, tidak terkecuali Ibu-ibu di desa itu juga ikut menangis karena Iluh yang hilang selama lima hari sudah ditemukan. Iluh dibawa ke rumahnya. Dia hanya terdiam, tatapannya kosong, mukanya tetap pucat seperti pertama kali ditemukan. Akhirnya Iluh diupacarai oleh salah satu pemangku agar roh di tubuhnya kembali. Sampai seminggu kemudian, anak-anak itu tidak pernah keluar bermain jauh lagi, hanya di sekitaran halaman rumah mereka. Iluh masih trauma akan kejadian yang menimpanya, sampai dewasa ia tak pernah sekali pun menginjakkan kaki di lapangan yang luas itu. [T]

Tags: Cerpen
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dee Hwang # Twin Flame, Jatuh Cinta, Seoul

Next Post

Janggut Spiritual

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Janggut Spiritual

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026
Khas

Kreativitas Tanpa Batas Warnai Lomba Tari Modern Festival Seni Bali Jani 2026

LOMBA Tari Modern dalam rangka Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 menghadirkan beragam karya yang mencerminkan perkembangan seni...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café
Budaya

Menjelajah Kosmologi Kreativitas Ketut Suwidiarta di Five Roastery & Art Café

Di tengah riuh kafe yang biasanya dipenuhi aroma kopi dan percakapan santai, sebuah ruang diskusi tentang seni akan dibuka di...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co