3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Senjakala

Satria Aditya by Satria Aditya
December 7, 2019
in Cerpen
Senjakala

Lukisan Komang Astiari

Cerpen Satria Aditya

Dari siang sampai matahari tak memperlihatkan sinarnya, empat anak masih bermain-main dengan riangnya di atas rerumputan kering. Kaki mereka kotor gara-gara debu yang berjam-jam mereka sapu, kulit mereka hitam dengan bekas luka dan goresan kecil akibat mengejar layangan putus entah siapa pemiliknya dan badan mereka penuh keringat yang sudah menempel erat di tubuh mereka. Keriangan mereka tak pernah ada yang bisa mengalahkan bahkan matahari yang sudah tenggelampun masih saja bersinar di raut wajah mereka. Sampai akhirnya tawa mereka lenyap karena salah seorang ibu memanggil semua anak-anak itu.

“Tu, Luh, Mang, Tut.. pulang, hari sudah petang tidak baik main sampai larut begini, nanti diambil genderuwo!!” seru ibu itu dari kejauhan.

“Sebentar lagi, Bu, kami masih menunggu layangan yang hampir putus itu!” seru salah seorang anak yang masih memantau layangan-layangan di langit gelap.

“Sudahlah.., ayo.. nanti Bapak marah, kalian kan tahu sendiri kalau Bapak marah bagaimana?!”

“Baiklah, Bu,” seru Iluh dengan muka masam.

Mereka menghampiri ibunya dengan muka masam dan badan yang tiba-tiba melemas. Mereka semua pulang ke rumah walaupun hati mereka tak ingin meninggalkan padang rumput gersang itu. Mereka hanya ingin bermain-main tanpa kenal waktu, walaupun mereka tak akan tahu bagaimana bahayanya kalau bermain sampai larut malam. Mitos-mitos kecil dari orang tua dahulu sudah biasa kita dengar, kalau bermain sampai larut malam akan disembunyikan oleh makhluk halus. Itu hanya mitos, bagi mereka dan anak-anak lain di luar sana.

Sampai di rumah, Ayah mereka sudah menunggu di depan rumah, duduk bersila sambil menyedot sedikit rokok kretek dan didampingi kopi yang masih panas. Kayu yang biasanya untuk memukuli anak-anak itu sudah siap di sebelahnya. Matanya langsung memerah setelah melihat anak-anaknya baru pulang larut malam. Anak-anak itu hanya menunduk dan kaki mereka terlihat gemetar karena hampir setiap pulang dari bermain selalu dipukul oleh ayahnya. Ibunya hanya bisa tertunduk diam ketika ayahnya sudah siap dengan tongkatnya itu. Seperti memukul batang pisang tanpa ampun, ayahnya tak pandang bulu meskipun anak perempuannya tak lepas dari pedihnya pukulan tongkat kayu jati itu. Anak-anak itu hanya bisa menahan sakitnya pukulan tongkat itu sampai keluar air mata tanpa suara.

Ibunya sangat ingin melindungi mereka, tapi apa daya, kalau dia melindungi anak-anaknya tidak mungkin lagi dia akan kena getah dari pukulan suaminya itu. Ayah mereka tak akan puas memukul mereka sampai salah satu anaknya ada yang tersungkur ke tanah dengan menahan rasa sakit dan perihnya pukulan itu. Selesai ayahnya meluapkan kemarahannya, Ibu mereka pasti akan langsung memandikan mereka dengan tangis yang tak akan dapat ditahan Ibu manapun ketika anaknya disiksa seperti itu. Lalu, setelah memandikan anak-anaknya itu Ibunya langsung menidurkan mereka, walaupun masih ada memar dan perih setelah dipukul oleh Ayahnya. Mereka tertidur pulas dengan raut tanpa salah, tapi ada satu anak yang masih terbangun saat saudara-saudaranya sudah terbang dalam mimpi, mungkin mimpi buruk atau mimpi indah.

“Kenapa belum tidur, Luh?” tanya Ibu kepada Iluh.

“Tidak bisa tidur Bu, perih sekali,” rintih Iluh yang belum genap berusia 10 tahun itu.

“Sudahlah, Luh. Makanya lain kali kalian itu harus pulang tepat waktu, kalau bisa sebelum Bapak pulang dari berjudi.”

“Kenapa Bapak selalu memukul kita Bu? Memangnya salah ya bermain?”

“Tidak kok, Nak. Jangankan kalian, Ibu saja sudah biasa menjadi sasaran kemarahan Bapakmu ketika kalah bermain judi.”

“Kalau bermain saja tidak masalah, Nak,” sambung Ibunya lagi. “Kalian itu bermain sampai matahari terbenam, nanti kalau terjadi apa-apa dengan kamu, kakakmu dan adik-adikmu bagaimana?”

“Kan selama ini tidak terjadi apa-apa Bu, palingan cuman luka gores saja saat mengejar layangan-layangan putus itu.”

“Bukannya begitu, Nak. Ibu kan sudah sering mengatakan, kalau nanti diambil oleh Genderuwo bagaimana? Bisa-bisa kalian tidak akan bertemu lagi dengan Ibu. Siapa yang akan memeluk kalian ketika menangis lagi?”

“Memangnya Genderuwo itu seseram apa sih, Bu?”

“Seram, sangat seram. Sampai-sampai kepalanya tidak akan bisa dilihat saking tingginya dan badannya bisa saja selebar lapangan tempat kalian bermain itu. Giginya sangan panjang dan runcing, suka memakan anak kecil seperti kalian. Maka dari itu juga Ibu melarang kalian bermain sampai larut seperti itu.”

“Ibu, Iluh ngantuk. Besok ceritakan lagi tentang genderuwo itu ya.”

“Iya, Nak. Sekarang tidurlah, jangan kau pikirkan ayahmu itu.”

Iluh tertidur sangat pulas. Di tengah mimpinya, Iluh berada pada lorong gelap. Iluh ketakutan, karena yang ada hanyalah lorong dipenuhi dengan air yang sangat bau dan lengket. Iluh terus berjalan menyusuri lorong itu dengan penuh ketakutan sampai ia menemukan cahaya putih di ujung lorong itu. Setelah keluar dari lorong itu, iluh melihat sosok yang sangat besar, tinggi dan juga berwajah sangat menyeramkan. Ia sangat ketakutan saat itu, sampai berteriakpun ia tak mampu. Ia ingin sekali memanggil ibunya, ia menangis tapi tidak keluar air mata, ingin teriak tapi sama sekali tidak keluar suara, ingin berlari tapi kaki terasa sangat kaku. Ia lantas diam menunduk ketakutan, sosok besar itu semakin dekat menghampirinya. Iluh merasakan didekap oleh sosok besar itu, kulitnya berbulu, Iluh dapat merasakan tangan berbulunya yang tajam seperti ingin menusuk kulitnya. Ia tak dapat kemana-mana, mimpi itu sangat buruk bagi Iluh.

Seseorang berteriak-teriak memanggil Iluh, suara kentongan dimana-mana, bunyi gambelan sangat keras didengarnya. Ia dapat melihat orang-orang itu, Ibu, Ayah, Kakak, Adik-adiknya dan warga desa. Beberapa kali mereka melewati Iluh, ia berteriak sekuat tenaga memanggil mereka tetapi suaranya tak terdengar. Ia menangis tetapi tidak setetespun keluar air matanya, ia terus memanggil-manggil mereka, berteriak sampai urat tenggorokannya terasa akan putus. Beberapa warga sampai mengambilkan sesajen, dan terlihat seseorang berbaju putih membacakan beberapa mantra. Suara gambelan dan kentongan semakin keras, semua orang juga berteriak memanggil Iluh. Sampai akhirnya Ibu, Ayah, Kakak, adik-adiknya dan semua warga desa pasrah akan kehilangan Iluh yang digadang-gadang telah disembunyikan oleh genderuwo.

Iluh tersadar dari mimpinya, sosok besar itu hilang, lenyap dan tidak ada lagi. Iluh hanya termenung, pikirannya kosong, wajahnya pucat dan bibirnya seperti mayat. Seseorang terlihat berteriak-teriak menuju rumah Iluh.

“Iluh… Iluh… Iluh di sana! Iluh sudah kembali, suksma ratu betara, suksma ratu betara!!” Dia terus berteriak, sampai Ibu Iluh mendatanginya.

“Dimana? Dimana anakku?”

“Di bawah pohon asem, di pojokan lapangan itu!”

Semua warga berbondong-bondong ke lapangan di desa itu, mendatangi Iluh yang sudah lemas dan pucat, pikirannya juga kosong. Ibunya menangis, sambil memeluk Iluh, tidak terkecuali Ibu-ibu di desa itu juga ikut menangis karena Iluh yang hilang selama lima hari sudah ditemukan. Iluh dibawa ke rumahnya. Dia hanya terdiam, tatapannya kosong, mukanya tetap pucat seperti pertama kali ditemukan. Akhirnya Iluh diupacarai oleh salah satu pemangku agar roh di tubuhnya kembali. Sampai seminggu kemudian, anak-anak itu tidak pernah keluar bermain jauh lagi, hanya di sekitaran halaman rumah mereka. Iluh masih trauma akan kejadian yang menimpanya, sampai dewasa ia tak pernah sekali pun menginjakkan kaki di lapangan yang luas itu. [T]

Tags: Cerpen
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Dee Hwang # Twin Flame, Jatuh Cinta, Seoul

Next Post

Janggut Spiritual

Satria Aditya

Satria Aditya

Alumni Universitas Pendidikan Ganesha. Kini tinggal di Denpasar, jadi guru

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Janggut Spiritual

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Kuliner

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co