7 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Duka dan Jurang (Ritual) Kebersamaan

I Ngurah Suryawan by I Ngurah Suryawan
August 6, 2019
in Opini
Demam Peraturan dan Kooptasi Ruang Publik Kita

Jika tidak berlebihan, bolehlah saya mengandaikan masyarakat Bali, termasuk saya sendiri, sedang melakoni hidup dengan rangkaian ritual. Perjalanan panjang kehidupan dari mulai dalam kandungan hingga berstana di rong telu menjadi leluhur dimaknai dengan ritual.

Saat mahasiswa semester awal ilmu antropologi di Bali, saya harus berpikir keras untuk membaca buku Tjok Rai Sudharta, Manusia Bali dari Dalam Kandungan sampai Perkawainan (1997). Ritual dan ngayah (membantu) nak ngelah gae (yang mempunyai hajatan) dan yang lainnya sering saya lakukan. Tapi saya tidak memperoleh makna dari rangkaian ritual tersebut.

Saat menginjak kehidupan berumah tangga, saya baru merenungi arti penting rangkaian ritual manusia Bali tersebut. Rangkain kehidupan tersebut, mengutip istilah Dharma Palguna (2007) diandaikan sebagai jalan raya (yang panjang) ritual. Suka duka hidup sehari-hari selalu dimaknai dengan pelaksanaan ritual dalam setiap babak kehidupan. Garis panjang ritual dalam kehidupan orang Bali inilah yang diandaikan sebagai jalan raya yang tidak putus-putus. Itulah yang disebut dengan “jalan raya agama”.

Perjalanan panjang kehidupan manusia dengan rangkaian ritualnya itu bukannya tanpa konflik dan disharmoni. Meski tujuan ritual adalah untuk menuju keseimbangan kehidupan, tapi dalam praktik tidaklah seindah doktrin teologis. Sejatinya ritual itu sendiri adalah agama dalam tindakan untuk mencari jalan keselamatan (salvation).

Keselamatan adalah tujuan dari kehidupan beragama dan juga dari serangkain ritual yang dilakukan oleh agama-agama. Agama praksis yang terdapat dalam ritual menjadi cermin dari serangkaian aktivitas pendukung ritual tersebut. Ritual, upacara, dan ritus-ritus yang dilakukan pemeluk agama pasti mempunyai mitos tertentu. Selain itu, dalam ritual terdapat hubungan erat antara mitos, suatu dongeng suci dari suatu bangsa dengan aktivitas ritual, tingkah laku moral, organisasi sosial, bahkan aktivitas politik suatu masyarakat (Dhafamony, 1995;  Malinowski dalam Suhardi, 2009: 12).


Pura di puncak gunung yang menjaga tanah Bali dari berbagai penjuru (foto: I Ngurah Suryawan)

Meriah dan Getir 

Meriahnya pelaksanaan ritual kini di Bali bisa dilihat dari dua sisi. Sisi pertama bahwa kemegahan dan rutinitas ritual menjadi pentas legitimasi bagi kebudayaan Bali dan kolektivitas (semu) para pendukungnya. Dibalik pentas ritual tersebut, kita sejatinya diajak untuk menyaksikan perilaku agency (para agen, orang-orang) dari berbagai macam kepentingan, yang menjadikan ritual sebagai pentas status dan kekuasaan.

Sisi dibaliknya adalah bahwa kemegahan ritual “menundukkan” manusia Bali untuk terus tersingkir dalam dunia yang berubah. Ritual “mendiamkan” kekritisan manusia Bali untuk “melawan” politik busuk pariwisata misalnya. Tanah-tanah mereka perlahan-lahan dicaplok para investor dan tukang kapling yang rakus melalap kehidupan manusia Bali. Kedua-duanya berjalan beriringan: ritual megah tiada henti, tanah-tanah manusia Bali terus tergadaikan.


Kebersamaan umat Hindu untuk pedek tangkil memohon keselamatan di Pura Lempuyang Luhur (foto: I Ngurah Suryawan)

Pada sisi yang lain, persoalan kematian yang kini meriah dengan berlangsungnya Ngaben Massal dan ritual berkelompok lainnya, menjadi hal yang kompleks. Santikarma (2004) menuliskan bahwa berakhirnya hidup di Bali tidaklah sederhana. Di dalamnya juga persoalan sosial yang berhubungan dengan soal status. Upacara kematian memunculkan argumentasi seperti sejauh mana besar skala upacara? Siapa yang memimpin upacara? Pendeta brahmana atau bukan? Berapa tinggi usungan jenazah?

Bagi mereka yang anggota keluarganya raib akibat pembantain massal 1965 kekisruhan muncul dalam menentukan status kematian: apa kematian mereka dianggap sebagai salahpati (bunuh diri) atau ulahpati (kecelakaan)? Keputusan ini nanti berpengaruh terhadap rangkaian sarana sesajen atau banten yang akan dipakai.

Ritual ngaben bagi keluarga yang ditinggalkan belum tentu berlangsung lancar. Banyak orang-orang Bali yang terkena musibah kematian harus tertimpa tangga bersitegang untuk mendapatkan setra (kuburan) untuk ngaben. Tidak tanggung-tanggung kemarahan warga ditunjukkan dengan menggeletakkan jasad di tengah jalan atau bahkan menghadang warga yang “bermasalah” untuk menguburkan atau meng-ngaben-kan jasad di setra. Lemparan batu dan umpatan pada sesama krama (warga) satu desa tidak sulit dilakukan karena dianggap telah melanggar awig-awig dan tidak memenuhi kewajiban sebagai krama adat.

Jurang Kebersamaan

Spirit kebersamaan yang kental pada komunitas Hindu Bali modern menyisakan pertanyaan. Pertanyaan itu berhubungan dengan sampai sejauh mana kebersamaan itu mengakomodasi kemerdekaan individu (pribadi). Memeteng (berjalan menutup mata) membela mati kebersamaan menanggung resiko yang besar. Pada titik tertentu kita menjadi menafikkan perbedaan dan suara lain di luar nilai-nilai kebersamaan yang kita bangun sendiri.

Pikiran saya menerawang jauh membayangkan kisah I Gede Abraham yang menjadi pelopor pendirian gereja di Dusun Bukit Sari, Desa Songan B, Kintamani, Bangli. Ia adalah penganut agama Kristen sejak tahun 1993-1994 dan kemudian mendirikan gereja pada tahun 1996 yang didukung 14 Kepala Keluarga (KK) dan kini tersisa 8 KK.

Awalnya Gede Abraham adalah seorang Hindu, bahkan menjadi pemangku dengan nama Mangku Printis. Keinginan Gede untuk terus mencari kesejatian diri membawanya berlabuh ke ajaran Kristen. Meski memilih jalan (agama) berbeda, Gede masihlah seorang manusia Bali. Ia tetap aktif dan terlibat dalam kegiatan sosial dan adat di desanya. Begitupun warga desa lainnya, akan datang membantu saat Gede dan warga Kristen lainnya merayakan Natal    (Ketut Eriadi Ariana, “Penganut Kristen dan Hindu Hidup Harmonis, Pesan Pluralisme dari Balik Bukit Kintamani”, Pos Bali, 15 Juli 2019).

Bagaimana kita memaknai jalan (agama) yang dipilih Gede Abraham?

Kita sudah tahu sama tahu bagaimana spirit toleransi dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat di Bali. Saya sempat mendengar bagaimana beberapa daerah di Bali sangat kental pengaruh dari agama Kristen, Katolik, dan sudah tentunya Muslim. Meski berbeda, beberapa diantara mereka masih mengikatkan diri (identitas) dan budayanya dengan Bali.

Jadi, singkatnya, jalan keberagaman adalah Bali itu sendiri. Bali itu sejatinya adalah keberagaman itu. Tidak ada Bali yang tunggal sebagai Hindu Bali, meski sebagai mayoritas di Pulau Bali. Bali, dengan vitalitas dan kelenturannya, mengadaptasi keberagaman sebagai spirit untuk menghidupkan Bali di masa depan. Meski, usaha untuk mengokohkan bahkan membekukannya terus terjadi.

Seringkali kita mencari perlindungan melalui kebersamaan. Solidaritas social kita terikat melalui kebersamaan melalui berbagai lembaga yang kita buat. Tujuannya adalah membentengi kita dari pengaruh luar yang kita anggap negatif. Kebersamaan juga menjadi modal social yang sangat mudah digerakkan untuk tujuan pragmatism politik tanpa sadar. Tapi kita lupa bahwa cara berpikir kebersamaan itu melahirkan “perlawanan” justru dalam dirinya. Sayangnya, justru ancaman selalu dipikirkan datung (selalu) dari luar.  

Ida Bagus Dharma Palguna dalam salah satu esainya, Jalan Raya dan Jalan Alternatif (2007: 17) mengandaikan bahwa kehidupan beragama tidak ada bedanya dengan situasi jalan raya. Seperti di jalan raya, jalan raya agama juga sering terjadi terjadi tabrakan. Banyak juga kepentingan yang ada di jalan agama ini. Tidak sedikit juga korban yang berjatuhan, dari harga diri sampai hak untuk mengekspresikan diri. Maka sangat manusiawi ketika satu dua orang akhirnya meninggalkan jalan raya agama. Mereka membuat jalannya sendiri. Semakin ganas sebuah “jalan raya”, semakin banyak orang terilhami mencari “jalan alternatif”. 

Sikap kita terhadap saudara yang memilih jalan alternatif inilah persoalannya. Akarnya adalah kegandrungan kita untuk “mencari Tuhan secara bersama-sama”. Meski kita menganggapkan sebuah kebangkitan agama (Hindu), justru di sinilah letak permasalahannya. Kebersamaan yang harmonis dijaga rambu-rambu yang semakin hari semakin keras sangsinya. Tujuannya mengantisipasi kompleksitas akibat kemajuan dunia. Yang menjadi legitimasi adalah lagi-lagi kebersamaan, kepentingan bersama (Palguna, 2007: 18).


Salah satu pelinggih yang terletak di pinggiran Danau Tamblingan, Buleleng. Pencarian Tuhan pada dasarnya adalah urusan pribadi. Tuhan itu adalah kesunyian yang juga hanya bisa didekati dengan kesunyian itu sendiri (foto: I Ngurah Suryawan)

Jika kita memaknai toleransi hanya dalam kungkungan kebersamaan, kita terancam mensederhanakan persoalan. Kebersamaan akan dilawan dengan kebersamaan. Sekat dan saling curiga adalah sumbunya. Apinya sudah pasti adalah kekerasan itu sendiri. Kolektivitas, meski mempunyai vitalitas yang tidak diragukan lagi, mempunyai resiko menafikkan perbedaan. Justru kebersamaan-kebersamaan inilah yang dipelihara, yang berisi massa rakyat, yang hanya sekadar massa yang mudah untuk diekspoitasi untuk berbagai macam kepentingan politik yang licik dan picik.

Bisakah kita bertoleransi dengan pilihan hidup dan agama dari I Gede Abraham? Apa hakekat untuk mempraktikkan toleransi tersebut?

Kita diingatkan oleh Palguna (2007: 67-68) bahwa agama bukanlah tujuan, tapi sarana sekaligus cara untuk mencapai tujuan. Pilihan pada satu atau beberapa cara adalah konsekuensi dari institusionalisasi agama tersebut. Pelembagaan satu cara dan perkembangannya kemudian melahirkan tradisi. Sebagai sebuah lembaga, setiap tradisi pasti ingin mempertahankan dirinya.

Pada hakekatnya, pencarian Tuhan adalah urusan pribadi. Pencarian Tuhan di dalam dan di luar diri adalah perjuangan pribadi. Tuhan itu adalah kesunyian yang juga hanya bisa didekati dengan kesunyian itu sendiri.

Jadi, akar toleransi adalah penyerahan diri kepada kesunyian dan kesadaran bahwa pencarian (agama) Tuhan adalah urusan pribadi. Hanya dengan demikian kita akan melepaskan tujuan dan motif picik atau negatif kita terhadap orang lain. Dalam kondisi seperti ini, kita telah melampaui pelembagaan agama dan tradisi, apalagi “hyme kebersamaan”.   [T]

Tags: balihinduritualSpiritual
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Buleleng Festival 2019, Apa yang Baru?

Next Post

Berhadapan dengan Raja

I Ngurah Suryawan

I Ngurah Suryawan

Antropolog yang menulis Mencari Bali yang Berubah (2018). Dosen di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Papua (UNIPA) Manokwari, Papua Barat.

Related Posts

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails
Next Post
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Berhadapan dengan Raja

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia
Cerpen

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

by Nur Kamilia
September 6, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Memelihara Kesepian

Memelihara Kesepian 1.letakkan kesepiandi tempat yang teduh. jauhkan dari suaraorang-orang yang terlalu bahagia. 2.beri makansetiap malam. sedikit kenangan.sedikit musik. jangan...

by Salman Alade
September 6, 2026
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot
Esai

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

by Adwan SA
September 6, 2026
Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam
Khas

Desa Adat Tista Menatap Masa Depan dari Anjungan Desa dan Kekayaan Alam

DIIRINGI gending gamelan yang dinamis, gerak, seledet, dan perpindahan posisi para penari mengalir membentuk jalinan yang hidup. Setiap gerakan seolah...

by Nyoman Budarsana
September 6, 2026
Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul
Khas

Ceraken Bali: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul

"CERAKEN BALI: Menyeimbangkan Cipta, Rasa, dan Karsa Mewujudkan SDM Bali Unggul". Itulah tema HUT VII SMA Negeri 2 Kuta Selatan...

by I Nyoman Tingkat
September 6, 2026
Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan
Kritik Seni

Ubud Art Collect: Antara Batas dan Persimpangan

MULANYA saya kira peristiwa akbar semacam art fair hanya bisa dijangkau oleh orang-orang berduit, tentunya dari para kolektor yang siap...

by Made Chandra
September 6, 2026
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’
Opini

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
Topi Para Penyintas Kanker
Esai

Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

by Angga Wijaya
September 5, 2026
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri
Cerpen

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery
Puisi

Puisi-puisi Ni Putu Puspa Trisnawati | Mother’s Bakery

Mother's Bakery Hari-hari terasa menghisap paracetamolPahitnya mengendap hingga ke ujung hatiBumi menyediakan sirup, namun maple pun sulit menyatukan yang retakIbu...

by Ni Putu Puspa Trisnawati
September 5, 2026
Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan
Esai

Tumpek Uye dan Pendidikan Menghormati Kehidupan

Kita mengajarkan anak mencintai lingkungan. Tetapi, berapa banyak sekolah yang benar-benar memberi anak pengalaman mencintai lingkungan? PERTANYAAN sederhana itu patut...

by I Wayan Yudana
September 5, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co