2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhadapan dengan Raja

IGA Darma Putra by IGA Darma Putra
August 6, 2019
in Esai
Swastyastu, Nama Saya Cangak

Saya ingin begini. Saya ingin begitu. Ingin ini itu banyak sekali. Itu kalimat seperti lagu masa kanak-kanak tentang kantong ajaib yang berisi segala jenis benda-benda hasil penemuan manusia paling muktahir. Ini memang tentang keinginan yang tidak ada ujungnya. Benar memang pertanyaan, apa yang lebih banyak dari rerumputan? Jawabannya adalah keinginan.

Keinginan bisa bekerja dengan cara yang aneh. Jika keinginan itu dihilangkan, orang yang memilikinya akan kebingungan. Tidak tahu lagi apa yang sesungguhnya ingin dicapainya dalam hidup. Impian seperti habis, tujuan seperti sudah tercapai. Ingin berjalan ke kanan, tapi bukan itu tujuannya. Belok kekiri, juga bukan. Lurus atau balik arah juga tidak jelas.

Dalam banyak kasus, segala jenis keinginan itu bisa mengarahkan orang untuk melakukan sesuatu yang bahkan sulit dicerna. Keinginan untuk tidak sendiri, bisa membuat orang hiperaktif untuk menarik minat sekelilingnya. Keinginan untuk menyendiri, mengakibatkan orang terkesan ketus tiap menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. Keinginan untuk kaya, bisa membuat orang melakukan penipuan. Keinginan untuk selamat, bisa membuat orang mencari pembenar, meski segala yang dilakukannya melanggar kepercayaan yang sudah ia yakini. Dengan demikian, kita sudah punya aktor yang bisa kita salahkan atas segala hal.

Kalau begitu, mari kita pelan-pelan menghilangkan keinginan. Tapi awas, tiap usaha yang dilakukan untuk menghilangkannya justru bisa hilang dengan sendirinya. Bagaimana ini? Makanya, hati-hati dengan keinginan. Jika ia terus diikuti, bukan tidak mungkin nanti pengikutnya jadi sengsara. Seperti laron yang terus mengikuti nyala api. Sayapnya bisa terbakar.

Mirip burung yang selalu memburu makanan lezat, tidak tahu dia kalau makanan yang diburunya ditaruh di dalam keranjang jebakan. Setelah terjebak, bingunglah dia. Bertanya-tanya dalam hati, “mengapa aku dijebak begini?”. Burung sering dijebak karena ia punya suara yang indah. Sayangnya, burung tidak tahu kelebihan itu.

Kelebihan memang bisa menjadi sumber malapetaka jika tidak disadari. Di sana letak lebihnya, di sana pula letak kurangnya. Bulan sinarnya lembut, kurangnya karena ada gambar kelinci di dalamnya. Bagaimanapun juga, bulan dan gambar kelinci turut pula memperindah malam. Jadi dewi malam yang bernama Sang Hyang Rohini itu, bisa lebih indah sekaligus menyeramkan.

Keinginan manusia, selalu berhadapan dengan godaan yang seperti lautan luas yang tidak pernah surut. Keinginan untuk mendapat ketenangan ditempuh banyak orang dengan merenung sambil menerka-nerka. Di dalam diamnya yang seperti gunung itu, orang banyak membiarkan gejolak terkaannya menilai-nilai segala sesuatu yang dialaminya. Sayangnya, karena asik menerka, ketenangan jadi hilang, dan ia lupa tujuan yang sesungguhnya. Telinga Cangak saya yang mungil ini saat mendengar cerita semacam itu, jadi sedih dan sekaligus ingin tertawa. Sedih karena fenomena itu sering terjadi pada diri sendiri. Tertawa karena ternyata saya tidak sendiri begitu.

Kecenderungan insting Cangak memang begitu. Senang sekali melihat kesusahan yang dialami orang. Lalu bersedih tersungut-sungut karena kebahagiaan orang. Insting semacam itulah yang selalu coba saya singkirkan. Hidup terasa jadi tidak berguna karena sifat yang demikian. Meskipun saya tidak bisa dikatakan berhasil menghilangkannya, setidaknya saya sudah berhasil mengetahuinya. Mengetahui sifat adalah salah satu langkah preventif agar di masa depan tidak terjerumus ke dalam lubang hitam yang terkesan membahagiakan.

Keinginan itu seperti raja, ia memerintahkan agar selalu dilayani. Selain pelayanan, ia juga senang jika disanjung-sanjung. Dipuji-puji bak dewa sakala. Kegemarannya mencela kekurangan orang. Kalau sudah mencela, bahagianya minta ampun. Giliran ia dicela, marahnya seperti mau kiamat. Cilakanya, sang keinginan selalu punya cara untuk menutupi kebusukannya. Caranya gampang saja, yaitu dengan menunjukkan segala kebaikan-kebaikan. Itu jurus paling jitu untuk menutupi.

Cara lainnya adalah dengan mencari-cari kesalahan orang. Cara selanjutnya dengan berlindung atas nama Tuhan. Kata-katanya selalu menuturkan tentang cara mati yang benar. Juga cara hidup yang paling benar. Menurut dirinya. Konon juga buanyak sekali ajaran yang sudah dipahaminya bahkan sampai ke akar-akar. Cara lidahnya berbelok sudah sangat halus, sehingga pendengarnya tidak akan tahu kapan ia akan menikung dari belakang.

Yang begitu-begitu, tidak akan sadar meski ditertawakan. Jangankan yang tertawa hanya satu orang, satu banjar pun yang tertawa dia tidak akan sadar. Kata mengalah tidak ada dalam kamusnya. Karena mengalah berarti lebih bodoh dari yang mengalahkan. Jangan sampai terlihat bodoh di depan banyak orang. Apalagi di hadapan orang-orang yang sudah terlanjur memanggilnya guru.

Guru artinya berat. Kata romantis semacam itu dipahami oleh seluruh umat manusia yang belajar tentang guru-murid. Tapi kok banyak yang suka disebut guru? Oh, mungkin karena dengan sebutan guru, wibawa lebih terjaga. Kaki lebih ringan melangkah. Senyum jadi lebih lebar. Meski tugasnya berat, tapi bisa diserahkan kepada murid yang dididik.

Menyerahkan pekerjaan kepada murid adalah salah satu cara guru untuk memeriksa anak didiknya. Sang Arunika diperiksa dengan memberikan pekerjaan di sawah. Sang Utamanyu diperiksa dengan menugaskannya menjaga lembu. Sang Weda ditugaskan menjaga dapur. Ketiganya adalah murid baik yang menuruti perintah gurunya. Jadi mereka diberikan ilmu super dahsyat oleh Bhagawan Domya. Artinya, yang akan diberikan ilmu adalah murid-murid penurut. Demikian cerita memberitahu kita tentang murid-murid dan guru ideal. Beda dalam cerita, beda lagi dalam fakta. Kita sudah tahu apa yang terjadi antara guru-murid, tapi selalu kita pura-pura diam tidak mengetahuinya. Bagi mereka yang tahu, keseringan otoritas tidak ada di genggamannya.

Tidak sedikit yang ingin menjaga kebaikan, tapi karena alasan otoritas, hasilnya tidak ada. Mirip seperti lilin yang jatuh di lautan. Keinginan yang besar tidak diikuti oleh kemampuan. Banyak anak-anak yang besar keinginannya menjadi murid, tapi para guru yang konon mengabdi tanpa tanda-tanda jasa juga harus berurusan dengan isi perut. Pengetahuan masih begitu mahal di negara telaga ini kawan-kawan. Itu kenyataannya. Meski pahit, harus kita telan sama-sama.

Banyak juga yang mengikuti keinginanya untuk mengabdi pada negara. Tapi kemudian ia terkulai lemas seperti teratai tanpa air yang berharap dapat memeluk langit. Petani kata hanya mampu bicara. Yang dipelosok, semakin terperosok. Dan kita adalah orang-orang berdosa karena membiarkan kekejaman intelektual menyerobot hak-hak mereka.

Pada akhirnya kita haruslah mulai memikirkan lagi, tentang banyak hal. Terutama apa jadinya negara telaga ini tanpa anak-anak ikan yang cerdas? Kecerdasan adalah kekuatan. Kekuatan adalah kunci pembuka pintu yang berabad-abad tertutup rapat. Jangan lupa, kecerdasan harus dilengkapi dengan rasa. Kalau tidak, kita hanya akan jadi raksasa yang pura-pura jadi dewa [T]

Tags: filsafatPengetahuanrajasastra
Share42TweetSendShareSend
Previous Post

Duka dan Jurang (Ritual) Kebersamaan

Next Post

Denpasar Documentary Film Festival 2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

IGA Darma Putra

IGA Darma Putra

Penulis, tinggal di Bangli

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Denpasar Documentary Film Festival  2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

Denpasar Documentary Film Festival 2019: Intinya, Semua Boleh Bercerita

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co