24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kopi itu Pahit? Ah, Biarlah Hidup Saja yang Pahit… [Tentang Kopi, Rasa dan Perasaan]

Dian Suryantini by Dian Suryantini
June 16, 2019
in Khas
Kopi itu Pahit? Ah, Biarlah Hidup Saja yang Pahit… [Tentang Kopi, Rasa dan Perasaan]

Penulis minum kopi campur susu dengan penuh perasaan

Kopi adalah salah satu minuman favorit bagi orang banyak. Tapi tidak bagi saya. Meskipun saya ini anak dari seorang buruh kopi (buruh ya, bukan pengusaha), sedikitpun saya tidak tahu tentang kopi. Apa manfaatnya bagi kesehatan atau (mungkin) bagi kecantikan?

Tapi saat ini saya berusaha untuk belajar. Belajar menikmati kopi sebagaimana yang orang lain lakukan. Tapi masih gagal. Saya harus membiarkan kopi itu dingin, lalu saya sruput sekaligus sampai habis. Konyol kan? Namanya juga usaha. Yang penting ngopi.

Suatu ketika saya diajak untuk mengikuti acara tester kopi di Denpasar tepatnya di Kedai Kopi Tjangkir Kosong di Jalan Tukad Barito Timur No.99X, Renon, Denpasar Selatan milik orang yang saya kenal setahun lalu, pada acara Bulcofest (Buleleng Coffee Festival).

Oh ya, sedikit saya cerita mengenai Bulcofest. Saat itu Sabtu, 1 Desember 2018 dipamerkan beberapa kopi khas Buleleng, seperti Kopi Banyuatis, Kopi Sepang, Kopi Sekumpul, Kopi Lemukih, Kopi Galungan dan ada juga Kopi Kopang dari Pucak Sari Kecamatan Busungbiu.

Masing-masing kopi itu memiliki rasa yang berbeda dan khas. Itu, katanya. Karena saya bukan penyuka dan peminum kopi jadi saya hanya bisa bilang “katanya” saja. Waktu itu, saya berkeliling menjelajahi satu per satu stand kopi yang berjejer di tengah persawahan.

Meskipun saya bukan peminum dan penyuka kopi, ada rasa penasaran sedikit dengan rasa-rasa kopi itu. Tapi sayang, hanya ada dua stand yang menyajikan kopi yang siap dinikmati. Selebihnya hanya ada serbuk kopi dan biji kopi.

Ya, menurut saya sih, setiap kopi yang dipamerkan harusnya menyediakan kopi yang diseduh dan disajikan kepada pengunjung agar mereka tahu bagaimana rasa kopi yang katanya khas Buleleng dan yang katanya rasanya berbeda satu dengan yang lainnya. Selain itu sebaiknya juga disediakan sedikit ruang untuk menampilkan bagaimana cara mengolah kopi. Jadi pengunjung bisa tahu cara menyajikan kopi yang nikmat.



Oke, kita kembali ke acara tester di Denpasar. Saya berangkat dari Singaraja dengan membawa dua sampel kopi, Kopi Moola dari Desa Pedawa dan Kopitem dari Desa Sekumpul. Dua-duanya robusta.

Waktu itu tanggal 5 Juni 2019. Tepat di Hari Raya Idul Fitri. Sampai di sana mulailah tester. Agung Pribadianto atau saya memaggilnya Mas Agung, si pemilik Kedai Tjangkir Kosong itu. Ia menyiapkan 5 cangkir kopi. Di antaranya ada Kopi Moola Pedawa (Robusta), Kopitem Sekumpul (Robusta), Kopi Kintamani (Arabika), Kopi Ijen Raung (Arabika) dan Kopi Jagong Jeget (Arabika).

Kopi-kopi itu lalu dihaluskan namun masih sedikit agak kasar. Aroma kopinya itu… hmmmmm, kopi banget (namanya juga kopi. Kalau bau melati?)

Setelah melalui tahap grinder (selip kasar) semua kopi diseduh dengan takaran 10-12 gram kopi dan 100 ml air. Setelah siap kami dan juga pengunjung di kedai itu dipersilahkan untuk mencicipi kelima kopi itu. Saya pun tak mau ketinggalan. Padahal saya sama sekali tidak berminat untuk mencicipi. Tapi karena penasaran, ya saya ikut-ikut saja.

Pertama saya cicip Kopi Kintamani (Arabika) rasanya asam tapi ada manis-manisnya gitu. Lalu geser ke Kopi Jagong Jeget (Arabika) rasanya masih asam tapi sedikit strong. Lalu yang ketiga Kopi Ijen Raung (Arabika) rasanya tetap asam dan semakin kuat, tapi ada pahitnya sedikit.

Lanjut ke Kopitem Sekumpul (Robusta) rasanya pekat, pahit sekali tapi tidak menempel terlalu lama di lidah. Terakhir saya cecap Kopi Moola Pedawa (Robusta), pahit dan tidak terlalu pekat namun rasa pahitnya masih menempel lama di lidah. Ini pengalaman saya mencicipi kopi, lima sekaligus.


Seorang pengunjung cicip kopi di
Kedai Kopi Tjangkir Kosong

Sempat saya berpikir akan seperti apa nanti perut saya, tumben dan tiba-tiba minum kopi lima sekaligus. Walau hanya icip-icip. Ada perasaan khawatir sesaat setelah mencicipi kopi dengan rasa yang berbeda. Tapi beruntung sampai saat ini saya masih baik-baik saja.

Tester pertama selesai. Geser ke tester kedua. Kali ini kopi yang kami bawa dari Singaraja (Kopi Moola Pedawa dan Kopitem Sekumpul) diracik dengan dicampur susu. Komposisinya, 12 gram kopi, 100 ml air dan dua sendok makan susu kental manis.

Pertama saya disodori Kopi Moola. Saya aduk sampai rata, kemudian saya cicip lagi. Rasanya seperti kopi susu luwak yang biasa dijual di warung. Tapi yang ini lebih ringan dan tidak terlalu manis karena tidak ditambah gula lagi. Tapi kali ini rasanya tidak menempel di lidah. Pendapat yang sama juga terlontar dari beberapa teman yang satu meja dengan saya.

Lalu tak lama, datang lagi satu Kopitem Sekumpul dengan komposisi yang sama. Setelah dicampur susu Kopitem Sekumpul yang pahitnya luar biasa menurut saya jadi enak. Jadi manis dan soft. Tapi kali ini kebalik, rasanya menempel lebih lama di lidah. Setelah itu kami ditanya, bagaimana rasanya. Saya hanya bisa menjawab, “Jadi lebih ringan, Mas.”

Setelah usai adegan cicip-mencicipi. Mas Agung bertanya kepada saya, kopi mana yang pas di lidah saya. Saya bilang yang kopi Kintamani (Arabika). Karena rasanya tidak terlalu strong. Rasa asam yang memang khas arabika masih soft dan ada rasa manis-manisnya. Enaklah bagi saya yang bukan pecinta kopi dan hobi ngopi.

Tapi menurut Mas Agung dan beberapa pengunjung memilih Kopi Moola Pedawa (Robusta). Karena selain terbiasa dengan rasa pahit, kopi Moola memang pas untuk dinikmati dibandingkan kopi-kopi yang lain tanpa campuran atau dicampur bahan lain.

Menurut Agung, kopi yang enak itu bukanlah kopi yang dihasilkan dari kebun yang bagus ataupun dari perawatan yang mahal. Tapi bagaimana tangan kita berhasil me-roasting(menyangrai) biji kopi dengan tepat sehingga menghasilkan serbuk yang baik.

Begitu juga saat penyeduhan. Teknik penyajian kopi yang benar bisa memperkuat citarasa kopi dan membuat kopi aman diminum bagi siapa saja.


Nongkrong di Kedai Kopi Tjangkir Kosong

Untuk menyajikan kopi yang benar, air panas yang digunakan minimal 90 derajat celcius. Takaran airnya juga harus pas, 10 gram kopi dengan 100 ml air. Setelah memasukkan bubuk kopi ke dalam cangkir, masukkan air panas mencapai kurang lebih 35 gram. Airnya jangan langsung dimasukkan semuanya ke gelas, masukkan sedikit lalu diamkan selama 5 sampai 10 detik sampai dia blooming atau proses pemecahan atau ekstraksi bubuk kopi.

Setelah itu sisa air dimasukkan. Tidak perlu diaduk lagi karena sudah langsung tercampur dalam proses tadi. (Sudah mirip barista belum? Hehe…).

Dan bila kopi diperlakukan dengan baik maka akan memberikan cita rasa kopi yang sesungguhnya. Kalau benar dalam penyeduhannya, kopi akan mengeluarkan rasa semacam caramel, sweetness, kacang dan rasa yang kalem saat nempel di lidah.

Dari sana saya belajar bahwa kopi itu sebenarnya tidak pahit. Dan bagaimana memperlakukan kopi agar ia memberikan sebuah kenikmatan bagi pencintanya.

So, Siapa bilang kopi itu pahit? Tidak pahit kok. Biarlah perjalanan hidup yang pahit… [T]

Tags: bulelengdenpasargaya hidupkopiperasaan
Share137TweetSendShareSend
Previous Post

Saat Raga Sakit, Biarkan Pikiran Tetap Sehat –Cerita Tentang Pasien Cuci Darah

Next Post

Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019

Dian Suryantini

Dian Suryantini

Kuliah sambil kerja di Singaraja

Related Posts

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails

Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
April 8, 2026
0
Merawat Tradisi dari Ruang Kelas: Semarak Lomba Ngelawar dan Membuat Gebogan di SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

HARI itu, Jumat, 3 April 2026, menjadi hari yang tak biasa bagi siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam). Sehari...

Read moreDetails

Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

by Putu Gangga Pradipta
April 5, 2026
0
Membasuh Jiwa di Segara —Catatan dari Iring-iringan Melasti Desa Adat Buleleng

MATAHARI baru saja beranjak dari peraduannya pada Kamis (2/4/2026), namun aspal di sepanjang jalan menuju Pura Segara, Buleleng, sudah mulai...

Read moreDetails

Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

by Helmi Y Haska
March 31, 2026
0
Malam Rasa Kafka di Pasar Suci

TIGA buku terbaru menjadi pokok soal diskusi malam itu diselenggarakan Toko Buku Partikular di Pasar Suci, Denpasar, Sabtu, 28 Maret...

Read moreDetails

Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

by Dian Suryantini
March 24, 2026
0
Serunya Belajar Ngulet Daluman di Pasar Intaran

Minggu pagi, 8 Maret 2026, Pasar Intaran terasa agak beda. Biasanya, pasar ini nongkrong manis di pinggir pantai, tepat di...

Read moreDetails

Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

by Gading Ganesha
March 24, 2026
0
Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

Sabtu 21 Maret. Tepat pukul lima sore, saya tiba di SMA Negeri 1 Singaraja—dua belas jam sebelum Alumni Smansa Charity...

Read moreDetails

Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

by Agus Suardiana Putra
March 20, 2026
0
Kisah Perjalanan Mendebarkan Menjemput Kekasih dari Sukawati ke Kota Gianyar untuk Menonton Ogoh-ogoh pada Malam Pengrupukan di Taman Kota Gianyar

SANG surya mulai turun mengistirahatkan diri setelah seharian bersinar, dan kegelapan perlahan menyelimuti bumi. Tibalah kita pada sandikala, waktu yang...

Read moreDetails
Next Post
Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019

Yang Baru dan Yang Hilang di Pesta Kesenian Bali 2019

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co