24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berbincang Tentang Buku dengan Okky Madasari: “Yang Penting Kamu Baca”

Wendy Fermana by Wendy Fermana
March 28, 2019
in Persona
Berbincang Tentang Buku dengan Okky Madasari: “Yang Penting Kamu Baca”

Okky Madasari (Foto: dokumen Okky)

Saya menemukan tulisan Okky Madasari tatkala mulai serius membaca saat duduk di sekolah menengah atas. Novel pertamanya Entrok buat saya adalah debut yang bikin cemburu. Ia mengangkat permasalahan perempuan, opresi Orde Baru, lokalitas, Islam, dan mimpi anak kampung untuk mengejar sesuatu. Buku itu membicarakan kompleksitas persoalan kehidupan dengan begitu apik.

Terlepas dari capaian literer, yang mesti dibedah lewat penelitian lebih serius, perempuan kelahiran Magetan ini telah menunjukkan konsistensi berkarya sepanjang sepuluh tahun ini dengan penjelajahan tema yang ditawarkannya.

Ia mengupas korupsi dalam 86, menyoroti kaum Ahmadiyah yang tertindas lewat Maryam, menampilkan mereka yang liyan dan termarginalkan karena masyarakat dan ormas yang bermuka banyak di Pasung Jiwa.

Lalu, persoalan keterbelahan individu di dunia digital pun diketengahkan melalui Kerumunan Terakhir. Di dalam buku cerita pendek Yang Bertahan dan Binasa Perlahan, kita bakal melihat betapa politisnya kisah yang disuguhkan Okky.

Kejutan lain, ia merilis novel anak! Sudah ada dua serial Mata yang terbit, yakni Mata di Tanah Melus dan Mata dan Rahasia Pulau Gapi. Setidaknya bakal ada dua karya lagi yang menyusul untuk melengkapi serial ini sehingga mewujud menjadi Tetralogi Mata.

Beberapa waktu lalu, saya berbincang dengan Okky, mengulik seputar bacaan, mulai dari pustaka yang dilahapnya saat kanak-kanak, kecintaannya pada Foucault hingga keinginannya punya Kindle.

Kalau membaca, apakah ada waktu khusus? Barangkali ketika pagi atau malam hari?

Tidak ada waktu khusus. Kalau lagi musim baca, aku bisa membaca seharian. Namun, saat musim menulis, aku tidak membaca apa pun, kecuali buku untuk riset. Sekitar beberapa waktu lalu, aku baru selesai merampungkan naskah [“Mata dan Manusia Laut”, buku ketiga seri Mata], dan sekarang aku mulai memasuki musim baca.

Buku terakhir yang dibaca yang gemanya terasa hingga hari ini?

Buku yang terakhir kali kubaca dan sangat berkesan itu Sapiens. Dari sana bahkan terbit beberapa tulisan. Seperti saat aku menulis artikel peringatan hari Sumpah Pemuda di detik.com, itu terinspirasi Yuval Noah Harari. Dia kan bilang, semua realita yang terjadi di dunia kita itu terbentuk dari dongeng. Indonesia itu kan ada karena kita percaya pada kebesaran Sriwijaya, Majapahit, dan lainnya.

Sapiens cukup memengaruhiku. Aku kan ‘Foucauldian’ sekali. Ada kedekatan antara Sapiens dengan Foucault. Yuval ini sejawaran yang ingin membangun sejarah dari sisi ide. Ia ingin mengungkapkan bagaimana sejarah manusia itu sesungguhnya terbentuk dari ide, dari adu gagasan, dan dari cerita yang dipercaya orang.

Di luar itu, aku kan sering ketemu anak-anak muda di berbagai daerah. Jadi, aku beberapa bulan ini banyak membaca buku-buku yang ditulis penulis muda yang belum mendapat banyak perhatian, belum mendapat penerbit yang bisa dikatakan agak besar, yang bisa mendistribusikan karya. Seperti di Ternate, ada penulis Rajif Duchlun. Di NTT, penulis-penulis muda juga banyak. Beberapa bulan ini keliling, aku membaca buku mereka dan menemukan banyak sekali penulis potensial yang menjanjikan.

Saat memutuskan untuk membaca sebuah buku, alasannya apakah karena banyak dibicarakan, atau karena membaca ulasan, atau ada seseorang yang kalau dia bilang bagus pasti dibaca?

Yang terakhir tidak. Ada buku yang sifatnya memang notable sehingga setidaknya aku mesti tahu. Seperti Sapiens yang kubaca akhir tahun lalu. Sebetulnya, agak terlambat, tapi dengan membacanya, aku bisa tahu perkembangan pemikiran sosial sekarang itu sejauh mana.

Buku sastra, aku selalu baca penulis muda karena aku ingin tahu perkembangan penulis sastra Indonesia terkini. Jadi, aku baca Faisal Oddang, baca Ziggy Z, baca juga Rio Johan. Selain untuk ikuti perkembangan, itu juga sarana agar aku terus gelisah dan cari inspirasi untuk belajar dari hal lain. Kesannya kan seolah-olah kalau sudah jadi penulis, sudah malas untuk membaca tulisan orang lain, aku tidak. Aku berusaha untuk terus membaca.

Buku-buku karya Okky Madasari

Sebetulnya, apa yang paling penting dan hendak didapatkan Okky saat membaca?

Kalau sastra, aku bukan orang yang mencari kelemahan bacaan, tapi pertama aku coba raih a whole feeling atau rasa apa yang kudapat. Dari rasa itu nantinya memberi kesan dan pemahaman bagaimana memaknai  buku tersebut. Ketika ada kenikmatan membaca, dari situ pasti bakal ada makna dan interpretasi.  

Tentu ada buku yang secara rasa, aku tidak mendapatkan kesenangan, tapi penting untuk diketahui. Misalnya, aku baca tuntas Ayat-Ayat Cinta dan 99 Cahaya di Langit Eropa [saat menempuh program pascasarjana, Okky menulis tesis berjudul “Genalogi Novel-Novel Indonesia: Kapitalisme, Islam dan Sastra Kritikal”, yang kini tengah dalam proses alih wahana menjadi buku]. Aku ingin tahu kenapa buku-buku ini best seller. Ini juga penting untuk mengetahui masyarakat kita sedang dalam situasi sebagaimana.

Buku klasik yang pertama kali dibaca dan paling disukai? 

Klasik yang bagaimana? Kita mulai dari yang paling tua saja. Aku akan menyebut Mas Marco dengan Student Hidjo. Aku orang yang percaya sejarah sastra Indonesia bukan dimulai dari Balai Pustaka, tapi dari Mas Marco. Namun, masalahnya narasi utama kita memulainya dari Balai Pustaka karena itu versi resmi Hindia Belanda.

Kalau Angkatan Balai Pustaka, aku paling suka Salah Asuhan. Roman itu menggambarkan bagaimana masyarakat yang ingin menjadi Belanda. Dia malu terhadap budayanya sendiri. Salah Asuhan itu lapis-lapis persoalaannya terasa sekali menggambarkan kompleksitas.

Penulis fiksi atau nonfiksi yang memengaruhi karier awal kepenulisan?

Umar Kayam lewat Para Priyayi membuat aku memutuskan untuk menulis novel.

Lalu, karya siapa yang masih terus memukau hingga saat ini?

Kalau sastrawan Indonesia, tentu Pramoedya. Kalau pemikir, itu Michael Foucault. Aku jatuh cinta pertama kali pada Foucault tahun 2012, awalnya membaca Power/Knowledge. Aku sadar bagaimana pengetahuan itu ternyata bukan sesuatu yang biasa-biasa saja, ada kontrol, ada kekuasaan.

Saat masih kanak-kanak apa saja buku yang dibaca? Kemudian, buku apa yang membuatmu menjadi pembaca?

Aku tumbuh dengan keterbatasan bacaan. Jadi, aku tidak tumbuh dengan banyak baca buku anak. Seingatku hanya buku Lima Sekawan. Lalu, membaca cerita pendek yang dimuat di majalah Bobo dan Mentari Putera Harapan, dan segera membaca buku dewasa.

Sebetulnya jatuh cinta dengan membaca itu sudah dimulai sejak membaca Lima Sekawan. Namun, ketika mahasiswa aku membeli dan membaca Tetralogi Buru. Setelah itu, semua karya sastra aku baca nonstop.

Apa yang paling banyak dibaca saat menulis buku anak? 

Untuk menulis serial Mata, aku memang membaca novel anak dunia. Mulai dari Rudyard Kipling hingga Salman Rushdie. Mulai dari Alice in Wonderland Lewis Carroll hingga cerita anak Roald Dahl.

Dari nama-nama itu, yang menurut Okky capaiannya luar biasa?

Tentu saja, di masing-masing penulis aku seperti mencuri ilmu. Roald Dahl bisa bikin ketawa. Itu kan kelemahanku banget. Kalau Salman Rushdie, dia memang agak serius. Kalau ngomongin kesuksesan, tentu buku anak Salman Rushdie masih agak kalah sukses dibanding Roald Dahl. Namun, Roald Dahl ini sadis sekali. Roald Dahl ini juga misoginis, musuh dalam ceritanya kebanyakan perempuan.

Yang aku lihat buku anak saat itu tidak pernah kritis terhadap masyarakat. Misalnya, aku baca Secret Garden Frances Hodgson Burnett yang digadang-gadang bagus, tapi dia biasa saja menggambarkan kolonialisme atau saat orang India dijadikan budak. Buku anak Kipling juga dianggap menyuburkan kolonialisme. Enid Blyton pun ternyata kritiknya antifeminisme. Jadi, buku anak seperti melanggengkan nilai yang saat itu ada.

Namun, para penulis ini punya kemampuan bercerita yang baik untuk anak-anak. Satu hal, yang kupelajari, mereka tidak pernah dengan sengaja saat menulis untuk anak itu dimudah-mudahkan. Apalagi anak-anak itu kan mereka mau baca sesuai nalar mereka. Bayangkan saja ketika kita waktu kecil kan, kita membaca apa saja. Saat kecil pun aku berpikir, bacaan ini terlalu mudah, dan aku ingin membaca yang lebih menantang.

Aku pun percaya semakin banyak ragam bacaan. Semakin banyak genre yang ditulis, akan semakin baik. Aku menulis novel anak pun agar penulis mengangap buku anak ini bukan bacaan remeh temeh. Ini kerja serius juga.

Buku self-help sering dianggap sebelah mata. Namun, adakah buku how to yang bermanfaat versi Okky?

Semua orang lagi tergila-gila Marie Kondo. Jadi, kalau aku sebut dia, aku pasti akan diketawain. Aku sebut The Subtle Art of Not Giving F*ck Mark Manson. Ini menarik karena dia bikin kita sadar bahwa hidup ini tidak indah. Tapi shit happens. Hidup itu kadang nyebelin. Kenyataannya memang begini. Kita tak perlu beranggapan hidup kita sedang baik-baik saja. Tapi kamu harus kuat dan bangkit lagi. Saat remaja aku dapat hadiah buku yang berguna sekali. Judulnya Don’t Sweet the Small Stuff for Teens. Di buku itu aku diajak mengerti, kenapa sebaiknya aku tidak mikirin hal tidak penting dalam hidup.

Kalau baca buku, biasanya satu buku dalam satu waktu atau sekaligus baca banyak buku secara simultan?

Buku sastra itu aku cepat. Novel bisa baca cepat sehari atau dua hari. Atau paling lama tiga  hari, karena faktor tebal bukunya. Sebab aku sebagai penulis novel bisa bilang bahwa aku sudah punya gambaran strukturnya sehingga bisa lebih mudah saat baca. Kalau buku nonfiksi agak lama, apalagi kalau dalam bahasa Inggris. Aku harus memahami nonfiksi ini untuk mengerti pemikirannya ini seperti apa.

Lebih nyaman baca buku cetak atau e-book?

Kalau bicara soal paperback atau e-book, aku orang yang ingin segera beralih ke e-book. Tapi masalahnya aku belum punya Kindle. Aku kan belakangan punya mobiltas yang cukup tinggi dan aku tidak bisa menumpuk buku lagi. Koleksi buku juga banyak banget. Dari sisi harga kan e-book lebih ekonomis.

Apakah koleksi buku cetak tetap memberikan spark joy?

Oh, iya. Karena itu, kritikku kepada Marie Kondo, sebetulnya yang penting ambil semangatnya. Kata Marie Kondo, maksimal 30 buku saja. Tidak bisa dong, ukuran kebutuhan manusia itu beda. Jadi harus berpikir, apa yang dibutuhkan. Aku masih butuh buku cetak. Tapi harus ada kurasi. Ada satu titik berpikir, ini butuh atau tidak.

Aku sebagai penulis juga senang kalau kawan-kawan mulai beralih ke e-book, kalau memang nyaman, sebab harganya lebih murah. Untuk atasi  persoalan pengiriman buku yang mahal, e-book memberi jembatan. Intinya, aku tidak pernah mempermasalahkan buku cetak atau e-book, yang penting kamu baca.

Apa film favorit yang diangkat dari film dan buku apa yang kamu bayangkan harus menjadi film? 

Aku suka sekali menonton Remains of the Day yang diangkat dari novel Kazuo Ishiguro. Aku sebetulnya mau seri Mata-ku. Aku tidak berpikir, buku menjadi film itu sebuah pencapaian. Ini hanya menunggu waktu yang tepat. Produser yang tepat. Sutradara yang tepat. Tapi kalau untuk buku-bukuku sebelum seri Mata. Aku ingin biarkan semua orang sudah baca dulu. Mungkin seperti saat Ronggeng Dukuh Paruk difilmkan. Itu semua orang sudah kenal dulu dan sudah punya bayangan di kepala tentangnya. Jadi, biarkan berproses.

Untuk seri anak itu juga aku punya pertanyaan sebab di situ kan ada unsur-unsur yang sulit juga digambarkan, tapi kalau itu bisa diwujudkan dan tak kalah dengan Harry Potter, misalnya. Kita lihat teknologi film kita apakah bisa mengakomodasi. Aku juga tak sabar mau lihat Gundala Putra Petir yang dijanjikan oke secara sinematik.

Kalau ada yang mau menulis cerita hidup Okky, siapa yang diminta untuk menulis, atau mau menuliskan sendiri?

Enggak ada. Di luar official biography, kalau ada yang mau menulis aku tidak bisa melarang. Tapi aku tidak akan meminta orang menuliskannya. Aku mungkin akan menulisnya sendiri, tapi nanti kalau aku sudah tua. Kehidupan masih terus berjalan. Karena itu, aku bingung, ada orang-orang yang ngebet sekali ingin punya buku biografi, padahal mereka masih muda.

Okky Madasari (Foto: dokumen Okky)

Ini pertanyaan intermeso. Kalau kamu bikin pesta, dan berkesempatan mengundang tiga penulis, baik yang masih hidup atau telah mati? Siapa yang mau diundang?

Wah, ini kayak nonton Midnight in Paris. Pertama, aku tidak akan mengadakan pesta. Kedua, aku orang yang menghabiskan waktu sendirian dan berinteraksi hanya saat dibutuhkan. Tapi mungkin aku ingin ngobrol dengan Pram. Aku mau ngobrol soal realisme sosialis. Jadi, bukan karyanya. Pram punya buku soal realisme sosialis yang direncanakan untuk pelajaran sekolah. Tapi karena rezim yang berganti, tidak sempat terwujud. Aku mau banyak ngobrol banyak tentang itu. Kalau penulis perempuan yang lain, masih hidup semua, dan masih sering ketemu dan kita sering ngobrol.

Terakhir, kalau punya kesempatan untuk menyarankan presiden membaca sebuah buku, buku apa yang ingin disarankan untuk dibaca?

Aku mau dia baca Maryam. Sebab itu case yang harus dia selesaikan. Aku mau dia baca Pasung Jiwa karena terakit kondisi saat ini, dan akan kusuruh baca 86. Ya, tiga itu cukup, tidak baca bukuku yang lain tak apa. Ada pengalaman unik soal saran buku seperti ini.

Beberapa tahun lalu, ada seorang pejabat yang menulis sebuah artikel di surat kabar. Pejabat ini baru keluar dari penjara setelah dihukum karena kasus korupsi. Dia menulis di artikelnya, keadaan di penjara itu sama seperti yang digambarakan Okky Madasari di novel 86. Jadi, di dalam penjara dia membaca novel itu. Karena itu, aku membayangkan seandainya para pejabat itu membaca 86. Mereka tentu akan berhati-hati saat menjabat. [T]

Tags: BukuLiterasiOkky Madasarisastra
Share216TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Kartun Ber(b)isik di Bentara Budaya Bali

Next Post

Mahasiswa Jawa Masuk Undiksha: Awalnya Cemas Kalah Saing, Akhirnya Senang Banyak Pengalaman

Wendy Fermana

Wendy Fermana

Lahir di Palembang, 10 November 1994. Ia menulis buku Kawan Lama (Teras Budaya Jakarta, 2017) dan Ratu Bagus Kuning (Balai Bahasa Sumatera Selatan, 2017). Saat ini, ia bergiat di Komunitas Kota Kata dan berkhidmat sebagai pengajar bahasa Indonesia di MTs Negeri 1 Lubuklinggau. Ia dapat disapa di instagram @anamref.

Related Posts

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
0
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

Read moreDetails

Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

by Dede Putra Wiguna
May 30, 2026
0
Helianti Hilman, Perempuan Penjaga Kearifan Pangan Nusantara di Panggung Dunia

TANGIS itu pecah di tengah tepuk tangan panjang audiens Ubud Food Festival 2026. Di perhelatan yang selama ini menjadi ruang...

Read moreDetails

Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

by I Gede Made Surya Darma
May 22, 2026
0
Sosok Seniman I Made Kaek, Membangun Jembatan antara Seni Rupa dan Pariwisata Bali

Nama I Made Kaek bukanlah sosok asing dalam perkembangan seni rupa kontemporer Bali dan Indonesia. Perjalanannya sebagai seniman tumbuh dari...

Read moreDetails

Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

by Nyoman Budarsana
May 20, 2026
0
Citra Sasmita, Seniman Indonesia Pertama Meraih Grand Prize Pada Ajang  Kompetisi Sovereign Art Prize 2026

CITRA  Sasmita, seniman perempuan asal Bali menjadi seniman Indonesia pertama yang  meraih penghargaan utama, Grand Prize Winner, pada ajang seni...

Read moreDetails

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails
Next Post
Mahasiswa Jawa Masuk Undiksha: Awalnya Cemas Kalah Saing, Akhirnya Senang Banyak Pengalaman

Mahasiswa Jawa Masuk Undiksha: Awalnya Cemas Kalah Saing, Akhirnya Senang Banyak Pengalaman

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co