14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tajen, Apa Kabarmu di Musim Pilkada Hari ini?

I Made Indah Gunawan Saputra by I Made Indah Gunawan Saputra
February 20, 2018
in Opini
Tajen, Apa Kabarmu di Musim Pilkada Hari ini?

Lukisan karya I Nyoman Ridi (Adu Ayam, 1990) Acrylic di kanvas 88 x 134 cm Sumber: http://harian.analisadaily.com

BEBERAPA hari yang lalu, tepatnya tangga 10 Februari 2018, media sosial digegerkan dengan gambar seorang pria bersimpah darah. Tergeletak di lantai. Gambar itu membuat banyak orang  ngeri. Awalnya banyak yang mengira kecelakaan lalu lintas, namun setelah meneliti beritanya, terungkap bahwa gambar itu adalah korban perkelahian, yang terjadi di sebuah tempat. Lebih jauh dikatakan bahwa perkelahian itu dilatar belakangi perseteruan yang berawal dari arena tajen atau sabung ayam.

Memebaca berita itu, tergelitik hati untuk mengetahui eksistensi tajen, yang merupakan salah satu budaya yang hidup di masyarakat Bali ini. Bagaimanakah kabarnya tajen di zaman now ini? Adakah ia masih eksis, atau sudah mulai memudar tergilas kemajuan zaman modern?

Terlebih setelah membaca berita itu, seorang kawan lama datang berkunjung. Tambah kaget lagi setelah kutanya profesinya sekarang, ia jawab bahwa ia sekarang “ manager  operasional“ di sebuah arena tajen yang cukup terkenal  di Bali selatan, yang notabene adalah jantung pariwisata dan pusat ekonomi di Bali.

“ Wow” kataku membatin karena surprise.

Setelah kusuguhi minum, percakapan kami pun mengalir. Ia bercerita bahwa keluarganya yang ada di Karangasem  sudah ia boyong semua ke Denpasar, karena desanya terkena dampak erupsi Gunung Agung. Mereka semua ia ajak bekerja berdagang di areal tajen, menjual berbagai kebutuhan bebotoh dan penggemar tajen, seperti makan dan kopi, juga lumpia yang menjadi kesukaan banyak orang.

Katanya tajen yang ia kelola buka setiap hari pagi dan sore, kecuali hujan seperti hari-hari ini. Sengaja tak kusinggung berita yang tadi kubaca, karena aku merasa perkelahian bisa terjadi di mana saja, tak elok mengatakan bahwa tajen membuat orang saling bunuh dan melakukan tindak kriminal.

Tindak kriminal bisa dilakukan siapa saja dan dimana saja, apalagi di zaman modern yang komplek dan multi dimensi seperti saat ini. Tak elok dan tak adil selalu mengkai-kaitkan tajen dengan kejahatan. Jikapun ada korelasi antara tajen dengan tingkat kejahatan, biarlah itu menjadi urusan penegak hukum saja.

Dengan penasaran kutanya, bagaimana dia bisa menggelar tajen yang sampai hari ini amsih dianggap melanggar hukum itu dengan begitu “aman”? Ia menjawab dengan enteng.

Bahwa ia selalu menyiapkan “uang pengamanan”. Besarannya tak tanggung-tanggung: 30 juta per hari. Uang itu dibagi sesuai prosedur. Ada yang “resmi” ada yang “tak resmi”.

“Wow” kataku lagi dalam hati.

Ia sudah pernah masuk penjara tiga kali, bukan karena apa. “Hanya untuk formalitas”, katanya. Tahulah, apa arti “formalitas”.

Ingatanku kembali melayang beberapa tahun lalu ada perdebatan tentang perda tajen, saya berpikir alangkah baiknya issue ini dimunculkan lagi saja.  Atau mumpung masa pilkada seperti ini, siapa tahu ada calon gubernur atau bupati yang memiliki visi tentang hal ini, lalu mengangkatnya lagi ke permukaaan, siapa tahu idenya  bisa  bersambut dan idenya bisa mendulang suara dari kalangan akar rumput.

Kalau dipikir, tajen sebagai bagian dari kehidupan masyarakat kita, yang keberadaanya ada tapi tidak mendapat mengakuan, seperti anak haram yang tak diakui orang tuanya. Sungguh kasihan bener nasibnya.

Ia disanjung karena mengandung kearifan lokal, sekaligus dikutuk oleh Negara karena dikatakan sumber perbuatan jahat dan melanggar undang-undang, khususnya KUHP pasal 33 tentang perjudian.  Ia ada, dan dijadikan nafas kehidupan, mata pencaharian sebagaian orang,  namun keberadaanya  dinafikan karena dianggap tidak etis dan tidak beradab, walau diam-diam uangnya dinikmati aparat dari kelas bawah hingga kelas atas.

Jika kita peduli budaya Bali, harus ada keberanian dari para calon pemimpin. Harus ada terobosan. Tajen statusnya harus jelas, dilarang atau dilegalkan. Tidak seperti sekarang, antara ada dan tiada. Atau tutup mata dan menggunakan jurus ampuh; pura-pura tidak tahu atau main aman saja.

Dengan membiarkan status yang tidak jelas, kita seperti membuat celah kelemahan kita sendiri, yang mana celah kecil itu bisa menjadi lubang besar yang mengadung api dalam sekam.

Jika ditelisik dari segi ekonomi,  uang tajen jika dikelola dengan baik, “uang pengamanan” yang nilainya dapat mencapai  30 juta per hari, berarti  jika dijumlahkan dalam satu bulan, nilainya hampir 1 miliar. Uang sebesar itu bisa untuk membangun sekolah atau menyekolahkan anak hingga ke perguruan tinggi, satu orang dalam satu bulan. Namun kita juga harus berhitung sisi yang lain, yakni sosio religius. Bagaimana dampak legalisasi itu terhadap mental generasi muda, misalnya. Tentu banyak aspek harus di perhitungkan, dan itu menjadi tugas calon pemimpin untuk menimbang semua itu.

“Ah… itu kan di atas kertas”, cepat-cepat kusingkirkan pikiran itu. Mana sih ada orang yang mau bersusah payah dengan “hal Kecil“ seperti itu.  Apalagi ia calon gubernur atau bupati.  Paling-paling mereka akan berkata; “Urusan nasib rakyat jelata biarlah menjadi nasibnya saja”. (T)

Tags: baliPilkadaTajen
Share54TweetSendShareSend
Previous Post

Rakara, Workshop Pertunjukan, dan Sejarah Tubuh

Next Post

Namanya juga “Kone” – Jadi, Kenapa “Mejogjag”?

I Made Indah Gunawan Saputra

I Made Indah Gunawan Saputra

Penulis adalah seorang wirausahawan asal Jembrana, Bali, tinggal di Kuta Selatan, Badung, Bali. Alumnus Program Studi Sosiologi, Fakultas Hukum, Ilmu Sosial, dan Ilmu Politik (FHISIP) Universitas Terbuka

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Namanya juga “Kone” – Jadi, Kenapa “Mejogjag”?

Namanya juga “Kone” – Jadi, Kenapa “Mejogjag”?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co