3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debit Kredit Mahasiswa Perantauan

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung. (foto hanya sebagai ilustrasi)

 

BERBICARA soal debit dan kredit nih, mungkin hanya sebagian orang saja yang mengerti arti debit kredit. Bagi mahasiswa yang jurusannya berkaitan dengan ekonomi kata ini mungkin terdengar biasa.

Mari kita bahas satu per satu, arti dari kata “debit” dalam istilah akuntansi adalah bertambahnya uang ke suatu rekening atau tabungan, sedangkan arti “kredit” dalam istilah akuntansi adalah mengurangi saldo dalam tabungan.

Jika dilihat dari pengertian tersebut maka debit bisa dikatakan sesuatu yang positif, sedangkan kredit itu adalah sesuatu hal yang negatif, dengan kata lain debit kredit itu saling berlawanan.

Jika berbicara soal debit dan kredit dengan melihat pengertian tersebut maka ini sudah jelas mengarah kepada “uang”. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia hidup pasti membutuhkan uang.

Mengutip dari seorang motivator yang terkenal di layar kaca yaitu Mario Teguh yang mengatakan “Uang memang bukan segalanya, tapi tanpa uang segalanya terasa lebih sulit.” Jika sang motivator berkata seperti itu maka sudah pasti sesuatu yang kita lakukan akan terasa lebih mudah mencapainya jika kita memiliki banyak uang.

Terkadang sempat terpikir oleh saya jika membicarakan tentang masalah uang itu terasa sensitif, Mengapa demikian? Iya karena uang itu bagaikan sulap, sekejap ada sekejap menghilang.

Sekarang kita masuk ke inti pembahasan penulisan ini sesuai dengan judulnya “Debit Kredit Mahasiswa Perantauan”. Dalam pemikiran pembaca pasti ada yang bertanya apa hubungannya debit kredit dengan mahasiswa perantauan?

Jadi begini, yang dikatakan istilah dari mahasiswa perantauan adalah mahasiswa anak kos, ya contohnya seperti saya. Dan tadi sebelumnya sudah dibahas jika berbicara tentang debit kredit itu pasti berkaitan dengan uang, jadi jika kita simpulkan artinya adalah “uang mahasiswa anak kos”.

Apa bedanya dengan uang mahasiswa anak rumahan? Tentu beda, jika kita melihat dari mahasiswa anak rumahan dalam artian masih satu tempat tinggal dengan orang tuanya mahasiswa tersebut bisa lebih berhemat.

Dalam artian begini: mahasiswa anak rumahan kita lihat dari segi konsumsi sehari-hari, mereka bisa makan lebih teratur.  Sudah ada makanan dari orang tua yang membuatnya, jadi uang jajan mereka yang diberikan orang tuanya bisa digunakan untuk keperluan yang lain.

Sedangkan kita melihat mahasiswa anak kos, jika dilihat dari segi yang sama yaitu konsumsi, mereka memang diberikan juga uang oleh orang tuanya, akan tetapi uang tersebut harus dipakai untuk membeli lauk setiap harinya bagi kos-kosan yang tidak memiliki dapur seperti saya untuk membeli sayur-mayur dan dimasak sendiri agar lebih irit bagi kos-kosan yang memiliki dapur, dan lain sebagainya. Jadi uang mereka yang diberikan oleh orang tuanya bisa saja 80% untuk kebutuhan konsumsi setiap harinya, dan 20% untuk uang jajan atau kegunaan yang lain.

Kita lihat lagi dari segi lain seperti dari segi cuci bersih pakaian. Jika mahasiswa anak rumahan dari segi cuci pakaian mereka masih bisa nyuci sendiri di rumah, tanpa harus laundry, dan itu bisa menghemat uang dan waktu juga.

Akan tetapi jika mahasiswa anak kos itu istilahnya mereka mood-mood-an, artinya jika mereka sedang sibuk kegiatan atau padatnya jadwal kuliah sehingga pakaian mereka sudah menumpuk di cucian dan akhirnya rasa malas itu datang. Atau ketika ingin mencuci tetapi jemuran sedang penuh dipakai anak kos lainnya, disitulah mahasiswa dengan cepat tanggap membawa pakaian mereka ke jasa cuci pakaian atau yang disebut dengan laundry.

Hal seperti itu juga membuat kita mengeluarkan tenaga, waktu dan uang, bahkan uang jajan yang seharusnya kita gunakan untuk membeli makanan jika benar-benar keadaan mendesak seperti itu mau tidak mau uang jajan itu digunakan untuk membayar laundry tersebut.

Kita lihat lagi dari segi kesehatan. Jika mahasiswa anak rumahan jatuh sakit, maka mereka langsung ditangani cepat oleh orang tuanya untuk masalah pengobatan dan lain sebagainya, sedangkan jika mahasiswa anak kos, apalagi yang merantau dari luar pulau jauh dari orang tua, ketika mereka jatuh sakit apa yang bisa lakukan?

Mereka pasti dibantu oleh teman-temannya saja, untuk soal biaya pengobatan orang tua mereka akan memberikan melalui transfer ke rekening mereka. Akan tetapi terkadang anak kos juga merelakan uang jajan mereka yang mereka punya untuk dijadikan biaya pengobatan mereka sendiri, karena mereka juga berpikir tidak ingin terus meminta ke orang tua terlalu banyak.

Jika kita lihat lagi dari segi keaktifan di organisasi, di dalam organisasi jika kita sebagai pengurus maka pastilah ada yang namanya iuran pengurus, karena salah satu pemasukan untuk organisasi itu didapat dari iuran pengurus. Jika mahasiswa anak rumahan yang aktif di organisasi, mungkin mereka bisa saja meminta langsung uang di luar uang jajan mereka kepada orang tua untuk membayar iuran tersebut. Sedangkan mahasiswa anak kos untuk masalah iuran tersebut mau tidak mau mereka juga terkadang harus merelakan uang jajan mereka untuk membayar kewajibannya tersebut.

Nah, jika kita melihat lagi nih dari segi mahasiswa yang senang berbelanja online, belanja online sudah menjadi kesenangan bagi kebanyakan mahasiswi jaman now ya, sebagian besar mahasiswi jika sudah melihat barang-barang bagus di online shop (toko online) ingin membeli barang tersebut, akan tetapi mahasiswi tersebut sebelum membeli barang, mereka pasti akan melihat harga dan biaya pengiriman barang tersebut hingga sampai di tujuan.

Jika mahasiswi anak rumahan untuk membeli barang yang diinginkan tersebut kebanyakan mereka meminta uang langsung kepada orang tuanya, sedangkan mahasiswi anak kos, mereka akan merelakan uang jajan atau bahkan merelakan uang konsumsi untuk barang tersebut.

Jadi jika kita simpulkan dari berbagai segi tersebut jelas tentu sudah berbeda dalam hal keuangan, istilahnya mahasiswa anak kos lebih besar pengeluarannya daripada pemasukannya, atau dengan kata lain lebih besar kredit, daripada debit.

  • Agar seimbang, baca juga tulisan mahasiswa rumahan:
  • Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing

Nah jika sudah begitu bagaimana sekarang mahasiswa anak kos dapat menambah uang jajan mereka? Apakah dengan cara meminta terus menerus kepada orang tua? Jika kita hanya bergantung pada uang orang tua saja apakah kita tidak merasa malu sebagai mahasiswa?

Mahasiswa anak kos jaman now harus membawa perubahan agar tidak menyusahkan orang tua, kita sebagai mahasiswa harus bisa berpikir, bertindak, melihat risiko-risiko yang akan dihadapi, serta solusi dari berbagai masalah yang ada. Mahasiswa harus bisa mengelola keuangan dengan baik, agar uang tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bercerita sedikit tentang teman saya nih mahasiswa anak kos, sebut saja “Anto”, dia asli dari Tuban, merantau ke seberang pulau untuk pendidikan di perguruan tinggi, jauh dari orang tua, uang yang didapat untuk kehidupan sehari-harinya tidak hanya berasal dari orang tua saja, tetapi dari beasiswa bidikmisi, akan tetapi dia berpikir “kehidupan anak kos tidak bisa hanya mengandalkan uang orang tua dan bidikmisi saja, tetapi bagaimana caranya agar dapat menambah uang jajan lagi”.

Suatu hari, ketika dia sedang main di kos teman akrabnya  yang hobby menulis, sebut saja “Opik”, seketika itu Opik melihat Anto memegang handphone-nya yang hanya melihat status-status cewek, dan Opik pun berkata “jangan hanya stalking cewe aja, ayo belajar menulis”.

Disitulah Anto mulai termotivasi untuk memulai awal menulis. Singkat cerita, Anto pun semakin berkembang dalam penulisannya, hingga pada akhirnya dia berhasil menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Munajat Hati”, dan disitulah Anto berhasil mendapatkan uang jajan tambahan dari hasil penjualan novel tersebut.

Jadi salah satu cara untuk mendapatkan uang jajan tambahan bisa dengan cara berkarya. Termotivasi, bukan? Semua bisa berkarya apabila ada niat dan usaha.

Bukan hanya itu saja caranya menambah uang jajan, ada beberapa tips lagi nih, yang selanjutnya yaitu dengan cara menjual pulsa handphone, menjual kuota internet, dan sejenisnya.

Apalagi di kalangan mahasiswa jaman now bisa dikatakan “internet adalah nyawa”, artinya mahasiswa sangat bergantung pada internet, karena mahasiswa lebih baik tidak makan daripada tidak punya paket data internet, bukankah begitu? Sebagian besar pasti mengatakan iya, termasuk saya.

Walaupun keuntungan dari penjualan tersebut tidak seberapa, jika dikumpulkan terus menerus maka akan bisa menambah penghasilan, jadi dapat menambah uang jajan tanpa harus meminta lebih kepada orang tua.

Cara selanjutnya juga bisa dengan menabung, jadi ketika orang tua kita memberikan uang kepada kita, coba kita sisihkan uang tersebut ke dalam celengan kurang lebih 10% dari setiap uang yang ditransfer, dengan begitu bisa menambah uang jajan.

Cara selanjutnya yaitu dengan menyusun anggaran belanja rutin, memang cara ini terkadang sulit untuk diterapkan dikalangan mahasiswa, akan tetapi jika cara ini bisa dilakukan secara konsisten dan niat, pasti bisa menambah uang jajan, yaitu pertama haruslah menuliskan di catatan kebutuhan-kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan setiap bulannya, seperti uang bensin, uang makan, biaya kos bagi yang per bulan bayarnya, dan lain sebagainya, dengan begitu anggaran telah terstruktur untuk pengeluaran tiap bulannya dan mahasiswa pun bisa mengelola uang jajan juga dengan baik.

Itulah beberapa cara agar mendapat uang jajan tambahan, dengan begitu kesimpulannya adalah pandai-pandailah dalam mengelola uang, jangan sampai mahasiswa yang dipermainkan oleh uang, namun jadilah mahasiswa yang gemar mendebit. Kekayaan adalah hal relatif, karena ia yang memiliki sedikit uang dan sedikit keinginan lebih kaya, daripada dia yang memiliki banyak uang dan banyak keinginan. Kekayaan adalah bukan berapa banyak uang yang anda hasilkan, tetapi berapa uang yang anda simpan, seberapa keras uang bekerja untuk anda. (T)

Tags: anak kosekonomikampusmahasiswaPendidikan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Di Klungkung, Skateboard Makin Ngetrend – Pemain Mimpi Punya Skate Park

Next Post

Bergerak Jika Ada Jarak – Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Bergerak Jika Ada Jarak - Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co