23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Debit Kredit Mahasiswa Perantauan

Fatika Arum Rahmawati by Fatika Arum Rahmawati
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung. (foto hanya sebagai ilustrasi)

 

BERBICARA soal debit dan kredit nih, mungkin hanya sebagian orang saja yang mengerti arti debit kredit. Bagi mahasiswa yang jurusannya berkaitan dengan ekonomi kata ini mungkin terdengar biasa.

Mari kita bahas satu per satu, arti dari kata “debit” dalam istilah akuntansi adalah bertambahnya uang ke suatu rekening atau tabungan, sedangkan arti “kredit” dalam istilah akuntansi adalah mengurangi saldo dalam tabungan.

Jika dilihat dari pengertian tersebut maka debit bisa dikatakan sesuatu yang positif, sedangkan kredit itu adalah sesuatu hal yang negatif, dengan kata lain debit kredit itu saling berlawanan.

Jika berbicara soal debit dan kredit dengan melihat pengertian tersebut maka ini sudah jelas mengarah kepada “uang”. Seperti yang kita ketahui bahwa manusia hidup pasti membutuhkan uang.

Mengutip dari seorang motivator yang terkenal di layar kaca yaitu Mario Teguh yang mengatakan “Uang memang bukan segalanya, tapi tanpa uang segalanya terasa lebih sulit.” Jika sang motivator berkata seperti itu maka sudah pasti sesuatu yang kita lakukan akan terasa lebih mudah mencapainya jika kita memiliki banyak uang.

Terkadang sempat terpikir oleh saya jika membicarakan tentang masalah uang itu terasa sensitif, Mengapa demikian? Iya karena uang itu bagaikan sulap, sekejap ada sekejap menghilang.

Sekarang kita masuk ke inti pembahasan penulisan ini sesuai dengan judulnya “Debit Kredit Mahasiswa Perantauan”. Dalam pemikiran pembaca pasti ada yang bertanya apa hubungannya debit kredit dengan mahasiswa perantauan?

Jadi begini, yang dikatakan istilah dari mahasiswa perantauan adalah mahasiswa anak kos, ya contohnya seperti saya. Dan tadi sebelumnya sudah dibahas jika berbicara tentang debit kredit itu pasti berkaitan dengan uang, jadi jika kita simpulkan artinya adalah “uang mahasiswa anak kos”.

Apa bedanya dengan uang mahasiswa anak rumahan? Tentu beda, jika kita melihat dari mahasiswa anak rumahan dalam artian masih satu tempat tinggal dengan orang tuanya mahasiswa tersebut bisa lebih berhemat.

Dalam artian begini: mahasiswa anak rumahan kita lihat dari segi konsumsi sehari-hari, mereka bisa makan lebih teratur.  Sudah ada makanan dari orang tua yang membuatnya, jadi uang jajan mereka yang diberikan orang tuanya bisa digunakan untuk keperluan yang lain.

Sedangkan kita melihat mahasiswa anak kos, jika dilihat dari segi yang sama yaitu konsumsi, mereka memang diberikan juga uang oleh orang tuanya, akan tetapi uang tersebut harus dipakai untuk membeli lauk setiap harinya bagi kos-kosan yang tidak memiliki dapur seperti saya untuk membeli sayur-mayur dan dimasak sendiri agar lebih irit bagi kos-kosan yang memiliki dapur, dan lain sebagainya. Jadi uang mereka yang diberikan oleh orang tuanya bisa saja 80% untuk kebutuhan konsumsi setiap harinya, dan 20% untuk uang jajan atau kegunaan yang lain.

Kita lihat lagi dari segi lain seperti dari segi cuci bersih pakaian. Jika mahasiswa anak rumahan dari segi cuci pakaian mereka masih bisa nyuci sendiri di rumah, tanpa harus laundry, dan itu bisa menghemat uang dan waktu juga.

Akan tetapi jika mahasiswa anak kos itu istilahnya mereka mood-mood-an, artinya jika mereka sedang sibuk kegiatan atau padatnya jadwal kuliah sehingga pakaian mereka sudah menumpuk di cucian dan akhirnya rasa malas itu datang. Atau ketika ingin mencuci tetapi jemuran sedang penuh dipakai anak kos lainnya, disitulah mahasiswa dengan cepat tanggap membawa pakaian mereka ke jasa cuci pakaian atau yang disebut dengan laundry.

Hal seperti itu juga membuat kita mengeluarkan tenaga, waktu dan uang, bahkan uang jajan yang seharusnya kita gunakan untuk membeli makanan jika benar-benar keadaan mendesak seperti itu mau tidak mau uang jajan itu digunakan untuk membayar laundry tersebut.

Kita lihat lagi dari segi kesehatan. Jika mahasiswa anak rumahan jatuh sakit, maka mereka langsung ditangani cepat oleh orang tuanya untuk masalah pengobatan dan lain sebagainya, sedangkan jika mahasiswa anak kos, apalagi yang merantau dari luar pulau jauh dari orang tua, ketika mereka jatuh sakit apa yang bisa lakukan?

Mereka pasti dibantu oleh teman-temannya saja, untuk soal biaya pengobatan orang tua mereka akan memberikan melalui transfer ke rekening mereka. Akan tetapi terkadang anak kos juga merelakan uang jajan mereka yang mereka punya untuk dijadikan biaya pengobatan mereka sendiri, karena mereka juga berpikir tidak ingin terus meminta ke orang tua terlalu banyak.

Jika kita lihat lagi dari segi keaktifan di organisasi, di dalam organisasi jika kita sebagai pengurus maka pastilah ada yang namanya iuran pengurus, karena salah satu pemasukan untuk organisasi itu didapat dari iuran pengurus. Jika mahasiswa anak rumahan yang aktif di organisasi, mungkin mereka bisa saja meminta langsung uang di luar uang jajan mereka kepada orang tua untuk membayar iuran tersebut. Sedangkan mahasiswa anak kos untuk masalah iuran tersebut mau tidak mau mereka juga terkadang harus merelakan uang jajan mereka untuk membayar kewajibannya tersebut.

Nah, jika kita melihat lagi nih dari segi mahasiswa yang senang berbelanja online, belanja online sudah menjadi kesenangan bagi kebanyakan mahasiswi jaman now ya, sebagian besar mahasiswi jika sudah melihat barang-barang bagus di online shop (toko online) ingin membeli barang tersebut, akan tetapi mahasiswi tersebut sebelum membeli barang, mereka pasti akan melihat harga dan biaya pengiriman barang tersebut hingga sampai di tujuan.

Jika mahasiswi anak rumahan untuk membeli barang yang diinginkan tersebut kebanyakan mereka meminta uang langsung kepada orang tuanya, sedangkan mahasiswi anak kos, mereka akan merelakan uang jajan atau bahkan merelakan uang konsumsi untuk barang tersebut.

Jadi jika kita simpulkan dari berbagai segi tersebut jelas tentu sudah berbeda dalam hal keuangan, istilahnya mahasiswa anak kos lebih besar pengeluarannya daripada pemasukannya, atau dengan kata lain lebih besar kredit, daripada debit.

  • Agar seimbang, baca juga tulisan mahasiswa rumahan:
  • Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing

Nah jika sudah begitu bagaimana sekarang mahasiswa anak kos dapat menambah uang jajan mereka? Apakah dengan cara meminta terus menerus kepada orang tua? Jika kita hanya bergantung pada uang orang tua saja apakah kita tidak merasa malu sebagai mahasiswa?

Mahasiswa anak kos jaman now harus membawa perubahan agar tidak menyusahkan orang tua, kita sebagai mahasiswa harus bisa berpikir, bertindak, melihat risiko-risiko yang akan dihadapi, serta solusi dari berbagai masalah yang ada. Mahasiswa harus bisa mengelola keuangan dengan baik, agar uang tersebut dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Bercerita sedikit tentang teman saya nih mahasiswa anak kos, sebut saja “Anto”, dia asli dari Tuban, merantau ke seberang pulau untuk pendidikan di perguruan tinggi, jauh dari orang tua, uang yang didapat untuk kehidupan sehari-harinya tidak hanya berasal dari orang tua saja, tetapi dari beasiswa bidikmisi, akan tetapi dia berpikir “kehidupan anak kos tidak bisa hanya mengandalkan uang orang tua dan bidikmisi saja, tetapi bagaimana caranya agar dapat menambah uang jajan lagi”.

Suatu hari, ketika dia sedang main di kos teman akrabnya  yang hobby menulis, sebut saja “Opik”, seketika itu Opik melihat Anto memegang handphone-nya yang hanya melihat status-status cewek, dan Opik pun berkata “jangan hanya stalking cewe aja, ayo belajar menulis”.

Disitulah Anto mulai termotivasi untuk memulai awal menulis. Singkat cerita, Anto pun semakin berkembang dalam penulisannya, hingga pada akhirnya dia berhasil menerbitkan sebuah novel yang berjudul “Munajat Hati”, dan disitulah Anto berhasil mendapatkan uang jajan tambahan dari hasil penjualan novel tersebut.

Jadi salah satu cara untuk mendapatkan uang jajan tambahan bisa dengan cara berkarya. Termotivasi, bukan? Semua bisa berkarya apabila ada niat dan usaha.

Bukan hanya itu saja caranya menambah uang jajan, ada beberapa tips lagi nih, yang selanjutnya yaitu dengan cara menjual pulsa handphone, menjual kuota internet, dan sejenisnya.

Apalagi di kalangan mahasiswa jaman now bisa dikatakan “internet adalah nyawa”, artinya mahasiswa sangat bergantung pada internet, karena mahasiswa lebih baik tidak makan daripada tidak punya paket data internet, bukankah begitu? Sebagian besar pasti mengatakan iya, termasuk saya.

Walaupun keuntungan dari penjualan tersebut tidak seberapa, jika dikumpulkan terus menerus maka akan bisa menambah penghasilan, jadi dapat menambah uang jajan tanpa harus meminta lebih kepada orang tua.

Cara selanjutnya juga bisa dengan menabung, jadi ketika orang tua kita memberikan uang kepada kita, coba kita sisihkan uang tersebut ke dalam celengan kurang lebih 10% dari setiap uang yang ditransfer, dengan begitu bisa menambah uang jajan.

Cara selanjutnya yaitu dengan menyusun anggaran belanja rutin, memang cara ini terkadang sulit untuk diterapkan dikalangan mahasiswa, akan tetapi jika cara ini bisa dilakukan secara konsisten dan niat, pasti bisa menambah uang jajan, yaitu pertama haruslah menuliskan di catatan kebutuhan-kebutuhan pokok yang pasti dibutuhkan setiap bulannya, seperti uang bensin, uang makan, biaya kos bagi yang per bulan bayarnya, dan lain sebagainya, dengan begitu anggaran telah terstruktur untuk pengeluaran tiap bulannya dan mahasiswa pun bisa mengelola uang jajan juga dengan baik.

Itulah beberapa cara agar mendapat uang jajan tambahan, dengan begitu kesimpulannya adalah pandai-pandailah dalam mengelola uang, jangan sampai mahasiswa yang dipermainkan oleh uang, namun jadilah mahasiswa yang gemar mendebit. Kekayaan adalah hal relatif, karena ia yang memiliki sedikit uang dan sedikit keinginan lebih kaya, daripada dia yang memiliki banyak uang dan banyak keinginan. Kekayaan adalah bukan berapa banyak uang yang anda hasilkan, tetapi berapa uang yang anda simpan, seberapa keras uang bekerja untuk anda. (T)

Tags: anak kosekonomikampusmahasiswaPendidikan
Share30TweetSendShareSend
Previous Post

Di Klungkung, Skateboard Makin Ngetrend – Pemain Mimpi Punya Skate Park

Next Post

Bergerak Jika Ada Jarak – Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Fatika Arum Rahmawati

Fatika Arum Rahmawati

Lahir di Tabanan, 28 Juli 1997. Wanita karier sekaligus seorang istri.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Bergerak Jika Ada Jarak - Curhatan Orang yang Gagal Menulis Opini

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co