23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing

Wira Dharma Asha by Wira Dharma Asha
February 2, 2018
in Opini

Foto: koleksi penulis

SUDAH banyak yang bicara soal mahasiswa kos atau bicara soal merantau. Mahasiswa kos yang memikul harapan orang tua sejauh ratusan kilometer dari rumah ke kampus demi cita-cita dan tujuan mulia. Seperti poster slogan di dinding sekolahan “Aku Datang Demi Sebuah Cita-Cita”.

Banyak meme di dunia maya yang mencoba menganekdotkan kehidupan mahasiswa perantauan. Karena mahasiswa kos memang eksis dengan banyak keunikan yang lucu, bahkan penderitaan pun jadi sangat lucu jika diceritakan. Mahasiswa kos memang punya galau tersendiri.

Namun, jauh dari kamar kos, terdapat sejumlah mahasiswa asli yang tinggal di kota kelahirannya sendiri. Sebut saja mahasiswa rumahan. Mahasiswa rumahan inipun punya cerita yang mungkin patut didengarkan. Mereka punya kegalauan sendiri.

Kehidupan kampus  bagi mahasiswa rumahan ini mungkin berbeda dengan yang biasa didengar dan dicerita, baik dalam cerita pendek (cerpen) novel, maupun roman picisan. Berbeda, mulai dari cara membuat tugas,  beli makanan sendiri, pergi ke laundry, dan yang tak kalah penting, ya pulang kampung. Pada dasarnya, banyak hal yang berbeda di antara kedua jenis mahasiswa ini.

Ya, begitulah. Mahasiswa kos dan mahasiswa rumahan punya kegalauan masing-masing.

Saat pulang dari kampus, mungkin sebagian besar dari mahasiswa perantauan akan mampir sebentar di warung-warung makan, sekadar membeli lauk atau paket komplit dengan es teh. Namun, mahasiswa rumahan akan langsung pulang.

Tiba di rumah langsung masuk dapur, lalu mengambil piring. Lauk tinggal pilih, nasi tinggal ambil, tapi ingat cuci piring.

Maka, jangan heran bila terkadang mahasiswa rumahan ini bingung jika ditanya tempat warung makan yang enak dan murah di sekitar kampus atau di kotanya sendiri. Berbeda dengan mahasiswa perantauan yang hapal dengan warung dengan nasi enak, dan terutama warung murah. Karena hari-harinya sepulang kampus selalu diisi dengan eksplorasi dagang nasi, dari dekat kampus, dekat kos, hingga warung di gang-gang paling tersembunyi.

Bagi kaum perantauan, orang tua jelas sudah mengerti bahwa si anak rantau pergi dari rumah memang untuk belajar. Dari pengamatan saya terhadap teman-teman perantuan, setiap kali dihubungi orang tua jawabannya selalu “Masih buat tugas, sudah makan kok, tenang ya, Ma”.

Jawaban berbeda datang dari anak rumahan. Ketika dihubungi jawabannya “Sebentar pulang, masih buat tugas…”.

Bagaimanapun juga tugas kuliah memang berbeda dengan zaman SMA. Tugasnya berat, mental harus kuat, bisa-bisa otak sampai berkarat (bagi yang serius sih, hehehe). Tugas itu menuntut untuk diselesaikan, walaupun hingga larut malam. Bagi mahasiswa perantuan mungkin hal lumrah berada di kos teman, bertukar pikiran hingga larut malam, membuat tugas, sambil makan gorengan Telkom.

Namun, banyak hal beda yang dirasakan si anak rumahan. Perasaan tidak enak kerap kali menghampiri, terutama saat meninggalkan rumah. Apalagi bagi anak perempuan. Tidak enak rasanya jika harus sampai malam, tidak enak rasanya jika harus menggedor pintu rumah saat semua sudah tidur. Pokoknya tidak enak.

Bicara libur adalah bicara surga bagi mahasiswa rantau. Namun sayang, mungkin mahasiswa non perantuan punya rasanya sendiri. Saat semua temannya pergi, jadilah ia sendiri. Seketika suasana yang penuh hiruk pikuk kampus dan candaan teman berubah menjadi kesepian. Ia bukannya tidak punya teman melainkan ditinggalkan teman.

Di sisi lain, temannya di rumah justru sedang merantau ke negeri orang. Sedangkan temannya di kampus sudah pulang kampung. Tak heran, sebagai mahasiswa rumahan, kadang saya bingung ketika ditanya dosen “Liburannya ngapain saja?”.  Ya, jawabannya, “Di rumah saja…”

Ada satu kegalauan lain bagi mahasiswa rumahan. Kita tahu bahwa orang Bali suka menyamabraya, apalagi saat sedang ada upacara di salah satu keluarga. Nah, mahasiswa rumahan tak bisa mengelak. Mereka harus bisa menempatkan diri sebagai orang Bali. Terjun langsung membantu nyama sendiri adalah keharusan.

Bukan main-main lagi ataupun sekadar basa-basi, karena mereka harus punya tanggung jawab yang tinggi. Dengan kekuatan yang besar maka timbulah tanggung jawab yang besar pula. Apalagi dalam kasus ini mahasiswa rumahan namping nyama, masa iya kita tidak medelokan atau meopinan?

Sialnya, jika rentetan upacara ini berbarengan dengan segala macam kegiatan kampus dan tetek-bengeknya.  Kuliah yang mewajibkan kehadiran  minimal 75 persen kadang membuat mahasiswa bingung.

Ambil sajalah contohnya saat di kampus kita boleh izin sebanyak empat kali, dua kali sudah kita gunakan saat sakit, dua kali juga sudah kita gunakan saat izin saat ada keperluan pribadi yang penting.  Nah, ketika ada upacara penting dan berbarengan dengan kuliah, middle test, apalagi final test, mohon dimengerti saja kalau mahasiswa rumahan harus mengorbankan salah satunya. Lagi-lagi, perasaan tidak enak menghampiri.

Tidak berhenti sampai di situ saja, mahasiswa rumahan ini harus pintar-pintar dalam meyakinkan orang tua kalau apa yang dia lakukan di kampus adalah sungguh-sungguh penting. Selain itu, ia harus pintar dalam menyiasati waktu, membagi waktu dalam kuliah dan membantu pekerjaan rumah. Tinggal dengan orang tua sendiri tidak serta merta berarti kita bebas ke sana ke sini dong?

Pada akhirnya, memang semua akan kembali kepada siapa yang menjalani. Tidak semua orang merasakan hal yang sama, dan tidak pula diharapkan agar merasakan hal yang sama. Namun, tanpa ada maksud menyamaratakan, begitulah kisah mahasiswa rumahan ini.  Bukan maksud membandingkan, tapi hanya ingin berbagi karena semua orang punya kisahnya masing-masing. (T)

Tags: anak koskampusmahasiswa
Share381TweetSendShareSend
Previous Post

“Daha-Teruna” di Bungaya: 3 Hari “Non Gadget”, Tahan Kantuk dan Dahaga

Next Post

In Memoriam Made Wijaya: Buatlah Desain Taman Paling Indah di Surga

Wira Dharma Asha

Wira Dharma Asha

Lahir dan tinggal di Singaraja. Mahasiswa yang punya hobi fotografi ini belakangan mulai suka menulis

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

In Memoriam Made Wijaya: Buatlah Desain Taman Paling Indah di Surga

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co