24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Wayan Gde Yudane by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
in Esai
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Ilustrasi dari penulis

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal itu dengan melahirkan sebuah hukum fisika eksistensial yang jauh lebih taktis: Trilema Manusia Indonesia. Hukum ini menetapkan bahwa dalam ekosistem bernegara, seorang warga negara hanya diizinkan memiliki maksimal dua dari tiga sifat dasar: Pintar, Jujur, atau Pro-Pemerintah. Sifat ketiga? Ia adalah tumbal yang harus disembelih di altar realitas demi kelancaran karier dan ketenangan hidup.

Kontradiksi sosiologis ini bukanlah sekadar anomali modern yang berdiri sendiri. Ia adalah medan perang tempat benturan keras terjadi antara keputusasaan eksistensial Barat, kemunafikan mistisisme politik Timur, dan sisa-sisa trauma psikologis masa lalu yang belum sembuh.

Mari kita bedah anatomi kutukan ini melalui lensa Albert Camus dan Absurdisme. Ketika seseorang memilih untuk menjadi Pintar dan Jujur, semesta secara otomatis mencabut haknya untuk menjadi pendukung penguasa. Secara ontologis, kecerdasan yang berpadu dengan integritas akan melahirkan kutukan bernama “nalar kritis.” Orang-orang di makam ini adalah perwujudan dari Sisyphus yang sadar. Mereka dihukum untuk terus mendorong batu kebenaran ke atas bukit birokrasi, hanya untuk melihat batu itu digulingkan kembali oleh keputusankeputusan konyol atau undang-undang pesanan yang disahkan tengah malam saat rakyat tertidur.

Mereka tahu bahwa infografis keberhasilan pemerintah hanyalah dongeng pengantar tidur yang dirancang oleh agensi humas mahal bermodal anggaran negara, namun mereka menolak untuk berhenti berpikir. Menjadi oposisi bagi mereka bukanlah pilihan politik, melainkan sebuah pemberontakan eksistensial terhadap absurdisme negara. Seperti kata Camus, “Satu-satunya cara untuk menghadapi dunia yang tidak bebas adalah dengan menjadi sangat bebas, sehingga keberadaanmu sendiri merupakan tindakan pemberontakan.” Tentu saja, kebebasan berpikir ini harus dibayar mahal dengan label “provokator”, “anti keberlanjutan”, atau dituduh sebagai agen asing yang merusak stabilitas.

Namun, ketika batu kebenaran itu menggelinding jatuh, ia sering kali mendarat di kaki kelompok kedua: mereka yang Pintar dan Pro-Pemerintah. Di sinilah kita bergeser dari panggung absurdisme Camus menuju panggung hasrat Friedrich Nietzsche, sekaligus memasuki wilayah Filsafat Kekuasaan Jawa.

Di hadapan Nietzsche, kelompok ini adalah para pelacur intelektual yang telah menukar pencarian akan kebenaran (Will to Truth) demi hasrat norak akan kekuasaan (Will to Power). Namun, dalam kosmologi Jawa, pelacuran logika ini diperhalus sebagai seni merawat Wahyu Cakraningrat—keberuntungan politik yang harus dijilat dan dijaga dengan segala cara. Bagi para intelektual penjilat kekuasaan ini, realitas mungkin sedang karam, namun mereka dibekali kecerdasan linguistik yang luar biasa untuk mengemas kebocoran kapal sebagai “inovasi maritim terbaru yang revolusioner.”

Nietzsche pernah memperingatkan tentang bahaya “Monster Dingin bernama Negara,” tetapi filsafat kekuasaan Jawa justru menuntut kepatuhan absolut demi menjaga brayan urip (keharmonisan sosial—atau lebih tepatnya, harmoni dompet mereka). Maka, demi menjaga ketenangan lingkaran dalam kekuasaan, kelompok pintar ini dengan sengaja membunuh Tuhan di dalam nurani mereka sendiri. Bagi mereka, kebohongan akademis bukanlah dosa moral, melainkan bentuk luhur dari tatakrama politik. Mereka adalah para sosiolog, ekonom, dan ahli hukum yang fasih membenarkan yang salah, asalkan nomor rekening mereka tetap berada dalam kondisi sehat walafiat.

Kelenturan moral yang menjijikkan ini kemudian bertransisi secara mulus menjadi kepolosan massal yang mengenaskan pada kombinasi ketiga: Jujur dan Pro-Pemerintah. Jika kelompok kedua memanipulasi kekuasaan, kelompok ketiga ini adalah korban sukarela yang dengan riang gembira merayakan pembodohan tersebut. Di mata Nietzsche, mereka adalah “kawanan domba” (the herd) yang ideal. Di bawah kacamata etika Jawa, mereka adalah perwujudan tragis dari konsep sepi ing pamrih, rame ing gawe (sepi dari kepentingan pribadi, rajin dalam bekerja) yang telah disimpangkan secara brutal oleh penguasa.

Namun, untuk memahami mengapa kelompok ini begitu betah berada dalam kepasrahan, kita harus membedahnya dengan psikoanalisis sosial dan konsep mentalitas inlander (mentalitas terjajah). Kelompok jujur yang pro-pemerintah ini adalah pewaris genetik dari inferiotas psikologis masa kolonial yang belum punah. Secara tidak sadar, mereka memandang elite penguasa bukan sebagai pelayan publik, melainkan sebagai Ndoro atau Meneer baru yang titahnya suci dan tak boleh didebat.

Ketika harga kebutuhan pokok melonjak ugal-ugalan atau konstitusi dikangkangi demi anak cucu sang penguasa, kompas utama yang bekerja di dada mereka bukanlah logika matematika (pikir), melainkan ketakutan bawaan berbalut kepasrahan buta (rasa). Mentalitas inlander ini membuat mereka merasa “tidak pantas” mempertanyakan kebijakan makro. Protes dianggap sebagai tindakan kurang ajar yang merusak tatanan kosmis, sedangkan penderitaan struktural dengan ikhlas diterima sebagai “ujian hidup” atau “karma”.

Bagi Camus, kelompok ini sedang melakukan bunuh diri filosofis (philosophical suicide); mereka mengamputasi otak mereka sendiri demi kenyamanan psikologis agar terhindar dari kecemasan eksistensial. Mereka adalah bahan bakar terbaik bagi mesin propaganda—paling rajin bertepuk tangan di barisan depan, paling mudah dikerahkan dengan iming-iming bantuan sosial, dan yang paling penting: mengidap Stockholm Syndrome akut yang membuat mereka jatuh cinta pada pihak yang sedang menguras masa depan mereka.

Sinergi absurdisme Barat, mistisisme Timur, dan patologi inlander ini akhirnya setali tiga uang dengan tesis sosiologis K.H. Abdurrahman Wahid mengenai kelangkaan penegak hukum yang berintegritas. Ketika beliau menyatakan hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia—patung polisi, polisi tidur, dan Jenderal Hoegeng—Gus Dur sebenarnya sedang meludahkan satir yang sangat tajam terhadap budaya formalisme kita. Beliau mengingatkan bahwa di negeri yang mengagungkan keharmonisan semu ini, kejujuran yang murni tanpa kompromi adalah sebuah kelangkaan yang absurd. Kejujuran absolut hanya bisa ditemukan pada benda mati yang tidak bisa menerima suap, atau pada orang mati yang sudah tidak butuh uang tunjangan jabatan.

Pada akhirnya, trilema filosofis ini bukanlah sekadar lelucon pengisi waktu luang di warung kopi, melainkan sebuah benteng pertahanan diri (coping mechanism) yang genius dari rakyat yang lelah. Di tengah panggung sandiwara negara tempat nalar Barat dilecehkan oleh absurditas elite, nurani Timur diredam oleh tuntutan harmoni palsu, dan mentalitas terjajah dipelihara agar elite tetap berkuasa, satir adalah pemberontakan terakhir kita. Menertawakan realitas busuk ini adalah cara kita untuk tetap hidup tanpa harus menjadi gila. Kita menolak menjadi domba yang pasrah, menolak menjadi pelacur intelektual yang berkuasa, dan memilih menjadi manusia yang tetap menjaga kewarasan di tengah kegilaan kolektif sebuah bangsa.[T]

Kubu Art Space Ubud

Tags: AbsurdismeAlbert CamusfilsafatNietzsche
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

Next Post

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

Wayan Gde Yudane

Wayan Gde Yudane

Komponis. Mendapat Anugerah Kebudayaan Indonesia 2020 untuk katagori Pencipta Pelopor Pembaru

Related Posts

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails

Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

by Angga Wijaya
October 19, 2026
0
Membaca “Nyama Selam”, Melampaui Perdebatan Kata

SEBELUM memulai esai ini, izinkan saya menyampaikan penghargaan kepada IGA Darma Putra atas keterlibatannya dalam perbincangan mengenai istilah selam dan...

Read moreDetails
Next Post
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co