KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni yang megah. Perpaduan antara musik modern dan gamelan Bali yang mengiringi tarian baru tersebut menghadirkan dinamika seni tari kontemporer secara nyata. Kombinasi ini menyatukan energi ritmik gamelan yang khas dengan genre musik modern, serta mampu menciptakan pertunjukan yang harmonis dan indah.
Itulah yang tampak pada karya Jnana, bagian dari seni intermedium Huni-Jnana-Hana di Museum Rudana, Bali, Senin 19 Oktober 2026. Pentas seni diseminasi ini merupakan bagian dari hasil Program Penciptaan Dosen Seni dan Desain (P2DSD) II Tahun 2026 yang memperoleh hibah dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran dan Penjaminan Mutu (LP2MP) ISI Bali. Selain tarian, kreativitas para penabuh dan pemusik juga menjadi sorotan para penonton malam itu.
Pertunjukan seni yang digelar dalam rangkaian acara Setanggi Puspa Budaya untuk memperingati Hari Museum Indonesia 2026 tersebut menjadi magnet kuat. Menteri Kebudayaan Republik Indonesia Fadli Zon, Ketua Asosiasi Museum I Putu Supadma Rudana, serta para undangan dari kalangan kebudayaan, permuseuman, akademisi, dan pelaku seni terpesona oleh pertunjukan berdurasi sekitar 30 menit tersebut.
Peringatan yang mengusung tema “Museum Soko Guru Bangsa, Rumah Kebudayaan Kita” ini dirangkai dengan peresmian pameran seni rupa karya Wayan Kun Adnyana bertajuk Guwung Suwung. Kehadiran karya ISI Bali ini menjadi momentum untuk mempertemukan penelitian dan penciptaan seni di lingkungan perguruan tinggi dengan ruang publik kebudayaan. Hasil penelitian dosen tidak hanya dipresentasikan sebagai capaian akademik, tetapi juga sebagai pengalaman estetis yang dapat diapresiasi oleh masyarakat.

“Secara artistik, Huni–Jnana–Hana dibangun melalui perpaduan ansambel musik barat, karawitan, dan tari. Ansambel musik menggabungkan instrumen gesek, tiup, dan combo band yang diolah untuk membentuk harmonisasi serta dinamika musikal dalam pertunjukan,” kata Guntur Eko Prasetyo, S.Pd., M.Sn., Ketua Peneliti Jnana.
Petikan gitar mengawali iringan pertunjukan seni yang spektakuler tersebut. Alunan musik itu mengiringi tarian perempuan berbusana nuansa putih. Suara piano dipadukan dengan keyboard, biola, serta saxophone. Setiap nada dan melodi menguatkan gerakan penari dengan properti kipas yang memberi kesan kuat pada tarian tersebut.
Keunikan karya ini terletak pada perpaduan iringan musik dengan bahasa gerak kontemporer yang kontras, namun tetap membangun harmoni. Musik Big Band dengan pendekatan musikal Barat tidak sekadar menjadi pengiring, tetapi juga berperan dalam membentuk struktur dramatis melalui perubahan tempo, dinamika, aksentuasi, tekstur, dan atmosfer. Musik mampu membangun dialog sehingga kedua unsur saling merespons dan memperkuat ekspresi pertunjukan.
Pada iringan karya Bianglala, musik mengeksplorasi transformasi komposisi lima orang penari putri. Paduan saxophone, piano, dan gitar mampu menghidupkan penampilan lima penari yang mengenakan busana bernuansa ungu sambil memainkan kipas berekor panjang. Gerakan kipas yang melambai menghadirkan visual menyerupai pelangi yang seirama dengan napas musik.
Iringan musik fusion yang didominasi gamelan berfungsi memperkuat suasana, memberikan aksentuasi pada gerak, serta menandai perubahan struktur dan transisi koreografi. Melalui perpaduan idiom musikal tradisional dan bahasa gerak kontemporer, Bianglala menghadirkan pertunjukan yang dinamis dan transformatif.

Penampilan dua vokalis, Timothy dan Kamila, merepresentasikan dimensi musikal melalui lagu berjudul Kita Anak Bangsa dengan lirik yang selaras dengan tema pertunjukan. Penampilan keduanya dipadukan dengan fashion show Gelatik. Perpaduan vokal, musik, gerak, dan peragaan busana menjadikan bagian ini sebagai pertunjukan interdisipliner yang membangun satu kesatuan artistik. Musik Big Band berkarakter pop Nusantara berfungsi sebagai landasan musikal sekaligus penggerak ritme, suasana, dan dinamika pertunjukan.
Secara artistik, karya ini membangun dialog antara suara, tubuh, busana, musik, dan ruang. Dengan demikian, fashion show tidak sekadar menjadi presentasi busana, tetapi juga bagian integral dari struktur pertunjukan. Pendekatan tersebut menghasilkan sajian yang modern, dinamis, komunikatif, dan kontekstual.
Selanjutnya, iringan musik mengalir mengiringi delapan penari Mina Bedhoyo yang membawakan gaya gerak tari Jawa dalam balutan busana tari klasik Jawa. Iringannya mengadopsi nuansa gamelan Bali melalui permainan kotekan gangsa, pukulan reong, tawa-tawa, dan ceng-ceng. Perpaduan unsur gerak dan musikal tersebut menciptakan dialog artistik antara tradisi Bali dan Jawa.
Kehadiran karawitan yang berdampingan dengan susunan musikal mempertemukan karakter bunyi yang berbeda, sementara tari menghadirkan dimensi gerak yang selaras dengan perkembangan musik. Hubungan antara musik dan tari menjadi bagian penting dalam membangun kesinambungan sajian. Musik memberikan landasan ritmis dan suasana bagi gerak, sedangkan ekspresi tubuh menghadirkan respons visual terhadap perkembangan musikal.

Melalui hubungan tersebut, karawitan dan ansambel musik barat membuka ruang pertemuan antara karakter musikal yang berbeda. Pendekatan ini memperlihatkan bagaimana unsur-unsur seni dapat diolah bersama tanpa kehilangan kekhasan masing-masing, sekaligus memberikan ruang bagi eksplorasi bentuk pertunjukan yang melampaui batas satu disiplin seni.
“Proses penciptaan dan penyajian karya ini juga mempertemukan pengalaman artistik dosen dengan keterlibatan mahasiswa dalam praktik pertunjukan. Kolaborasi tersebut menempatkan proses berkarya sebagai bagian dari pengalaman akademik yang berlangsung melalui kerja bersama, pengolahan musikal, dan penyelarasan unsur-unsur pertunjukan,” sebut Guntur.
Menurut Guntur, melalui Huni–Jnana–Hana, ISI Bali menghadirkan hasil penciptaan seni yang mempertemukan eksplorasi musikal, karawitan, dan tari melalui kolaborasi dosen dan mahasiswa. “Partisipasi dalam kegiatan kebudayaan di Museum Rudana menjadi bagian dari upaya memperluas ruang presentasi karya akademik, sekaligus membangun hubungan antara proses penciptaan di perguruan tinggi dan kehidupan seni di masyarakat,” ucapnya.[T]
Reporter/Penulis: Nyoman Budarsana
Editor: Jaswanto































