ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam naskah lontar, dan menyimpan ingatan kebudayaan yang menjangkau berbagai bidang kehidupan. Namun menulis dan membaca aksara Bali secara langsung bukan kecakapan yang lazim.
Orang Bali hidup di tengah aksara yang tidak dapat mereka baca. Mereka mengenali bentuknya pada papan nama, pura, bangunan tradisional, lontar, dan berbagai perlengkapan upacara. Mereka mungkin bangga melihat aksara Bali ditampilkan di ruang publik. Akan tetapi, ketika aksara itu tersusun menjadi sebuah teks, tidak semua orang dapat membuka dan mencercap isinya. Sebuah masyarakat punya aksara tanpa menjadikan kemampuan membaca dan menulis pada aksara tersebut sebagai kecakapan massal.
Lontar menjadi bukti paling mengesankan keseriusan orang Bali merawat pengetahuan. Daun lontar dipilih, diolah, dikeringkan, kemudian disiapkan untuk ditulisi dengan aksara yang digoreskan menggunakan pengrupak. Pengetahuan diberi tubuh yang dapat bertahan melampaui usia manusia. Naskah-naskah tersebut menyimpan beragam pengetahuan tentang agama, pengobatan tradisional, sastra, bahasa, arsitektur, ritual, perhitungan waktu.
Lontar yang disimpan di rumah-rumah kaum intelektual, griya, pura, atau tempat penyimpanan naskah adalah teknologi kebudayaan untuk mengawetkan ingatan. Ketika manusia yang menguasai suatu pengetahuan meninggal, tulisan terus dibaca dan diwariskan. Tentu saja, daya tahan fisik lontar tidak menjamin kelangsungan pengetahuannya. Naskah bertahan berabad-abad, tetapi bisu ketika tidak ada lagi pembaca, memahami, dan menjelaskan isinya.
Pada umumnya orang Bali tidak mampu membaca aksara Bali/lontar. Jawabannya tidak sesederhana itu. Sejarah kebudayaan Bali memperlihatkan, pengetahuan tidak bergerak melalui tulisan. Ia juga diwariskan melalui suara, pertunjukan, praktik ritual, pembelajaran antargenerasi, dan kehidupan sehari-hari.
Kemampuan membaca dan menulis naskah berada di tangan orang-orang yang memiliki keahlian khusus. Mereka menguasai aksara, bahasa, dan tradisi pengetahuan tertentu. Pengetahuan yang mereka kuasai tidak seluruhnya berhenti di dalam naskah atau hanya beredar di lingkungan mereka sendiri. Sebagian pengetahuan itu diteruskan kepada masyarakat melalui turan, ajaran, praktik, pengasuhan, upacara yang terjadi sepanjang tahun, dan pertunjukan.
Pentingnya memahami tradisi lisan. Bukan kebiasaan ngobrol atau bercerita tanpa tulisan. Ia merupakan sistem pewarisan pengetahuan yang memiliki cara kerja, pelaku, ruang, dan aturan sosial. Pengetahuan yang tersimpan dalam teks dapat keluar dari halaman lontar dan hadir kembali sebagai suara, gerak tubuh, gambar, nyanyian, drama, maupun praktik ritual.
Kisah Mahabharata dan Ramayana memberikan contoh yang menarik. Tidak semua orang Bali membaca kedua epos tersebut dalam naskah tertulis aksara Bali. Tokoh-tokohnya hidup dalam ingatan kolektif melalui pertunjukan wayang, drama tari, wayang wong, lukisan, dan ekspresi seni lainnya. Tokoh-tokoh epos itu dikenal, diperdebatkan, ditafsirkan, dan dihadirkan kembali dalam kehidupan masyarakat.
Orang yang tidak membaca teks tertulis belum tentu tidak mengetahui cerita yang dikandungnya. Ia mungkin mengenal kisah tersebut melalui dalang, penari, pelukis, orang tua, atau pencerita. Pengetahuan menjangkau masyarakat yang buta aksara.
Literasi Bali tidak bertumpu di atas hubungan individual antara pembaca dan teks. Ada perantara. Pengetahuan tertulis dikuasai oleh sedikit orang, beredar lebih luas melalui tradisi lisan. Masyarakat memiliki pengetahuan bersama meskipun kemampuan membaca sumber tertulisnya tidak merata. Di balik mekanisme itu, tersimpan persoalan. Penguasa aksara memiliki kedudukan penting dalam mengakses, menafsir, dan menyampaikan pengetahuan kepada orang lain.
Keahlian membaca naskah bukan teknis. Ia berkaitan dengan wibawa, kedudukan sosial, otoritas keagamaan, dan legitimasi pengetahuan. Dalam konteks Bali, pemuliaan aksara sebagai sesuatu yang suci turut membentuk hubungan masyarakat dengan tulisan. Aksara diperlakukan sebagai perangkat komunikasi, memiliki dimensi religius dan ritual. Ketika aksara dipandang sebagai wilayah hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu, memuliakan aksara berkelindan dengan ketimpangan penguasaan pengetahuan.
Sejarah Bali juga tidak dapat dilepaskan dari stratifikasi sosial dan pembagian otoritas berdasarkan kedudukan serta kewenangan sosial/keagamaan. Hubungan antara kasta, kepemilikan naskah, dan kemampuan membaca disederhanakan seolah-olah orang di luar kelompok tertentu tidak memiliki akses pengetahuan.
Tradisi lisan memang memungkinkan pengetahuan menjangkau banyak orang. Masyarakat yang bergantung pada perantara tidak memiliki keleluasaan memeriksa sumber, membandingkan tafsir, atau membaca sendiri teks dasar pengetahuan. Pengetahuan didapat melalui orang lain. Apa yang disampaikan bergantung pada kemampuan, pilihan, ingatan, dan penafsiran orang yang menyampaikannya.
Dua keadaan: masyarakat tidak memiliki pengetahuan dan masyarakat memiliki pengetahuan tetapi tidak mempunyai akses langsung terhadap sumber tertulisnya. Kedua keadaan itu tidak selalu sama. Masyarakat dapat kaya pengetahuan, tetapi kemampuan untuk memeriksa dan mengembangkan pengetahuan melalui sumber tertulis belum tentu bersifat massal.
Kampanye pelestarian aksara Bali perlu diperiksa secara kritis. Berbagai lomba nyurat aksara Bali, kegiatan pembelajaran di sekolah, dan program kebudayaan di kampus; membuat aksara hadir di tengah generasi muda; ruang mempraktikkan keterampilan menulis.
Salah satu contohnya berlangsung pada bulan ini melalui kegiatan yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha, bekerja sama dengan Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (HISKI) Komisariat Bali.
Peserta tidak berhadapan dengan bentuk aksara di atas kertas. Mereka bersentuhan dengan material yang selama berabad-abad media penyimpanan pengetahuan Bali. Di atas daun lontar tulisan lahir, teknologi aksara dibangun, dan ingatan dirawat. [T]






























