12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Made Wijaya: Buatlah Desain Taman Paling Indah di Surga

Wiryawan Paritranaya by Wiryawan Paritranaya
February 2, 2018
in Feature

Made Wijaya (alm), nomor empat dari kiri. Sumber foto: Facebook Made Wijaya

PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahir di Bali. Saya mengenalnya sebagai Made Wijaya – seorang ahli budaya Bali yang mengkhususkan dirinya pada bidang arsitektur bangunan Bali.

Dan ia telah berpulang ke alam sunya tanggal 29 Agustus 2016. Sebuah kehilangan besar bagi Bali.

Lahir di Australia dan pertama kali datang ke Bali di tahun 1973 dengan nama asli, Michael White. Pertemuannya dengan Bali membuatnya secara instan jatuh cinta kepada budaya Bali yang akhirnya membawanya tinggal bersama keluarga angkatnya, Brahmana dari Kepaon.

Sepuluh tahun kemudian ia memantapkan dirinya menjadi orang Bali dan berganti nama menjadi Made Wijaya, melalui proses Suddhi Wadani yang ketika itu dipuput oleh Ida Pedanda Ida Bagus Anom, dari Griya Kepaon, Denpasar.

Made Wijaya di masa hidupnya merupakan seorang landscape designer yang mengkhususkan pada desain taman dengan gaya Bali. Karyanya dipakai oleh banyak hotel-hotel di Bali, salah satunya adalah Four Season Jimbaran.

Namun tentu yang paling fenomenal adalah ketika ia membuatkan desain taman bergaya Bali untuk mendiang David Bowie. Desain taman bergaya Bali-nya juga menghiasi beberapa Botanical Garden di mancanegara. Dan bagi saya melihat langsung kediamannya di Sanur sudah memberikan gambaran betapa cinta dan ahlinya beliau akan arsitektur Bali. Di sana pula ia bersama beberapa orang terbaiknya di Wijaya Tribwana International meramu dan meracik design landscape tersebut.

Saya sendiri bertemu Made Wijaya untuk pertama kalinya di akhir tahun 2009, saat ia menjadi salah satu pembicara di North Bali Cultural Conference. Made Wijaya membawa topik mengenai keunikan arsitek langgam Bali utara ketika itu, bagaimana seni bangunan di Bali utara sangat berbeda dengan wilayah Bali lainnya. Kebebasan seniman dalam berkreasi menentukan letak ukiran, besar patung, dan desain bangunan secara keseluruhan adalah nafas dari langgam Bali utara ini.

Namun tidak hanya bidang arsitektur yang menjadi perhatiannya. Melalui bukunya berjudul “The Best of Stranger In Paradise”, 1996-2008, kejeliannya akan perubahan-perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Bali. Buku ini secara singkat saya tulis dalam review di blog saya sebagai “An Unusual Expatriate Diary, Stranger in Paradise” dalam bahasa Indonesia berarti “Catatan Unik Seorang Expatriat, Stranger in Paradise”.

Jika kebanyakan ekpatriat hanya menikmati kulit luar Bali, Made Wijaya tidak. Sebuah artikel yang membekas dari buku ini adalah feature yang memperlihatkan sebuah foto seorang anak muslim berjualan canang di sekitaran Keramat Raden Ayu Siti Khotijah –  putri Raja Pemecutan yang dipinang Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura. Ini sebagai pengingat bahwa kerukunan beragama telah terukir di Bali sejak jauh lamanya.

Dalam artikel itu juga dibahas bagaimana Keramat Raden Ayu Siti Khotijah dihormati baik Muslim maupun Hindu di wilayah Puri Pemecutan – sekarang bagian dari Denpasar Barat. Semua dinamika, intrik, dan esensi dari budaya Bali itu dicermati sehingga wajar saja jika Jakarta Post kemudian menyebutnya lebih Bali dari orang Bali itu sendiri. Fakta ini juga akan semakin nanar dimata ketika telah bertemu orangnya secara langsung. Siapapun yang bertemu dengannya akan pasti terkesima.

Kesenian Bali itu sendiri pula telah membawanya untuk menggali alter ego-nya sebagai Condong Muani. Ia menamai karakter itu sebagai Miss Widji. Di waktu senggangnya, Made Wijaya dalam alter ego-nya sebagi Miss Widji sering membuat meme akan isu isu nyetrik dan terkini di Bali dan Indonesia.

Bagi mereka yang berteman dengannya di Facebook tentu akan sangat amat familiar akan tingkah polahnya ini. Keluesannya dalam bergaul dan pengetahuannya akan budaya Bali juga membuatnya begitu dekat dengan keluarga Puri-Puri di Bali.

Saya justru banyak mendapat cerita-cerita sejarah itu dari celotehannya di Facebook, foto-foto bahkan yang tidak pernah saya lihat dalam buku sejarah manapun tentang Bali.

Made Wijaya juga seoarang guru yang hebat dengan caranya sendiri. Saya menyaksikannya langsung ketika menjadi translator bagi anak didiknya yang berasal dari Vietnam. Phat, datang dari Vietnam Botanical Garden dan bermaksud mengemban ilmu pada Made Wijaya mengenai landscaping design.

Made Wijaya tahu kapan berkata tegas yang terkadang menurut saya agak sedikit menohok. Saya pribadi bahkan pernah mengatakan padanya saat itu “You are too hard on Phat” – Kamu terlalu keras terhadap Phat. Ia hanya menjawab komentar saya itu dengan “Hidup itu keras, dia harus belajar itu untuk mampu bertahan”.

Phat memang pada awalnya kesulitan mengikuti gaya didikan Made Wijaya, namun diakhir masa kunjungannya ia bahkan mampu membuat sebuah sktesa taman yang membuat Made Wijaya terkesima. Saya pun belajar banyak, bahwa bakat tanpa kemauan untuk bekerja keras tidak akan membawa kita kemana-mana. Karena itulah yang dilakukan Made Wijaya hingga akhir hidupnya.

Bakatnya dan kerja kerasnya, membuat Bali dalam skala kecil ada disetiap jengkal Botanical Garden di mancanegara. Dia dengan cara uniknya mengkritisi perubahan sosial dan budaya Bali.

Saya telah kehilangan teman, inspirasi, dan An Unusual Expatriate. Berdasarkan informasi dari akun Facebook, Made Wijaya meninggal saat berada di Sydney. Jenasahnya sedang diusahakan untuk pulang ke Bali dan akan diupacarai secara Hindu, sesuai dengan keinginan terakhirnya.

Made Wijaya, kamu memang tidak lagi menata taman di bumi, tapi taman yang jauh lebih indah di Surga Loka sana.

You will be missed Sir. Dumogi labda permagine ke Sunya Loka. (T)

Tags: balihumaniorain memoriam
Share528TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing

Next Post

Jenis-Jenis Wisudawan dan Pekerjaan yang Tepat Ditekuni

Wiryawan Paritranaya

Wiryawan Paritranaya

Saat ini bertugas di Badan Narkotika Nasional, menulis di waktu senggang merupakan jalannya terkoneksi kembali kepada dunianya

Related Posts

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
0
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

Read moreDetails

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
0
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

Read moreDetails

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
0
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

Read moreDetails

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

by Ingga Adelia
September 11, 2026
0
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

Read moreDetails

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

by tatkala
September 11, 2026
0
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

Read moreDetails

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
0
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

Read moreDetails

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

by Emi Suy
September 10, 2026
0
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

Read moreDetails

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

Read moreDetails

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
0
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

Read moreDetails

Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

by Dede Putra Wiguna
September 9, 2026
0
Hadirkan Pop-Punk Berbahasa Bali, Satria N Band Luncurkan Single dan Video Klip “Bukan Pemenang Hatimu”

BELANTIKA musik Bali kembali mendapat warna baru. Kali ini datang dari Satria N Band, grup musik yang mencoba membawa pop-punk...

Read moreDetails
Next Post
Jenis-Jenis Wisudawan dan Pekerjaan yang Tepat Ditekuni

Jenis-Jenis Wisudawan dan Pekerjaan yang Tepat Ditekuni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co