3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

In Memoriam Made Wijaya: Buatlah Desain Taman Paling Indah di Surga

Wiryawan Paritranaya by Wiryawan Paritranaya
February 2, 2018
in Feature

Made Wijaya (alm), nomor empat dari kiri. Sumber foto: Facebook Made Wijaya

PERAWAKANNYA tinggi besar dan tentu saja tampak luar ia 100% bule. Namun siapa sangka ketika mulai bercakap tata bahasa alus singgih-nya jauh lebih baik dari saya sendiri yang lahir di Bali. Saya mengenalnya sebagai Made Wijaya – seorang ahli budaya Bali yang mengkhususkan dirinya pada bidang arsitektur bangunan Bali.

Dan ia telah berpulang ke alam sunya tanggal 29 Agustus 2016. Sebuah kehilangan besar bagi Bali.

Lahir di Australia dan pertama kali datang ke Bali di tahun 1973 dengan nama asli, Michael White. Pertemuannya dengan Bali membuatnya secara instan jatuh cinta kepada budaya Bali yang akhirnya membawanya tinggal bersama keluarga angkatnya, Brahmana dari Kepaon.

Sepuluh tahun kemudian ia memantapkan dirinya menjadi orang Bali dan berganti nama menjadi Made Wijaya, melalui proses Suddhi Wadani yang ketika itu dipuput oleh Ida Pedanda Ida Bagus Anom, dari Griya Kepaon, Denpasar.

Made Wijaya di masa hidupnya merupakan seorang landscape designer yang mengkhususkan pada desain taman dengan gaya Bali. Karyanya dipakai oleh banyak hotel-hotel di Bali, salah satunya adalah Four Season Jimbaran.

Namun tentu yang paling fenomenal adalah ketika ia membuatkan desain taman bergaya Bali untuk mendiang David Bowie. Desain taman bergaya Bali-nya juga menghiasi beberapa Botanical Garden di mancanegara. Dan bagi saya melihat langsung kediamannya di Sanur sudah memberikan gambaran betapa cinta dan ahlinya beliau akan arsitektur Bali. Di sana pula ia bersama beberapa orang terbaiknya di Wijaya Tribwana International meramu dan meracik design landscape tersebut.

Saya sendiri bertemu Made Wijaya untuk pertama kalinya di akhir tahun 2009, saat ia menjadi salah satu pembicara di North Bali Cultural Conference. Made Wijaya membawa topik mengenai keunikan arsitek langgam Bali utara ketika itu, bagaimana seni bangunan di Bali utara sangat berbeda dengan wilayah Bali lainnya. Kebebasan seniman dalam berkreasi menentukan letak ukiran, besar patung, dan desain bangunan secara keseluruhan adalah nafas dari langgam Bali utara ini.

Namun tidak hanya bidang arsitektur yang menjadi perhatiannya. Melalui bukunya berjudul “The Best of Stranger In Paradise”, 1996-2008, kejeliannya akan perubahan-perubahan sosial dan budaya yang terjadi di Bali. Buku ini secara singkat saya tulis dalam review di blog saya sebagai “An Unusual Expatriate Diary, Stranger in Paradise” dalam bahasa Indonesia berarti “Catatan Unik Seorang Expatriat, Stranger in Paradise”.

Jika kebanyakan ekpatriat hanya menikmati kulit luar Bali, Made Wijaya tidak. Sebuah artikel yang membekas dari buku ini adalah feature yang memperlihatkan sebuah foto seorang anak muslim berjualan canang di sekitaran Keramat Raden Ayu Siti Khotijah –  putri Raja Pemecutan yang dipinang Pangeran Cakraningrat IV dari Bangkalan Madura. Ini sebagai pengingat bahwa kerukunan beragama telah terukir di Bali sejak jauh lamanya.

Dalam artikel itu juga dibahas bagaimana Keramat Raden Ayu Siti Khotijah dihormati baik Muslim maupun Hindu di wilayah Puri Pemecutan – sekarang bagian dari Denpasar Barat. Semua dinamika, intrik, dan esensi dari budaya Bali itu dicermati sehingga wajar saja jika Jakarta Post kemudian menyebutnya lebih Bali dari orang Bali itu sendiri. Fakta ini juga akan semakin nanar dimata ketika telah bertemu orangnya secara langsung. Siapapun yang bertemu dengannya akan pasti terkesima.

Kesenian Bali itu sendiri pula telah membawanya untuk menggali alter ego-nya sebagai Condong Muani. Ia menamai karakter itu sebagai Miss Widji. Di waktu senggangnya, Made Wijaya dalam alter ego-nya sebagi Miss Widji sering membuat meme akan isu isu nyetrik dan terkini di Bali dan Indonesia.

Bagi mereka yang berteman dengannya di Facebook tentu akan sangat amat familiar akan tingkah polahnya ini. Keluesannya dalam bergaul dan pengetahuannya akan budaya Bali juga membuatnya begitu dekat dengan keluarga Puri-Puri di Bali.

Saya justru banyak mendapat cerita-cerita sejarah itu dari celotehannya di Facebook, foto-foto bahkan yang tidak pernah saya lihat dalam buku sejarah manapun tentang Bali.

Made Wijaya juga seoarang guru yang hebat dengan caranya sendiri. Saya menyaksikannya langsung ketika menjadi translator bagi anak didiknya yang berasal dari Vietnam. Phat, datang dari Vietnam Botanical Garden dan bermaksud mengemban ilmu pada Made Wijaya mengenai landscaping design.

Made Wijaya tahu kapan berkata tegas yang terkadang menurut saya agak sedikit menohok. Saya pribadi bahkan pernah mengatakan padanya saat itu “You are too hard on Phat” – Kamu terlalu keras terhadap Phat. Ia hanya menjawab komentar saya itu dengan “Hidup itu keras, dia harus belajar itu untuk mampu bertahan”.

Phat memang pada awalnya kesulitan mengikuti gaya didikan Made Wijaya, namun diakhir masa kunjungannya ia bahkan mampu membuat sebuah sktesa taman yang membuat Made Wijaya terkesima. Saya pun belajar banyak, bahwa bakat tanpa kemauan untuk bekerja keras tidak akan membawa kita kemana-mana. Karena itulah yang dilakukan Made Wijaya hingga akhir hidupnya.

Bakatnya dan kerja kerasnya, membuat Bali dalam skala kecil ada disetiap jengkal Botanical Garden di mancanegara. Dia dengan cara uniknya mengkritisi perubahan sosial dan budaya Bali.

Saya telah kehilangan teman, inspirasi, dan An Unusual Expatriate. Berdasarkan informasi dari akun Facebook, Made Wijaya meninggal saat berada di Sydney. Jenasahnya sedang diusahakan untuk pulang ke Bali dan akan diupacarai secara Hindu, sesuai dengan keinginan terakhirnya.

Made Wijaya, kamu memang tidak lagi menata taman di bumi, tapi taman yang jauh lebih indah di Surga Loka sana.

You will be missed Sir. Dumogi labda permagine ke Sunya Loka. (T)

Tags: balihumaniorain memoriam
Share528TweetSendShareSend
Previous Post

Mahasiswa Kos dan Mahasiswa Rumahan: Punya Galau Masing-masing

Next Post

Jenis-Jenis Wisudawan dan Pekerjaan yang Tepat Ditekuni

Wiryawan Paritranaya

Wiryawan Paritranaya

Saat ini bertugas di Badan Narkotika Nasional, menulis di waktu senggang merupakan jalannya terkoneksi kembali kepada dunianya

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

Read moreDetails

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
0
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

by Wahyu Mahaputra
September 28, 2026
0
Es Waneng Tabanan dan Rasa Manis yang Bertahan Sejak 1938

CUKUP dengan uang tiga ribu rupiah saja, segelas penuh minuman es santan yang creamy dan menyegarkan sudah bisa mengalir di...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

Read moreDetails
Next Post
Jenis-Jenis Wisudawan dan Pekerjaan yang Tepat Ditekuni

Jenis-Jenis Wisudawan dan Pekerjaan yang Tepat Ditekuni

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co