2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jangan Khawatir Soal Perempuan, Tuan Karl Marx!

Indra Andrianto by Indra Andrianto
February 2, 2018
in Opini

Pementasan teater Perempuan Tanpa Nama

 

“Kemajuan sosial dapat diukur oleh posisi sosial perempuan” – Karl Marx

“Tenang saja, tidak ada lagi penindasan akan paras cantik berhati lembut, Fisrt Women kira-kira begitu di Eropa perhari ini, Marx. dan Kesetaraan Gender kira-kira seperti itu di Indonesia hari ini Tuan” – Indra Andrianto

DALAM sebuah disiplin ilmu sosiologi tentu kita sudah mengenal nama-nama tokoh sosiologi klasik seperti Emile Durkheim dan Max Webber yang menjadi rujukan dasar sebuah paradigma masyarakat sosial. Dari keduanya lahirlah tokoh peralihan bernama Karl Marx seorang Prussia (Jerman Timur) yang saat ini menjadi negara Polandia sebagai bapak sosiologi modern yang mampu menyatukan konsep Durkheim dan Webber dalam kajian ilmu sosiologi modern yang bahkan sampai hari ini pengaruh pemikiran Marx pada dunia masih terasa. Bukan hanya dalam sekup internal negara namun secara global dua ideologi sayap kanan dan kiri masih bersiteru secara dingin. Dalam pengaruh pemikiran Karl Marx tentu kita ketahui dalam setiap politik praktisnya tidak lepas dari kajian tentang bagaimana memperjuagkan kelas-kelas sosial.

Kali ini tentunya kita tidak sedang membahas tentang Marxisme Ortodoks, Marxisme Analitis ataupun Marxisme Postmodernisme. Namun yang menarik ialah kajian terkait Marxis Feminisme. Dalam sebuah buku biografi Karl Marx yang ditulis oleh Muhammad Ali Fakih (kebetulan beliau satu saku sama saya) mengatakan bahwa Marxis Feminisme merupakan bagian dari cabang Feminisme yang memiliki fokus pada penyelidikan tentang cara-cara bagaimana perempuan ditindas oleh sistem kapitalisme. Pendapat tersebut tentu merujuk dengan apa yang sudah ansich disampaikan dalam buku Manifesto of the communis party yang terbit pada tahun 1848. Tentu Marx dalam hal ini meletakkan hal-hal dasar tentang penindasan dan Perempuan.

Saat perjalan Karl Marx ke Perancis tentu Marx melihat perempuan bekerja selama 12 sampai 16 jam dalam sehari di sebuah pabrik industri dan kebun anggur, oh betapa prihatinnya si Karl Marx melihat kondisi yang sedemikian sengsaranya perempuan masa itu di Prancis. Sepintas perjalanan Karl Marx dari Prusia yang melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Prancis lalu bertemulah di sana dengan para sosialisme purba seperti Ludwig Beurbach dan Freiderich Englesh yang sebenarnya adalah young Hegelian (penerus perjuangan GWF Hegel). Semakin deras aliran darah Karl Marx untuk peduli terhadap nasib kaum buruh khususnya perempuan pada saat itu yang sebenarnya sejalan dengan basik Karl Marx yang sangat membidangi sastra Humanisme.

Freiderich Engels menganalisis fenomena sosial yang terkait dengan moralitas, penindasan gender terkait erat dengan penindasan kelas. Relasi antara lelaki dan perempuan dalam masyarakat, mirip dengan hubungan kelas proletar dan kelas borjouis. Melalui fenomena ini subordinasi perempuan merupakan fungsi dari penindasan kelas, yang harus dipertahankan (seperti rasisme) untuk melayani kelas pemodal dan kelas penguasa. Hak kerja antara laki-laki dan perempuan itu dibedakan. Kapitalisme menolak membayar pekerja rumah tangga perempuan. Ia hanya bisa makan dan hidup jadi babu tanpa gaji (layaknya binatang peliharaan). Berbeda dengan pekerja rumah tangga laki-laki. Analisis Engles ini ditulis oleh Brown Heather A dalam bukunya “Marx on Gender and The Family”

Kaum feminise Marxis berpendapat dari analisis Engels di atas berpendapat bahwa mengabaikan perempuan dalam kerja-kerja produktif berarti bahwa ranah-ranah produksi, baik dalam publik maupun swasta berada dibawah kontrol kaum laki-laki. Hal ini disepakati sebagai sebuah bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Beberapa Feminisme Marxis mengajukan mereka untuk diperjuangkan dalam ranah pekerjaan rumah tangga dalam sistem perekonomian kapitalis. Sederhananya perempuan yang biasanya mencuci, memasak dan sebagainya itu mendapatkan kompensasi berupa upah.

Tentu jika kita sederhanakan kemauan kaum marxis ialah pekerjaan perempuan diakui dan dihargai di ruang publik. Tetapi jika saya lihat ini hanya sebatas wacana keinginan kaum Marxis Feminisme maka tahun 1972 Feminisme Internasional terlibat meluncurkan Kampanye Upah Internasional untuk pekerjaan rumah tangga tepatnya di Italia, pelopornya adalah sekelompok perempuan Italia. Bahkan penulis pada zaman itu juga ikut menyuarakan seperti Selma James dan Dalla Costa dan lain-lain. Meskipun gerakan seperti ini tak bertahan lama dan bisa dikatakan mengalami kegagalan namun hal ini dianggap sebagai sebuah wacana penting sebagai bentuk passion sebuah perubahan kaum pekerja perempuan.

Di Eropa perhari ini Justru mengutamakan hak-hak perempuan sehingga perlindungan hukum bagi kaum perempuan di segala bidang sangat di-intens-kan, intens dalam artian yakni keadilan terhadap sesama manusia. Istilah populer hari ini di Eropa ialah First Women yang mengandung arti utamakan perempuan atau perempuan yang utama, betapa mulianya kaum perempuan diperlakukan. Sedangkan di Indonesia sendiri lebih luar biasa sekali dengan munculnya pelopor perempuan cerdas bernama R.A Kartini yang memunculkan gagasan emansipasi perempuan. Yang awalnya perempuan Indonesia hanya sebatas dapur, ranjang dan papan, kini mampu mengubah peradaban perempuan Indonesia mengalami paradigma drastis menjadi sosok yang produktif dan terampil, sehingga yang awalnya hanya sebatas pekerjaan mengurus rumah tangga dan melayani lelaki (suami) kini mereka dapat aktif berkarir layaknya kaum laki-laki karena memiliki hak yang sama.

Maka jangan heran jika Ibu Megawati pernah menjadi seorang presiden yang memimpin di dalamnya ada kaum laki-laki. Betapa berjasanya R.A Kartini memperdayakan kaum perempuan menjadi lebih baik dengan buku terbitannya “Habis Gelap, terbitlah Terang”. Pada Tahun 2013 Federecci mendesak gerakan feminimisme dengan cara mereformasi kelembagaan, mereformasi peraturan menjadi sebuah payung hukum yang adil sehingga terjadi keharmonisan dalam tatanan hidup masyarakat baik, ntah hal itu dipimpin oleh kapitalis sekalipun. Jadi dapat dipastikan kegelisahan Marx di masa lalu tidak perlu dikhawatirkan hari ini karena kita sudah mendapatkan solusi dari niatan baik layaknya Marx. (T)

Tags: filsafatKarl MarxPerempuan
Share82TweetSendShareSend
Previous Post

Catatan Harian Sugi Lanus: Labuhan Haji, Pelabuhan Raja-Raja Bali Kuno

Next Post

Niat dan Keyakinan, Dua Hal Penting dalam Menulis

Indra Andrianto

Indra Andrianto

Lahir pada tanggal 14 Maret 1995 kelahiran Bondowoso-Jatim. Saat ini menempuh pendidikan di Jurusan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Undiksha-Bali. Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Singaraja.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Niat dan Keyakinan, Dua Hal Penting dalam Menulis

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co