24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Intuisi

Devy Gita by Devy Gita
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Kadek Heny Sayukti

 

Cerpen: Devy Gita

“Menurutku, hanya lelaki pengecut yang mendekati wanita yang sudah menjalani prosesi sakramen pranikah di gereja.”

Bram mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, alis tebalnya tertaut, napasnya pun tak teratur.

“Kau pun seharusnya sadar akan dirimu, kita sudah bersama selama 6 tahun, Seruni!” tatapan mata Bram menghujam seperti sepasang kilat.

Aku hanya terdiam, menunduk saat ini bukan pilihan yang tepat. Bram paling tidak suka saat lawan bicaranya menunduk tak berdaya. Dia butuh argumen balasan, dia laki-laki yang tidak pernah puas hanya dengan jawaban seadanya. Dengannya, bicara harus jelas dan bisa diterima logika. Dia bisa mempertanyakan hal yang sama berkali-kali hanya untuk meyakinkan jawaban yang didapatnya sama dengan sebelumnya. Semacam lie detector alami.

Saat ini laki-laki itu duduk dengan dada naik turun menahan emosi yang dia pendam selama perjalanan 3 jam dari Singaraja. Jaket belum terlepas dari tubuhnya. Sesuatu sedang mengamuk dalam pikirannya. Dia berkali-kali menutup wajahnya dan menghela napas. Menatapku lurus tak berkedip, dengan keraguan dan rasa tidak percaya berputar di setiap sudut wajah lelaki muda tampan ini.

Seseorang telah menghianati kepercayaannya, meremukkan komitmen yang telah dibangun selama 6 tahun. Dalam waktu kurang dari satu jam, dunia Bram seperti terbalik dan pikiranku tiba-tiba dipenuhi berupa-rupa angin kencang. Tornado, puting beliung, topan silih berganti menari.

Rasa bersalah menyergap seperti hansip dan aku malingnya. Sesaat aku kehilangan sadarku, jika saja satu bulan bisa dikatakan sekejap. Setidaknya satu bulan tidak lebih lama dari 6 tahun. Sadarku memutuskan untuk kembali saat melihat Bram duduk di atas motornya di depan kamar kos yang kutempati di Denpasar. Menelanjangiku dengan pandangan terkejut yang sekuat tenaga dia sembunyikan pada waktu melihatku berboncengan dengan Teguh, lelaki yang memasuki celah komitmen kami. Semua rambut di tubuhku terasa ditarik dan ingin melepaskan diri. Perutku mual, darahku seperti berhenti mengalir.

Bram menatap Teguh penuh selidik, kedua lelaki itu beradu pandang dan aku bisa mendengar gemertak rahang Bram. Mereka hanya saling menatap tanpa bicara, ini menyeramkan. Aku sedikit takut mereka akan saling jatuh cinta bukannya saling mengadu kepalan tangan. Kupikir lelaki dewasa memang lebih bisa mengontrol emosi, mereka masih punya malu untuk berkelahi di depan umum atau membuat keributan. Jika mereka perempuan, kurasa mereka sekarang sudah bergelut di tanah saling cakar dan tampar.

“Apakah kau tahu Seruni akan segera kunikahi?” tanya Bram memecah kebekuan mereka

“Akan segera bukan berarti sudah menikah bukan? Seruni masih berhak memilih.” Teguh melihat ke arahku.

Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Bahkan airmata pun tidak. Hanya lambaian tanganku yang memintanya untuk segera meninggalkanku dan Bram. Tatapan Teguh selalu bisa mengaduk emosiku. Hanya dia yang mampu menggoyahkanku, pas menutup celah yang menganga antara aku dan Bram yang terpisah jarak. Masihkah aku bisa memilih? Bagaimana dan siapa yang harus kupilih?

Malam itu, kesunyian mendekap lebih erat. Membawa aku dan Bram dalam diam yang mencekam. Pertanyaan-pertanyaan meluncur dari Bram, dan membutuhkan jawabanku segera. Sedangkan aku masih bergumul dengan pikiranku sendiri. Sakramen prapernikahan yang sudah kujalani di Gereja selama sebulan belakangan. Prosesi sakral yang harus dilewati sebelum menikah secara Katolik.

Aku menjalani setiap prosesnya dengan sadar, sesadar-sadarnya. Tidak ada yang memaksaku menikah dengan Bram. Aku mencintainya dengan penuh. Berpindah keyakinan atas kemauanku sendiri. Pastor berulang kali menanyakan keputusanku, orang tuaku mencecarku, mencoba menemukan ragu dalam setiap kata dan argumen yang kuungkap. Ragu telah tiada, aku sudah melangkah mantap memasuki Gereja, mencari damai dalam pelukan Maria.

Kemudian, Teguh datang. Awalnya, aku hanya menganggap dia teman biasa, teman mengobrol ringan. Seperti kapas yang tertiup angin, melayang tanpa sadar. Entah bagaimana kami menjadi semakin dekat. Dia tampan, muda, pandai bermain musik.  Hanya sekadar suka tidak akan membuatku begitu nelangsa saat dia tidak ada.  Aku merasa goyah. Aku mempertanyakan arti Bram dan juga Teguh dalam hidupku. Jika mencintai dua orang di saat yang bersamaan, siapa yang harus dipilih? Apa mungkin bisa jatuh cinta pada orang kedua kalau memang benar-benar mencintai orang pertama?

“Seruni, apakah dia berarti untukmu?” Bram mengusap rambutku pelan. Tangannya bergetar. Emosi masih mengalir deras dalam setiap selnya, tapi dia tetap membuat dirinya tenang. Apakah cinta yang membuatnya begitu tegar, tidak sekalipun dia meledak atau berusaha menumpahkan rasa kesalnya. Dia menahannya hampir sempurna. Senyum masih bisa dia sunggingkan padaku. Senyum yang 6 tahun lalu membawaku jatuh dalam tulusnya. Kumis dan jenggot mengelilingi senyum pedih itu. Sebelumnya, wajah itu selalu bersih. Ah, Bram.. Bagaimana bisa aku mengorbankan perasaan laki-laki ini?

“Bram, aku baru mengenalnya. Apakah dia bisa menjadi lebih berarti darimu?” jawabku parau. Jujur saja, saat ini hanya jawaban seperti itu yang bisa kuberikan karena aku sendiri tidak bisa mendeskripsikan apa yang sedang terjadi di dalam hati dan otakku. Mereka sedang berperang maha dahsyat. Otakku menentang dengan keras apa yang sudah kuperbuat. Hatiku? Sentimentil, dia bersedih untuk Teguh yang berjinjit pelan memasuki kehidupanku.

Komitmen mengikat bagai rantai di leher seekor anjing  yang tak membiarkannya berkeliaran. Saat dua orang memutuskan untuk bersama terikat dalam rantai yang bernama komitmen. Tanpa adanya aturan tertulis, kedua orang tersebut mesti saling menjaga hati. Orang ketiga yang merangsek paksa atau dituntun dengan sengaja membinasakan sulur-sulur kepercayaan yang terpilin rapi.. Saling memberi cinta dan perhatian dalam porsi seimbang layaknya makanan 4 sehat 5 sempurna. Jika bagian yang diberikan salah satu terlalu besar, pasangannya akan begah karena cinta, menyakitkan. Begitu pula jika terlalu sedikit porsi yang disuguhkan, akan ada hati yang busung lapar. Tak kalah pilu. Apa yang terjadi jika diberi makanan yang sama selama bertahun-tahun?

Teman-temanku berkata aku sedang mengalami kejenuhan akut, ketakutan dan kegelisahan sebelum pernikahan yang juga dialami banyak orang yang kukenal. Pernikahan terdengar indah seperti dalam dongeng. Cinta bersatu, lonceng Gereja merdu berdentang, begitu berbunga-bunga.

Namun, dalam realita yang aku saksikan, sahabatku berpisah dari suaminya. Lalu, temanku yang lain selalu mengeluh pasal mertua yang terlalu ikut campur. Mereka membuat cerita pernikahan yang merona menjadi seperti mimpi buruk. Aku tidak merasa khawatir, namun alam bawah sadarku mempunyai ceritanya sendiri. Dia diam-diam memikirkan hal-hal buruk yang mungkin terjadi setelah aku dan Bram menikah.

Hati kecilku juga merasa bosan akan hubungan jarak jauh. Jembrana – Denpasar, sama-sama sibuk dengan kegiatan sendiri, komunikasi seadanya. Kepercayaan memang di atas segalanya, tidak pernah ada rasa ragu dan curiga. Entah percaya atau pasrah, mungkin usia hubungan yang tidak lagi seumur jagung membuat semuanya berjalan lurus. Sangat lurus bahkan, tidak ada lubang ataupun kelokan. Membosankan..

Aku merasa bosan, begitu juga Bram. Kebosanan yang dilampiaskan Bram dengan lebih banyak mengajar anak-anak di Gereja dekat tempat tinggalnya, mencari kesibukan dan memberdayakan dirinya untuk membantu orang lain. Sementara aku, membiarkan kebosananku membuka celah bagi hiburan lain untuk pentas. Aku kalah pada rasa jenuh yang membelah diri dengan cepat dalam sel darahku.

“Apa yang membuatmu datang tanpa kabar?” tanyaku pada Bram yang sedang bersandar lelah pada lemari kayu di belakangnya.

“Intuisi, Seruni. Sesuatu mengatakan padaku, aku harus segera menemuimu.” Jawabnya pelan. Hanya karena sebuah intuisi. Seorang Bram meninggalkan pekerjaannya dan memilih untuk menemuiku tanpa mengabari terlebih dahulu. Intuisi yang begitu jujur. Tidak ada kebohongan dalam setiap ucapan yang dia bisikkan pada Bram.

Begitu hebatnya sebuah intuisi dari hubungan yang sudah berlangsung selama bertahun-tahun. Intuisi seorang Bram yang menyeretku kembali dalam ikatan. Menyeretku kembali pada dekapan dada bidangnya. Mengingatkanku akan sakramen yang harus kuhadiri esok hari. (T)

Denpasar, 19 Agustus 2017

Tags: Cerpen
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Pakaian Serba Putih, Laku “Ngiring”, dan Pemberontakan Kultural

Next Post

Mursal Buyung, Dosen Antik-Nyentrik: Tak Ada Spidol, Ia Mencoret Tembok Kelas

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post

Mursal Buyung, Dosen Antik-Nyentrik: Tak Ada Spidol, Ia Mencoret Tembok Kelas

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co