28 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rahina Saraswati”, Merayakan Buku – Agar Gerakan Literasi Tak Sekadar Seremonial

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Putik

 

HARI Raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat Hindu. Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah hari di mana turunnya ilmu pengetahuan yang suci.  Hari ini adalah hari penghormatan kepada Dewi Saraswati, dewi yang melambangkan ilmu pengetahuan. Biasanya orang-orang akan meletakkan banten pada tumpuk-tumpukan buku. Entah buku lama atau baru, buku yang sering dibaca berulang-ulang sampai buku yang tak pernah dibaca sekalipun patut diberikan sesajen. Memang begitu. Nak mule keto, kata orang Bali.

Ketika kita melihat hari Saraswati dan keterkaitannya dengan literasi, kita akan melihat adanya ketimpangan yang sangat jelas. Di hari itu buku amatlah sangat berharga, bermakna dan berjasa dalam menerangi jalan dan kisah hidup pembacanya. Tapi hanya di hari itu. Di hari lain? Buku tak seagung itu. Buku hanya kumpulan kertas bertumpuk, dengan cover, daftar isi dan testimoni dari beberapa penulis hebat untuk meningkatkan harga jual buku. Selain itu tak ada lagi.

Literasi Indonesia, Bali khususnya sangat perlu diperhatikan. Jika pemerintah membuat program sudah selayaknya dilaksanakan lebih serius. Serius bukan dalam artian hanya membuat kegiatan-kegiatan seremonial lampu strongking gelap terang. Terang saat baru-baru dibuat dan gelap saat masa jabatan akan segera berakhir. Membuat program tak sebercanda itu.

Literasi kita adalah masalah yang pelik. Sama pelik ketika tak ada terasi dalam lawar bungkak, tak ada terasi dalam sambal. Orang Indonesia mana yang bisa makan tanpa sambal? Kebanyakan mesti ada. Sambal adalah sebuah keharusan yang harus ada di dapur. Meskipun lauk pauk sedikit, tak masalah yang penting sudah ada sambalnya. Begitulah literasi. Penting, bahkan sangat penting.

Akan menjadi sebuah hal yang tidak adil jika kita hanya membicarakan posisi Indonesia dalam peringkat literasi dunia, tanpa pernah melakukan sesuatu untuk itu. Jika kita hanya bicara literasi Indonesia dengan peringkatnya lalu apa yang kita dapatkan? Hanyalah perasaan sedih dan kecewa mungkin ketawa sejenak, mungkin saja. Indonesia peringkat dua di bawah-lah, Indonesia nomer segini-lah, dari 1000 anak Indonesia hanya 1-lah yang membaca. Lalu apa?

Kita tidak bisa hanya mengutuk angka-angka itu. Di hari Saraswati ada sebuah mitos dimana tidak boleh membaca buku. Ya jangan sampai mitos di hari Saraswati dilakukan berulang-ulang sampai sama sekali tidak membaca buku terus menerus. Kalau saja peringkat dijadikan tolok-ukur kemampuan literasi di Indonesia, sudah selayaknya kita sadar akan hal ini.

Ketika gerakan literasi digelorakan, setiap orang harus mampu bekerja sama. Tak redup terang mirip strongking. Tak jarang ketika sebuah program dibuat, orang-orang akan rame membicarakannya, bahkan membantunya. Setelah itu? Tak ada. Sering bahkan sangat sering, ganti menteri, ganti kurikulum, ganti program dan seterusnya yang ribetnya minta ampun. Pemilahan program yang bagus dan ideal tak lagi diperhatikan. Pemimpin baru terkesan gengsi mempertahankan program-program lama, mekipun sifatnya baik, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tapi apa guna manfaat jika harga diri lebih penting. Begitu mungkin, ya, he he he…

Tak hanya konsistensi sebuah gerakan. Orang orang dan kelompok yang berada di jalan literasi ini juga harus didukung. Bukan berarti mereka haus akan penghormatan, bukan, mereka hanya perlu dukungan entah buku atau semangat untuk selalu bergerak. Mereka adalah manusia-manusia yang tak membuat orang lain manja, mereka mengubah pola pikir, mengubah cara pandang, membuat anggapan bahwa membaca itu penting, membaca itu asyik dan lain sebagainya hingga mulut mereka berbusa. Itu saja.

Pernah sesekali saya membaca status facebook teman. Katanya dia mendukung dan mengharapkan temannya yang mencalonkan diri menjadi Calon Kepala Desa (Cakades) menang. Tidak hanya karena pertemanan yang mereka jalin, alasanya adalah karena calon tersebut merupakan seorang sastrawan dan seorang yang bergerak untuk literasi. Besar harapan kalau dia nanti menang, virus literasi menjalar hingga ke desa-desa, dusun dusun bahkan gang demi gang. Terkesan subyektif ya? Tapi, Bukankah memilih berdasar subyektifitas bisa juga dipandang sebagai pilihan sesuai hati nurani?

Begini..

Akhir-akhir ini kita terlalu larut dalam istilah Desa Wisata. Upaya upaya yang dilakukan setiap desa untuk mencari potensi-potensi desanya agar bisa dijadikan wisata dan menarik minat pengunjung yang terkesan memaksakan. Ketika tidak ada, desa akan cenderung menciptakannya, agar bagaimanapun juga desa wisata bisa tercipta.

Coba bayangkan jika seorang pemimpin berniat membuat Desa Pustaka. Wuih!, ketika memasuki sebuah desa tak ada lagi patung patung besar dan tinggi dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI DESA WISATA RING ANU”, patung dengan tulisan angkuh begitu akan luluh oleh tulisan lembut bin berbalut perjuangan yang wah “SELAMAT DATANG DI DESA PUSTAKA”. Desa Pustaka! Desa di mana semua daya tariknya tak jauh dari buku dan literasi.

Bayar kipem? Bisa dibayar dengan menggunakan ringkasan 1 buku. Arisan? Bisa dibayar dengan membuat 5 puisi. Iuran sampah? Bisa dibayar dengan membuat karangan, cerpen dan artikel tentang desanya, atau tentang apa saja yang menarik bagi mereka. Di desa itu tak akan ada lagi kolam-kolam sebrono yang dibuat-buat membentuk jantung hati, membentuk segita, lima segi enam, kotak, jajar genjang atau apalah itu hanya untuk sebuah foto di instagram. Nggak ada.

 

Yang ada adalah Bale Banjar dengan perpustakaan. Desain bangunan keren yang memadukan konsep ramah lingkungan, kenyamanan dan multifungsi bangunan tersebut yang bisa digunakan sebagai tempat mebat, kegiatan sekeha truna-truni, dan bahkan foto wisuda. Kenapa foto wisuda? Karena sudah tidak jaman lagi foto wisuda dengan background foto buku yang hanya foto spanduk. Kurang autentik! Kata anak muda abad 21. Di mana foto wisuda? Di Bale Banjar Desa Pustaka dong! begitu kira-kira akan jawabannya bila terjadi sebuah percakapan. Ya begitu kira-kira jika dibayangkan.

Jangan beranggapan kalau tulisan ini menasehati, apalagi berharap adanya pesan moral yang bisa dipetik dari kalimat-kalimat panjang ini. Saya hanya sastrawan KW sekian yang terlalu percaya apa yang disampaikan Wiji Thukul dalam puisinya, “Apa guna baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu!” Ya saya tidak ingin begitu. Saya membaca buku, dan oleh karena itu saya tak ingin begitu. Sesederhana itu.

Saya percaya literasi dan ilmu pengetahuan itu hampir sama. Sama dalam artian kebermanfaatannya. Ilmu tak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk bersama. Karena buku dan segala kekayaannya tak hanya dihargai setahun dua kali, tapi sudah sepatutnya dirayakan setiap hari, agar virus literasi semakin menjalar ke desa-desa bahkan ke gang-gang sempit.  (T)

Tags: BukuDewi SaraswatiHari SaraswatiLiterasi
Share113TweetSendShareSend
Previous Post

Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian

Next Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails
Next Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang
Khas

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta
Cerpen

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa
Puisi

Puisi-Puisi Chusmeru | Pagi September 1965 di Suatu Desa

Pagi September 1965 di Suatu Desa Suara derit terdengar dari pintu rumah kakek di suatu desa yang sejukAnak-anak mengajak bermain...

by Chusmeru
September 27, 2026
Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival
Panggung

Merayakan Folklore dari Nusantara hingga Dunia di Nusantara International Folklore Festival

SENJA masih menyisakan cahayanya. Anak-anak penuh canda dan tawa duduk melingkar di bibir panggung yang telah dihias. Dengan santai, mereka...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda
Esai

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

by Angga Wijaya
September 27, 2026
Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI
Pendidikan

Mahasiswa PPG Universitas Mahasaraswati Ajak Siswa SMPN 7 Denpasar Bijak Gunakan AI

KECERDASAN buatan semakin dekat dengan kehidupan pelajar. Mencari informasi, memahami materi, menemukan ide, hingga membuat rangkuman kini dapat dilakukan dengan...

by Dede Putra Wiguna
September 27, 2026
Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”
Pop

Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

SINGARAJA pernah menjadi pintu masuk bagi Gede Angga Prasaja untuk memperkenalkan musiknya. Lewat “Singaraja Kota Kita” dan “Senja di Singaraja”,...

by Rusdy Ulu
September 27, 2026
Mengurai Gnosis Perupa Payangan
Ulas Rupa

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

by I Wayan Westa
September 27, 2026
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi
Khas

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono
Ulas Rupa

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

by Jaswanto
September 26, 2026
Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka
Ulas Musik

Hitam dan Biru: Karakter Barasuara dan Pelajaran Menerima Luka

DI antara sembilan lagu yang mengisi album ketiga Barasuara, Jalaran Sadrah, ada satu nomor yang tidak berusaha tampil paling riang...

by Putu Gangga Pradipta
September 25, 2026
Puasa, Kebutuhan dan Hari Kelahiran
Esai

Tetap Sehat dan Tetap Berguna Saat Menua

SEMUA orang ingin hidup panjang. Salah satu sosok yang sering menjadi inspirasi ketika membicarakan umur panjang adalah Dr. Shigeaki Hinohara,...

by Dr. dr. Ketut Putra Sedana, Sp.OG
September 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co