19 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rahina Saraswati”, Merayakan Buku – Agar Gerakan Literasi Tak Sekadar Seremonial

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Putik

 

HARI Raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat Hindu. Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah hari di mana turunnya ilmu pengetahuan yang suci.  Hari ini adalah hari penghormatan kepada Dewi Saraswati, dewi yang melambangkan ilmu pengetahuan. Biasanya orang-orang akan meletakkan banten pada tumpuk-tumpukan buku. Entah buku lama atau baru, buku yang sering dibaca berulang-ulang sampai buku yang tak pernah dibaca sekalipun patut diberikan sesajen. Memang begitu. Nak mule keto, kata orang Bali.

Ketika kita melihat hari Saraswati dan keterkaitannya dengan literasi, kita akan melihat adanya ketimpangan yang sangat jelas. Di hari itu buku amatlah sangat berharga, bermakna dan berjasa dalam menerangi jalan dan kisah hidup pembacanya. Tapi hanya di hari itu. Di hari lain? Buku tak seagung itu. Buku hanya kumpulan kertas bertumpuk, dengan cover, daftar isi dan testimoni dari beberapa penulis hebat untuk meningkatkan harga jual buku. Selain itu tak ada lagi.

Literasi Indonesia, Bali khususnya sangat perlu diperhatikan. Jika pemerintah membuat program sudah selayaknya dilaksanakan lebih serius. Serius bukan dalam artian hanya membuat kegiatan-kegiatan seremonial lampu strongking gelap terang. Terang saat baru-baru dibuat dan gelap saat masa jabatan akan segera berakhir. Membuat program tak sebercanda itu.

Literasi kita adalah masalah yang pelik. Sama pelik ketika tak ada terasi dalam lawar bungkak, tak ada terasi dalam sambal. Orang Indonesia mana yang bisa makan tanpa sambal? Kebanyakan mesti ada. Sambal adalah sebuah keharusan yang harus ada di dapur. Meskipun lauk pauk sedikit, tak masalah yang penting sudah ada sambalnya. Begitulah literasi. Penting, bahkan sangat penting.

Akan menjadi sebuah hal yang tidak adil jika kita hanya membicarakan posisi Indonesia dalam peringkat literasi dunia, tanpa pernah melakukan sesuatu untuk itu. Jika kita hanya bicara literasi Indonesia dengan peringkatnya lalu apa yang kita dapatkan? Hanyalah perasaan sedih dan kecewa mungkin ketawa sejenak, mungkin saja. Indonesia peringkat dua di bawah-lah, Indonesia nomer segini-lah, dari 1000 anak Indonesia hanya 1-lah yang membaca. Lalu apa?

Kita tidak bisa hanya mengutuk angka-angka itu. Di hari Saraswati ada sebuah mitos dimana tidak boleh membaca buku. Ya jangan sampai mitos di hari Saraswati dilakukan berulang-ulang sampai sama sekali tidak membaca buku terus menerus. Kalau saja peringkat dijadikan tolok-ukur kemampuan literasi di Indonesia, sudah selayaknya kita sadar akan hal ini.

Ketika gerakan literasi digelorakan, setiap orang harus mampu bekerja sama. Tak redup terang mirip strongking. Tak jarang ketika sebuah program dibuat, orang-orang akan rame membicarakannya, bahkan membantunya. Setelah itu? Tak ada. Sering bahkan sangat sering, ganti menteri, ganti kurikulum, ganti program dan seterusnya yang ribetnya minta ampun. Pemilahan program yang bagus dan ideal tak lagi diperhatikan. Pemimpin baru terkesan gengsi mempertahankan program-program lama, mekipun sifatnya baik, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tapi apa guna manfaat jika harga diri lebih penting. Begitu mungkin, ya, he he he…

Tak hanya konsistensi sebuah gerakan. Orang orang dan kelompok yang berada di jalan literasi ini juga harus didukung. Bukan berarti mereka haus akan penghormatan, bukan, mereka hanya perlu dukungan entah buku atau semangat untuk selalu bergerak. Mereka adalah manusia-manusia yang tak membuat orang lain manja, mereka mengubah pola pikir, mengubah cara pandang, membuat anggapan bahwa membaca itu penting, membaca itu asyik dan lain sebagainya hingga mulut mereka berbusa. Itu saja.

Pernah sesekali saya membaca status facebook teman. Katanya dia mendukung dan mengharapkan temannya yang mencalonkan diri menjadi Calon Kepala Desa (Cakades) menang. Tidak hanya karena pertemanan yang mereka jalin, alasanya adalah karena calon tersebut merupakan seorang sastrawan dan seorang yang bergerak untuk literasi. Besar harapan kalau dia nanti menang, virus literasi menjalar hingga ke desa-desa, dusun dusun bahkan gang demi gang. Terkesan subyektif ya? Tapi, Bukankah memilih berdasar subyektifitas bisa juga dipandang sebagai pilihan sesuai hati nurani?

Begini..

Akhir-akhir ini kita terlalu larut dalam istilah Desa Wisata. Upaya upaya yang dilakukan setiap desa untuk mencari potensi-potensi desanya agar bisa dijadikan wisata dan menarik minat pengunjung yang terkesan memaksakan. Ketika tidak ada, desa akan cenderung menciptakannya, agar bagaimanapun juga desa wisata bisa tercipta.

Coba bayangkan jika seorang pemimpin berniat membuat Desa Pustaka. Wuih!, ketika memasuki sebuah desa tak ada lagi patung patung besar dan tinggi dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI DESA WISATA RING ANU”, patung dengan tulisan angkuh begitu akan luluh oleh tulisan lembut bin berbalut perjuangan yang wah “SELAMAT DATANG DI DESA PUSTAKA”. Desa Pustaka! Desa di mana semua daya tariknya tak jauh dari buku dan literasi.

Bayar kipem? Bisa dibayar dengan menggunakan ringkasan 1 buku. Arisan? Bisa dibayar dengan membuat 5 puisi. Iuran sampah? Bisa dibayar dengan membuat karangan, cerpen dan artikel tentang desanya, atau tentang apa saja yang menarik bagi mereka. Di desa itu tak akan ada lagi kolam-kolam sebrono yang dibuat-buat membentuk jantung hati, membentuk segita, lima segi enam, kotak, jajar genjang atau apalah itu hanya untuk sebuah foto di instagram. Nggak ada.

 

Yang ada adalah Bale Banjar dengan perpustakaan. Desain bangunan keren yang memadukan konsep ramah lingkungan, kenyamanan dan multifungsi bangunan tersebut yang bisa digunakan sebagai tempat mebat, kegiatan sekeha truna-truni, dan bahkan foto wisuda. Kenapa foto wisuda? Karena sudah tidak jaman lagi foto wisuda dengan background foto buku yang hanya foto spanduk. Kurang autentik! Kata anak muda abad 21. Di mana foto wisuda? Di Bale Banjar Desa Pustaka dong! begitu kira-kira akan jawabannya bila terjadi sebuah percakapan. Ya begitu kira-kira jika dibayangkan.

Jangan beranggapan kalau tulisan ini menasehati, apalagi berharap adanya pesan moral yang bisa dipetik dari kalimat-kalimat panjang ini. Saya hanya sastrawan KW sekian yang terlalu percaya apa yang disampaikan Wiji Thukul dalam puisinya, “Apa guna baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu!” Ya saya tidak ingin begitu. Saya membaca buku, dan oleh karena itu saya tak ingin begitu. Sesederhana itu.

Saya percaya literasi dan ilmu pengetahuan itu hampir sama. Sama dalam artian kebermanfaatannya. Ilmu tak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk bersama. Karena buku dan segala kekayaannya tak hanya dihargai setahun dua kali, tapi sudah sepatutnya dirayakan setiap hari, agar virus literasi semakin menjalar ke desa-desa bahkan ke gang-gang sempit.  (T)

Tags: BukuDewi SaraswatiHari SaraswatiLiterasi
Share113TweetSendShareSend
Previous Post

Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian

Next Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails
Next Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media
Esai

Idealisme Pers dan Perjuangan Menghidupi Media

MALAM  itu saya menghubungi Aryantha Soethama melalui WhatsApp. Ia adalah penulis senior asal Bali yang mengawali kegiatan menulis sejak remaja,...

by Angga Wijaya
October 18, 2026
Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana
Esai

Di Balik Kata — Tanggapan atas Artikel I Made Sudiana

ARTIKEL I Made Sudiana, “Terminologi ‘Selam’ dan ‘Nyelam’ dalam Tradisi Bali” (NusaBali.com. 18/10/2029) mengangkat persoalan yang menarik: bagaimana kata-kata menyimpan...

by IGA Darma Putra
October 18, 2026
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan
Ulas Rupa

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto
Cerpen

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

by Sigit Susanto
October 18, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Cara Kerja Kekuasaan Meredam Kritik Publik

“No Rocky, No Party” BARANGKALI jargon tersebut masih sangat relate hingga hari ini. Pasalnya, nama Rocky Gerung kembali menjadi diskursus...

by Teddy Chrisprimanata Putra
October 18, 2026
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali
Khas

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

by Ingga Adelia
October 18, 2026
BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali
Pameran

BURU-JIWA-BUMI: Dialog Seni Bali dan Korea Selatan di ISI Bali

Empat seniman dari Bali dan Korea Selatan menggelar pameran kolaboratif bertajuk BURU-JIWA-BUMI di Nata-Citta Art Space (N-CAS), Institut Seni Indonesia...

by Nyoman Budarsana
October 18, 2026
Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara
Persona

Dari Wayang Wong Tejakula, Hoga Wiratmaja Ciptakan Logo Porprov Bali 2027, dan Ia Juara

APA hubungan wayang wong Tejakula dengan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Bali tahun 2027 yang akan digelar di Buleleng? Secara langsung,...

by Made Adnyana Ole
October 17, 2026
Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar
Esai

Bali Dilucuti Berkali-kali: Dari Krisis Moneter hingga Krisis Bahan Bakar

SUASANA di sekitar Lapangan Puputan padat seperti biasa ketika saya dan rekan-rekan tim lainnya mengakhiri tugas di salah satu kawasan...

by Pande Susan
October 17, 2026
Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali
Esai

Krisis BBM dan Ujian Transportasi Publik Bali

Ada yang berbeda dari jalanan Denpasar pada pertengahan Oktober ini. Jalan-jalan yang biasanya dipenuhi sepeda motor dan mobil terlihat lebih...

by Angga Wijaya
October 17, 2026
Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir
Buku Tatkala

Panduan Lumut — Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir

Judul: Panduan Lumut -- Untuk Manusia yang Terlalu Banyak Berpikir Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Putri Wijaya ISBN: Masih...

by Buku Tatkala
October 17, 2026
Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM
Esai

Mekemit di SPBU: Parodi Kehidupan Orang Bali dalam Antrean BBM

LIMA hari sudah antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) memenuhi SPBU di Pulau Bali. Antrean itu tidak hanya...

by I Wayan Artika
October 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co