3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Rahina Saraswati”, Merayakan Buku – Agar Gerakan Literasi Tak Sekadar Seremonial

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Opini

Foto: Putik

 

HARI Raya Saraswati adalah hari yang penting bagi umat Hindu. Umat Hindu mempercayai hari Saraswati adalah hari di mana turunnya ilmu pengetahuan yang suci.  Hari ini adalah hari penghormatan kepada Dewi Saraswati, dewi yang melambangkan ilmu pengetahuan. Biasanya orang-orang akan meletakkan banten pada tumpuk-tumpukan buku. Entah buku lama atau baru, buku yang sering dibaca berulang-ulang sampai buku yang tak pernah dibaca sekalipun patut diberikan sesajen. Memang begitu. Nak mule keto, kata orang Bali.

Ketika kita melihat hari Saraswati dan keterkaitannya dengan literasi, kita akan melihat adanya ketimpangan yang sangat jelas. Di hari itu buku amatlah sangat berharga, bermakna dan berjasa dalam menerangi jalan dan kisah hidup pembacanya. Tapi hanya di hari itu. Di hari lain? Buku tak seagung itu. Buku hanya kumpulan kertas bertumpuk, dengan cover, daftar isi dan testimoni dari beberapa penulis hebat untuk meningkatkan harga jual buku. Selain itu tak ada lagi.

Literasi Indonesia, Bali khususnya sangat perlu diperhatikan. Jika pemerintah membuat program sudah selayaknya dilaksanakan lebih serius. Serius bukan dalam artian hanya membuat kegiatan-kegiatan seremonial lampu strongking gelap terang. Terang saat baru-baru dibuat dan gelap saat masa jabatan akan segera berakhir. Membuat program tak sebercanda itu.

Literasi kita adalah masalah yang pelik. Sama pelik ketika tak ada terasi dalam lawar bungkak, tak ada terasi dalam sambal. Orang Indonesia mana yang bisa makan tanpa sambal? Kebanyakan mesti ada. Sambal adalah sebuah keharusan yang harus ada di dapur. Meskipun lauk pauk sedikit, tak masalah yang penting sudah ada sambalnya. Begitulah literasi. Penting, bahkan sangat penting.

Akan menjadi sebuah hal yang tidak adil jika kita hanya membicarakan posisi Indonesia dalam peringkat literasi dunia, tanpa pernah melakukan sesuatu untuk itu. Jika kita hanya bicara literasi Indonesia dengan peringkatnya lalu apa yang kita dapatkan? Hanyalah perasaan sedih dan kecewa mungkin ketawa sejenak, mungkin saja. Indonesia peringkat dua di bawah-lah, Indonesia nomer segini-lah, dari 1000 anak Indonesia hanya 1-lah yang membaca. Lalu apa?

Kita tidak bisa hanya mengutuk angka-angka itu. Di hari Saraswati ada sebuah mitos dimana tidak boleh membaca buku. Ya jangan sampai mitos di hari Saraswati dilakukan berulang-ulang sampai sama sekali tidak membaca buku terus menerus. Kalau saja peringkat dijadikan tolok-ukur kemampuan literasi di Indonesia, sudah selayaknya kita sadar akan hal ini.

Ketika gerakan literasi digelorakan, setiap orang harus mampu bekerja sama. Tak redup terang mirip strongking. Tak jarang ketika sebuah program dibuat, orang-orang akan rame membicarakannya, bahkan membantunya. Setelah itu? Tak ada. Sering bahkan sangat sering, ganti menteri, ganti kurikulum, ganti program dan seterusnya yang ribetnya minta ampun. Pemilahan program yang bagus dan ideal tak lagi diperhatikan. Pemimpin baru terkesan gengsi mempertahankan program-program lama, mekipun sifatnya baik, dan bermanfaat untuk banyak orang. Tapi apa guna manfaat jika harga diri lebih penting. Begitu mungkin, ya, he he he…

Tak hanya konsistensi sebuah gerakan. Orang orang dan kelompok yang berada di jalan literasi ini juga harus didukung. Bukan berarti mereka haus akan penghormatan, bukan, mereka hanya perlu dukungan entah buku atau semangat untuk selalu bergerak. Mereka adalah manusia-manusia yang tak membuat orang lain manja, mereka mengubah pola pikir, mengubah cara pandang, membuat anggapan bahwa membaca itu penting, membaca itu asyik dan lain sebagainya hingga mulut mereka berbusa. Itu saja.

Pernah sesekali saya membaca status facebook teman. Katanya dia mendukung dan mengharapkan temannya yang mencalonkan diri menjadi Calon Kepala Desa (Cakades) menang. Tidak hanya karena pertemanan yang mereka jalin, alasanya adalah karena calon tersebut merupakan seorang sastrawan dan seorang yang bergerak untuk literasi. Besar harapan kalau dia nanti menang, virus literasi menjalar hingga ke desa-desa, dusun dusun bahkan gang demi gang. Terkesan subyektif ya? Tapi, Bukankah memilih berdasar subyektifitas bisa juga dipandang sebagai pilihan sesuai hati nurani?

Begini..

Akhir-akhir ini kita terlalu larut dalam istilah Desa Wisata. Upaya upaya yang dilakukan setiap desa untuk mencari potensi-potensi desanya agar bisa dijadikan wisata dan menarik minat pengunjung yang terkesan memaksakan. Ketika tidak ada, desa akan cenderung menciptakannya, agar bagaimanapun juga desa wisata bisa tercipta.

Coba bayangkan jika seorang pemimpin berniat membuat Desa Pustaka. Wuih!, ketika memasuki sebuah desa tak ada lagi patung patung besar dan tinggi dengan tulisan “SELAMAT DATANG DI DESA WISATA RING ANU”, patung dengan tulisan angkuh begitu akan luluh oleh tulisan lembut bin berbalut perjuangan yang wah “SELAMAT DATANG DI DESA PUSTAKA”. Desa Pustaka! Desa di mana semua daya tariknya tak jauh dari buku dan literasi.

Bayar kipem? Bisa dibayar dengan menggunakan ringkasan 1 buku. Arisan? Bisa dibayar dengan membuat 5 puisi. Iuran sampah? Bisa dibayar dengan membuat karangan, cerpen dan artikel tentang desanya, atau tentang apa saja yang menarik bagi mereka. Di desa itu tak akan ada lagi kolam-kolam sebrono yang dibuat-buat membentuk jantung hati, membentuk segita, lima segi enam, kotak, jajar genjang atau apalah itu hanya untuk sebuah foto di instagram. Nggak ada.

 

Yang ada adalah Bale Banjar dengan perpustakaan. Desain bangunan keren yang memadukan konsep ramah lingkungan, kenyamanan dan multifungsi bangunan tersebut yang bisa digunakan sebagai tempat mebat, kegiatan sekeha truna-truni, dan bahkan foto wisuda. Kenapa foto wisuda? Karena sudah tidak jaman lagi foto wisuda dengan background foto buku yang hanya foto spanduk. Kurang autentik! Kata anak muda abad 21. Di mana foto wisuda? Di Bale Banjar Desa Pustaka dong! begitu kira-kira akan jawabannya bila terjadi sebuah percakapan. Ya begitu kira-kira jika dibayangkan.

Jangan beranggapan kalau tulisan ini menasehati, apalagi berharap adanya pesan moral yang bisa dipetik dari kalimat-kalimat panjang ini. Saya hanya sastrawan KW sekian yang terlalu percaya apa yang disampaikan Wiji Thukul dalam puisinya, “Apa guna baca buku, kalau mulut kau bungkam melulu!” Ya saya tidak ingin begitu. Saya membaca buku, dan oleh karena itu saya tak ingin begitu. Sesederhana itu.

Saya percaya literasi dan ilmu pengetahuan itu hampir sama. Sama dalam artian kebermanfaatannya. Ilmu tak hanya untuk diri sendiri, tapi untuk bersama. Karena buku dan segala kekayaannya tak hanya dihargai setahun dua kali, tapi sudah sepatutnya dirayakan setiap hari, agar virus literasi semakin menjalar ke desa-desa bahkan ke gang-gang sempit.  (T)

Tags: BukuDewi SaraswatiHari SaraswatiLiterasi
Share113TweetSendShareSend
Previous Post

Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian

Next Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

Read moreDetails

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails
Next Post

Wartawan (Bermimpi) Kaya?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral
Panggung

Dari Panggung Proklamasi di Desa Depeha: Ketika Siswa SD Mengumandangkan Kembali Teks Proklamasi yang Sakral

SELASA pagi, 2 Juni 2026, udara dingin bergerak pelan hingga memenuhi setiap sudut Wantilan Kantor Desa Depeha, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng....

by Komang Sujana
June 3, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan
Panggung

‘Ruwating Bumi’ —Tradisi Perang Gandu yang Menjelma Komposisi Semar Pegulingan

MALAM itu, di Wantilan Pura Puseh Desa Adat Batuan, Gianyar, karya berjudul ‘Ruwating Bumi’ membuka rangkaian Diseminasi Karya Tugas Akhir...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif
Panggung

Refleksi Harmoni dalam Panggung Seni —Ketika Mahasiswa Sendratasik UPMI Bali Merawat Tradisi Melalui Karya Inovatif

DI tengah derasnya arus modernisasi yang terus menguji ketahanan budaya Bali, seni pertunjukan kembali menegaskan perannya sebagai ruang refleksi sekaligus...

by Dede Putra Wiguna
June 3, 2026
Pertemuan William James dan Vivekananda
Esai

Pertemuan William James dan Vivekananda

Dua Biografi: Jalan dari Timur dan Barat SWAMI Vivekananda lahir dengan nama Narendra Nath Datta pada tahun 1863 di Kolkata,...

by Agung Sudarsa
June 3, 2026
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co