2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Wanita yang Belum Mengerti Tentang Kepergian

Alif Febriyantoro by Alif Febriyantoro
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: Kabul Ketut Suasana

 

Cerpen: Alif Febriyantoro

            Ya. Saya tahu, bahwa saya adalah wanita yang belum mengerti tentang kepergian. Tapi pada akhirnya saya sudah berada di sebuah kereta menuju kota Yogyakarta. Pada akhirnya saya pun pergi. Meninggalkan kota Jember, meninggalkan  rumah, meninggalkan suami dan anak. Ayah saya sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Disusul Ibu setahun yang lalu. Jadi saya tidak perlu lagi berdebat dengan mereka perihal kepergian ini.

Kereta Logawa sudah berangkat 30 menit yang lalu. Sekar pergi dari rumah secara diam-diam sebelum subuh. Suaminya pun tidak mengetahui perihal keberangkatannya. Sudah sekian lama ia merencanakan keberangkatan ini. Dan setiap kali ia ingin pergi, suaminya melarangnya. Sebagai seorang suami, wajar jika melarang istrinya yang ingin pergi dengan alasan yang tidak jelas. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh suami yang tidak bekerja? Hanya menasehati. Lain tidak.

“Kenapa kamu selalu ingin pergi?” tanya suaminya pada sebuah subuh yang lain.

Lengang.

“Karena saya tidak bekerja? Iya?”

“Itu bukan masalah, Mas.”

“Lalu?”

“Saya hanya ingin pergi, Mas. Itu saja.”

“Jangan selalu menutup diri.”

“Saya tidak bermaksud untuk menutup diri, Mas.”

“Maka dari itu, seharusnya kamu ceritakan dan jelaskan apa yang sedang terjadi dan menjadi masalah, sampai-sampai kamu ingin pergi begitu saja.”

“Justru ketika saya mulai bercerita dan menjelaskan, semuanya akan menjadi masalah, Mas.”

“Pikirkan anak gadis kita, ketika kamu berpikir untuk pergi.”

Sekar hanya diam.

Di bangku penumpang, Sekar duduk dekat jendela. Pukul 8 Pagi. Hari masih muda. Seperti orang-orang lain yang menyukai tempat duduk dekat jendela, mereka paham ketika sedang memandang keluar, mereka pasti akan mengingat sesuatu. Sesuatu yang mungkin sangat dikenangnya.

“Oh, saya telah berdosa. Maafkan saya, Mas. Saya tidak pernah mencintaimu. Semenjak pernikahan itu, tidak sedikit pun rasa yang saya berikan kepadamu, Mas. Saya hanya menggunakan logika. Sebab kita menikah karena  dijodohkan oleh orangtua kita. Dan saya harus menuruti keinginan orangtua saya, karena pada saat itu, Ayah saya sedang sakit. Saya takut terjadi apa-apa dengannya. Saya mengerti tentang hakikat sebuah pernikahan. Ketika seorang wanita telah bersuami, maka haram baginya untuk mencintai orang lain. Tapi jodoh belum bisa diukur ketika seseorang sudah menikah. Sekali lagi saya minta maaf, Mas. Saya tidak bisa membohongi perasaan saya sendiri. Bahwa saya masih memiliki rasa kepada seseorang di masa lalu. Saya juga tidak begitu paham dengan sikap saya sendiri. 15 tahun sejak awal kita menikah, saya mencoba untuk melupakannya. Saya selalu berdoa agar ingatan saya tentangnya segera dihapuskan. Tapi sampai saat ini saya masih mengingat. Dan setiap kali saya mengingat, rasa itu selalu tumbuh. Besar dan lebih besar lagi.

            Sempat saya minta cerai kepadamu, Mas. Tapi dengan berat hati kamu mengatakan tidak. Karena satu alasan, kita telah memiliki satu anak. Ya. Itu adalah sebuah logika yang cukup kuat untuk saya pikirkan kembali. Saya pun luluh dan kembali menenangkan diri. Sampai pada suatu saat, saya mendengar kabar darinya di media sosial, dan saya kembali mengingat tentangnya. Saya menangis ketika ia mengatakan bahwa ia juga masih memiliki rasa kepada saya. Sungguh saya benci ketika ia mengatakan itu. Saya marah karena mengingat dahulu ia sama sekali tidak berbuat sesuatu ketika ia tahu saya sedang dijodohkan. Mengapa ia tak pergi ke rumah dan meyakinkan kedua orangtua saya? Ah, tapi semarah apapun saya kepadanya, ia tetap orang yang sama, orang yang sangat saya cintai. Dan semenjak ia memberi kabar, saya sering berkomunikasi dengannya. Saling bertukar pendapat. Ia pernah mengatakan, ketika kami memang berjodoh, kami pasti akan dipertemukan, jika tidak di dunia, maka di akhirat.

            Oh, saya tidak berani untuk menceritakan ini semua di hadapanmu, Mas. Tolong pahami. Saya memang salah. Saya berdosa kepadamu, Mas. Saya berdosa kepada anak kita. Terlebih kepada agama kita. Tapi saya telah memilih jalan ini, bahwa saya akan pergi ke rumahnya, di Yogyakarta, tempat dahulu saya pernah menuntut ilmu dan juga awal ketika saya bertemu dengannya. Saya tak peduli apa yang akan terjadi ketika nanti saya sampai di rumahnya, bertemu dengan istrinya atau anak-anaknya. Apapun yang akan terjadi nanti, ketahuilah, saya tak mungkin akan kembali. Saya malu dengan diri saya sendiri. Maka tolong jaga baik-baik anak kita, Mas. Dan Tolong bilang kepadanya, saya sangat menyayanginya.

            Terima kasih atas kasih dan sayang yang selama ini telah kamu berikan kepadaku, Mas.”

Di dekat jendela itu, Sekar mengangis. Ia kirim pesan pendek itu–yang sejak tadi ia tulis–kepada suaminya. Kemudian ia menekan tombol “Matikan Daya” pada layar handpone–nya. Ketika kereta berhenti di Stasiun Bangil, ia basuh air matanya dengan menggunakan selembar tisu yang ia bawa. Beberapa menit kemudian kereta berangkat kembali dengan membawa penumpang lebih banyak. Dan Sekar kembali melamun, menatap keluar jendela. Kita tahu, bahwa dalam beberapa detik ketika kita sedang melamun, hampir seratus persen kita akan mengingat sesuatu yang teramat kita kenang. Ya, hanya kenangan. Tak ada rumah, tak ada keluarga. Tak ada agama.

Seorang gadis kecil duduk di sebelah Sekar. Gadis kecil itu mengenakan baju putih. Rambutnya terurai. Usianya sekitar 8 tahun. Si gadis duduk dengan mengayun-ayunkan kakinya.

“Di mana orangtuamu, Dik?” Sekar menyapa.

Tapi gadis kecil itu hanya diam dan menunduk.

“Kenapa tidak menjawab?” Sekar sedikit menunduk dan mendekatkan wajahnya di depan wajah gadis kecil itu.

“Namamu siapa?”

Tapi gadis kecil itu tetap diam. Sejenak suasana menjadi lengang.

“Apakah Tante berpikir kalau saya tidak bisa bicara?”

“Loh ….”

“Tidak. Tidak. Kenapa kamu berpikir seperti itu?”

“Siapa namamu, Dik?”

“Saya tidak mempunyai nama.”

“Kenapa begitu?”

“Karena saya membunuh Ibu saya sendiri.”

Gadis kecil itu menggenggam tangan Sekar dan menatap begitu tajam. Sekar kaget. Ia juga menatap wajah gadis kecil itu cukup lama, ia berpikir. Dan Sekar sedikit merinding. Tapi Sekar tahu bahwa ia hanya bermimpi.

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Kereta Logawa yang sejak tadi menyusuri rel Jawa Timur, kini sudah tiba di Stasiun Paron. Sekar tetap berada di dekat jendela itu. Melihat ke arah luar. Melihat awan putih yang masih bergerak bebas di bawah matahari.

Sebentar lagi saya sampai, Mas. Saya harap kamu akan berbuat sesuatu ketika saya datang di depan rumahmu, bertemu dengan istrimu, betemu dengan anak-anakmu. Lalu saya dengan sederhana akan mengatakan kepadamu, bahwa saya mencintaimu, Mas.

Sekar berangkat tanpa memberi kabar kepada lelaki yang dicintainya itu. Tapi ia tahu jalan. Ia tahu keberadaan lelaki itu. Dan ia tahu, bahwa ia akan sampai dengan membawa air mata dan kenangan.

Apakah kamu masih ingat, Mas, ketika dahulu dengan menggunakan kereta, saya mengajakmu untuk bermain ke rumah, untuk bertemu dengan orangtua saya. Ya. Tentu kamu pasti mudah mengingat kenangan kita, Mas. Kita tahu bahwa sepanjang perjalanan, kita hanya butuh kenangan agar kita bisa sampai di tempat tujuan. Kenangan itu seperti juga sebuah keinginan, begitu katamu, Mas. Dan saya hanya menatap matamu dari samping. Entah mengapa kenangan selalu membuat manusia lupa akan segalanya. Tapi yang saya tahu, kenangan adalah ingatan manusia. Ketika manusia memiliki kenangan, maka ia akan hidup. Seperti saat ini, saya seperti lahir kembali. Saya seperti berjalan di atas awan untuk menjemput kehidupan.

Senja jatuh di Stasiun Lempuyangan. Satu demi satu penumpang buru-buru meninggalkan gerbong kereta. Bergerak mengikuti tujuan masing-masing. Dan Sekar pun ikut meninggalkan. Ia turun dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan kereta yang sudah kembali bergerak. Ia sejenak duduk di sebuah peron. Dan kembali melamun.

Di waktu yang sama, pada senja yang lain di kota Jember, seorang lelaki sibuk membaca berulangkali pesan pendek yang dikirim oleh Sekar tadi pagi. Ia menunduk lesu.

“Ibu ke mana, Yah?” tanya anak gadisnya.

Lelaki itu menangis, kemudian memeluknya.

“Ibumu, Nak … Ibumu meninggal … tertabrak kereta.” (T)

Jember, 23 Juni 2017

Tags: Cerpen
Share47TweetSendShareSend
Previous Post

Nonton “Revolusi di Nusa Damai” – Gus Martin: Saya Salut dengan Putu Satria Kusuma

Next Post

“Rahina Saraswati”, Merayakan Buku – Agar Gerakan Literasi Tak Sekadar Seremonial

Alif Febriyantoro

Alif Febriyantoro

Lahir di Situbondo, 23 Februari 1996. Kuliah di Universitas Jember, Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Pernah aktif di Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Menulis puisi dan cerpen. 60 Detik Sebelum Ajal Bergerak (Karyapedia Publisher, 2017) adalah buku kumpulan cerita pendek pertamanya.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

"Rahina Saraswati", Merayakan Buku - Agar Gerakan Literasi Tak Sekadar Seremonial

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co