2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bulu Mata yang Jatuh di Pipi Remuna Pagi Ini

Dee Hwang by Dee Hwang
February 2, 2018
in Cerpen

Ilustrasi: IB Pandit Parastu

 

Cerpen: Dee Hwang

PAGI ini, Remuna bangun tidur dengan wajah berseri-seri. Tidak ada yang lebih menyenangkan hatinya kecuali perumpamaan bahwa cinta mungkin sudah berbalas baginya.

Ketika ia menghadapi kaca dan menemukan sehelai bulu mata jatuh di atas pipinya, ia langsung teringat dengan lelaki itu. Sebenarnya, ia kenal, tapi tak begitu lama dengan lelaki itu. Baru seminggu. Lewat Facebook. Sekedar lewat. Tapi, entah bagaimana, ia meninggalkan sesuatu yang membuat Remuna terkenang-kenang. Inikah cinta pada pandangan pertama? Uh. Bila cinta selalu tegak pada segala kemungkinan, maka cinta di media sosial cukup wajar menurutnya.

Tiba-tiba saja seseorang itu muncul. Lelaki itu datang dengan profil yang…tampan. Rendah hati. Pandai. Punya kemauan untuk mendengarkan. Orang terkenal lagi. Apakah lelaki itu menghubungi Remuna karena foto profil Remuna menangkap hatinya? Apakah Remuna dirasa punya kualifikasi buat jadi calon istri? Remuna tersenyum-senyum.

Sambil memandangi bulu mata yang diletakkannya di ujung telunjuk, ia teringat percakapan mereka. Bukan percakapan yang sering. Bukan yang panjang. Mungkin baru tiga kali. Itu pun setiap tengah malam. Mungkin lelaki itu sibuk dengan pekerjaannya. Maklum, orang kota. Kota besar. Sebenarnya, Remuna tidak hendak memberikan balasan, tapi apa yang bisa ia lakukan kalau lelaki itu datang dengan ajakan untuk menikah?

***

Sebenarnya, Remuna merasa mengkhianati dirinya sendiri.

Remuna, dalam sejarah kehidupannya, sudah memutuskan untuk tidak menikah. Ini langkah yang dibalas oleh keluarganya dengan urutan di dada. Terutama Umaknya. Disangka punya kesenangan sesama jenis, ternyata Remuna memang tidak tertarik pada jenis kelamin apapun. Bukan karena ia hilang nafsu. Ia hilang kepercayaan—cinta di hatinya yang perawan itu adalah penyakit dan penderitaan dan baginya itu cukup buat meleburkan segala keromantisan.

Bila kau tanya, maka keyakinannya bahwa menikah, punya anak, menghabiskan hidup bersama seseorang adalah omong kosong, adalah sumbangan dari keputusan Umak–nya sendiri. Umak–nya hobi kawin-cerai. Sudah lima kali. Tahun depan, bisa saja tujuh kali. Oleh karena itu, Umak–nya cuma bisa mengurut dada—mengucap Tuhan ia merasa berdosa, kecuali kalau mengucap nama suaminya satu-satu, ia tak merasa sia-sia.

Mendapati kehidupan yang tak pernah damai dari pernikahan Umak–nya yang kesekian itu, Remuna memutuskan buat tidak menikah. Sebenarnya, Remuna bukan perempuan buruk muka. Dia cantik. Kulitnya putih. Tak punya cacat. Pintar. Sekolahnya tinggi sampai ke seberang pulau. Punya kemampuan menundukkan hati siapa saja. Tapi, mungkin karena sudah pekat kebenciannya pada berbagai hubungan, maka ia tak punya teman kecuali dari media sosial yang menawarkan banyak jalan pintas buat dikenal.

Remuna tidak tahu kalau hal itu bisa luntur cuma karena kehadiran satu orang. Remuna merasa ia harus membuka pintu hatinya sekarang, entah bagaimana. Seperti yang sudah kujelaskan di muka, Remuna dibuat terkenang-kenang. Ketika lelaki itu bertanya apakah Remuna masih sendiri, ketika lelaki itu menjelaskan seberapa rendah hatinya mengalah buat perempuan, dan ketika ia bertanya di mana alamat rumah Remuna, malam harinya, Remuna malah mimpi duduk di atas pelaminan.

***

Remuna menatapi bulu mata yang jatuh di pipinya pagi ini. Kata orang dulu, itu artinya ada seseorang yang merindukannya. Entah siapa. Entah dimana. Apa lelaki itu? Boleh jadi. Mana tahu. Semoga betul. Remuna kan tak punya banyak kenalan lelaki—apalagi yang mau mengajaknya menikah.

Dulu, Remuna menganggap ia sudah memikirkan matang-matang. Menurutnya, menikah tidak pernah mendatangkan kedamaian. Kalau tidak, buat apa Umak–nya menikah sampai lima kali? Remuna saja bingung mana Bapang–nya. Oleh karenanya, semua lelaki yang menikahi Umak–nya tak pernah ia panggil dengan sebutan sebagaimana orangtua, kecuali orang itu. Ya. Orang satu. Orang dua. Orang tiga. Orang….beruntung semua Bapang sambungnya tak pusing memikirkan sapaan. Menikahi janda jarang ada yang lurus dengan mengangkat anak.

Remuna duduk di tepi tempat tidurnya, mengambil selembar sapu tangan, meletakkan bulu matanya itu hati-hati. Sudah lupa ia dengan bau badannya sendiri. Sudah lupa ia kalau perutnya kempis karena tak diisi sejak sore kemarin. Sudah lupa ia kalau ia sudah berkepala tiga. Sudah lupa Remuna kalau Umak–nya yang sudah pergi dengan orang kelima ke pulau seberang, sudah meninggal semester lalu. Lupa Remuna kalau ia hidup sendirian di rumah ini.

Yang Remuna ingat hanya lelaki itu. Tetapi, apakah itu cukup?

Remuna berkaca lagi. Sebenarnya, bingung, dia. Apakah ini sebab mengapa lelaki itu tak lagi muncul sampai sekarang? Oh. Dia terlalu sibuk. Maklum, orang kota. Kota besar. Bukankah ia penyair yang terkenal itu, yang sekarang lagi sibuk-sibuknya meluncurkan buku ketiganya? Apakah nama Remuna ada di situ? Atau, ia bukan satu-satunya perempuan yang diajak buat menikah? Apakah satu perempuan saja kurang buat jadi sumber kata-katanya? Remuna berkaca lagi. Ia sudah lupa bagaimana kesepian, sebagaimana yang Umak–nya hadapi dulu sehingga tak habis-habis menikah itu, berpotensi melalap ingatan habis-habisan.

Lelaki itu harus jadi milik Remuna. Remuna memang merasa sudah mengkhianati dirinya sendiri, namun, mau bagaimana lagi. Remuna yang lama sudah mati. Remuna yang ini Remuna yang baru—ia perempuan yangsedang menghadapi cermin, dan mencabuti bulu matanya satu-satu. (T)

Tags: Cerpen
Share6TweetSendShareSend
Previous Post

Made Urip, Politik Tenang, dan Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

Next Post

Tips Menghadapi OKK/Ospek dengan Cara Aneh, Unik dan Luar Biasa

Dee Hwang

Dee Hwang

Kelahiran 9 September 1991. Lulusan FKIP Biologi Universitas Sriwijaya. Saat ini aktif menekuni dunia musik sebagai pemain Biola di SAMS Chamber Orchestra Jogjakarta.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Tips Menghadapi OKK/Ospek dengan Cara Aneh, Unik dan Luar Biasa

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co