3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kupu-Kupu Kuning

Agus Wiratama by Agus Wiratama
February 2, 2018
in Cerpen

Cerpen: Agus Wiratama

KETIKA kupu-kupu kuning itu tiba, air matanya mulai menetes. Setiap hari, tetesan air mata itu tak terhitung jumlahnya. Kedua tangannya mengiringi tetesan itu dengan kepalan. Nafasnya tak teratur, bahkan sesak dadanya, turut mengambil bagian mengiringi kehadiran  kupu-kupu kuning itu.

Ia duduk beralaskan sandal jepit. Bersandar pada sebuah tembok usang di bagian rumah tua kami. Sorot matanya tak lagi mewacanakan perannya terdahulu. Tubuhnya, tak lagi bercerita tentang kekuatannya menghadang rezim. Kini,  kakinya pun tak kuat menopang bobot tubuh yang tak lebih dari lima puluh kilogram. Rambutnya yang kian memutih, dan kulitnya yang kendur hanya memberitahuku, ia telah lelah. Setiap hari, dari pagi hingga sore bahkan malam, ia hanya memandangi taman yang ada di depannya.

“Apalagi yang kuharapkan, waktu adalah teman setia, sesegera mungkin seharusnya Hyang Widhi memanggilku.” Begitu yang ia ucapkan dari mulut dengan kulit keriputnya.

“Bukankah kata-kata itu bukan dirimu? Kau adalah satu-satunya pejuang pada masa itu yang masih bisa melihat betapa indahnya taman ini. Kau adalah bagian dari sejarah yang bisa kujumpai, Paman”, jawabku ketika kekesalanku justru diundang dengan kata-kata putus asanya.

Ia melindungi sahabatnya, Made Seken dari ganasnya zaman. Aku hanya menduga-duga, pada masa itu, langit merah setiap hari membendung, burung gagak, anjing kelaparan, serta kadal liar menjemput musim untuk berfoya.

“Apakah kau kini bukan Wayan Regeg yang memiliki kobaran api di dalam diri? Di mana jiwamu itu?” sambungku setelah keheningan di antara kami membuatku tak nyaman.

“Paman, benarkah apabila aku menyarankanmu suatu hal untuk mengubah rasa yang mencekikmu kian hari itu? Aku rasa, dalam kehidupan sosial kita, tak pantas diriku melakukan itu. Tetapi, aku tak ingin melihatmu selalu murung bahkan meneteskan air mata. Seolah-olah, canda tawa cucumu tak memberimu kebahagiaan!”

Ia tak juga menjawab pertanyaan dan celotehanku. Matanya memberitahuku kalau ia tak ingin mendengar sepatah kata pun dari mulutku.

Angin kencang dan tetesan air hujan yang lebat telah bercampur dengan komposisi masing-masing yang sangat tepat. Sesekali kulit kami menjadi pangkalan air hujan itu. Angin yang telah bercampur air itu pun akhirnya membuatku tak ingin beranjak dari tempat duduk meskipun udara dingin memerintahkanku agar meninggalkannya. Berbeda dengan diriku dengan kulit yang masih sensitif, barangkali pamanku enggan beranjak karena kulitnya yang mati rasa mebuatnya tak tahu kalau tetesan air hujan telah membelai kulitnya.

Situasi yang seolah-olah mengurung kami dalam sebuah dimensi dan hanya dihuni oleh dua orang, yaitu aku dan pamanku, membuatku mengingat segala hal yang pernah terjadi pada dirinya. Dalam kesunyian itu aku membayangkan kisahnya yang tak pernah mati hingga kini.

“Wayan Regeg adalah patih sesungguhnya di desa kita!”  Begitu yang sering aku dengar.

Tetapi, cerita yang paling jelas ditangkap oleh telinga ini adalah cerita dari almarhum nenekku. Ketika itu aku masih duduk di bangku SMA. Nenek sedang membuat kopi di dapur, ia ku cegat begitu saja. Aku penasaran dengan mitos tentang pamanku ini. Aku berharap nenek bisa memuaskan rasa ingin tahuku terhadap dirinya.

Benar saja, ketika ku tanya tentang pamanku, ia mengambil sebuah kursi kesayangannya dengan tergopoh-gopoh. Kemudian,ia duduk di sana dan menyeruput kopi hangat yang baru saja dibuatnya.

“Kenapa kau bertanya tentang dia?” ucapnya samar-samar. “Bukankah dia memang seperti itu sedari dulu?”

“Iya, memang seperti itu, tetapi dia pasti memiliki masa bahagia. Bukankah setiap manusia berhak atas kebahagiaannya sendiri, Nek?” tanyaku untuk memastikannya memberikanku potongan cerita yang kuharapkan.

Ketika kopinya tinggal setengah, ia memulai cerita tentang pamanku. Cerita Wayan Regeg sesungguhnya dimulai sejak ia berumur empat puluh tahun. Ketika itu kira-kira sekitar tahun 60-an. Tubuhnya yang tegap dan kakinya yang kokoh membuat tak ada satupun pemuda berkeinginan mengundang masalah dengannya. Wajahnya yang rupawan membuat setiap gadis ketika itu bergumam dalam hati.Mereka menyimpan kekaguman pada dirinya.

Ia menjadi dihormati karena ia adalah orang yang tak segan-segan membantu orang lain. Ketika itu, beras merupakan barang yang sangat berharga. Namun, ia banyak menyumbangkan berasnya pada para tetangga yang memerlukan. Beberapa kamben songket pun ia berikan pada tetangga yang tak pernah ke pura lantaran tak punya kamben untuk dikenakan. Wajar saja bila kekaguman orang terhadap dirinya dijaga hingga kini.

Nenek juga bercertia bahwa ia adalah seorang petani yang memiliki banyak sawah. Ia menggarap sawahnya dengan seorang sahabat yang kini sering ia sebut namanya dengan berbisik “Made Seken”. Seken adalah sahabatnya dari kecil hingga dewasa yang sesekali menjadi penasihatnya. Kini, sepasang cangkul yang dulu sehari-hari mereka gunakan,masih tersimpan rapi di samping lumbung kami.

Persahabatan mereka adalah persahabatan yang telah mendobrak jarak. Wajah mereka yang mirip membuat orang yang baru bertemu dengan dua orang itu mengira bahwa mereka adalah saudara kembar. Ada pula tetangga yang mengatakan bahwa pamanku adalah saudara kembar Made Seken yang lahir dari rahim ibu yang berbeda.

Persahabatan yang mereka ukir dari kecil mulai melapuh ketika partai politik masuk ke desa kami. Pamanku telah menyarankan Made Seken untuk tidak terjun ke dunia politik, namun dia bersikukuh berkecimpung di dunia itu. Katanya, demi mewujudkan cita-cita bangsa. Nenekku pun paham betul, bahwa masuk ke dunia politik itu penuh dengan resiko dan kepentingan politik lain yang akan menggerus keberadaan lawannya.

Semenjak Seken bergabung partai politik, mereka tak lagi bersama seperti sebelumnya. Tak ada lagi cerita tentang menyeruput segelas kopi di sawah, atau cerita tentang perjalanan menembus kabut di pagi hari untuk memastikan air membasahi sawah.

Beberapa tahun setelah Made Seken masuk ke sebuah partai, pamanku mendengar kabar bahwa terjadi pengepungan di mana-mana dan banyak korban yang berjatuhan. Penjagalan mewabah dengan liarnya, air sawah pun terkadang bercampur dengan warna merah darah yang masih segar. Hal itu kian hari menjadi sesuatu yang biasa. Made Seken mulai resah dengan peristiwa itu karena ia adalah anggota partai yang akan dilenyapkan. Ia mulai mendekati pamanku lagi dengan maksud minta perlindungan karena semua anggota keluarga Made Seken dianggap tergabung dalam partai itu.

Orang-orang dari desa sebelah yang ada di jalur pemerintah memanfaatkan kesempatan itu untuk memuaskan kebiadaban mereka. Rumah Made Seken akhirnya dibakar. Api berkobar sejadinya. Tangisan keluarganya bercampur dengan kekesalan tak berdaya.hewan ternaknya seperti sapi, babi, ayam, dan bebek telah dibunuh, kemudian dijadikan hidangan untuk berpesta. Untungnya, sebelum pemberangusan rumah itu terjadi, Made Seken dan keluarganya telah kabur ke ladang pamanku. Dari sana ia mengintip kebiadaban orang-orang itu.

Ketika nenek merasa lelah bercerita, sejenak ia beranjak dari kursi kesayangannya. Ketika itu pula mataku terasa panas, air mata perlahan membasahi pelupuk. Tetapi, aku tidak berani berkomentar, sebab aku tak tahu kekuatanseperti apa yang menggerakkan pikirkan warga desa sebelah.

Dengan tulang punggung yang tak mampu menegakkan tubuhnya, ia mengambil sapu untuk membersihkan sampah makanan di dapur. Debu dapur yang menghitam, ia siram dengan air agar tak mengganggu penciuman dan penghlihatannya yang tua. Beberapa tetes air matanya turut membersihkan debu yang menempel di pipinya yang keriput.kemudian, Ia kembali duduk di kursi tua kesayangannya sambil mengusap mata untuk melanjutkan cerita.

Suatu hari terdengar isu bahwa warga desa sebelah akan memburu sahabat pamanku lagi. Made Seken lari dengan kakinya yang kurus ke rumah-rumah tetangga untuk menginap. Para tetangga mengizinkannya tidur di lumbung. Tetapi, tak ada yang berani membiarkannya menginap dalam waktu yang lama karena takut dianggap ikut melindungi anggota partai yang menjadi musuh negara.

Ia juga sempat lari ke rumah kami dengan kaki yang gemetar, rambut yang tak rapi seperti biasa, dan keringat yang mengucur dari seluruh bagian kulitnya. Setelah diberi secangkir kopi dan sepiring nasi,nenek pun menyuruhnya pergi karena alasan yang sama dengan tetangga kami.

“Di mana peran paman ketika itu, Nek?” Aku sudah tidak sabar mendengar kisah heroik, Pamanku.

Aku baru paham setelah nenek melanjutkan ceritanya sambil mengunyah buah pinang. Suatu pagi, warga desa sebelah benar-benar ingin menjagal semua anggota partai itu di desa kami. Sembilan keluarga dianggap tergabung partai buruan. Rata-rata setiap keluarga itu terdiri dari enam orang. Siapa pula yang rela jika saudaranya dibantai dengan liar dan masal seperti itu. Pamanku orang yang cerdas, Ia mengatur taktik sendiri. Semua warga ia sarankan untuk mengintipnya dari balik tembok rumah masing-masing.

Ia menunggu kedatangan warga desa sebelah yang hendak melakukan aksi liar itu. Begitu terlihat, ia tatap mata orang-orang itu satu per satu. Suasana begitu mencekik. Yang terdengar hanya suara kaki menghantam tanah dan gesekan batang bambu yang diembuskan angin. Ketika itulah, dengan gagah dan berani,pamanku berteriak sekencang-kencangnya, “Seeerrrbbbuuu!”

Mendengar kata itu, para tetangga ikut berteriak sesuka mereka. Warga desa sebelah itu seketika berlari sekencang-kencangnya karena mengira pamanku telah menyiapkan pasukan yang banyak untuk bertempur. Ketika itu nenekku pun ikut mengintipnya dari balik tembok tetangga.

Dalam hati, sesungguhnya ada pertanyaan yang gelisah, “Tidakkah ia merasa bersalah telah melawan negara dengan melindungi orang-orang partai yang katanya telah melakukan pemberontakan?”

Ketika pertanyaan itu mengawang-awang, nenek langsung menyambar dengan kata-kata yang menjawab pertanyaan itu. “Pamanmu merasa bersalah bila membela pemberontak negara, tapi baginya melindungi nyawa orang-orang di desa kita adalah suatu keharusan. Ia menentang keras cara pemerintah yang keji itu. Membantai orang tanpa penjelasan, padahal belum tentu mereka telah melakukan kesalahan”, katanya.

Jawaban itu membuatku tercengang. Alasan paman itu adalah kobaran api keberanian yang jarang kutemui.

Setelah beberapa tahun, gejolak di mana-mana dan pembantaian akhirnya usai. Mimpi buruk sembilan kepala keluarga di desa kami telah lenyap. Made Seken masih hidup dalam ketakukan meski tak ada satu orang pun yang berhasil dibunuh di desa kami. Memang, di desa sebelah ada beberapa orang yang meninggal karena dianggap berbau partai itu. Mereka diikat tangan dan kakinya, kemudian diseret di atas aspal pada siang hari secara massal hingga benar-benar tak bernyawa. Di desa kami semua nyawa yang terancam telah terselamatkan.

Kini, rumah Made Seken yang dulu dibakar oleh warga desa sebelah menjadi tempat yang aku senangi, karena tumbuh pohon jambu yang begitu subur dengan buahnya yang lebat. Mungkin, tak kurang dari seminggu, aku dan teman-temanku meluangkan waktu untuk singgah di sana, kemudian memetik beberapa buah jambu untuk dibawa pulang. Sesungguhnya para warga enggan ke sana karena tragedi tersebut. Hanya kami yang berani bermain ke sana karena sebelumnya kami memang tidak tahu tentang sejarah tumpukan bata merah yang menyimpan air mata dan amarah itu.

Kuperhatikan, nenek nampaknya sudah tidak nyaman lagi berada di kursinya yang tua dan kotor. Ku ambilkan ia sebuah bantal. Tetapi, nenek menolak. Ia keluar dari dapur. Tangannya melambai-lambai memanggilku untuk mengikutinya.

Ia berkata, “Senja telah tiba, lihatlah langit yang merah itu. Memang sangat indah, tetapi langit indah itu menyimpan sejuta kesedihan”.

Aku tidak paham apa yang dimaksud nenek. Aku hanya bisa menganggukkan kepala dengan ragu-ragu.

Ia mengajakku untuk duduk di beranda rumah. Kemudian menyuruhku mengambilkannya tembakau dan buah pinang di kamarnya. Di beranda rumah ia melanjutkan kisah tentang pamanku.

“Kesedihannya berawal dari sebuah senja”, ucapnya dengan lugas.

Setelah pembantaian itu berakhir, Made Seken masih bisa menghirup udara bebas. Tidak ada panggilan dari pihak pemerintah. Tidak ada setetes darah pun yang keluar dari kulitnya. Made benar-benar selamat dari kiamat. Tetapi, Made Seken memilih untuk berhenti menjadi guru karena traumanya yang begitu dalam terhadap peristiwa keji itu. Ia memilih untuk berkebun.

Cerita tentang persahabatan pamanku dan Made Seken menjadi berbeda dengan yang sebelumnya. Made Seken merasa sangat berhutang budi pada pamanku. Semenjak itu ia begitu menghormatinya seperti warga yang lainnya di desa kami.

Suatu hari ketika senja tiba, Made Seken tak kunjung pulang. Istrinya menanyakan pamanku tentang keberadaan Seken, tetapi pamanku pun tidak tahu. Ketika itulah semua warga ikut membantu mencari Made Seken. Mereka mencarinya ke setiap tepi sungai yang sering ia lewati, kemudian di ladang miliknya,tapi tak juga ditemukan. Pencarian masih berlanjut, sedangkan cahaya matahari semakin menipis hanya menyisakan warna emas yang begitu mempesona.

Ketika mereka telah putus asa, tak sengaja mereka lewat di ladang pamanku. Made Seken telah tertidur lelap di bawah pohon kelapa gading. Celurit telah menembus perutnya. Matanya terpejam. Setiap daun di sekitarnya dilumuri darah, kelapa gading yang telah ia petik pun dibalut darah segar. Ususnya berkeliaran di atas perut yang menganga. Di ujung robekan luka pada perut itu tertancap celurit dengan sangat rapi. Tetapi, sepasang kupu-kupu kuning dengan setia hinggap di ujung hidungnya.

“Merekalah yang menjemput sahabat pamanmu,” kata nenek dengan suara yang kecil.

Ketika itulah penyesalan pamanku berawal. Ia menahan segala tangisan. Tak ada setetes air pun yang terjatuh dari matanya. Ia hanya mengingat perkataan yang terlontar dari mulutnya di siang hari sebelum Made Seken dijemput kupu-kupu berwarna kuning itu.

“Esok pagi, ketika kita ke sawah, kita sirami padi-padi kita dengan air kelapa gading untuk menebus darah yang pernah mengaliri sawah ini.”

“Kupu-kupu kuning, aku sering melihat mereka bermain di bawah pohon beringin keramat,” gumamku dalam hati.

Ku harap paman bisa melupakan segala kesedihan di umurnya yang renta ini.

“Senja sudah terganti malam, hujan dan angin juga telah beristirahat, sebaiknya kau istirahat di dalam kamarmu, atau kuambilkan secangkir kopi untukmu, Paman?” (T)

Tags: Cerpen
Share36TweetSendShareSend
Previous Post

Hitam-Putih Film Barat dan Evolusi Negeri Kita

Next Post

Kata-kata yang Memberi Detak pada Pengalaman – Pengantar Buku “Seribu Pagi Secangkir Cinta”

Agus Wiratama

Agus Wiratama

Agus Wiratama adalah penulis, aktor, produser teater dan pertunjukan kelahiran 1995 yang aktif di Mulawali Performance Forum. Ia menjadi manajer program di Mulawali Institute, sebuah lembaga kajian, manajemen, dan produksi seni pertunjukan berbasis di Bali.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post

Kata-kata yang Memberi Detak pada Pengalaman – Pengantar Buku “Seribu Pagi Secangkir Cinta”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co