14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Perang Jempana” atau “Battle of Palanquins”: Cara Bahagia Meluapkan Rasa Terima Kasih

Juli Sastrawan by Juli Sastrawan
February 2, 2018
in Khas

Tradisi Perang Jempana dan nunas paica di Banjar Panti Timrah, Paksebali, Klungkung. ; Foto: Eni Padma

KETIKA banyak orang tenggelam dalam pusaran arus modernisasi, salah satu desa yang terdapat di Klungkung masih tetap melestarikan sebuah tradisi unik sampai saat ini. Tradisi ini dilaksanakan oleh warga Banjar Panti Timrah Desa Paksebali, Klungkung.

Paksebali merupakan sebuah desa yang terletak di sebelah timur Tukad Unda atau sekitar 2 kilometer dari Kota Semarapura. Bagi warga di sana, tradisi ini disebut Dewa Masraman. Bagi wisatawan domestik tradisi ini dinamai Perang Jempana, dan bagi wisatawan Mancanegara tradisi ini disebut Battle of Palanquins. He he he lain pohon lain buahnya, setiap orang bebas memilih dari tiga nama tersebut, disesuaikan dengan susah atau gampang pengucapannya.

Di desa ini warganya masih melestarikan kebudayaan dan senantiasa menunjukkan sikap kebersamaan dan kekeluargaan. Ritual ini dilaksanakan untuk mengiringi upacara piodalan Pura Panti Timbrah yang dilaksanakan setiap 210 hari tepat pada hari Saniscara Kliwon Kuningan, tepatnya pada hari raya Kuningan.

Bermula dari Tugas Jaga Perbatasan

Diketahui keberadaan tradisi Perang Jempana sudah ada sekitar tahun 1500. Tradisi ini dimulai ketika ada sekitar 18 Kepala Keluarga dari Desa Adat Timbrah yang berasal dari Karangasem, melakukan perjalanan bersama dengan Bendesa Adat Bugbug yang pada saat itu diutus untuk menjaga perbatasan Karangasem dengan Klungkung.

Setelah 18 KK tersebut sampai di perbatasan, mereka kemudian menghadap Raja Klungkung. Karena saat itu hubungan Raja Klungkung dengan Raja Karangasem sangat baik, maka Raja Klungkung memberikan 18 KK tersebut tempat tinggal yang berlokasi di Desa Paksebali. Seiring dengan perkembangannya, warga yang awalnya berasal dari Desa Timbrah Karangasem membuat sebuah banjar yang diberi nama Banjar Panti Timbrah.

Setelah membuat banjar lalu warga Banjar Panti Timbrah mendirikan sebuah pura kawitan. Pura kawitan inilah cikal bakal berdirinya Pura Panti Timbrah saat ini, dimana keberadaannya masih dapat kita temui di Jaba (area luar) Pura Panti Timbrah.

Perang Jempana

Pada saat piodalan di Pura Panti Timbrah dilakukan sebuah tradisi ritual yang disebut dengan Tradisi Perang Jempana (Dewa Masraman).Saat penampahan kuningan atau sehari sebelum dilaksanakan tradisi perang jempana ini,warga setempat membuat sebuah penjor. Penjor ini tidak sama seperti penjor masyarakat Bali pada umumnya. Ada perbedaan dari gaya dan ukurannya.

Ukuran penjor ini lebih besar dan terdapat anyaman manuk (burung) pada penjor. Kalau tertiup angin biasanya akan berbunyi krincing krincing yang berasal dari gantungan uang kepeng.

Keesokan harinya, sebelum melaksanakan ritual ini, tahapan pertama yang dilakukan adalah nunas paica. Nunas paica (mohon berkah) adalah prosesi makan bersama yang dilakukan hanya untuk anak-anak TK dan Sekolah dasar sederajat. Anak-anak akan duduk dan makan bersama dirangkaian makanan yang terdiri dari lauk pauk dan nasi yang beralaskan daun pisang berbentuk memanjang.

Setelah nunas paica, barulah dilanjutkan dengan megibung yang dilakukan oleh orang-orang dewasa.Setelah megibung, para pemangku akan mempersiapkan joli dan sarana upacara untuk melanjutkan ritual ketahapan selanjutnya.

Pada Pukul 17.30 (kurang lebih) masyarakat akan berkumpul sambil diiringi oleh suara kul-kul. Dalam tradisi ini setiap orang yang tidak kotor (leteh, cuntaka, atau baru ada keluarga yang meninggal atau melahirkan) diperbolehkan untuk ikut serta dalam tradisi ini. Warga yang berminat untuk ikut diwajibkan menggunakan kamen, saput poleng dan bertelanjang dada khusus untuk pria.

Setelah semua siap, selanjutnya warga akan bersama-sama mengusung joli, anak-anak membawa kober(sejenis umbul-umbul) dan bersama melakukan mesucian di areal pura Taman yang terletak di pinggir sungai Segening. Pada tahapan ini warga mensucikan diri mereka dan mensucikan tiap joli/jempana dan serana upacara lainnya. Para warga masyarakat baik anak-anak, dewasa, pria maupun wanita bersama-sama melakukan persembahyangan di Pura Taman meminta pembersihan diri.

Setelah mesucian selesai, barulah warga bersama-sama mengusung kembali joli/jempana kembali ke Pura Panti Timrah. Pada tahap ini sarana upacara seperti tombak, keris, bendera, lontek poleng (semacam umbul-umbul) dan sarana lainnya terlebih dahulu memasuki area Madya Mandala. Semua sarana tersebut kemudian Ngidar Buwana (berkeliling memutar searah jarum jam) sebanyak tiga kali.

Luapan Terima Kasih

Pada saat yang bersamaan di area nista mandala/area luar pura juga berlangsung tahapan masolah untuk ketujuh joli. Dimana saat ini ketujuh joli tersebut di sambut tarian RejangDewa sebagai manifestasi bidadari. Tarian Rejang Dewa di Pura Panti Timbrah pada umumnya gerakannya sama seperti di tempat lain namun yang membedakan adalah hiasan dikepalanya saja yang diberi tambahan kembang plendo. Setelah tari penyambutan selesai, para dewa yang ditempatkan di atas jempana diberikan banten persembahan atau warga setempat menyebutnya banten pemendak.

Setelah proses masolah dan murwa daksina selesai maka akan dilanjutkan pada puncak ritual Dewa Masraman. Ketika ketujuh joli sudah melakukan murwa daksina sebanyak tiga kali dan para pengusung lontek poleng dan pengusung keris akan memberikan aba-aba untuk melakukan Ngambeng Jempana.

Dari semua tahapan tradisi ini, tahapan Ngambeng Jempana merupakan tahapan yang paling menyedot perhatian ribuan warga masyarakat dan wisatawan yang hadir. Saat itu, ratusan warga yang sudah berada dalam kondisi tidak sadar yang mengusung masing-masing joli/jempana terlibat aksi saling dorong diiringi gong baleganjur. Pertemuan itu secara niskala, sebagai bentuk penghormatan dan rasa luapan terimakasih dan rasa kegembiraan kebahagiaan atas karunia Tuhan yang sudah diberikan dan dinikmati oleh masyarakat.

Setelah upacara  perang jempana dihentikan, pemangku  memercikkan air suci dan para dewa yang dilambangkan dengan uang kepeng dan benang tridatu dikeluarkan dari jempana dan ditempatkan kembali di tempat khusus dalam pura.

Anak-anak Nunas Paica

Jika dilihat dalam proses persiapan sampai puncak tradisi ini, kita bisa melihat dan mengaitkannya dengan konsep Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan konsep filosofis kebanyakan orang Bali pada umumnya, baik secara individu maupun di dalam kelompok masyarakat. Tri Hita Karana merupakan konsep bagaimana kita menghargai sesama manusia, alam, maupun dengan Tuhan.

Tradisi ini berkaitan erat dengan hal tersebut. Dalam tahapan nunas paica yang dilakukan oleh anak-anak misalnya, makna tahapan ini sebagai pembentukan karakter generasi muda bagaimana berlaku terhadap sesama, menghargai, bermusyawarah dan mengakrabkan diri karena pada saat prosesi ini tidak dibedakan antara anak orang kaya atau anak orang miskin ataupun anak perempuan atau laki-laki.

Semua anak duduk bersama untuk makan. Tidak akan ada perbedaan strata sosial atau ekonomi. Dalam prosesi ini tidak akan dijumpai anak kulit putih/anak kulit hitam yang akan makan sendiri membawa piring. Tidak akan.

Tahapan kedua, mesucian. Masuciansebagai simbol bentuk hubungan manusia dengan alam.Pada saat nunas tirta,tirta yang diambil atau yang ditunas akan dipercikan ke jempanayang berasal dari Pura Taman Segening. Dari sini tentu sangat terlihat betapa eratnya hubungan manusia dengan alam karena terdapat nilai penghormatan manusia kepada alam.

Tahapan ketiga yaitu masolah. Pada tahap ini tercermin nilai ketiga dari konsep Tri Hita Karana yakni hubungan manusia dengan tuhan, dapat dikatakan seperti itu karena pada saat jempana tersebut saling diadu dengan jempana yang lainnya ini memiliki makna suasana kebersamaan di mana di masing-masing jempana yang telah dipercayai sudah didiami oleh Dewa di dalamnya, kini mereka dipertemukan dalam ritual masraman/masolah ini. Masolah adalah sebagai bentuk puja dan puji rasa syukur terima kasih dan bentuk penghormatan manusia dengan Tuhan.

Selain suasana keagamaan yang kental, jika kita menonton atau menyaksikan tradisi ini kita akan melihat bagaimana kehidupan sosial masyrakat disana yang menjunjung konsep menyama braya. Ini terlihat dari kebersamaan dan kekeluargaan yang sangat terasa dari proses persiapan hingga puncak acara. (T)

Tags: baliKlungkungPerang JempanaTradisiupacara
Share62TweetSendShareSend
Previous Post

Michael Essien? Ah, “Biase Gen” – Memahami Cara Pandang Orang Bali terhadap Pemain Top

Next Post

Tradisi Adu Ayam “Aci Keburan”: Ini Persembahan, Bukan Soal Kalah atau Menang

Juli Sastrawan

Juli Sastrawan

Pengajar, penggiat literasi, sastrawan kw 5, pustakawan di komunitas Literasi Anak Bangsa

Related Posts

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

by Emi Suy
May 11, 2026
0
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

Read moreDetails

Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Mawar dan Air Mata Haru di Pelepasan Angkatan Ke-15 SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar

LAMPU-lampu ruangan mendadak padam. Suasana di ballroom yang sedari awal riuh perlahan berubah sunyi. Ratusan pasang mata menoleh ke belakang...

Read moreDetails

Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

by Gading Ganesha
May 2, 2026
0
Tanpa Protokol dan Jarak, Diskusi Pendidikan dan Titik Nol di Bawah Gerimis Kota Singaraja

JUMAT sore, bertepatan dengan Hari Buruh, 1 Mei, saya mampir ke Bichito sebuah kafe baru di Jalan Gajah Mada, Singaraja,...

Read moreDetails

Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

by I Nyoman Darma Putra
May 1, 2026
0
Peringatan Seabad I Made Sanggra Penjaga Ruh Sastra Bali Modern dengan Peluncuran ‘Geguritan Katemu ring Tampaksiring’

PERINGATAN 100 tahun kelahiran sastrawan Bali modern I Made Sanggra diselenggarakan secara khidmat di kediamannya di Sukawati, bertepatan dengan hari...

Read moreDetails

Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

by Dede Putra Wiguna
April 28, 2026
0
Merayakan Rilisan dan Memutar Nostalgia di Record Store Day Market Bali 2026

SUASANA di Main Atrium, Living World Denpasar tak seperti biasanya. Kala itu, nuansa nostalgia terasa begitu kuat saat Record Store...

Read moreDetails

Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

by Dede Putra Wiguna
April 24, 2026
0
Mahasiswa PPG UPMI Bali Berlatih Cegah Bullying di Sekolah

SEBANYAK 32 mahasiswa PPG Bagi Calon Guru Gelombang I Tahun 2026 di Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali mendapatkan pelatihan...

Read moreDetails

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
0
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

Read moreDetails

Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

by Angga Wijaya
April 17, 2026
0
Belajar Biola Tanpa Takut di Denpasar, Sunar Sanggita Buka Akses untuk Semua Anak

DI sebuah sudut Denpasar yang tak terlalu riuh oleh hiruk- pikuk pariwisata, suara biola pelan-pelan menemukan nadanya sendiri. Bukan dari...

Read moreDetails

Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

by Radha Dwi Pradnyani
April 13, 2026
0
Saat Wayang Tak Lagi Membosankan —Cerita Pelajar pada Workshop Wayang Kulit dan Wayang Kaca di Festival Wayang Bali Utara 2026

RIUH suara para pelajar SMP memenuhi ruangan Museum Soenda Ketjil di kawasan Pelabuhan Tua Buleleng pada Kamis siang, 9 April...

Read moreDetails

Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

by Dian Suryantini
April 9, 2026
0
Nge’DJ dengan Dadong Dauh, Siapa Takut?

SORE itu, suasana Pasar Intaran terasa sedikit berbeda dari biasanya. Angin pantai yang biasanya berembus pelan, saat itu sedikit mengamuk....

Read moreDetails
Next Post

Tradisi Adu Ayam “Aci Keburan”: Ini Persembahan, Bukan Soal Kalah atau Menang

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co