2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Michael Essien? Ah, “Biase Gen” – Memahami Cara Pandang Orang Bali terhadap Pemain Top

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Esai

Michael Essien menjadi perwakilan Persib dalam peluncuran Liga 1, Senin (10/4/2017)./Foto: FIFA

Michael Essien begitu dikenal oleh publik Bandung, bahkan mungkin Indonesia. Pemain top atau marquee player status yang disandangnya setelah resmi dikontrak Persib Bandung. Nilai kontrak yang rumornya mencapai Rp 11 miliar menjadi ukuran pemain termahal sejagad Nusantara.

Kedatangan pemain yang pernah berseragam Real Madrid, AC Milan, dan Chelsea ini pun disambut dengan hinggar bingar. Bahkan saat latihan hingga ke hotel atau ke mana pun “sang bintang” dibuntuti. Tak sekadar ingin tahu, namun juga foto bersama dan minta tanda tangan menjadi ritual khusus ketika bertemu dengan “sang mega bintang”.

Klub dan sponsor tahu betul ini market karena menjadi magnet bagi suporter, fans, pendukung, penonton dan masyarakat umum. Publik Bandung mengelu-elukan sang bintang. Ingin melihat, menonton, berdampingan, dan meniru gaya bermain kalau bisa. Atau minimal memiliki jerseyhasil penggandaan dengan label orisinil.

Rasa penasaran publik Bandung terjawab ketika Essien diturunkan pada pertandingan uji coba. Puncaknya saat Maung Bandung (julukan Persib Bandung) meladeni Bali United dalam laga bertajuk uji coba di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Sabtu (08/04/2017).

Meski hasilnya jauh dari kata memuaskan karena Persib secara mengejutkan kalah 1-2, namun publik Bandung tak lantas kecewa, meninggalkan stadion atau dengan ekspresi lain. Bahkan dalam laga itu diwarnai insiden “memalukan” ketika Essien mengejar Yabes Roni setelah tidak sengaja terkena bola sepakan pemain muda Bali United ini.

Insiden yang menjadi trending topic mewarnai pemberitaan di dalam negeri hingga luar negeri itu, tetap menempatkan Essien seorang bintangnya. Sedangkan Yabes, pemain baru kemarin jadi harus minta maaf atas insiden itu.

Nah, bagaimana kalau Essien gabung dengan Bali United bermain di Bali?

Tentu jawabannya tidak akan terjadi. Pertama karena Bali United tidak menghendaki, kedua mengapa harus mendatangkan pemain berlebel pemain bintang. Ukuran bintang di Bali jauh lebih tinggi dibandingkan di daerah lain. Bintang yang betul ada di langit, bukan bintang jatuh di bumi begitu kira-kira gambarannya.

Di Bali pemain punya nama dan berbintang atau berlebel marquee player (sekadar lebih gampang penyebutan) tidak akan disambut bak bintang. Jangankan dikerumuni, diajak foto bersama pun tidak. Apalagi ada yang teriak-teriak histeris, hingga nekat menerobos petugas keamanan dengan ingin memeluk sang idola. Tidak pernah seperti itu di Bali. “Biasa gen, biasa saja.” Begitu ujaran yang kerap terdengar.

Terbukti beberapa pemain top dunia berseliweran di Pantai Kuta, Ubud dan Bedugul. Mereka santai seperti wisatawan lain seperti tidak ada yang mengenalnya. Misalnya, tiba-tiba gelandang Timnas Jerman Sami Khedira meng-upload fotonya di Bali. Kiper Timnas Jerman Manuel Neuer mengambil gambar dengan background Pura Ulun Danu, Bedugul, Tabanan. Juga kiper muda sensasional Timnas Spanyol yang kini membela klub Manchester United (MU) David De Geadan Edwin Van der Sar (Belanda).

Kalau kita telusuri, tidak kurang 12 pesepak bola top dunia yang pernah menikmati indahnya Bali. Belum lama ini misalnya, legenda MU Ryan Giggs dan Garry Neville kedapatan berada di sebuah hotel di Kuta. Federico Bernardeschi dan Stephan El Shaarawy (Italia), Chris Smalling (Inggris-MU) yang mengalami kecelakaan bermain surfing. Juga mantan pemain MU, Luis Nani (Portugal).

Bahkan bintang David Beckham (Inggris) pernah menikmati indahnya panorama Bali. Cristiano Ronaldo (Real Madrid) dengan segala daya tariknya baik di dalam lapangan maupun di luar lapangan hijau juga pernah menginjakkan kaki dan “bermain” bola di Bali, dua kali. Terakhir mega bintang asal Portugal ini menanam mangrove waktu itu (25/06/2013) pun tidak ada antusias (selain ada udang di balik batu).

Lalu, di level domestik Persegi Bali FC pernah mendatangkan pemain sekaliber Oscar Aravena. Pemain yang dipuja-puja selama membela Persela Lamongan, namun di sini, ya, diterima seperti pemain lainnya. Bali United pun pernah mencoba “membintangkan” Irfan Bachdim. Pemain yang moncer di Liga Jepang dan dielu-elukan saat membela Timnas Indonesia ini akan disambut bak bintang. Mulai dari bandara dibuat dokumentasi dengan cara diintai layaknya realty show.

Namun hasilnya, Bachdim ya Bachdim, bukan siapa-siapa. Ia pemain sepak bola yang akan dielu-elukan, disambut tepuk tangan jika di lapangan bermain bagus. Lebih-lebih mencetak gol sehingga Bali United menang.

Di Bali seakan tidak ada pemain bintang kecuali seorang pemain yang penampilannya jempolan sepanjang pertandingan. Nama tidak akan disematkan kecuali ia bermain perfect punya peran lebih di dalam skuat. Kalau hanya nama bukan skill dan kebutuhan tim, maka jangan harap tujuan meningkatkan kualitas dan pemasaran klub tercapai.

Maka jangan heran jika manajemen Bali United berfikir ulang dan mengulur-ulur akan mendatangkan pemain berstatus Marquee player atau designated player. Bahkan sekarang menunggu kondisi tim dalam beberapa pertandingan Liga I.

Kalau kita telusuri cara pandang masyarakat Bali terhadap orang penting seolah menjadi subkultur tersendiri. Bukan hanya pemain sepak bola ternama yang pernah ke Bali, namun ribuan selebriti, pakar orang istimewa, penerima Nobel, gangster yang berkunjung ke Bali. Para selebriti pribumi dan asing itu datang secara terbuka, jalan-jalan di tempat ramai, mandi dan berjemur di pantai.

Kesempatan mengobrol dengan mereka dan minta tanda tangan sangat terbuka, namun tidak melakukannya. Bagaimana hingar-bingar berita media nasional dan internasional memberitakan shooting Julia Robert dalam proses pembuatan film Eat, Pray, Love, namun tidak berlaku bagi masyarakat di Ubud. Biasa saja. Mereka justru ada yang merasa terganggu karena tidak bisa beraktivitas di pasar. Seolah-olah semua itu sudah sangat biasa, dan tak apa-apa kalau dibiarkan berlalu begitu saja.

Lalu Gde Aryantha Soethama berujar “Maha Penting Bali” dalam bukunya “Menitip Mayat di Bali” (Penerbit Kompas: 2016). Bali sesungguhnya sebuah pulau maha penting, karena saban tahun dikunjungi tokoh-tokoh berwibawa, orang-orang penting, manusia-manusai terkenal dan brilian.

Namun entah kenapa Bali seolah tak pernah punya kepentingan terhadap manusia-manusia penting itu. Bali terasa hanya membutuhkan rupiah dan dolar yang tersimpan di kocek mereka. Tentu tak keliru kalau muncul komentar, Bali telah menyia-nyiakan banyak kesempatan yang diberikan industri pariwisata. (T)

Tags: baliIndonesiaolahragasepakbola
Share18TweetSendShareSend
Previous Post

Kuningan Tradisi Sunda Kuno?

Next Post

“Perang Jempana” atau “Battle of Palanquins”: Cara Bahagia Meluapkan Rasa Terima Kasih

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

“Perang Jempana” atau “Battle of Palanquins”: Cara Bahagia Meluapkan Rasa Terima Kasih

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co