15 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Made Arista Bangah by Made Arista Bangah
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

KITA mulai dengan cerita Lubdaka. Ia adalah pendosa besar. Setiap hari berburu ke tengah hutan. Lubdaka pemburu ulung yang jarang gagal mendapatkan buruan.

Namun, entah kenapa, pada hari itu nasib sial sedang mempermainkannya. Di tengah belantara raya tak seekorpun binatang buruan yang ia dapat. Ia jengah, sehingga langkah kakinya terus diayun ke pedalaman hutan. Hingga jauh ke dalam hutan.

Menjelang petang, ia tak bisa pulang. Hutan begitu gelap.

Di tengah kegelapan malam ia memilih sebuah pohon untuk dijadikan tempat bermalam. Ia naik pohon. Sebagai pemburu berbalik menjadi mangsa binatang buas. Dari atas pohon ia selalu waspada, tanpa sedikitpun mau disandera alam tidur.

Tanpa ia sadari, di bawahnya Siwa sedang samadhi dalam wujud lingga di tengah sebuah kolam. Agar tak diserang kantuk, ia memetik daun. Daun yang ia petik adalah daun bila/bilwa. Satu per satu daun jatuh menimpa ujung lingga.

Keesokan harinya ia pun pulang hanya membawa diri dan peralatan berburu. Ternyata saat itu, dalam catatan Dewa Siwa, Lubdaka dalam kehidupannya tidak alpa melaksanakan Siwalatri, walau ia tidak tahu bahwa hari itu adalah malam Siwa.

Atas apa yang dilakukannya dengan iklas, tanpa disadari, sembari menahan kantuk, lapar dan selalu waspada dalam kegelapan, ketika ajal menjemput, rohnya diselamatkan dari cengkraman api neraka oleh Siwa. Walau ia penuh dosa karena membunuh banyak binatang buruan. Arwahnya pun menikmati nikmat surga sembari dilayani bidadari dan bergelimang kemewahan.

Demikianlah singkat cerita Lubdaka yang menjadi ispirasi bagi masyarakat Hindu di Bali untuk bangkit merayakan dan memaknai Siwalatri.

Apakah cerita Lubdaka yang dijadikan contoh cerita dalam Siwalatri Kalpa hanya berhenti sampai di sana? Bukannya cerita-cerita Hindu penuh kiasan dan mengandung makna yang dalam? Mari kita telisik bersama-sama dalam perenungan diri.

Malam Paling Gelap

Malam paling gelap gulita yang diyakini Umat Hindu yakni panglong ping 14/purwanining tilem sasih kepitu, sehari sebelum bulan mati pada bulan ketujuh dalam putaran tahun Saka. Pada malam itulah Lubdaka bermalam di atas pohon sambil memetik daun bila sebagai penghilang rasa kantuk.

Kini, pada malam tergelap itu, pemuja Siwa di Nusantara memperingati sebagai hari Siwalatri. Saat gelap gulita itulah Dewa Siwa dalam samadhi dipuja dengan keheningan, sembari berintrospeksi diri mendengarkan kidung suci, ada juga dengan laku tanpa ucap, tanpa tidur, tanpa makan dan minum sedikitpun.

Konon barang siapa yang mampu tulus, iklas, tanpa pamer dan tanpa kepura-puraan menjalankannya, setelah ajal menjemput, jiwanya diyakini terbebas dari derita seperti Si Lubdaka yang dikisahkan dalam nasakah Kakawin Siwalatri Kalpa itu.

Siwalatri Kalpa merupakan naskah kakawin yang dikarang orang suci yang lepas dari jerat duniawi, Pengarang itu menamakan diri Tanakung yang hidup pada abad ke-5. Naskah berbahasa Jawa Kuna inilah menjadi pijakan umat Hindu Nusantara untuk tidak alpa melaksanakan Siwalatri setiap tahun.

Perayaan Siwalatri bahwasanya mengandung pijakan dasar perenungan yang dirangkai dalam sebuah kisah yang menarik oleh Mpu Tanakung. Mpu Tanakung mahir menyisipkan ajaran kepada umat manusia supaya tidak lupa merenung dan bercermin dari kisah hidup Lubdaka.

Tampaknya Mpu Tanakung mengamanatkan manusia supaya tidak alpa menggali sedalam-dalamnya makna Siwalatri, kemudian tidak alpa mengimplementasikan dalam kehidupan, lalu apa yang ada dalam Siwalatri Kalpa bukan lagi sebuah cerita dalam jagat antah berantah atau terpasung dalam teks using. Namun terealisasi dalam kehidupan sebagai media memantapkan diri mengenal jati diri, sehingga menjadikan manusia berkesadaran jiwa.

Bukannya manusia sering lupa diri? Lupa makan, minum, dan lain sebagainya jika ia terpasung dalam nikmat duniawi yang ia senangi? Bukankah dunia ini terkadang menjadi candu yang menjerumuskan manusia ketika ia tak sadar akan Siwa dalam diri (Siwatma/jiwa)?

Bukan Penebusan Dosa

Siwalatri Kalpa juga memberikan harapan baru pada manusia untuk selalu mampu lebih baik pada setiap keadaan. Siwalatri sebagai hari penuh berkah untuk merenungkan dosa-dosa pikiran, perkataan dan perbuatan dan bukan sebagai hari menebus dosa, lalu esok harinya berbuat dosa lagi. Atau dapat dikatakan Lubdaka menjadi “Lubdaki” pada dunia kekinian yang berhati penuh daki, iri dan dengki.

Mungkin juga Siwalatri Kalpa menyadarkan manusia supaya tidak alpa diri dalam kegelapan jiwa. Dari kegelapanlah manusia dituntun untuk menengok indahnya dunia terang. Bukannya dari kegelapan indahnya bintang-bintang kelihatan terang-benderang?

Ataukah kita yang hidup dalam dunia gelap telah lupa melihat bintang karena saking asiknya bermain petak umpet dalam kegelapan? Oleh karena itu, dari dunia gelap yang penuh dosa diproyeksikan dalam laku introspeksi diri dalam dunia terang, sehingga mana laku yang kotor dan bersih bisa dipilah dengan bijak.

Ada yang mengatakan Siwalatri adalah hari penebusan dosa, namun dalam ajaran Hindu tidak ada istilah penebusan dosa. Dosa mengalir bersama karma yang selalu mengikuti ke mana pergi. Siwalatri sejatinya dirayakan sebagai momentum manusia untuk sadar akan diri.

Jadi, Siwalatri tak dimaknai hanya satu tahun sekali, namun spirit Siwalatri diamalkan setiap hari, dengan sadar bahwa diri bagian dari Siwa yang di dalam diri kita bersemayam sebagai Siwatman/jiwa. Jadi Siwalatri bukan hari penebusan dosa, namun hari mengenal dosa-dosa untuk kesempurnaan diri ke depan.

Kini Siwalatri dirayakan serentak di sekolah-sekolah, kantor dan oleh masyarakat Bali, namun semuanya lebih tampak seremonial atau hanya menerima cerita Lubdaka sebagai cerita pembebasan dosa. Tapi pemaknaan cerita tersebut masih dangkal dihayati dan diimplementasikan, perayaan yang hanya semarak tampak kurang begitu menyentuh makna, Alpa makna.

Terbukti, banyak di antara muda-mudi dengan alasan Siwalatri keluar malam bersama pacar lalu mojok di tempat remang-remang. Namun apa boleh buat, kini apa yang diamanatkan dalam kolam susu Siwalatri Kalpa kian menyimpang dan terkontaminasi.

Sejatinya Siwalatri Kapla mengajarkan manusia untuk selalu menelisik yang alpa di dunia ini untuk diingat kembali, sehingga kesalahan dan kekeliruan semakin terang benderang, mampu menyadarkan diri dari mimpi-mimpi duniawi yang hedonis dan materialistis. Begitu juga mencari yang “Alpa” dalam artian nihil, kosong namun dimaknai ada. Bukankah puncak ajaran Hindu untuk menyatukan Siwatman dengan Paramasiwa, manunggaling kawula gusti, menyatu dengan Siwa yang Alpa? (T)

Catatan:

Dalam versi lain tulisan ini sudah dimuat di Majalah Wartam.

Baca juga: Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan 

Tags: balihindurenunganSiwaratri
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Penonton Film “Istirahatlah Kata-Kata” di Bali?

Next Post

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan

Made Arista Bangah

Made Arista Bangah

Lahir 07 Maret 1986 di Banjar Bangah, Desa Baturiti, Tabanan. Kini sedang menuntaskan S3 prodi Ilmu Agama dan Kebudayaan di UNHI Denpasar. Ia juga gemar menekuni naskah lontar, mengoleksi buku, melukis, dan menulis.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan" terhadap Intisari Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co