26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Made Arista Bangah by Made Arista Bangah
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

KITA mulai dengan cerita Lubdaka. Ia adalah pendosa besar. Setiap hari berburu ke tengah hutan. Lubdaka pemburu ulung yang jarang gagal mendapatkan buruan.

Namun, entah kenapa, pada hari itu nasib sial sedang mempermainkannya. Di tengah belantara raya tak seekorpun binatang buruan yang ia dapat. Ia jengah, sehingga langkah kakinya terus diayun ke pedalaman hutan. Hingga jauh ke dalam hutan.

Menjelang petang, ia tak bisa pulang. Hutan begitu gelap.

Di tengah kegelapan malam ia memilih sebuah pohon untuk dijadikan tempat bermalam. Ia naik pohon. Sebagai pemburu berbalik menjadi mangsa binatang buas. Dari atas pohon ia selalu waspada, tanpa sedikitpun mau disandera alam tidur.

Tanpa ia sadari, di bawahnya Siwa sedang samadhi dalam wujud lingga di tengah sebuah kolam. Agar tak diserang kantuk, ia memetik daun. Daun yang ia petik adalah daun bila/bilwa. Satu per satu daun jatuh menimpa ujung lingga.

Keesokan harinya ia pun pulang hanya membawa diri dan peralatan berburu. Ternyata saat itu, dalam catatan Dewa Siwa, Lubdaka dalam kehidupannya tidak alpa melaksanakan Siwalatri, walau ia tidak tahu bahwa hari itu adalah malam Siwa.

Atas apa yang dilakukannya dengan iklas, tanpa disadari, sembari menahan kantuk, lapar dan selalu waspada dalam kegelapan, ketika ajal menjemput, rohnya diselamatkan dari cengkraman api neraka oleh Siwa. Walau ia penuh dosa karena membunuh banyak binatang buruan. Arwahnya pun menikmati nikmat surga sembari dilayani bidadari dan bergelimang kemewahan.

Demikianlah singkat cerita Lubdaka yang menjadi ispirasi bagi masyarakat Hindu di Bali untuk bangkit merayakan dan memaknai Siwalatri.

Apakah cerita Lubdaka yang dijadikan contoh cerita dalam Siwalatri Kalpa hanya berhenti sampai di sana? Bukannya cerita-cerita Hindu penuh kiasan dan mengandung makna yang dalam? Mari kita telisik bersama-sama dalam perenungan diri.

Malam Paling Gelap

Malam paling gelap gulita yang diyakini Umat Hindu yakni panglong ping 14/purwanining tilem sasih kepitu, sehari sebelum bulan mati pada bulan ketujuh dalam putaran tahun Saka. Pada malam itulah Lubdaka bermalam di atas pohon sambil memetik daun bila sebagai penghilang rasa kantuk.

Kini, pada malam tergelap itu, pemuja Siwa di Nusantara memperingati sebagai hari Siwalatri. Saat gelap gulita itulah Dewa Siwa dalam samadhi dipuja dengan keheningan, sembari berintrospeksi diri mendengarkan kidung suci, ada juga dengan laku tanpa ucap, tanpa tidur, tanpa makan dan minum sedikitpun.

Konon barang siapa yang mampu tulus, iklas, tanpa pamer dan tanpa kepura-puraan menjalankannya, setelah ajal menjemput, jiwanya diyakini terbebas dari derita seperti Si Lubdaka yang dikisahkan dalam nasakah Kakawin Siwalatri Kalpa itu.

Siwalatri Kalpa merupakan naskah kakawin yang dikarang orang suci yang lepas dari jerat duniawi, Pengarang itu menamakan diri Tanakung yang hidup pada abad ke-5. Naskah berbahasa Jawa Kuna inilah menjadi pijakan umat Hindu Nusantara untuk tidak alpa melaksanakan Siwalatri setiap tahun.

Perayaan Siwalatri bahwasanya mengandung pijakan dasar perenungan yang dirangkai dalam sebuah kisah yang menarik oleh Mpu Tanakung. Mpu Tanakung mahir menyisipkan ajaran kepada umat manusia supaya tidak lupa merenung dan bercermin dari kisah hidup Lubdaka.

Tampaknya Mpu Tanakung mengamanatkan manusia supaya tidak alpa menggali sedalam-dalamnya makna Siwalatri, kemudian tidak alpa mengimplementasikan dalam kehidupan, lalu apa yang ada dalam Siwalatri Kalpa bukan lagi sebuah cerita dalam jagat antah berantah atau terpasung dalam teks using. Namun terealisasi dalam kehidupan sebagai media memantapkan diri mengenal jati diri, sehingga menjadikan manusia berkesadaran jiwa.

Bukannya manusia sering lupa diri? Lupa makan, minum, dan lain sebagainya jika ia terpasung dalam nikmat duniawi yang ia senangi? Bukankah dunia ini terkadang menjadi candu yang menjerumuskan manusia ketika ia tak sadar akan Siwa dalam diri (Siwatma/jiwa)?

Bukan Penebusan Dosa

Siwalatri Kalpa juga memberikan harapan baru pada manusia untuk selalu mampu lebih baik pada setiap keadaan. Siwalatri sebagai hari penuh berkah untuk merenungkan dosa-dosa pikiran, perkataan dan perbuatan dan bukan sebagai hari menebus dosa, lalu esok harinya berbuat dosa lagi. Atau dapat dikatakan Lubdaka menjadi “Lubdaki” pada dunia kekinian yang berhati penuh daki, iri dan dengki.

Mungkin juga Siwalatri Kalpa menyadarkan manusia supaya tidak alpa diri dalam kegelapan jiwa. Dari kegelapanlah manusia dituntun untuk menengok indahnya dunia terang. Bukannya dari kegelapan indahnya bintang-bintang kelihatan terang-benderang?

Ataukah kita yang hidup dalam dunia gelap telah lupa melihat bintang karena saking asiknya bermain petak umpet dalam kegelapan? Oleh karena itu, dari dunia gelap yang penuh dosa diproyeksikan dalam laku introspeksi diri dalam dunia terang, sehingga mana laku yang kotor dan bersih bisa dipilah dengan bijak.

Ada yang mengatakan Siwalatri adalah hari penebusan dosa, namun dalam ajaran Hindu tidak ada istilah penebusan dosa. Dosa mengalir bersama karma yang selalu mengikuti ke mana pergi. Siwalatri sejatinya dirayakan sebagai momentum manusia untuk sadar akan diri.

Jadi, Siwalatri tak dimaknai hanya satu tahun sekali, namun spirit Siwalatri diamalkan setiap hari, dengan sadar bahwa diri bagian dari Siwa yang di dalam diri kita bersemayam sebagai Siwatman/jiwa. Jadi Siwalatri bukan hari penebusan dosa, namun hari mengenal dosa-dosa untuk kesempurnaan diri ke depan.

Kini Siwalatri dirayakan serentak di sekolah-sekolah, kantor dan oleh masyarakat Bali, namun semuanya lebih tampak seremonial atau hanya menerima cerita Lubdaka sebagai cerita pembebasan dosa. Tapi pemaknaan cerita tersebut masih dangkal dihayati dan diimplementasikan, perayaan yang hanya semarak tampak kurang begitu menyentuh makna, Alpa makna.

Terbukti, banyak di antara muda-mudi dengan alasan Siwalatri keluar malam bersama pacar lalu mojok di tempat remang-remang. Namun apa boleh buat, kini apa yang diamanatkan dalam kolam susu Siwalatri Kalpa kian menyimpang dan terkontaminasi.

Sejatinya Siwalatri Kapla mengajarkan manusia untuk selalu menelisik yang alpa di dunia ini untuk diingat kembali, sehingga kesalahan dan kekeliruan semakin terang benderang, mampu menyadarkan diri dari mimpi-mimpi duniawi yang hedonis dan materialistis. Begitu juga mencari yang “Alpa” dalam artian nihil, kosong namun dimaknai ada. Bukankah puncak ajaran Hindu untuk menyatukan Siwatman dengan Paramasiwa, manunggaling kawula gusti, menyatu dengan Siwa yang Alpa? (T)

Catatan:

Dalam versi lain tulisan ini sudah dimuat di Majalah Wartam.

Baca juga: Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan 

Tags: balihindurenunganSiwaratri
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Penonton Film “Istirahatlah Kata-Kata” di Bali?

Next Post

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan

Made Arista Bangah

Made Arista Bangah

Lahir 07 Maret 1986 di Banjar Bangah, Desa Baturiti, Tabanan. Kini sedang menuntaskan S3 prodi Ilmu Agama dan Kebudayaan di UNHI Denpasar. Ia juga gemar menekuni naskah lontar, mengoleksi buku, melukis, dan menulis.

Related Posts

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails

Larangan Alih Fungsi Sawah: Tegas di Atas Kertas, Longgar di Lapangan?

by I Made Pria Dharsana
August 12, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PEMERINTAH sedang berada di persimpangan yang tidak sederhana. Pembangunan tanpa merusak alam. Di satu sisi, negara harus menjaga lahan sawah...

Read moreDetails

BENEFICIAL OWNERSHIP (BO) ——Ketika Perseroan Menjadi Topeng Kepemilikan

by I Made Pria Dharsana
August 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

"Di atas kertas, pemegang saham dapat berganti. Namun kendali sesungguhnya sering kali tetap berada di tangan orang yang tidak pernah...

Read moreDetails

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails
Next Post

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan" terhadap Intisari Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [6]: Algoritma sebagai Kurator yang Tak Pernah Membaca

ADA satu paradoks yang jarang diucapkan dalam diskusi tentang ekosistem sastra digital, bahwa kurator terbesar sastra Indonesia hari ini adalah...

by Andre Syahreza
August 24, 2026
105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih
Ekonomi

105 UMKM Lokal Raup Untung, Perputaran Ekonomi Buleleng Festival 2026 Tembus Rp3,091 Miliar  —— Bupati Sutjidra Ucapkan Terima Kasih

PELAKSANAAN Buleleng Festival 2026 resmi ditutup Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra didampingi Wakil Bupati Gede Supriatna dari Panggung Utama Kawasan...

by tatkala
August 24, 2026
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas
Opini

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co