6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Made Arista Bangah by Made Arista Bangah
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

KITA mulai dengan cerita Lubdaka. Ia adalah pendosa besar. Setiap hari berburu ke tengah hutan. Lubdaka pemburu ulung yang jarang gagal mendapatkan buruan.

Namun, entah kenapa, pada hari itu nasib sial sedang mempermainkannya. Di tengah belantara raya tak seekorpun binatang buruan yang ia dapat. Ia jengah, sehingga langkah kakinya terus diayun ke pedalaman hutan. Hingga jauh ke dalam hutan.

Menjelang petang, ia tak bisa pulang. Hutan begitu gelap.

Di tengah kegelapan malam ia memilih sebuah pohon untuk dijadikan tempat bermalam. Ia naik pohon. Sebagai pemburu berbalik menjadi mangsa binatang buas. Dari atas pohon ia selalu waspada, tanpa sedikitpun mau disandera alam tidur.

Tanpa ia sadari, di bawahnya Siwa sedang samadhi dalam wujud lingga di tengah sebuah kolam. Agar tak diserang kantuk, ia memetik daun. Daun yang ia petik adalah daun bila/bilwa. Satu per satu daun jatuh menimpa ujung lingga.

Keesokan harinya ia pun pulang hanya membawa diri dan peralatan berburu. Ternyata saat itu, dalam catatan Dewa Siwa, Lubdaka dalam kehidupannya tidak alpa melaksanakan Siwalatri, walau ia tidak tahu bahwa hari itu adalah malam Siwa.

Atas apa yang dilakukannya dengan iklas, tanpa disadari, sembari menahan kantuk, lapar dan selalu waspada dalam kegelapan, ketika ajal menjemput, rohnya diselamatkan dari cengkraman api neraka oleh Siwa. Walau ia penuh dosa karena membunuh banyak binatang buruan. Arwahnya pun menikmati nikmat surga sembari dilayani bidadari dan bergelimang kemewahan.

Demikianlah singkat cerita Lubdaka yang menjadi ispirasi bagi masyarakat Hindu di Bali untuk bangkit merayakan dan memaknai Siwalatri.

Apakah cerita Lubdaka yang dijadikan contoh cerita dalam Siwalatri Kalpa hanya berhenti sampai di sana? Bukannya cerita-cerita Hindu penuh kiasan dan mengandung makna yang dalam? Mari kita telisik bersama-sama dalam perenungan diri.

Malam Paling Gelap

Malam paling gelap gulita yang diyakini Umat Hindu yakni panglong ping 14/purwanining tilem sasih kepitu, sehari sebelum bulan mati pada bulan ketujuh dalam putaran tahun Saka. Pada malam itulah Lubdaka bermalam di atas pohon sambil memetik daun bila sebagai penghilang rasa kantuk.

Kini, pada malam tergelap itu, pemuja Siwa di Nusantara memperingati sebagai hari Siwalatri. Saat gelap gulita itulah Dewa Siwa dalam samadhi dipuja dengan keheningan, sembari berintrospeksi diri mendengarkan kidung suci, ada juga dengan laku tanpa ucap, tanpa tidur, tanpa makan dan minum sedikitpun.

Konon barang siapa yang mampu tulus, iklas, tanpa pamer dan tanpa kepura-puraan menjalankannya, setelah ajal menjemput, jiwanya diyakini terbebas dari derita seperti Si Lubdaka yang dikisahkan dalam nasakah Kakawin Siwalatri Kalpa itu.

Siwalatri Kalpa merupakan naskah kakawin yang dikarang orang suci yang lepas dari jerat duniawi, Pengarang itu menamakan diri Tanakung yang hidup pada abad ke-5. Naskah berbahasa Jawa Kuna inilah menjadi pijakan umat Hindu Nusantara untuk tidak alpa melaksanakan Siwalatri setiap tahun.

Perayaan Siwalatri bahwasanya mengandung pijakan dasar perenungan yang dirangkai dalam sebuah kisah yang menarik oleh Mpu Tanakung. Mpu Tanakung mahir menyisipkan ajaran kepada umat manusia supaya tidak lupa merenung dan bercermin dari kisah hidup Lubdaka.

Tampaknya Mpu Tanakung mengamanatkan manusia supaya tidak alpa menggali sedalam-dalamnya makna Siwalatri, kemudian tidak alpa mengimplementasikan dalam kehidupan, lalu apa yang ada dalam Siwalatri Kalpa bukan lagi sebuah cerita dalam jagat antah berantah atau terpasung dalam teks using. Namun terealisasi dalam kehidupan sebagai media memantapkan diri mengenal jati diri, sehingga menjadikan manusia berkesadaran jiwa.

Bukannya manusia sering lupa diri? Lupa makan, minum, dan lain sebagainya jika ia terpasung dalam nikmat duniawi yang ia senangi? Bukankah dunia ini terkadang menjadi candu yang menjerumuskan manusia ketika ia tak sadar akan Siwa dalam diri (Siwatma/jiwa)?

Bukan Penebusan Dosa

Siwalatri Kalpa juga memberikan harapan baru pada manusia untuk selalu mampu lebih baik pada setiap keadaan. Siwalatri sebagai hari penuh berkah untuk merenungkan dosa-dosa pikiran, perkataan dan perbuatan dan bukan sebagai hari menebus dosa, lalu esok harinya berbuat dosa lagi. Atau dapat dikatakan Lubdaka menjadi “Lubdaki” pada dunia kekinian yang berhati penuh daki, iri dan dengki.

Mungkin juga Siwalatri Kalpa menyadarkan manusia supaya tidak alpa diri dalam kegelapan jiwa. Dari kegelapanlah manusia dituntun untuk menengok indahnya dunia terang. Bukannya dari kegelapan indahnya bintang-bintang kelihatan terang-benderang?

Ataukah kita yang hidup dalam dunia gelap telah lupa melihat bintang karena saking asiknya bermain petak umpet dalam kegelapan? Oleh karena itu, dari dunia gelap yang penuh dosa diproyeksikan dalam laku introspeksi diri dalam dunia terang, sehingga mana laku yang kotor dan bersih bisa dipilah dengan bijak.

Ada yang mengatakan Siwalatri adalah hari penebusan dosa, namun dalam ajaran Hindu tidak ada istilah penebusan dosa. Dosa mengalir bersama karma yang selalu mengikuti ke mana pergi. Siwalatri sejatinya dirayakan sebagai momentum manusia untuk sadar akan diri.

Jadi, Siwalatri tak dimaknai hanya satu tahun sekali, namun spirit Siwalatri diamalkan setiap hari, dengan sadar bahwa diri bagian dari Siwa yang di dalam diri kita bersemayam sebagai Siwatman/jiwa. Jadi Siwalatri bukan hari penebusan dosa, namun hari mengenal dosa-dosa untuk kesempurnaan diri ke depan.

Kini Siwalatri dirayakan serentak di sekolah-sekolah, kantor dan oleh masyarakat Bali, namun semuanya lebih tampak seremonial atau hanya menerima cerita Lubdaka sebagai cerita pembebasan dosa. Tapi pemaknaan cerita tersebut masih dangkal dihayati dan diimplementasikan, perayaan yang hanya semarak tampak kurang begitu menyentuh makna, Alpa makna.

Terbukti, banyak di antara muda-mudi dengan alasan Siwalatri keluar malam bersama pacar lalu mojok di tempat remang-remang. Namun apa boleh buat, kini apa yang diamanatkan dalam kolam susu Siwalatri Kalpa kian menyimpang dan terkontaminasi.

Sejatinya Siwalatri Kapla mengajarkan manusia untuk selalu menelisik yang alpa di dunia ini untuk diingat kembali, sehingga kesalahan dan kekeliruan semakin terang benderang, mampu menyadarkan diri dari mimpi-mimpi duniawi yang hedonis dan materialistis. Begitu juga mencari yang “Alpa” dalam artian nihil, kosong namun dimaknai ada. Bukankah puncak ajaran Hindu untuk menyatukan Siwatman dengan Paramasiwa, manunggaling kawula gusti, menyatu dengan Siwa yang Alpa? (T)

Catatan:

Dalam versi lain tulisan ini sudah dimuat di Majalah Wartam.

Baca juga: Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan 

Tags: balihindurenunganSiwaratri
Share73TweetSendShareSend
Previous Post

Siapa Penonton Film “Istirahatlah Kata-Kata” di Bali?

Next Post

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan

Made Arista Bangah

Made Arista Bangah

Lahir 07 Maret 1986 di Banjar Bangah, Desa Baturiti, Tabanan. Kini sedang menuntaskan S3 prodi Ilmu Agama dan Kebudayaan di UNHI Denpasar. Ia juga gemar menekuni naskah lontar, mengoleksi buku, melukis, dan menulis.

Related Posts

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails
Next Post

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan" terhadap Intisari Pengetahuan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co