13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

SEBAGAI seorang pemburu sato (binatang), suatu hari Lubdaka kembali hendak berburu ke tengah hutan. Ia berangkat menuju arah  kaja kangin (timur laut) dengan berpakaian pelung (biru). Setelah lama berjalan memasuki hutan, tak terasa Lubdaka sudah tiba di alas angker (hutan yang sangat lebat penuh dengan ancaman binatang buas).

Di alas angker Lubdaka terus melangkah menerobos hutan karena hari itu satu pun binatang belum Ia peroleh.  Tak terasa hari semakin malam, Lubdaka kemalaman di tegah alas angker dan tidak mungkin kembali pulang, di samping berbahaya malam itu benar-benar malam tergelap karena menjelang Tilem Kepitu.

Di tegah hutan yang lebat dan gelap, menghindari serangan binatang buas, malam itu Lubdaka beristirahat di atas pohon bila. Semalam suntuk Lubdaka tidak tidur, tangannya memetik daun bila menunggu terbitnya mentari esok hari.

Begitulah kisah perjalanan Lubdaka yang dijadikan renungan saat malam Siwaratri. Lubdaka sebagai seorang pemburu sato (binatang) bisa dimaknai sebagai  orang yeng tekun belajar dan menimba ilmu suci (tattwa).

Dalam menuntut ilmu, Lubdaka selalu lakukan dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan lahir dan batin (Satwika) yang disimbulkan dengan baju pelung (baju warna biru/Simbul pengetahuan).  Lubdaka mencari pengetahuan suci ke arah kaja kangin yang di Bali diyakini sebagai “hulu” spirit keyakinan. “Kaja” adalah simbul gunung dan “kangin” adalah simbul matahari. Makna “hulu” di sini bisa bermakna “guru”, yaitu sumber pengetahuan suci.

Perburuan pengetahuan terus dilakukan oleh Lubdaka karena Ia merasa belum pemperoleh intisari pengetahuan suci (tattwa) yang dalam kisah di atas disimbulkan bahwa perburuan Lubdaka pada hari itu tidak memperoleh satu pun sato (binatang). Bagi Lubdaka menuntut ilmu suci adalah sebuah kewajiban yang harus Ia lakukan karena sedang berada dalam “kegelapan” (awidaya), tidak paham di mana, dari mana dan ke mana seharusnya kewajiban hidup ini  Ia jalani.

Kegelapan dalam kisah ini digambarkan dengan suasana hutan yang sangat gelap karena hari itu adalah Tilem Kapitu.

Dalam kegelapan, ancaman hidup bisa datang dari berbagai penjuru sehingga Ia tidak boleh lalai, selalu sadar, eling dan waspada dengan berbagai kemungkinan. Hal itu disimbulkan saat di atas pohon bila, Lubdaka tidak tidur alias “selalu sadar”, kalau tidak dalam keadaan sadar Lubdaka  pasti jatuh ke tanah dan dimangsa oleh binatang buas.

Agar bisa selalu sadar (tidak tidur), Lubdaka tak henti-hentinya memetik dan menghitung daun bila secara berlahan-lahan. Memetik daun bila di alas angker di wilayah kaja kangin merupakan simbul bahwa dalam menuntut pengetahuan suci (tattwa) harus dilakukan secara sadar, sabar, bertahap, hati-hati, cermat dan tentunya harus memperoleh tuntunan dari “Guru Suci” (Bhatara Guru).

Menuntut ilmu tanpa tuntunan Guru Suci, bisa-bisa proses belajar akan berjalan lama atau ilmu yang kita pelajari salah arah, bisa-bisa pengetahuan yang kita peroleh tidak akan kita gunakan untuk hal-hal yang benar dan bermanfaat, tetapi ilmu pengetahuan itu malah kita gunakan untuk mecelakakan orang/makhluk lain (aji wegig) atau gerakan-gerakan merusak atau gerakan radikal lainnya.

Malam itu (Tilem Kapitu), Lubdaka terus jalani waktu, tak terasa matahari  pun terbit di ufuk timur. Hutan yang angat gelap akhirnya berlahan terang. Sama seperti pepatah “habis gelap terbitlah terang”.   Hal ini merupakan simbul bahwa pengetahuan cuci merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menjalani hidup yang penuh kegelapan, godaan maupun ancaman, baik dalam bentuk nyata maupun yang tak kelihatan (maya).

Lubdaka menyadari mempelajari dan meyakini pengetahuan suci maka hidup mejadi lebih berguna. Setidaknya ada delapan kegunaan (Asta Guna) yang bisa diraihnya yaitu :

  1. Kemampuan menganalisa masa yang akan datang (Dura Darsana) yaitu: kemampuan memprediksi keadaan yang akan datang dengan menganalisa keadaan masa lalu dan masa kini secara cermat dan penuh kepekaan.
  2. Kemampuan mendengar dari jarak jauh (Dura Srawana), yaitu : memiliki akses informasi yang luas atau jaringan informasi yang luas.
  3. Kemahatahuan (Dura Sarwajnya), yaitu: memiliki pengetahuan luas di segala bidang.
  4. Kemampuan untuk tetap terjaga/tidak tidur (Asasancara), yaitu: selalu ada dalam keadaan sadar, hati-hati, cermat dan waspada dengan berbagai kemungkinan adanya godaaan dan ancaman.
  5. Kemampuan untuk tidak terlihat (Adrsya), yaitu : memiliki kearifan dalam berkarya atau mampu memasuksi segala segmen kehidupan tanpa menimbulkan kontroversi atau pertentangan dan memiliki kemampuan intelejen.
  6. Kemampuan untuk bergerak di angkasa (Ambara Marga), yaitu : memiliki akses pergaulan yang luas atau segmentasi berkarya yang luas.
  7. Kemampuan melihat jarak yang jauh (Dura Drsti), yaitu : kemampun mendapat/memperoleh informasi secara visual yang luas.
  8. Kemampuan menyampaikan sesuatu dari arah yang berbeda (Awakaromaya), yaitu; kemampuan untuk menginformasikan pengetahuan di segala segmen kehidupan. Hal ini penting untuk memperbaiki yang salah, melengkapi yang kurang, dan mencukupkan yang berlebih.

Demikianlah di malam Siwaratri, Lubdaka benar-benar berada dalam pucak kesadaran akan inti sari pengetahuan suci. Tanpa pernah Ia sadari pada malam yang sama bertepatan pula dengan malam “Maha Yoga Bhatara Siwa”, yaitu Yoga Bhatara Siwa  yang teramat istimewa untuk memohon keselamatan jagat raya.

Jadi makna “peleburan dosa” pada malam Siwararti sesungguhnya bukan berarti malam “penghapusan dosa” tetapi malam Siwararti adalah malam “puncak kesadaran” terhadap intisari pengetahuan suci (tattwa atau Weda).

Demikian pula malam Siwaratri bukanlah “akhir” dari peroses pembelajaran/pencarian intisari pengetahuan suci, tetapi sebaliknya malam Siwaratri adalah “awal” dari pelaksanaan inti sari pengetahuan suci tersebut.

“Sama halnya saat hari kenaikan kelas, jika kita naik kelas dari kelas 1 (satu) ke kelas 2 (dua), sama artinya kita sedang berada di “titik kesadaran” di akhir kelas 1 (satu) sekaligus berada di “titik kesadaran” awal kelas 2 (dua)”.

Demikianlah dengan mempelajari kisah Lubdaka, mudah-mudahan kita bisa memperoleh gambaran bahwa dalam kehidupan ini kita harus sabar, tekun dan penuh kebijaksanaan belajar pengetahuan suci melalui tuntunan guru suci, sehingga hidup kita bisa berguna bagi orang lain. Terlebih lagi bagi seorang pemimpin tanpa dilandasi oleh pemahaman dan kesadaran pengetahuan suci, pasti akan sulit atau mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

Tentunya puncak kesadaran itu tidak harus dicari saat malam Siwaratri saja, tetapi dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup. (T)

Kamis, 26 Jan 2017

Baca juga: Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Tags: balihinduPendidikanrenunganSiwaratri
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Next Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails

Reforma Agraria : Ketika Rakyat Hanya Memegang HGB di Atas HPL Bank Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 3, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

REFORMA Agraria merupakan salah satu agenda konstitusional yang lahir dari cita-cita besar para pendiri bangsa untuk mewujudkan keadilan sosial di...

Read moreDetails

Rekonstruksi Hak Waris dalam Perkawinan Beda Agama: Perspektif Hukum Keluarga dan Agraria

by I Made Pria Dharsana
May 27, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

HUKUM seringkali berbicara dalam bahasa kepastian, tetapi realitas sosial tidak selalu berjalan dalam garis yang sama. Perkawinan beda agama menjadi...

Read moreDetails

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

Read moreDetails

Cinta, Hibah, dan Tanah:  Antara Ketulusan dan Batas yang Tak Bisa Ditembus

by I Made Pria Dharsana
May 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

CINTA kerap mendorong seseorang untuk memberi tanpa syarat.  Dalam relasi suami-istri, pemberian itu bahkan sering dimaknai sebagai bentuk ketulusan paling tinggi—termasuk...

Read moreDetails
Next Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co