2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Siwaratri: Puncak Kesadaran “Pemburu Pengetahuan” terhadap Intisari Pengetahuan

Made Nurbawa by Made Nurbawa
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

SEBAGAI seorang pemburu sato (binatang), suatu hari Lubdaka kembali hendak berburu ke tengah hutan. Ia berangkat menuju arah  kaja kangin (timur laut) dengan berpakaian pelung (biru). Setelah lama berjalan memasuki hutan, tak terasa Lubdaka sudah tiba di alas angker (hutan yang sangat lebat penuh dengan ancaman binatang buas).

Di alas angker Lubdaka terus melangkah menerobos hutan karena hari itu satu pun binatang belum Ia peroleh.  Tak terasa hari semakin malam, Lubdaka kemalaman di tegah alas angker dan tidak mungkin kembali pulang, di samping berbahaya malam itu benar-benar malam tergelap karena menjelang Tilem Kepitu.

Di tegah hutan yang lebat dan gelap, menghindari serangan binatang buas, malam itu Lubdaka beristirahat di atas pohon bila. Semalam suntuk Lubdaka tidak tidur, tangannya memetik daun bila menunggu terbitnya mentari esok hari.

Begitulah kisah perjalanan Lubdaka yang dijadikan renungan saat malam Siwaratri. Lubdaka sebagai seorang pemburu sato (binatang) bisa dimaknai sebagai  orang yeng tekun belajar dan menimba ilmu suci (tattwa).

Dalam menuntut ilmu, Lubdaka selalu lakukan dengan penuh kesadaran dan kebijaksanaan lahir dan batin (Satwika) yang disimbulkan dengan baju pelung (baju warna biru/Simbul pengetahuan).  Lubdaka mencari pengetahuan suci ke arah kaja kangin yang di Bali diyakini sebagai “hulu” spirit keyakinan. “Kaja” adalah simbul gunung dan “kangin” adalah simbul matahari. Makna “hulu” di sini bisa bermakna “guru”, yaitu sumber pengetahuan suci.

Perburuan pengetahuan terus dilakukan oleh Lubdaka karena Ia merasa belum pemperoleh intisari pengetahuan suci (tattwa) yang dalam kisah di atas disimbulkan bahwa perburuan Lubdaka pada hari itu tidak memperoleh satu pun sato (binatang). Bagi Lubdaka menuntut ilmu suci adalah sebuah kewajiban yang harus Ia lakukan karena sedang berada dalam “kegelapan” (awidaya), tidak paham di mana, dari mana dan ke mana seharusnya kewajiban hidup ini  Ia jalani.

Kegelapan dalam kisah ini digambarkan dengan suasana hutan yang sangat gelap karena hari itu adalah Tilem Kapitu.

Dalam kegelapan, ancaman hidup bisa datang dari berbagai penjuru sehingga Ia tidak boleh lalai, selalu sadar, eling dan waspada dengan berbagai kemungkinan. Hal itu disimbulkan saat di atas pohon bila, Lubdaka tidak tidur alias “selalu sadar”, kalau tidak dalam keadaan sadar Lubdaka  pasti jatuh ke tanah dan dimangsa oleh binatang buas.

Agar bisa selalu sadar (tidak tidur), Lubdaka tak henti-hentinya memetik dan menghitung daun bila secara berlahan-lahan. Memetik daun bila di alas angker di wilayah kaja kangin merupakan simbul bahwa dalam menuntut pengetahuan suci (tattwa) harus dilakukan secara sadar, sabar, bertahap, hati-hati, cermat dan tentunya harus memperoleh tuntunan dari “Guru Suci” (Bhatara Guru).

Menuntut ilmu tanpa tuntunan Guru Suci, bisa-bisa proses belajar akan berjalan lama atau ilmu yang kita pelajari salah arah, bisa-bisa pengetahuan yang kita peroleh tidak akan kita gunakan untuk hal-hal yang benar dan bermanfaat, tetapi ilmu pengetahuan itu malah kita gunakan untuk mecelakakan orang/makhluk lain (aji wegig) atau gerakan-gerakan merusak atau gerakan radikal lainnya.

Malam itu (Tilem Kapitu), Lubdaka terus jalani waktu, tak terasa matahari  pun terbit di ufuk timur. Hutan yang angat gelap akhirnya berlahan terang. Sama seperti pepatah “habis gelap terbitlah terang”.   Hal ini merupakan simbul bahwa pengetahuan cuci merupakan sesuatu yang sangat penting dalam menjalani hidup yang penuh kegelapan, godaan maupun ancaman, baik dalam bentuk nyata maupun yang tak kelihatan (maya).

Lubdaka menyadari mempelajari dan meyakini pengetahuan suci maka hidup mejadi lebih berguna. Setidaknya ada delapan kegunaan (Asta Guna) yang bisa diraihnya yaitu :

  1. Kemampuan menganalisa masa yang akan datang (Dura Darsana) yaitu: kemampuan memprediksi keadaan yang akan datang dengan menganalisa keadaan masa lalu dan masa kini secara cermat dan penuh kepekaan.
  2. Kemampuan mendengar dari jarak jauh (Dura Srawana), yaitu : memiliki akses informasi yang luas atau jaringan informasi yang luas.
  3. Kemahatahuan (Dura Sarwajnya), yaitu: memiliki pengetahuan luas di segala bidang.
  4. Kemampuan untuk tetap terjaga/tidak tidur (Asasancara), yaitu: selalu ada dalam keadaan sadar, hati-hati, cermat dan waspada dengan berbagai kemungkinan adanya godaaan dan ancaman.
  5. Kemampuan untuk tidak terlihat (Adrsya), yaitu : memiliki kearifan dalam berkarya atau mampu memasuksi segala segmen kehidupan tanpa menimbulkan kontroversi atau pertentangan dan memiliki kemampuan intelejen.
  6. Kemampuan untuk bergerak di angkasa (Ambara Marga), yaitu : memiliki akses pergaulan yang luas atau segmentasi berkarya yang luas.
  7. Kemampuan melihat jarak yang jauh (Dura Drsti), yaitu : kemampun mendapat/memperoleh informasi secara visual yang luas.
  8. Kemampuan menyampaikan sesuatu dari arah yang berbeda (Awakaromaya), yaitu; kemampuan untuk menginformasikan pengetahuan di segala segmen kehidupan. Hal ini penting untuk memperbaiki yang salah, melengkapi yang kurang, dan mencukupkan yang berlebih.

Demikianlah di malam Siwaratri, Lubdaka benar-benar berada dalam pucak kesadaran akan inti sari pengetahuan suci. Tanpa pernah Ia sadari pada malam yang sama bertepatan pula dengan malam “Maha Yoga Bhatara Siwa”, yaitu Yoga Bhatara Siwa  yang teramat istimewa untuk memohon keselamatan jagat raya.

Jadi makna “peleburan dosa” pada malam Siwararti sesungguhnya bukan berarti malam “penghapusan dosa” tetapi malam Siwararti adalah malam “puncak kesadaran” terhadap intisari pengetahuan suci (tattwa atau Weda).

Demikian pula malam Siwaratri bukanlah “akhir” dari peroses pembelajaran/pencarian intisari pengetahuan suci, tetapi sebaliknya malam Siwaratri adalah “awal” dari pelaksanaan inti sari pengetahuan suci tersebut.

“Sama halnya saat hari kenaikan kelas, jika kita naik kelas dari kelas 1 (satu) ke kelas 2 (dua), sama artinya kita sedang berada di “titik kesadaran” di akhir kelas 1 (satu) sekaligus berada di “titik kesadaran” awal kelas 2 (dua)”.

Demikianlah dengan mempelajari kisah Lubdaka, mudah-mudahan kita bisa memperoleh gambaran bahwa dalam kehidupan ini kita harus sabar, tekun dan penuh kebijaksanaan belajar pengetahuan suci melalui tuntunan guru suci, sehingga hidup kita bisa berguna bagi orang lain. Terlebih lagi bagi seorang pemimpin tanpa dilandasi oleh pemahaman dan kesadaran pengetahuan suci, pasti akan sulit atau mengalami kesulitan dalam menjalankan tugas dan kewajibannya.

Tentunya puncak kesadaran itu tidak harus dicari saat malam Siwaratri saja, tetapi dilakukan secara terus menerus sepanjang hidup. (T)

Kamis, 26 Jan 2017

Baca juga: Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Tags: balihinduPendidikanrenunganSiwaratri
Share52TweetSendShareSend
Previous Post

Siwalatri: Bukan Penebusan Dosa, tapi Merenungkan Dosa Pikiran, Kata dan Perbuatan

Next Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Made Nurbawa

Made Nurbawa

Tinggal di Tabanan dan punya kecintaan yang besar terhadap tetek-bengek budaya pertanian. Tulisan-tulisannya bisa dilihat di madenurbawa.com

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Di Bali, Imlek juga Disebut Galungan Cina

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co