24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepakan Panenka ala Koster – Sub-Praktik Komunikasi Politik di Arena Sepakbola

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Antonin Panenka saat menendang bola penalti pada final Piala Eropa 1976. #Sumber foto internet

SERGIO Ramos mencetak gol kedua bagi timnya pada laga Sevilla vs Real Madrid di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla, Spanyol pada Jumat (13/01/2016). Istimewanya lagi, sang kapten El Real (sebutan Real Madrid) ini menceploskan bola ke gawang Sevilla dengan penalti panenka.

Banyak kiper yang merasakan pahitnya terkecoh tendangan penalti panenka ini. Ingat, bagaimana malunya Kiper Inggris, Joe Hart, terkecoh tendangan ala panenka gelandang Italia, Andrea Pirlo di Piala Eropa 2012. Selain Ramos dan Pirlo, ada nama-nama beken yang berhasil menciptakan gol dengan trik panenka ini. Seperti Zinedine Zidane, Francesco Totti, dan Zlatan Ibrahimovic.

Tendangan panenka ciptaan Antonin Panenka ini begitu melegenda. Trik menendang ini terkenal setelah Panenka berhasil mengecoh kiper tangguh Jerman Barat, Sepp Maier, pada final Piala Eropa 1976. Waktu itu, ia menjadi penendang penentu pada babak adu penalti. Ia berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna dan trofi Euro 1976 titel bergengsi menjadi milik Republik Ceko.

Sepakan Panenka seperti trik tendangan yang mengelabui kiper. Seorang kiper berpikir pemain akan menendang ke satu sisi atau yang lainnya, namun bola ditendang  melambung di posisi tengah gawang. Terkesan menipu, namun penendang butuh latihan keras, konsentrasi, akurasi, dan kepercayaan tinggi.

Nah, bagaimana kalau yang menendang panenka seorang I Wayan Koster ? Ya, politisi asal Buleleng yang sekarang duduk di kursi Anggota DPR RI. Ia juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, dan yang terbaru, ia mendeklarasikan jadi calon gubernur (Cagub) Bali untuk Pemilihan Gubernur atau Pilgub Bali 2018 nanti.

Apa hubungan Koster dan sepakbola, lebih-lebih apa hubungannya dengan sepakan panenka?

Koster dan dunia sepak bola memang tak terdengar hingar-bingarnya. Namun, jangan salah Koster pernah memakai kaus berkerah, berwarna merah, dan berlogo Bali United layaknya Semeton Dewata (suporter Bali United). Bahkan ia datang langsung di Stadion I Wayan Kapten Dipta, Gianyar pada Sabtu (03/09/2016).  Ia tampak di tribun VVIP melihat laga big match antara Bali United menjamu Persipura Jayapura pada ISC A 2016. Pertandingan itu disaksikan 13.127 penonton.

Kenapa Koster datang ke stadion? Urusan apa Koster datang menonton Bali United? Orang pasti mengira Koster bukan hanya menonton bola, tetapi tebar pesona. Banyak spekulasi seperti itu, ditambah viral media memberitakan figur Cagub menonton sepak bola  di Stadion Dipta.  Benarkah? Tunggu, tunggu. Mari kita telusuri.

Memang ada yang menyebutkan sepak bola Indonesia tak terlepas dari 3D (Dengklik-Duit-Dukun). Dengklik bisa berarti kekuasaan (politik), duit bermakna uang atau dana, dan dukun berarti ada para ahli atau paranormal. Soal dengklik, sepak bola Indonesia memang tak bisa lepas dari praktik politik.

Soekarno presiden Indonesia pertama sangat dekat dengan sepak bola. Sejarawan JJ Rizal menulis, Bung Karno yakin betul sepak bola adalah olahraga yang sangat digemari dan melibatkan banyak massa. Bung Karno sudah gunakan sepak bola sebagai alat sejak era pergerakan nasional. Bung Karno juga menjadikan sepak bola menjadi bagian media komunikasi untuk kampanye. Seperti pada 1956, Bung Karno dan PSSI tur ke beberapa negara di Eropa Timur dan Jerman dengan kampanye visi persatuan dunia.

Presiden Jokowi pun melakukan hal yang kurang lebih serupa. Ia menunjukkan dukungan pada timnas Indonesia pada Piala AFF 2016 dengan menonton pertandingannya. Meski misalnya nonton lewat streaming di laptop, namun yang penting beritanya jadi viral di media sosial.

Lebih jauh dan detail tentang sepak bola dan politik ditulis Prof Tjipta Lesmana. Ia begitu gamblang menyebut sepak bola dan politik terdapat banyak persamaan. Sepak bola dan politik sama-sama mengejar sesuatu yang dianggap memiliki nilai tinggi, bahkan nilai tertinggi dalam kehidupan manusia: supreme good, – istilah yang dipakai Aristoteles dikutip Durant. Keduanya sama-sama ingin menggapai kebahagiaan (happiness). Juga sama-sama sebuah pertarungan, sebuah laga, game untuk memperebutkan suatu yang memiliki nilai instrinsik tinggi.

Keduanya bertemu sehingga terjadi komunikasi. Secara sederhana komunikasi sepak bola diartikan bentuk komunikasi secara langsung dan tidak langsung yang terjadi antara semua pihak yang terkait dengan permainan sepak bola, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Di dalam stadion jelas terjadi proses komunikasi langsung yang tidak banyak berbeda dengan proses komunikasi politik.

Identifikasi unsur komunikasi begitu banyak komunikator. Antara lain pemain, penonton, pelatih, manajer, wasit, pemerintah, dan asosiasi yang bisa disebut interactants. Mereka terlibat komunikasi antara satu sama lain baik selama pertandingan berlangsung dan bahkan di luar stadion masih berlangsung usai pertandingan, termasuk antarpenonton.

Khusus komunikasi antarpenonton sangat menggiurkan. Laga antara Bali United lawan Persipura itu disaksikan 13.127 penonton. Maka kalau dihitung secara bisnis uang yang masuk penjulaan tiket saja sudah cukup banyak. Nah, dihitung secara politik, pemilih misalnya, berapa suara yang didulang?

Tinggal menunggu strategi apa yang akan diterapkan di arena sepak bola dan politik. Intinya, alat (means) apa yang dipakai memperkuat barisan, trik, dan manuver-manuvernya.

Jadi, dengan kedatangan Koster ke Stadion Dipta, tak salah jika ada spekulasi ia “menyebarkan pesona politik” di arena sepakbola. Tak salah juga, misalnya politikus yang disebut-sebut sebagai bakal calon Gubernur Bali terkuat itu memainkan skill politiknya dalam dunia sepakbola yang memiliki massa melimpah itu.

Tak salah juga, jika kemudian ia dapat hadiah penalti (tentu saja di lapangan sepakbola politik) lalu mengecoh kiper lawan dengan sepakan panenka. Siapa tahu.

Jadi, jangan heran pula, pada saat Piala Presiden dan liga 2017 bergulir nanti, tiba-tiba secara bergiliran atau secara bersama-sama banyak figur calon gubernur dan wakil gubernur duduk bersama-sama penonton di tribun ekonomi bukan di VIP lagi (biar terkesan merakyat). Atau lebih ekstrim ikut bernyanyi, berteriak hingga serak dan berjingkrak bersama para suporter Serdadu Tridatu.

Eh, kembali kepada pertandingan di Stadion Kapten Dipta, Sabtu (03/09/2016), yang ditonton Koster  itu,  Bali United sayangnya harus menerima pil pahit kalah 0-1 dari Persipura. Tidak ada tendangan panenka dalam pertandingan itu. (T)

Tags: bali unitedPolitiksepakbolaWayan Koster
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Pulang dan Rumah untuk Hanafi – Catatan Pameran “Coming Home” di Ubud

Next Post

Puisi di Balik Genting – Ulasan Pentas “Energi Bangun Pagi Bahagia” di Bali

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post

Puisi di Balik Genting – Ulasan Pentas “Energi Bangun Pagi Bahagia” di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co