12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepakan Panenka ala Koster – Sub-Praktik Komunikasi Politik di Arena Sepakbola

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Antonin Panenka saat menendang bola penalti pada final Piala Eropa 1976. #Sumber foto internet

SERGIO Ramos mencetak gol kedua bagi timnya pada laga Sevilla vs Real Madrid di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla, Spanyol pada Jumat (13/01/2016). Istimewanya lagi, sang kapten El Real (sebutan Real Madrid) ini menceploskan bola ke gawang Sevilla dengan penalti panenka.

Banyak kiper yang merasakan pahitnya terkecoh tendangan penalti panenka ini. Ingat, bagaimana malunya Kiper Inggris, Joe Hart, terkecoh tendangan ala panenka gelandang Italia, Andrea Pirlo di Piala Eropa 2012. Selain Ramos dan Pirlo, ada nama-nama beken yang berhasil menciptakan gol dengan trik panenka ini. Seperti Zinedine Zidane, Francesco Totti, dan Zlatan Ibrahimovic.

Tendangan panenka ciptaan Antonin Panenka ini begitu melegenda. Trik menendang ini terkenal setelah Panenka berhasil mengecoh kiper tangguh Jerman Barat, Sepp Maier, pada final Piala Eropa 1976. Waktu itu, ia menjadi penendang penentu pada babak adu penalti. Ia berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna dan trofi Euro 1976 titel bergengsi menjadi milik Republik Ceko.

Sepakan Panenka seperti trik tendangan yang mengelabui kiper. Seorang kiper berpikir pemain akan menendang ke satu sisi atau yang lainnya, namun bola ditendang  melambung di posisi tengah gawang. Terkesan menipu, namun penendang butuh latihan keras, konsentrasi, akurasi, dan kepercayaan tinggi.

Nah, bagaimana kalau yang menendang panenka seorang I Wayan Koster ? Ya, politisi asal Buleleng yang sekarang duduk di kursi Anggota DPR RI. Ia juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, dan yang terbaru, ia mendeklarasikan jadi calon gubernur (Cagub) Bali untuk Pemilihan Gubernur atau Pilgub Bali 2018 nanti.

Apa hubungan Koster dan sepakbola, lebih-lebih apa hubungannya dengan sepakan panenka?

Koster dan dunia sepak bola memang tak terdengar hingar-bingarnya. Namun, jangan salah Koster pernah memakai kaus berkerah, berwarna merah, dan berlogo Bali United layaknya Semeton Dewata (suporter Bali United). Bahkan ia datang langsung di Stadion I Wayan Kapten Dipta, Gianyar pada Sabtu (03/09/2016).  Ia tampak di tribun VVIP melihat laga big match antara Bali United menjamu Persipura Jayapura pada ISC A 2016. Pertandingan itu disaksikan 13.127 penonton.

Kenapa Koster datang ke stadion? Urusan apa Koster datang menonton Bali United? Orang pasti mengira Koster bukan hanya menonton bola, tetapi tebar pesona. Banyak spekulasi seperti itu, ditambah viral media memberitakan figur Cagub menonton sepak bola  di Stadion Dipta.  Benarkah? Tunggu, tunggu. Mari kita telusuri.

Memang ada yang menyebutkan sepak bola Indonesia tak terlepas dari 3D (Dengklik-Duit-Dukun). Dengklik bisa berarti kekuasaan (politik), duit bermakna uang atau dana, dan dukun berarti ada para ahli atau paranormal. Soal dengklik, sepak bola Indonesia memang tak bisa lepas dari praktik politik.

Soekarno presiden Indonesia pertama sangat dekat dengan sepak bola. Sejarawan JJ Rizal menulis, Bung Karno yakin betul sepak bola adalah olahraga yang sangat digemari dan melibatkan banyak massa. Bung Karno sudah gunakan sepak bola sebagai alat sejak era pergerakan nasional. Bung Karno juga menjadikan sepak bola menjadi bagian media komunikasi untuk kampanye. Seperti pada 1956, Bung Karno dan PSSI tur ke beberapa negara di Eropa Timur dan Jerman dengan kampanye visi persatuan dunia.

Presiden Jokowi pun melakukan hal yang kurang lebih serupa. Ia menunjukkan dukungan pada timnas Indonesia pada Piala AFF 2016 dengan menonton pertandingannya. Meski misalnya nonton lewat streaming di laptop, namun yang penting beritanya jadi viral di media sosial.

Lebih jauh dan detail tentang sepak bola dan politik ditulis Prof Tjipta Lesmana. Ia begitu gamblang menyebut sepak bola dan politik terdapat banyak persamaan. Sepak bola dan politik sama-sama mengejar sesuatu yang dianggap memiliki nilai tinggi, bahkan nilai tertinggi dalam kehidupan manusia: supreme good, – istilah yang dipakai Aristoteles dikutip Durant. Keduanya sama-sama ingin menggapai kebahagiaan (happiness). Juga sama-sama sebuah pertarungan, sebuah laga, game untuk memperebutkan suatu yang memiliki nilai instrinsik tinggi.

Keduanya bertemu sehingga terjadi komunikasi. Secara sederhana komunikasi sepak bola diartikan bentuk komunikasi secara langsung dan tidak langsung yang terjadi antara semua pihak yang terkait dengan permainan sepak bola, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Di dalam stadion jelas terjadi proses komunikasi langsung yang tidak banyak berbeda dengan proses komunikasi politik.

Identifikasi unsur komunikasi begitu banyak komunikator. Antara lain pemain, penonton, pelatih, manajer, wasit, pemerintah, dan asosiasi yang bisa disebut interactants. Mereka terlibat komunikasi antara satu sama lain baik selama pertandingan berlangsung dan bahkan di luar stadion masih berlangsung usai pertandingan, termasuk antarpenonton.

Khusus komunikasi antarpenonton sangat menggiurkan. Laga antara Bali United lawan Persipura itu disaksikan 13.127 penonton. Maka kalau dihitung secara bisnis uang yang masuk penjulaan tiket saja sudah cukup banyak. Nah, dihitung secara politik, pemilih misalnya, berapa suara yang didulang?

Tinggal menunggu strategi apa yang akan diterapkan di arena sepak bola dan politik. Intinya, alat (means) apa yang dipakai memperkuat barisan, trik, dan manuver-manuvernya.

Jadi, dengan kedatangan Koster ke Stadion Dipta, tak salah jika ada spekulasi ia “menyebarkan pesona politik” di arena sepakbola. Tak salah juga, misalnya politikus yang disebut-sebut sebagai bakal calon Gubernur Bali terkuat itu memainkan skill politiknya dalam dunia sepakbola yang memiliki massa melimpah itu.

Tak salah juga, jika kemudian ia dapat hadiah penalti (tentu saja di lapangan sepakbola politik) lalu mengecoh kiper lawan dengan sepakan panenka. Siapa tahu.

Jadi, jangan heran pula, pada saat Piala Presiden dan liga 2017 bergulir nanti, tiba-tiba secara bergiliran atau secara bersama-sama banyak figur calon gubernur dan wakil gubernur duduk bersama-sama penonton di tribun ekonomi bukan di VIP lagi (biar terkesan merakyat). Atau lebih ekstrim ikut bernyanyi, berteriak hingga serak dan berjingkrak bersama para suporter Serdadu Tridatu.

Eh, kembali kepada pertandingan di Stadion Kapten Dipta, Sabtu (03/09/2016), yang ditonton Koster  itu,  Bali United sayangnya harus menerima pil pahit kalah 0-1 dari Persipura. Tidak ada tendangan panenka dalam pertandingan itu. (T)

Tags: bali unitedPolitiksepakbolaWayan Koster
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Pulang dan Rumah untuk Hanafi – Catatan Pameran “Coming Home” di Ubud

Next Post

Puisi di Balik Genting – Ulasan Pentas “Energi Bangun Pagi Bahagia” di Bali

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails

Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

by I Kadek Adhi Dwipayana
August 24, 2026
0
Ketika Kampus Negeri Bergeser Menjadi Arena Pasar Bebas

Masuk perguruan tinggi negeri (PTN) dulu sering dianggap seperti menembus gerbang prestise akademik. Seleksinya ketat, persaingannya tinggi, dan keberhasilannya sering...

Read moreDetails

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
0
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

Read moreDetails

Pewarisan di Persimpangan Konstitusi: Tantangan Hukum Waris Indonesia Pasca Putusan MK

by I Made Pria Dharsana
August 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

KEMATIAN seseorang seharusnya mengakhiri kehidupan, bukan memulai ketidakpastian hukum bagi keluarganya. Namun dalam praktik hukum Indonesia, kematian justru kerap menjadi...

Read moreDetails

“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

by Luh Putu Sendratari
August 12, 2026
0
“Janda Metaksu”: Menyoal Tubuh Janda dalam Mitos “Perempuan Penggoda”

ADA hasil percakapan yang masih mengusik ingatan penulis sampai saat ini, ketika 5 tahun yang lalu bercakap dalam suatu wawancara...

Read moreDetails
Next Post

Puisi di Balik Genting – Ulasan Pentas “Energi Bangun Pagi Bahagia” di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co