2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sepakan Panenka ala Koster – Sub-Praktik Komunikasi Politik di Arena Sepakbola

Kambali Zutas by Kambali Zutas
February 2, 2018
in Opini

Antonin Panenka saat menendang bola penalti pada final Piala Eropa 1976. #Sumber foto internet

SERGIO Ramos mencetak gol kedua bagi timnya pada laga Sevilla vs Real Madrid di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla, Spanyol pada Jumat (13/01/2016). Istimewanya lagi, sang kapten El Real (sebutan Real Madrid) ini menceploskan bola ke gawang Sevilla dengan penalti panenka.

Banyak kiper yang merasakan pahitnya terkecoh tendangan penalti panenka ini. Ingat, bagaimana malunya Kiper Inggris, Joe Hart, terkecoh tendangan ala panenka gelandang Italia, Andrea Pirlo di Piala Eropa 2012. Selain Ramos dan Pirlo, ada nama-nama beken yang berhasil menciptakan gol dengan trik panenka ini. Seperti Zinedine Zidane, Francesco Totti, dan Zlatan Ibrahimovic.

Tendangan panenka ciptaan Antonin Panenka ini begitu melegenda. Trik menendang ini terkenal setelah Panenka berhasil mengecoh kiper tangguh Jerman Barat, Sepp Maier, pada final Piala Eropa 1976. Waktu itu, ia menjadi penendang penentu pada babak adu penalti. Ia berhasil menjalankan tugasnya dengan sempurna dan trofi Euro 1976 titel bergengsi menjadi milik Republik Ceko.

Sepakan Panenka seperti trik tendangan yang mengelabui kiper. Seorang kiper berpikir pemain akan menendang ke satu sisi atau yang lainnya, namun bola ditendang  melambung di posisi tengah gawang. Terkesan menipu, namun penendang butuh latihan keras, konsentrasi, akurasi, dan kepercayaan tinggi.

Nah, bagaimana kalau yang menendang panenka seorang I Wayan Koster ? Ya, politisi asal Buleleng yang sekarang duduk di kursi Anggota DPR RI. Ia juga Ketua DPD PDI Perjuangan Bali, dan yang terbaru, ia mendeklarasikan jadi calon gubernur (Cagub) Bali untuk Pemilihan Gubernur atau Pilgub Bali 2018 nanti.

Apa hubungan Koster dan sepakbola, lebih-lebih apa hubungannya dengan sepakan panenka?

Koster dan dunia sepak bola memang tak terdengar hingar-bingarnya. Namun, jangan salah Koster pernah memakai kaus berkerah, berwarna merah, dan berlogo Bali United layaknya Semeton Dewata (suporter Bali United). Bahkan ia datang langsung di Stadion I Wayan Kapten Dipta, Gianyar pada Sabtu (03/09/2016).  Ia tampak di tribun VVIP melihat laga big match antara Bali United menjamu Persipura Jayapura pada ISC A 2016. Pertandingan itu disaksikan 13.127 penonton.

Kenapa Koster datang ke stadion? Urusan apa Koster datang menonton Bali United? Orang pasti mengira Koster bukan hanya menonton bola, tetapi tebar pesona. Banyak spekulasi seperti itu, ditambah viral media memberitakan figur Cagub menonton sepak bola  di Stadion Dipta.  Benarkah? Tunggu, tunggu. Mari kita telusuri.

Memang ada yang menyebutkan sepak bola Indonesia tak terlepas dari 3D (Dengklik-Duit-Dukun). Dengklik bisa berarti kekuasaan (politik), duit bermakna uang atau dana, dan dukun berarti ada para ahli atau paranormal. Soal dengklik, sepak bola Indonesia memang tak bisa lepas dari praktik politik.

Soekarno presiden Indonesia pertama sangat dekat dengan sepak bola. Sejarawan JJ Rizal menulis, Bung Karno yakin betul sepak bola adalah olahraga yang sangat digemari dan melibatkan banyak massa. Bung Karno sudah gunakan sepak bola sebagai alat sejak era pergerakan nasional. Bung Karno juga menjadikan sepak bola menjadi bagian media komunikasi untuk kampanye. Seperti pada 1956, Bung Karno dan PSSI tur ke beberapa negara di Eropa Timur dan Jerman dengan kampanye visi persatuan dunia.

Presiden Jokowi pun melakukan hal yang kurang lebih serupa. Ia menunjukkan dukungan pada timnas Indonesia pada Piala AFF 2016 dengan menonton pertandingannya. Meski misalnya nonton lewat streaming di laptop, namun yang penting beritanya jadi viral di media sosial.

Lebih jauh dan detail tentang sepak bola dan politik ditulis Prof Tjipta Lesmana. Ia begitu gamblang menyebut sepak bola dan politik terdapat banyak persamaan. Sepak bola dan politik sama-sama mengejar sesuatu yang dianggap memiliki nilai tinggi, bahkan nilai tertinggi dalam kehidupan manusia: supreme good, – istilah yang dipakai Aristoteles dikutip Durant. Keduanya sama-sama ingin menggapai kebahagiaan (happiness). Juga sama-sama sebuah pertarungan, sebuah laga, game untuk memperebutkan suatu yang memiliki nilai instrinsik tinggi.

Keduanya bertemu sehingga terjadi komunikasi. Secara sederhana komunikasi sepak bola diartikan bentuk komunikasi secara langsung dan tidak langsung yang terjadi antara semua pihak yang terkait dengan permainan sepak bola, baik di lapangan maupun di luar lapangan. Di dalam stadion jelas terjadi proses komunikasi langsung yang tidak banyak berbeda dengan proses komunikasi politik.

Identifikasi unsur komunikasi begitu banyak komunikator. Antara lain pemain, penonton, pelatih, manajer, wasit, pemerintah, dan asosiasi yang bisa disebut interactants. Mereka terlibat komunikasi antara satu sama lain baik selama pertandingan berlangsung dan bahkan di luar stadion masih berlangsung usai pertandingan, termasuk antarpenonton.

Khusus komunikasi antarpenonton sangat menggiurkan. Laga antara Bali United lawan Persipura itu disaksikan 13.127 penonton. Maka kalau dihitung secara bisnis uang yang masuk penjulaan tiket saja sudah cukup banyak. Nah, dihitung secara politik, pemilih misalnya, berapa suara yang didulang?

Tinggal menunggu strategi apa yang akan diterapkan di arena sepak bola dan politik. Intinya, alat (means) apa yang dipakai memperkuat barisan, trik, dan manuver-manuvernya.

Jadi, dengan kedatangan Koster ke Stadion Dipta, tak salah jika ada spekulasi ia “menyebarkan pesona politik” di arena sepakbola. Tak salah juga, misalnya politikus yang disebut-sebut sebagai bakal calon Gubernur Bali terkuat itu memainkan skill politiknya dalam dunia sepakbola yang memiliki massa melimpah itu.

Tak salah juga, jika kemudian ia dapat hadiah penalti (tentu saja di lapangan sepakbola politik) lalu mengecoh kiper lawan dengan sepakan panenka. Siapa tahu.

Jadi, jangan heran pula, pada saat Piala Presiden dan liga 2017 bergulir nanti, tiba-tiba secara bergiliran atau secara bersama-sama banyak figur calon gubernur dan wakil gubernur duduk bersama-sama penonton di tribun ekonomi bukan di VIP lagi (biar terkesan merakyat). Atau lebih ekstrim ikut bernyanyi, berteriak hingga serak dan berjingkrak bersama para suporter Serdadu Tridatu.

Eh, kembali kepada pertandingan di Stadion Kapten Dipta, Sabtu (03/09/2016), yang ditonton Koster  itu,  Bali United sayangnya harus menerima pil pahit kalah 0-1 dari Persipura. Tidak ada tendangan panenka dalam pertandingan itu. (T)

Tags: bali unitedPolitiksepakbolaWayan Koster
Share25TweetSendShareSend
Previous Post

Pulang dan Rumah untuk Hanafi – Catatan Pameran “Coming Home” di Ubud

Next Post

Puisi di Balik Genting – Ulasan Pentas “Energi Bangun Pagi Bahagia” di Bali

Kambali Zutas

Kambali Zutas

Lahir di Nganjuk, Jawa Timur, kini tinggal di Denpasar, Bali. Kesibukan sehari-hari selain jurnalis, juga menulis esai, puisi, dan cerpen. Berkecimpung di organisasi profesi sebagai Anggota Bidang Etika dan Profesionalisme AJI Kota Denpasar.

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

Puisi di Balik Genting – Ulasan Pentas “Energi Bangun Pagi Bahagia” di Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co