2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” – Benarkah?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

Foto: Pementasan teater Komunitas Mahima

DALAM sebuah wawancara dengan wartawan, Putu Agus Suradnyana, calon bupati incumbent dalam Pilkada Buleleng 2017 berucap, ”Pura-pura terzolimi itu lagu lama (untuk menarik simpati dalam Pilkada). Yang harus dilakukan adalah bekerja, tunjukkan program.”

Kenapa Agus Suradnyana mengatakan hal seperti itu? Menurut dia, sebagai calon incumbent yang masih berkuasa, ada yang menganggap seakan-akan semua orang akan membela dirinya. Dengan kedudukannya yang masih menjadi Bupati, seakan-akan ia bisa melakukan apa saja dengan mudah, seperti melakukan intimidasi dan pemaksaan.

Dalam hal ini, Agus Suradnyana sadar dirinya sedang berada dalam posisi berkuasa. Ia ketua DPC PDI Perjuangan dan masih menjadi Bupati setidaknya sampai ia cuti akhir Oktober ini. Dengan “kekuasaan” seperti itu, dengan mudah bagi siapa pun untuk mendudukkannya sebagai tokoh antagonis dalam satu cerita, lalu di sisi lain menciptakan tokoh protagonis yang teraniaya oleh kekuasaan.

Seperti dalam dongeng sebelum tidur, banyak raja digambarkan bengis dan menzolimi seorang pemuda dusun, yang pada akhirnya pemuda itu berhasil mendapat simpati, lalu berhasil mengalahkan si raja, lalu menjadi raja. Dongeng semacam ini masih hidup di hati masyarakat Indonesia, dan kini hidup dalam dunia politik modern.

Dongeng semacam itulah yang mungkin sedang diwaspadai Agus Suradnyana. Dan, ingat, dalam dunia politik di Indonesia, dongeng semacam itu sudah banyak menuai sukses, meski ada juga yang gagal.

Mirip Film India

Kosa kata terzolimi atau terzalimi, atau bisa dipadankan dengan “teraniaya” disadari atau tidak memang sudah masuk dan menguasai wacana-wacana politik dalam setiap Pilkada Bupati, Pilkada Gubernur, dan Pilpres. Sejumlah calon kepala daerah, secara langsung maupun lewat tim suksesnya, mengadopsi kata terzolimi untuk disandangkan pada dirinya demi menarik simpati pemilih.

Dengan demikin, seakan-akan ada anggapan jika Anda mau terpilih jadi bupati, gubernur atau presiden, maka Anda harus “dizolimi” dulu. Atau jika tak ada yang “menzolimi” maka sebaiknya buatlah cerita sedih yang mengharu biru, lalu curhat ke sana-sini, seolah-olah Anda sedang “dizolimi”.

Ceritanya jadi mirip film India, tokoh utama harus menderita dulu, nangis-nangis dulu, benyah-latig dulu, berdarah-darah dulu, agar penonton jatuh simpati, tersulut emosi, teraduk perasaannya dan menunggu-nunggu kapan si tokoh balas dendam. Penonton seakan-akan siap berdiri untuk membantu si tokoh utama dan menghujat habis-habisan si penganiaya.

Menjelang film tamat, si tokoh berhasil balas dendam dan menang secara gilang-gemilang.  Penonton bersorak-sorai di dalam gedung bioskop atau di depan TV, seakan-akan mereka ikut andil dalam membasmi seluruh kejahatan di dunia.

Kata terzolimi kini masuk dengan tenar dalam ranah politik dan sepertinya sudah menjadi semacam teori strategi dalam setiap hajatan pilkada di Indonesia.

Nama Megawati dalam percaturan politik di Indonesia meroket ketika ia dianggap dizolimi oleh rezim Orde Baru. Begitu Orde Baru tumbang, nama Megawati otomatis naik dan banyak yang berharap ia menjadi presiden. Dan, melalui jalan politik yang agak rumit, ia akhirnya sempat menjadi presiden.

Pada Pilpres langsung tahun 2004, kata terzolimi seperti kembali menemukan eksistensinya. Saat itu, status terzolimi justru jatuh pada SBY. Ia berhasil menempatkan dirinya sebagai orang yang “teraniaya” setelah mundur dari jabatan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Republik Indonesia.

Saat SBY mundur, Presiden Megawati mengungkapkan rasa kecewanya.  Tapi ungkapan rasa kecewa (yang mungkin dilontarkan secara agak berlebihan) itu menyebabkan Megawati danggap sebagai pihak yang menggunakan kekuasaannya untuk menzolimi SBY.

Apakah saat itu SBY benar teraniaya atau hanya strategi politik semata, kita tak pernah tahu. Namun di sisi lain, secara logika, tentu saja Megawati kecewa karena saat itu ia sedang mempersiapkan diri sebagai calon Presiden incumbent pada Pilpres 2004. SBY yang diharapkan akan membantunya justru mundur dan bersiap mencalonkan diri untuk melawan Megawati.

Oleh pihak Megawati, SBY bisa dituding telah berkhianat, tapi kata “khianat” tak berhasil diolah menjadi senjata untuk mendongkrak nama Megawati agar bisa menang dalam Pilpres. Justru SBY – dengan dibantu kepiawiannya mencitrakan diri – berhasil menempatkan diri sebagai orang terzolimi dan mendapatkan simpati.

SBY pun sukses mengalahkan Megawati. Bahkan setelah itu, pamor PDI Perjuangan sebagai partai berkuasa pun mulai redup.

Gaya SBY ini kemudian banyak ditiru oleh calon-calon kepala daerah atau calon presiden bahkan dijadikan semacam strategi politik untuk mengalahkan lawan kuat dalam Pilkada atau Pilpres. Gaduh dalam Pilkada DKI saat ini misalnya, bisa dianggap sebagai peperangan awal untuk memperebutkan “status teraniaya”, bukan status benar atau salah.

Saat Pilgub Bali 2013, banyak yang percaya kemenangan Made Mangku Pastika antara lain disebabkan oleh keberhasilannya menempatkan diri sebagai “orang yang dibuang” oleh PDI Perjuangan. Padahal, kebenaran tentang hal itu tak pernah diketahui secara pasti.

Benar-salah dalam peperangan di dunia politik bukan ditentukan oleh keputusan apa yang terjadi dalam konferensi partai secara resmi, tapi ditentukan oleh wacana apa yang keluar setelah konferensi itu di media massa dan wacana apa yang berkembang kemudian di ruang-ruang obrolan warung kopi.

Lagu Lama

Lalu apakah benar politik zolim-menzolimi itu sudah menjadi lagu lama sebagaimana dikatakan Putu Agus Suradnyana? Bisa saja benar. Karena gaya itu tak lebih dari dongeng sebelum tidur dengan menempatkan pihak yang kuat sebagai antagonis dan ada pihak yang menempatkan diri sebagai protagonis.

Memang hampir dalam semua dongeng, tokoh protagonis adalah pemenang. Tapi politik tentu saja bukan dongeng. Politik memberi kemungkinan alur, plot, dan ending, yang tak terduga dan berubah-ubah sesuai zaman.

Setiap strategi dalam politik tak bisa diterapkan terus-menerus sepanjang zaman. Masyarakat (baca:pemilih) dalam Pilkada akan terus berubah sikap, memperbaiki pengertian politiknya, dan tentu saja makin pintar. Seluruh peristiwa politik yang pernah mereka lalui akan dijadikan pelajaran untuk menentukan pilihan politik pada masa-masa berikutnya.

Atau, jangan salahkan masyarakat pemilih juga, jika strategi pura-pura terzolimi tetap bisa sukses. Namanya juga politik. Dalam politik, kepura-puraan bisa tampak lebih nyata dari kenyataan. (T)

Tags: bulelengPilkadaPolitik
Share56TweetSendShareSend
Previous Post

Pameran Tunggal Basugiart – Merekam Kisah Lewat Wajah

Next Post

“Surga Bagi Anak Kita” – Jerit Galau Ibu yang Sibuk di Rumah

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post

“Surga Bagi Anak Kita” – Jerit Galau Ibu yang Sibuk di Rumah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co