2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Surga Bagi Anak Kita” – Jerit Galau Ibu yang Sibuk di Rumah

Radinna Nandakita by Radinna Nandakita
February 2, 2018
in Esai

Foto: koleksi penulis

IBU saya pernah memberikan sebuah nasihat bijak saat dulu saya berkata bahwa nanti, sesudah melahirkan, saya ingin kembali bekerja sebagai pramugari.

“Kalau seorang ibu bekerja, meninggalkan anak dengan niatan membantu ekonomi keluarga, itu pahalanya luar biasa. Karena itu adalah bentuk tanggung jawab terhadap keputusannya memiliki anak. Tapi kalau alasannya bekerja dengan niatan agar terhindar dari urusan anak dan rumah, maka jatuhnya itu dosa. Ia tidak bertanggung jawab dan ia tidak siap untuk menjadi surga dari anak-anaknya. Jadi semuanya bergantung ke niatan kita pergi meninggalkan anak-anak… Apa murni untuk anak atau menghindari tanggung jawab?”

Saya bisa saja membohongi orang-orang dan berkata bahwa saya bekerja untuk anak, tapi saya tidak akan pernah bisa membohongi diri saya sendiri. Kenyataannya saya memang mulai lelah dengan pekerjaan baru saya sebagai ibu rumah tangga. Itupun jika ibu rumah tangga bisa dikategorikan sebuah profesi, mengingat tidak adanya gaji yang saya terima setiap bulannya.

Kelahiran Akira bertepatan dengan proses training suami saya untuk menjadi Captain dan kepindahan rating pesawat baru ke Airbus. Berbulan-bulan kami hidup dari gaji pokok suami yang setelah dipotong cicilan dan kewajiban ini-itu, hanya menyisakan sekitar empat juta rupiah di ATM-nya.

Saya tahu, banyak istri lain yang penghasilan suaminya lebih sedikit. Tapi tetap saja, gaya hidup kami merosot tajam. Kami bahkan tidak bisa melanjutkan kontrak di rumah kami sebelumnya dan dengan berat hati harus pindah ke sebuah apartment model studio di kawasan Tangerang.

Mendengar kata apartment, tolong jangan membayangkan sebuah hunian mewah di kawasan elite seperti apartment Sudirman Park di Jakarta Pusat atau apartment Mediteranian di Jakarta Barat yang harga sewanya bisa mencapai 6-10 juta/bulan. Ini adalah apartment Modernland yang jauh dari kata mewah dan lebih cocok disebut rumah susun warga.

Saya pun tidak lagi didampingi pembantu sehingga otomatis semua pekerjaan rumah dan merawat Akira harus saya handle sendiri. Kegiatan sehari-hari diawali dengan pergi ke pasar, memasak, memberi sarapan dan memandikan Akira, beres-beres rumah, mencuci dan menjemur pakaian, istirahat siang, memberi makan sore dan memandikan Akira, lanjut beres-beres rumah dan setelah Akira tidur barulah saya bisa bebas mengerjakan hobi, entah itu sekedar tulisan-tulisan ringan di status facebook atau menggarap video untuk channel youtube.

Tak jarang, saya kehilangan waktu untuk kegiatan terakhir karena setelah Akira tertidur, saya pun ikut ketiduran. Hampir setiap hari saya terbangun dengan kaki yang sakit meskipun dengan telaten suami saya memijatnya setiap kali saya terlihat kesakitan.

Hampir setiap hari saya sendawa dan buang angin meskipun setiap malam, suami mengerok punggung saya dengan harapan saya tidak masuk angin lagi. Tapi berat badan saya yang melonjak 18 kilogram membuat saya tidak seatletis dan selincah dulu. Rasanya kaki saya tidak sanggup menumpu bobot tubuh saya yang setiap bulan makin bertambah.

Belum lagi setiap malam kadang saya tertidur dengan punggung terbuka karena menyusui Akira, alhasil saya meriang hampir di setiap harinya. Rutinitas yang melelahkan, tubuh yang tidak terurus, rentetan pekerjaan rumah yang seolah tidak pernah habis, fase adaptasi dengan gaya hidup sederhana dan shock seorang Ibu baru sering membuat saya menangis diam-diam saat mandi.

Biasanya, airmata saya hilang dihapus guyuran air segar dan hilang sementara. Tapi saya tidak pernah menyangka bahwa suatu hari bendungan airmata itu berujung dengan teriakan histeris.

Seperti yang saya alami beberapa minggu lalu. Saya yang biasanya bisa mengontrol diri tiba-tiba saja kehilangan kendali. Saya menangis di kamar mandi sesaat setelah Akira menangis tanpa saya ketahui apa maunya. Semakin Akira menangis, semakin saya menjerit. Sedih. Lelah. Tertekan. Depresi. Menyesal.

Belum lagi ditambah omongan orang yang minggu ini saja sudah saya dengar dua kali dari dua teman yang berbeda. “Kamu kan enak, cuma di rumah. Gue nih, terbang subuh pulang malem. Capek banget!”

Don’t you remember? Saya juga pernah jadi pramugari. At least pramugari masih punya  selama 9 jam. Saya? Tidur selalu terganggu karena dua-tiga jam sekali Akira bangun untuk menyusu. Saya tidak memiliki hari libur, saya bahkan tidak memiliki waktu untuk mengurus diri saya sendiri karena 24 jam yang saya miliki bahkan terasa kurang untuk mengurus rumah dan anak.

Mereka mengira punya bayi itu semenyenangkan yang diperlihatkan iklan-iklan produk bayi di televisi. Iklan hanya menampilkan bayi ceria yang tersenyum menggemaskan. Apa ada yang menampilkan bayi yang rewel saat demam? Apa ada yang menampilkan bayi yang menangis jerit-jerit hingga 7 oktaf tanpa bisa dimengerti apa kemauannya?

Beberapa orang seringkali menyepelekan pekerjaan ibu rumah tangga yang full time mengurus anak dan rumah tanpa pembantu ataupun baby sitter. Ketika seorang ibu rumah tangga mengeluh sedikiiit saja, kami dipandang manja. Mereka selalu berkata, memang sudah kodrat wanita untuk diam di rumah dan mengurus anak. Mungkin mereka lupa, ini sudah tahun 2016 di mana emansipasi wanita sudah berkembang dengan pesatnya.

Alih-alih menenangkan, komentar orang-orang malah lebih sering menyudutkan. Akhirnya, karena tidak ingin disudutkan, kami para ibu rumah tangga menyimpan keluhan kami rapat-rapat. Ingin terlihat kuat, ingin terlihat super, ingin terlihat mandiri.

Ironis sekali betapa sekeliling kita bukannya mensupport, malah membuat kita bersembunyi dari kenyataan. Tapi seorang ibu tetaplah ibu, sesuper apapun fisiknya, ia tetap manusia yang masih dibatasi kesabarannya. Ketika lelah dan keluhannya disimpan hingga berhari-hari dan suatu hari meledak menjadi amarah, lagi-lagi orang lain kembali dengan komentar pedasnya, berkata bahwa kita tidak menyayangi anak-anak kita sendiri.

Itulah yang menyebabkan saya mengamuk. Saya menjerit dan mengambil dokumen-dokumen yang diperlukan untuk melamar kerja. Belaian suami untuk menenangkan saya tidak berhasil menghentikan saya membongkar lemari untuk mencari-cari surat keterangan kerja dan kartu keluarga. Pokoknya saya mau kembali bekerja. Saya mau terbang lagi sebagai pramugari. Saya ingin dandan cantik setiap hari, saya ingin waktu istirahat yang cukup, saya ingin penghasilan sendiri, saya ingin saya yang dulu!

Tapi semua terhenti saat mata saya melihat mata bulat Akira yang menatap penuh harap dan tangannya yang terjulur kepada saya. Matanya sayu karena habis menangis. Entah mengapa, saya merasa waktu berputar kembali, mengantarkan saya ke masa saat masih mengandungnya. Saat saya berjuang melahirkannya. Tiba-tiba saja nasihat bijak ibu saya tadi menghentikan semuanya. Meredam amarah yang sebelumnya begitu menggebu-gebu.

Ada alasan di balik kalimat ‘surga di bawah telapak kaki ibumu’. Dan saya ingin menjadi surga yang pantas untuk Akira. Bukan sekedar ibu yang melahirkan, lalu pergi karena tidak tahan dengan tugas dan tanggung jawabnya.

Kalaupun suatu saat nanti saya bisa kembali bekerja, saya ingin pekerjaan saya nanti tidak membuat saya menelantarkan tugas saya sebagai seorang ibu. “Ibu ingin menjadi surgamu, Nak… Tolong semangati ibu…” (T)

Tags: anak-anakibupramugarisurga
Share60TweetSendShareSend
Previous Post

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” – Benarkah?

Next Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 5# Sumber Ilham dan Buku

Radinna Nandakita

Radinna Nandakita

Lahir di Singaraja, Bali, sempat mukim di Jakarta, kini kembali tinggal di Singaraja. Mantan pramugari yang gila menulis. Tulisannya tentang "pramugalau" - kehidupan dirinya sebagai pramugari dan sebagai ibu yang super, digemari ribuan penggemar di radinnanandakita.blogspot.co.id

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post

Proses Kreatif Kurnia Effendi 5# Sumber Ilham dan Buku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co