24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Pameran Tunggal Basugiart – Merekam Kisah Lewat Wajah

Eka Prasetya by Eka Prasetya
February 2, 2018
in Ulasan

Foto-foto: Eka Prasetya

WAJAH-WAJAH itu menatap dengan pandangan kosong. Tergantung di dinding begitu saja. sekilas wajah itu menyerupai pria. Terkadang menyerupai wanita. Bisa juga diterjemahkan sebagai orang tua. Sungguh wajah yang tak pasti. Ekspresinya pun tak pasti. Namun wajah-wajah itu menyimpan cerita dan kenangan tersendiri.

basugiart8Tak kurang dari 50 wajah tergantung dalam bingkai-bingkai lukisan, yang dipajang di Richstone Art and Design Gallery di Jalan Raya Seminyak. Lukisan-lukisan wajah itu merupakan buah karya dari Basugiart, perupa yang telah menetap di Bali sejak 1995 silam. Lukisan wajah itu merupakan bagian dari pameran tunggal Basugiart berjudul “Subversi Wajah-Wajah Informal” yang berlangsung sejak 25 September lalu, hingga 25 Oktober mendatang.

Total ada 30 buah karya yang dihadirkan oleh perupa yang memiliki nama asli Benny Auladi Sugiarto itu. Seluruh lukisannya berwujud wajah yang dilukis dengan teknik kontemporer. Basugiart berusaha menghadirkan wajah-wajah yang mengganggu pikirannya, ke atas kanvas. Ada wajah politisi, bintang film, superstar di dunia musik, pahlawan super, serta teman-temannya sendiri.

Tengok saja karyanya yang berjudul Cat Woman, 90×150 cm, media campuran pada canvas, 2016. Pada karyanya ini, Basugiart bukannya menghadirkan wajah cantik berkulit putih mulus yang dibalut topeng kucing berwarna hitam, sebagaimana yang biasa kita saksikan dalam film-film laga. Sebaliknya Basugiarta menghadirkan wanita berkulit hitam yang bertelanjang dada.

Begitu juga dengan karyanya yang berjudul Marilyn Monroe Moslem, 160×170 cm, media campuran pada kanvas, 2016. Alih-alih menghadirkan sosok penyanyi Marilyn Monroe, ia menghadirkan sosok wanita berkulit putih dengan hidung mancung, yang mengenakan jilbab berwarna merah. Wajahnya tak mirip dengan Marilyn Monroe. Hanya bentuk wajahnya yang menyerupai. Hal yang menandakan itu Marilyn Monroe, hanya wajah sang bintang yang hadir di salah satu sisi jilbab.

“Inilah makna dari tema pameran ini. Basugiart berhasil menghadirkan rupa wajah informal yang memiliki nilai kontekstual lebih. Artinya karya-karyanya itu menyerupai. Bisa saja menyerupai wanita, menyerupai pria, menyerupai siapa saja, atau diterjemahkan seperti apa saja. Berbeda dengan wajah-wajah formal yang justru nilai kontekstualnya sedikit. Kalau wajah-wajah formal, kita sudah bisa menebak, oh ini Jokowi, oh ini Ahmad Dhani,” ungkap kurator pameran, I Wayan Arsana.

Lukisan karya Basugiart bukan hanya soal wajah seseorang atau menyerupai wajah seorang tokoh. Namun juga buah dari kegelisahan atas fenomena sosial yang terjadi saat ini. Salah satunya soal fenomena serba Bollywood yang kini menjangkiti penikmat layar kaca yang ada di Indonesia.

Para penikmat Bollywood ini bukan hanya menikmati film, namun juga terhanyut dalam film, mengalami konflik batin, dan menjadi tergila-gila dengan segala hal yang berbau Bollywood. Bahkan ada yang rela berganti gaya busana dan meninggalkan budayanya. Alih-alih bangga dengan budaya sendiri, justru bangga dengan budaya orang lain.

Kritik sosial itu dihadirkan Basugiart melalui karyanya yang berjudul Bollywood Reborn, 190×190 cm, media campuran pada kanvas, 2016. Dalam lukisan itu, Basugiart menghadirkan sosok wajah yang menyerupai wanita (atau mungkin pria?) yang berdandan ala Bollywood.

Selain itu, dalam pameran tunggalnya yang kelima, Basugiart juga menghadirkan trauma psikisnya pada peristiwa Bom Bali I yang terjadi pada 2002 dan Bom Bali II yang terjadi pada 2005. Maklum saja, Basugiart bukan hanya dikenal sebagai perupa, namun juga seorang beach boy yang memiliki pergaulan luas dengan wisatawan mancanegara.

Kenangan pahit itu ia hadirkan melalui lukisan Mr’s and Ms’s  Kuta 1, 30×40 cm, media campuran pada kanvas, 2011. Lukisan berbentuk panel yang menghadirkan 20 wajah ini, merupakan rekaman Basugiart terhadap rekan-rekannya yang menjadi korban ledakan Bom Bali I.

Basugiart juga menghadirkan lukisan Mr’s and Ms’s  Kuta 2, 30×35 cm, media campuran pada kanvas, 2013. Lukisan panel ini merekam 20 wajah rekan-rekannya yang mengalami trauma akibat peristiwa Bom Bali. Meski tak menjadi korban secara langsung, namun mereka mengalami gangguan psikologis, akibat peristiwa yang sempat membuat perekonomian Bali menjadi goncang.

Wajah Dalam Karya

Perupa Basugiart mengaku sangat menyukai karya-karya dalam bentuk wajah. Sejak 1997, ketika ia pertama kali terjun di dunia seni rupa, ia telah merekam wajah dalam karyanya. Hingga kini ada 1.500 wajah yang sudah ia lukiskan di atas kanvas.

basugiart2Konon ide melukis wajah itu muncul begitu saja. Semua berawal dari kegemarannya mengikuti berita di koran dan televisi. Dia mengamati wajah para politisi dan wajah para pemusik. Wajah-wajah itu ia tuangkan dalam bentuk wajah yang menyerupai tokoh tersebut.

Tak disangka karya-karyanya itu menarik perhatian rekan-rekannya yang berasal dari Eropa. Beberapa lukisannya diboyong ke Benua Biru. “Ternyata lukisan saya disukai orang lain, apalagi turis. Dari sana akhirnya saya berpikir, bahwa karya rupa kitanggak kalah kok sama bule. Malah kita lebih kaya dari ide, teknik, tradisi, dan budaya,” ungkapnya.

Dalam karya-karyanya Basugiart menyatakan sangat terinspirasi dengan sosok Vincent van Gogh. Salah satu karyanya yang berjudul Van Gogh-isme, 30×30 cm, media campuran pada kanvas, 2011, merupakan karya yang didedikasikan kepada Van Gogh. Lukisan itu terdiri dari 12 panel wajah.

“Sebenarnya nggak mirip dengan gaya Van Gogh. Saya hanya terinspirasi sosok beliau. Saya tuangkan sendiri pikiran saya mengenai Van Gogh dengan teknik sendiri,” ujar Basugiart.

Oase Seni Rupa

Pameran tunggal yang dihelat Basugiart, oleh I Wayan Arsana, sang kurator, juga disebut sebagai oase di tengah tandusnya dunia seni rupa, utamanya di wilayah Kuta. Entah itu Kuta Utara, Kuta, atau Kuta Selatan. Selama ini tak banyak agenda-agenda seni rupa yang diselenggarakan di daerah Kuta.

basugiart6Sebaliknya Kuta kini tengah penuh sesak dengan ragam bentuk kerajinan yang begitu menjamur. Sejumlah perupa yang semula berkecimpung di bidang seni murni, kini putar haluan ke produk kerajinan. Idealisme menjadi goyah seiring dengan tuntutan bisnis yang semakin berkembang.

Arsana juga berharap pemerintah memberikan ruang-ruang berkesenian yang lebih luas bagi para perupa seni murni yang ada di wilayah Kuta. Karena dunia seni rupa di Kuta memiliki banyak peluang untuk mendunia.

“Selama ini yang dikenal hanya Gianyar, Ubud, Denpasar, Sanur. Padahal Kuta punya potensi seni rupa yang tidak kalah. Pameran ini semacam doa juga. Kuta memang butuh pusat-pusat kesenian dan budaya. Sehingga Kuta tidak hanya jadi komoditas turisme saja. Kuta memang butuh orang stress di bidang seni, bukan orang bisnis,” tegas Arsana. (T)

 

Tags: PameranSeni Rupa
Share14TweetSendShareSend
Previous Post

Organisasi Mahasiswa, Bikin Untung atau Rugi? Saya sih Untung

Next Post

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” – Benarkah?

Eka Prasetya

Eka Prasetya

Menjadi wartawan sejak SMA. Suka menulis berita kisah di dunia olahraga dan kebudayaan. Tinggal di Singaraja, indekost di Denpasar

Related Posts

Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

by Agus Noval Rivaldi
November 12, 2022
0
Hulutara: Kerja Arsip dalam Membaca Kota | Ulasan Acara Senandung Padu Irama Vol. 1

Sudah lama sekali rasanya saya tidak menulis apa-apa dalam beberapa bulan ini. Semenjak dipindah tugaskan oleh kantor saya ke Singaraja,...

Read moreDetails

Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

by I Putu Ardiyasa
August 19, 2022
0
Pertunjukan Drama “Puputan Jagaraga” di Desa Tembok: Merawat Denyut Kehidupan dan Pergerakan Bermakna

Gagasan membuat pertunjukan Puputan Jagaraga didenyutkan oleh bapak Perbekel (sebutan kepala desa di Bali) Desa Tembok, Kecamatan Tejakula, Buleleng, yakni...

Read moreDetails

Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

by Imam Muhayat
August 13, 2022
0
Subjektivitas Kambali Zutas dalam Kumpulan Puisi Anak-anak Pandemi

Realitas keterbukaan membuat setiap nilai mengejar eksistensi. Akibatnya, nilai mengandung relativitas yang tinggi. Perkembangan sekarang ini juga, kadang membuat kita...

Read moreDetails

Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

by Agus Noval Rivaldi
August 8, 2022
0
Album R.E.D, Ulang-Alik Tafsir oleh Cassadaga

CASSADAGA,  sebuah band yang mengusung genre Experimental Rock, berdiri pada tahun 2014 lewat jalur pertemanan SMA. Nama “Cassadaga” mereka ambil...

Read moreDetails

Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

by Teddy Chrisprimanata Putra
August 8, 2022
0
Kwitangologi Vol. 9: Ruang Diskusi Pertama Saya di Jakarta

Beruntung sore itu saya melihat poster yang dibagikan oleh akun Marjin Kiri di cerita Whatsapp. Poster itu menginformasikan acara diskusi...

Read moreDetails

“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

by Agus Eka Cahyadi
July 28, 2022
0
“Sekala-Skala”: Menakar Geliat Seni Patung SDI

Kala itu Pita Maha belum lahir, Walter Spies berjumpa dengan seorang pematung dari Desa Belayu bernama I Tegalan. Dia menyerahkan...

Read moreDetails

Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

by Azman H. Bahbereh
July 8, 2022
0
Jauh dari “Kebahagiaan” | Catatan Selepas Menonton Film Rosetta (1999)

Rosetta membanting pintu dengan keras dan keluar berjalan terengah-engah, melewati sekian pintu, sekian pintu, dan sekian pintu lagi. Hentakan kaki...

Read moreDetails

Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

by A.A.N. Anggara Surya
June 30, 2022
0
Lirik, Vokal, Musikalitas dan Keberagaman | Dari Lomba Cipta Lagu Cagar Budaya Buleleng

Rabu, 29 Juni 2022, malam. Saya menonton lomba Cipta Lagu Cagar Budaya yang diadakan Dinas Kebudayaan dan Dinas Lingkungan Hidup...

Read moreDetails

Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

by Made Adnyana Ole
June 29, 2022
0
Tak Ada Ibunda Bung Karno Pada Fragmentari Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno

Sungguh aneh, lomba fragmentari dalam rangka Bulan Bung Karno di Taman Bung Karno, Buleleng, tidak ada satu pun peserta lomba...

Read moreDetails

Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

by I Gusti Made Darma Putra
June 28, 2022
0
Pasir Ukir, Estetika Air dalam Laut dan Gunung | Ulasan Karya Gong Kebyar Kabupaten Badung

Parade Gong Kebyar duta Kabupaten Badung dalam Pesta Kesenian Bali XLIV tahun 2022 kali ini tampil berbeda dari tahun tahun...

Read moreDetails
Next Post

Kata Agus Suradnyana: “Pura-pura Terzolimi itu Lagu Lama,” - Benarkah?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co