2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Galungan dan Anggota Dewan: Kena “Todong”, Ada HP Mati, Ada Tenang Saja

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 2, 2018
in Opini

Foto: Van Amri

HARI Raya Galungan dan Kuningan tentu saja disambut bahagia semua umat Hindu di Bali. Namun, tak begitu dengan sejumlah anggota Dewan, DPRD, DPD atau DPR.  Meski tetap tampak bahagia di hari kemenangan dharma ini, banyak juga  politikus itu  ketar-ketir, cemas, dan gelisah,  terutama ketika dana di kantong tak begitu banyak.

Jauh-jauh hari sebelum puncak Hari Galungan, anggota Dewan biasanya sudah diserbu banyak kupon. Antara lain kupon bazar, kupon lomba mancing, dan kupon turnamen meceki. Kupon itu biasanya ditodongkan atas nama kelompok, seperti sekaa teruna, subak,  desa pakraman, atau organisasi masyarakat (ormas) yang menjamur belakangan ini.

Setelah itu, mendekati Galungan, datang telepon atau SMS, atau WA, atau BBM, dari orang-orang pribadi.  Tentu saja meminta tunjangan hari raya (THR). Ada yang malu-malu, ada yang to the point.

“Ampura, Pak Dewan, Rahajeng Galungan, semoga semuanya sehat dan bahagia. Puniki, Pak, titiang bla-bla-bla…” begitu biasanya pembukaan SMS yang malu-malu, namun ujung-ujungnya tetap minta THR.

“Halo, Bos, ada dana? Sedang lacur neh, tak bisa bayar patungan daging babi,” demikian SMS yang to the point.

Biasanya orang-orang ini adalah orang yang dulu merasa ikut berjasa mengumpulkan suara pada saat pemilu untuk menaikkan si politikus ke kursi Dewan. Ada yang pengurus partai di tingkat bawah, ada yang orang biasa. Karena berjasa, orang ini merasa berhak untuk menodong si anggota Dewan. Bahkan ada yang melakukan aksi todongan bukan hanya pada saat Galungan, namun juga pada hari raya lain.

Sebagai anggota Dewan, jangan coba-coba untuk menolak permintaan mereka. Sekali saja ditolak, maka kampanye negatif bisa-bisa tersebar sepanjang masa.  Dalam bahasa politik, itulah salah satu contoh bagaimana seorang politikus memelihara konstituen.

Mungkin karena selalu memikirkan “todongan” dari konstituen, banyak anggota Dewan tak bisa bekerja dengan maksimal untuk pembangunan daerah dan kepentingan masyarakat luas. Anggota Dewan jadi sibuk mengurus bansos, bahkan kadang sampai memboikot sidang. Mungkin karena harus memelihara konstituen dengan baik dan rutin itulah kadang membuat mereka tergoda untuk korupsi.

Maka, jangan heran, jika banyak anggota Dewan tampak berubah perilakunya terutama pada saat Hari Raya Galungan.  Ada yang tiba-tiba asosial, ada juga yang tiba-tiba sosial.

HP Mati dan Rumah Kosong

Yang mudah dilakukan menjelang Hari Raya Galungan adalah mematikan HP. Padahal pada hari-hari biasa HP on 24 jam setiap hari. Tindakan matikan HP sebenarnya paling aman, meski akan mendatangkan banyak umpatan dari si penelepon.

Bayangkan bagaimana gelisahnya anggota Dewan jika HP aktif dan setiap saat menembangkan nada panggil, dan hampir semuanya berisi kata-kata permintaan bantuan dari yang paling halus hingga yang paling terus-terang.

Selain HP mati, rumah juga dikosongkan. Jika punya banyak rumah, anggota Dewan bisa tinggal di rumah lain yang tak begitu diketahui banyak orang. Jika hanya punya satu rumah, bisa tetap di rumah, tapi orang rumah selalu mengatakan pergi keluar daerah, padahal “bersembunyi” di kamar belakang.

Nanti, jika hari raya sudah berlalu, HP bisa dibuka dan cukup minta maaf saja. Atau jika sudah punya dana agak lebih, beberapa dari orang itu bisa dipanggil untuk diberi uang pengganti pengeluaran hari raya. Beberapa orang itu tentu saja orang-orang yang memang layak untuk diberi, baik karena alasan orang itu benar-benar miskin, atau alasan politik karena orang itu benar-benar dibutuhkan untuk mengamankan suara pada pemilu berikutnya.

Bagi-bagi Sembako, setelah itu “Menghilang”

Ada strategi yang cukup elegan untuk menghindari permintaan berlebihan dari konstituen atau orang-orang yang sok dekat dengan anggota Dewan. Yakni melakukan aksi bagi-bagi sembako jauh-jauh hari menjeolang Galungan. Sembako dibagikan kepada mayarakat miskin di daerah pemilihan.

Sembakonya bisa berupa mi instan, beras, dan sedikit lauk-pauk. Acaranya dibikin meriah, wartawan diundang untuk meliput (tentu dengan membayar advertorial). Setelah itu, terutama menjelang hari H, tokoh Dewan kita itu bisa “menghilang” dengan menerapkan strategi HP mati dan tugas keluar daerah.

Meski banyak yang mengumpat, tak apa-apa. Toh citra baik sudah terbentuk dengan berita bagi-bagi sembako yang sudah tersebar ke desa-desa di daerah pemilihan.

Menggelar “Open House”

Tentu tidak semua anggota Dewan menghindari konstituen saat Hari Raya Galungan.  Ada juga anggota Dewan yang sebelumnya pelit, tiba-tiba menggelar pesta, atau semacam open house saat hari raya. Orang-orang boleh datang ke rumah anggota Dewan itu, makan sesukanya, minum seenaknya, dan pulangnya diberi amplop (isinya tipis atau tebal tidaklah terlalu penting).

Gelaran open house bisa dilakukan karena anggota Dewan itu memang kaya dan suka memberi. Tapi banyak juga open house digelar secara tiba-tiba karena mungkin merasa jumlah konstituennya kian hari kian menyusut. Sehingga perlu dilakukan gerakan material untuk menarik dukungan kembali , tentu agar kursi Dewan bisa diduduki kembali pada periode berikutnya.

Cemas Karena Tak ada yang Minta

Jangan memandang semua anggota Dewan itu pelit. Ada anggota Dewan yang justru cemas ketika pada Hari Raya Galungan dan Kuningan tak ada konstituen yang meneleponnya atau mendatangi rumahnya untuk meminta bantuan beli daging atau bantuan modal berjudi.

Prinsip anggota Dewan semacam ini adalah, “Semasih ada yang meminta bantuan, maka dukungan politik dipastikan akan tetap terpelihara,”

Maka, jika tak ada yang datang meminta bantuan saat hari raya, tokoh politik kita ini akan cemas dan gelisah. “Kenapa tak ada yang meminta? Jangan-jangan semua pendukung saya sudah “dipelihara” oleh politikus lain. Jangan-jangan tak ada lagi orang yang menggantungkan hidupnya kepada saya.  Secara politik, ini bahaya,” begitu pertanyaan anggota Dewan itu.

Maka segala upaya akan dilakukan agar orang-orang meminta kembali kepada dirinya. Misalnya tiba-tiba ia menyuruh orang kepercayaannya menggelar tontonan besar-besaran. Begitu tontonan diumumkan, banyak konstituennya datang meminta dana karena anak-anak mereka ingin nonton. Dan politikus kita itu akan lega, ternyata masih banyak yang meminta kepadanya.

Tenang-tenang Saja

Dari semua itu tentu ada anggota Dewan yang tenang-tenang saja, baik pada hari-harib biasa maupun pada hari raya seperti Galungan. Dia tak perlu matikan HP, tak perlu tinggalkan rumah, tak perlu juga bikin pesta berlebihan.  Orang yang datang minta THR diberi secukupnya, orang datang berkunjung dijamu sewajarnya. Karena anggota Dewan seperti ini memang sudah siap secara material maupun spiritual untuk menjadi politikus dengan segala resikonya.  (T)

Tags: balihari raya galunganPartai PolitikPolitik
Share185TweetSendShareSend
Previous Post

Galungan dan Hal yang Ditunggu: Diskon, Konvoi Motor dan Gebyar “BC-Leng”

Next Post

Memaknai Galungan, Benarkah Kita Sudah Menang?

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Memaknai Galungan, Benarkah Kita Sudah Menang?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co