3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengurus Hidup, Merawat Mati, di Bali

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali merawat kematian dengan sangat serius, seksama, hati-hati, penuh perhitungan.

Sering kali kematian dianggap lebih penting tinimbang hidup. Bagi orang Bali, jika kematian dirawat dengan apik, kelak roh akan menitis kembali lebih sempurna.

Namun, tiada mati jika tak ada hidup. Bagi kebanyakan orang Bali, bagaimana mengurus hidup, sering tidak ada kaitan dengan bagaimana mengurus kematian.

Seorang lelaki, ayah empat anak lanang, kakek belasan cucu, bisa menjadi contoh, alangkah buruk orang-orang terdekat mengurus hidupnya, namun mereka merawat kematian dirinya dengan sangat baik, megah, meriah.

Lelaki itu seorang petani, tak punya cukup uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya sampai ke sekolah tinggi. Yang diajarkan adalah, hidup harus diurus dengan ulet, teguh, bermartabat. Anak-anak itu kemudian menjadi pekerja keras.

Seorang jadi pegawai negeri, meneruskan sekolah setelah bekerja dengan biaya sendiri, jadi profesor. Seorang jadi politikus dengan banyak pengikut. Dua yang lain jadi pengusaha. Semua anak-anak itu sukses, jadi manusia-manusia terpandang.

Mereka tinggal berpencar di kota-kota di Jawa. Untuk menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai krama (warga) banjar, laki-laki itu melakoninya sendiri sampai tua renta. Tak seorang pun di antara anak-anak itu sudi pulang kampung. Mereka mengaku, harus banting tulang mencari penghidupan, buat biaya sekolah anak-anak, cucu-cucu si kakek, agar mereka bisa menikmati sekolah lebih baik dibanding orang tuanya.

Kakek itu pun hidup kesepian. Hidupnya nyaris tidak terurus. Ketika ia sakit-sakitan, anak-anaknya cuma mengirim uang untuk biaya perawatan. Jumlahnya banyak. Anak dan ayah itu tak hanya dipisahkan oleh jarak dan waktu, tapi juga oleh kesibukan putra-putranya untuk mencari uang.

“Dulu aku tak bisa mengurus hidup dan sekolah anak-anakku dengan baik, karena aku tak punya uang. Kini, ketika anak-anakku banyak uang, mereka tak punya waktu untuk mengurus hidupku,” kata hati kakek itu. “Kalau begitu, apa bedanya kaya dengan sedikit punya uang?”

Sunyi sepi sendiri sekian lama, setelah istrinya tiada, kakek itu meninggal dalam kesepian. Empat anak laki-laki itu pun berdatangan ke Bali. Mereka berembuk, kemudian sepakat, akan menyelenggarakan upacara ngaben yang megah.

Menurut mereka, begitulah cara terbaik untuk menghormati mendiang ayah mereka yang hidup ulet, teguh, kendati hanya sebatas sebagai petani. Mereka sepakat akan merawat kematian ayah mereka dengan serius, hati-hati, rinci, teliti, sebagai wujud penghormatan.

Ngaben besar, melibatkan banyak orang, pasti menghabiskan banyak uang. Jika saja ketika mati seseorang bisa bicara, si ayah, kakek itu, ingin ngomong, “Tak usahlah kalian menghamburkan banyak uang untuk kematianku. Mengapa kalian membiarkan aku hidup sunyi sendiri, tak terurus, tapi justru memberi perawatan ketika aku mati? Mengapa kalian menempatkan kematian lebih tinggi derajatnya tinimbang hidup?”

Lebih penting mana, hidup atau mati? Bagi orang Bali, kematian bisa berarti lebih bermakna tinimbang hidup. Di beberapa daerah di Gianyar (Bali Selatan, 25 km timur Denpasar), kematian kadang-kadang dirawat seperti seseorang atau sebuah keluarga mengurus hidup.

Seorang anggota keluarga yang mati, lalu dikubur, tetap diberi pelayanan seperti ketika ia hidup. Pelayanan itu misalnya dalam wujud otonan (manusa yadnya), memperingati hari lahir setiap 210 hari sekali. Upacara ngotonin diselenggarakan selama tiga kali. Setelah tiga kali otonan, biasanya diteruskan dengan ngaben.

Upacara ngotonin diselenggarakan di kuburan. Sesaji dihaturkan di atas pusara, dengan doa-doa. Kadang seseorang yang meninggal sudah uzur, dan karena selama hidup jarang menyelenggarakan otonan, hari otonan itu pun terlupakan. Untuk itu, otonan untuk merawat kematian pun diubah. Yang ditetapkan untuk ngotonin adalah hari ketika ia meninggal, bukan hari ketika ia lahir.

Tidakkah ini pertanda, orang Bali sangat teliti merawat kematian, jauh melebihi dibanding mereka mengurus seseorang itu semasa hidup? Perhatian kerabat, keluarga, terhadap seseorang memang lebih kentara justru ketika dia mati. Ketika mati seseorang menerima pelayanan istimewa dari sanak saudaranya.

Banyak yang memberi sumbangan kain bagus-bagus justru setelah ia mati. Yang lain memberi duit, dilemparkan ke liang lahat sebelum jazad ditimbun. Uang atau kain itu ikut dibakar jika jazadnya diaben. Semasa hidup, tak seorang pun memberinya duit, apalagi menghadiahinya kain atau baju. Untuk apa baju-baju, kain-kain, dan uang itu, bagi si mati?

Di Bali banyak bisa dijumpai orang miskin, orang sakit, mereka yang hidup terlunta-lunta. Krama desa adat jarang peduli pada masalah-masalah kemiskinan. Mereka tidak tertarik membahas tentang manusia-manusia miskin atau orang-orang sakit. Mereka lebih senang membahas persoalan-persoalan tentang berbagai kegiatan upacara atau sesaji yang patut diberikan kepada seseorang yang sudah mati.

Apakah berlebihan jika kemudian kita katakan, orang Bali lebih senang merawat kematian tinimbang mengurus hidup? Karena memang, mereka ogah diajak berdebat tentang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, namun senang sekali melontarkan filosofi tentang kematian berikut upacara-upacara suci yang patut menyertainya.

Pandangan orang Bali mengajarkan, hidup dan mati itu sama penting, karena keduanya merupakan mata rantai siklus perjalanan seseorang sebagai mahluk Tuhan. Karena itu, mengurus hidup sama pentingnya dengan merawat mati.

Entahlah, mengapa kemudian orang Bali acap kali mengabaikan mengurus hidup, dan lebih mementingkan merawat mati. Itu sebabnya, kita sering mendengar dan menyaksikan, ketika hidup seseorang tidak terurus, namun ketika mati menerima pelayanan ngaben luar biasa. (T)

Tags: baliorang baliTradisiupacara
Share114TweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme, Politik dan Lain-lain – Obrolan Mewah di Warung Desa

Next Post

Habis KKN Terbitlah Cinta Segitiga, LDR, atau Cinta Bubar Jalan Graaakkk…

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Insolvensi dan Kewajiban Debitur Pailit

by I Made Pria Dharsana
July 31, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PUTUSAN Mahkamah Konstitusi Nomor 181/PUU-XXIII/2025 menjadi salah satu penegasan penting dalam perkembangan hukum kepailitan di Indonesia. Melalui putusan tersebut, Mahkamah...

Read moreDetails

Ketika Warisan Baru Dianggap Sah Setelah Dicatat Negara —Membongkar Distorsi Administrasi dalam Peralihan Hak Waris di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
July 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Kematian seseorang tidak hanya mengakhiri eksistensi biologis, tetapi sekaligus memicu konsekuensi hukum yang kompleks dalam sistem hukum perdata. Salah satu...

Read moreDetails

Potensi Ekonomi yang Menguap di Titik 0 Singaraja

by I Gede Sena Putrawan
July 20, 2026
0
Membangun Buleleng, Membangun Ingatan Sejarah dan Membangun Masa Depan Kota dari Kawasan Titik Nol Singaraja

PADA awal tahun 2026, sebuah proyek bernilai fantastis menjadi bahan perbincangan hangat di kalangan masyarakat Buleleng. Nama proyek itu sebenarnya...

Read moreDetails

Lelang Bank dan Kepastian Hukum: Antara Peluang Investasi dan Risiko Lapangan

by I Made Pria Dharsana
July 15, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

BARANG lelang bank sering dipandang sebagai peluang mendapatkan aset murah dengan potensi keuntungan besar. Rumah, tanah, ruko, kendaraan, hingga aset...

Read moreDetails

AJB atau Pelepasan Hak: Menguji Rasionalitas Perolehan Tanah oleh Perseroan Terbatas di Era KKPR dan Lahan Sawah yang Dilindungi

by I Made Pria Dharsana
July 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERDEBATAN mengenai mekanisme perolehan tanah oleh Perseroan Terbatas (PT) sesungguhnya tidak lagi hanya berkisar pada pilihan antara Akta Jual Beli...

Read moreDetails

Notaris di Tengah Gelombang Disrupsi: Antara Kepastian Hukum, Iklim Investasi, dan Ancaman Kriminalisasi

by I Made Pria Dharsana
July 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

NOTARIS pada hakikatnya merupakan salah satu pilar utama dalam menjaga kepastian hukum, khususnya dalam lalu lintas perdata, investasi, pembentukan badan...

Read moreDetails

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

Read moreDetails

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
0
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

Read moreDetails

Sertifikat Ganda dan Pertanyaan yang Tak Kunjung Terjawab  —Dokumen Negara Bisa Dipalsukan, Menutup Celah Mafia Tanah

by I Made Pria Dharsana
June 19, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DI tengah modernisasi layanan pertanahan dan penerapan sertifikat elektronik, kasus sertifikat palsu dan sertifikat ganda masih terus bermunculan. Fenomena ini...

Read moreDetails

Klausula ADR Pada PPJB Belum Lunas dan Akta Jual Beli PPAT

by I Made Pria Dharsana
June 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

APA yang paling dikhawatirkan oleh para pebisnis atau penanam modal di Indonesia selama era  reformasi bukan pada keamanan akan tetapi...

Read moreDetails
Next Post

Habis KKN Terbitlah Cinta Segitiga, LDR, atau Cinta Bubar Jalan Graaakkk…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co