23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Mengurus Hidup, Merawat Mati, di Bali

Gde Aryantha Soethama by Gde Aryantha Soethama
February 2, 2018
in Opini

Foto: Mursal Buyung

MENYELENGGARAKAN ngaben megah menghabiskan banyak uang, diurus oleh beratus-ratus orang dengan uang ratusan juta rupiah, adalah salah satu contoh, betapa orang Bali senang sekali merawat kematian dengan sangat serius, seksama, hati-hati, penuh perhitungan.

Sering kali kematian dianggap lebih penting tinimbang hidup. Bagi orang Bali, jika kematian dirawat dengan apik, kelak roh akan menitis kembali lebih sempurna.

Namun, tiada mati jika tak ada hidup. Bagi kebanyakan orang Bali, bagaimana mengurus hidup, sering tidak ada kaitan dengan bagaimana mengurus kematian.

Seorang lelaki, ayah empat anak lanang, kakek belasan cucu, bisa menjadi contoh, alangkah buruk orang-orang terdekat mengurus hidupnya, namun mereka merawat kematian dirinya dengan sangat baik, megah, meriah.

Lelaki itu seorang petani, tak punya cukup uang untuk membiayai pendidikan anak-anaknya sampai ke sekolah tinggi. Yang diajarkan adalah, hidup harus diurus dengan ulet, teguh, bermartabat. Anak-anak itu kemudian menjadi pekerja keras.

Seorang jadi pegawai negeri, meneruskan sekolah setelah bekerja dengan biaya sendiri, jadi profesor. Seorang jadi politikus dengan banyak pengikut. Dua yang lain jadi pengusaha. Semua anak-anak itu sukses, jadi manusia-manusia terpandang.

Mereka tinggal berpencar di kota-kota di Jawa. Untuk menjalankan kewajiban-kewajiban sebagai krama (warga) banjar, laki-laki itu melakoninya sendiri sampai tua renta. Tak seorang pun di antara anak-anak itu sudi pulang kampung. Mereka mengaku, harus banting tulang mencari penghidupan, buat biaya sekolah anak-anak, cucu-cucu si kakek, agar mereka bisa menikmati sekolah lebih baik dibanding orang tuanya.

Kakek itu pun hidup kesepian. Hidupnya nyaris tidak terurus. Ketika ia sakit-sakitan, anak-anaknya cuma mengirim uang untuk biaya perawatan. Jumlahnya banyak. Anak dan ayah itu tak hanya dipisahkan oleh jarak dan waktu, tapi juga oleh kesibukan putra-putranya untuk mencari uang.

“Dulu aku tak bisa mengurus hidup dan sekolah anak-anakku dengan baik, karena aku tak punya uang. Kini, ketika anak-anakku banyak uang, mereka tak punya waktu untuk mengurus hidupku,” kata hati kakek itu. “Kalau begitu, apa bedanya kaya dengan sedikit punya uang?”

Sunyi sepi sendiri sekian lama, setelah istrinya tiada, kakek itu meninggal dalam kesepian. Empat anak laki-laki itu pun berdatangan ke Bali. Mereka berembuk, kemudian sepakat, akan menyelenggarakan upacara ngaben yang megah.

Menurut mereka, begitulah cara terbaik untuk menghormati mendiang ayah mereka yang hidup ulet, teguh, kendati hanya sebatas sebagai petani. Mereka sepakat akan merawat kematian ayah mereka dengan serius, hati-hati, rinci, teliti, sebagai wujud penghormatan.

Ngaben besar, melibatkan banyak orang, pasti menghabiskan banyak uang. Jika saja ketika mati seseorang bisa bicara, si ayah, kakek itu, ingin ngomong, “Tak usahlah kalian menghamburkan banyak uang untuk kematianku. Mengapa kalian membiarkan aku hidup sunyi sendiri, tak terurus, tapi justru memberi perawatan ketika aku mati? Mengapa kalian menempatkan kematian lebih tinggi derajatnya tinimbang hidup?”

Lebih penting mana, hidup atau mati? Bagi orang Bali, kematian bisa berarti lebih bermakna tinimbang hidup. Di beberapa daerah di Gianyar (Bali Selatan, 25 km timur Denpasar), kematian kadang-kadang dirawat seperti seseorang atau sebuah keluarga mengurus hidup.

Seorang anggota keluarga yang mati, lalu dikubur, tetap diberi pelayanan seperti ketika ia hidup. Pelayanan itu misalnya dalam wujud otonan (manusa yadnya), memperingati hari lahir setiap 210 hari sekali. Upacara ngotonin diselenggarakan selama tiga kali. Setelah tiga kali otonan, biasanya diteruskan dengan ngaben.

Upacara ngotonin diselenggarakan di kuburan. Sesaji dihaturkan di atas pusara, dengan doa-doa. Kadang seseorang yang meninggal sudah uzur, dan karena selama hidup jarang menyelenggarakan otonan, hari otonan itu pun terlupakan. Untuk itu, otonan untuk merawat kematian pun diubah. Yang ditetapkan untuk ngotonin adalah hari ketika ia meninggal, bukan hari ketika ia lahir.

Tidakkah ini pertanda, orang Bali sangat teliti merawat kematian, jauh melebihi dibanding mereka mengurus seseorang itu semasa hidup? Perhatian kerabat, keluarga, terhadap seseorang memang lebih kentara justru ketika dia mati. Ketika mati seseorang menerima pelayanan istimewa dari sanak saudaranya.

Banyak yang memberi sumbangan kain bagus-bagus justru setelah ia mati. Yang lain memberi duit, dilemparkan ke liang lahat sebelum jazad ditimbun. Uang atau kain itu ikut dibakar jika jazadnya diaben. Semasa hidup, tak seorang pun memberinya duit, apalagi menghadiahinya kain atau baju. Untuk apa baju-baju, kain-kain, dan uang itu, bagi si mati?

Di Bali banyak bisa dijumpai orang miskin, orang sakit, mereka yang hidup terlunta-lunta. Krama desa adat jarang peduli pada masalah-masalah kemiskinan. Mereka tidak tertarik membahas tentang manusia-manusia miskin atau orang-orang sakit. Mereka lebih senang membahas persoalan-persoalan tentang berbagai kegiatan upacara atau sesaji yang patut diberikan kepada seseorang yang sudah mati.

Apakah berlebihan jika kemudian kita katakan, orang Bali lebih senang merawat kematian tinimbang mengurus hidup? Karena memang, mereka ogah diajak berdebat tentang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi, namun senang sekali melontarkan filosofi tentang kematian berikut upacara-upacara suci yang patut menyertainya.

Pandangan orang Bali mengajarkan, hidup dan mati itu sama penting, karena keduanya merupakan mata rantai siklus perjalanan seseorang sebagai mahluk Tuhan. Karena itu, mengurus hidup sama pentingnya dengan merawat mati.

Entahlah, mengapa kemudian orang Bali acap kali mengabaikan mengurus hidup, dan lebih mementingkan merawat mati. Itu sebabnya, kita sering mendengar dan menyaksikan, ketika hidup seseorang tidak terurus, namun ketika mati menerima pelayanan ngaben luar biasa. (T)

Tags: baliorang baliTradisiupacara
Share114TweetSendShareSend
Previous Post

Idealisme, Politik dan Lain-lain – Obrolan Mewah di Warung Desa

Next Post

Habis KKN Terbitlah Cinta Segitiga, LDR, atau Cinta Bubar Jalan Graaakkk…

Gde Aryantha Soethama

Gde Aryantha Soethama

Dikenal sebagai wartawan kawakan, penulis esai dan cerpen. Bukunya Bolak Balik Bali ditetapkan sebagai buku nonfiksi terbaik oleh Pusat Bahasa (2006). Kumpulan cerpennya Mandi Api meraih penghargaan Khatulistiwa Literary Award (2006). Tahun 2016 diberi penghargaan Kesetiaan Berkarya oleh Kompas.

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post

Habis KKN Terbitlah Cinta Segitiga, LDR, atau Cinta Bubar Jalan Graaakkk…

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.
Ulas Buku

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

by Hartanto
October 21, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

by Chusmeru
October 21, 2026
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami
Esai

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

by Angga Wijaya
October 20, 2026
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya
Esai

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co